
Kenzo dan Safira menikmati makan malam mereka dengan romantis. Sesekali Kenzo menyuapi Safira makanannya.
“Sweet heart, buka mulutmu. Aaaa” ujar Kenzo sambil menyodorkan sesendok makanan pada Safira.
Safira tersenyum sambil memicingkan mata menatap sang suami
“Orang lain tidak akan percaya kalau aku bilang kamu adalah suami penyayang istri. Mereka hanya akan percaya kalau kamu adalah pria dingin yang kejam” ujar Safira menggoda Kenzo dengan senyum manis dibibirnya.
“Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Aku hanya peduli dengan apa yang dikatakan istriku saja” Kenzo kembali membalas godaan Safira padanya.
Tiba-tiba saat mereka sedang asyik berbincang. Sebuah kejadian mengganggu waktu makan malam mereka.
Byur
Prang!
“Aah!” seorang gadis tanpa sengaja menumpahkan makanan pada Kenzo. Kenzo langsung berdiri dari duduknya karena terkejut, lalu dia menatap gadis itu dengan sorot mata yang dingin
“Maaf, saya tidak sengaja. Apa anda baik-baik saja? Ah, jas anda kotor. Biar saya bersihkan!” Gadis itu bicara dengan wajah panik dan langsung mengambil tisu dan dengan lancangnya membersihkan jas dibagian dada Kenzo yang terkena tumpahan makanan.
Safira memicingkan mata menatap sinis pada gadis itu.
“Hentikan!” ujar Kenzo dengan sikap yang dingin karena sikap kurang ajar gadis itu.
“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” Safira berjalan mendekati Kenzo dan bertanya dengan raut wajah khawatir dan nada bicara yang lembut.
“Aku tidak papa, Sayang. Aku akan ke toilet dulu dan membersihkannya” Kenzo beranjak dari hadapan Safira dan berjalan ke toilet untuk
membersihkan pakaiannya yang kotor.
“Nona, saya benar-benar minta maaf. Saya sama sekali tidak sengaja menumpahkan makanan pada pakaiannya” ujar gadis itu minta maaf pada Safira dengan nada penuh penyesalan
“Ya, aku tahu. Kamu tidak perlu khawatir” Safira menanggapi dengan senyum yang lembut dan sikap yang tenang.
“Begini saja. Bagaimana kalau saya meminta kartu nama anda, atau tuan tadi? Jadi saya bisa menghubungi kalian untuk mengganti rugi atas apa yang terjadi tadi” ujar gadis itu yang terus mendesak dengan raut wajah seakan merasa bersalah.
Safira mengernyitkan dahinya dan menatap gadis itu dengan tatapan heran karena dia bersikeras mendapatkan nomor Kenzo, kemudian Safira kembali bersikap tenang.
“Nona, itu benar-benar bukan masalah besar. Anda tidak perlu merasa bersalah. Saya bisa mencuci sendiri pakaian suami saya” Safira menegaskan kata ’suami’ untuk memberitahu gadis itu mengenai status mereka.
“Oh, saya benar-benar tidak memiliki maksud apapun. Saya hanya merasa bersalah saja karena mengotori jas suami anda. Sepertinya itu jas yang sangat mahal” gadis itu terus saja mendesak untuk memberikan ganti rugi pada Safira.
__ADS_1
“Bukan masalah besar. Kami bisa mengurusnya sendiri. Anda juga tidak sengaja melakukannya kan? Oh iya, apa anda terluka? Saya khawatir kalau pecahan mangkuknya mengenai kaki anda” Safira menunjukkan senyum yang lembut dan nada bicara yang tenang.
“Tidak. Saya tidak apa. Kalau begitu saya permisi, Nona. Oh iya, nama saya Olivia. Ini kartu nama saya. Jika anda ingin saya mengganti rugi, maka anda bisa langsung menghubungi saya” gadis itu menyerahkan sebuah kartu nama miliknya.
“Oh, baiklah. Saya Safira. Saya akan menghubungi anda jika memang kami membutuhkan ganti rugi dari anda” ujar Safira sambil meraih kartu nama yang diberikan gadis itu.
“Kalau begitu saya permisi” ujar Olivia sebelum dia beranjak pergi dari hadapan Safira.
“Ya, silahkan” Safira mengizinkan gadis itu pergi dari hadapannya. Dan tak lama Kenzo kembali dari toilet.
“Sayang, kamu sudah kembali” Safira menyambut Kenzo dengan senyum lembut dibibirnya. Diapun mendekatinya dan melihat noda dijasnya
“Ya, untung saja hanya mengenai jasku, jadi aku bisa melepasnya. Jika terkena bajuku juga, aku bisa malu karena harus mengenakan baju kotor” Kenzo menanggapi dengan sikap yang dingin. Dia terlihat kesal namun berusaha bersikap tenang
“Tenanglah. Itu tidak disengaja. Apa kita mau melanjutkan makan atau kita pergi saja?” tanya Safira yang melihat kalau mood sang suami sudah rusak.
“Sebaiknya kita pergi saja. Aku sudah tidak ingin makan. Makan malamku denganmu jadi kacau karena tindakan gadis bodoh itu! Apa kamu masih ingin makan?” tanya Kenzo yang melihat kalau Safira hanya menghabiskan setengah makanannya saja.
“Tidak, aku juga ingin pulang. Ayo kita pergi dari sini!” Safira menggelengkan kepala dan beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan restoran
“Apa itu?” tanya Kenzo setelah melihat Safira memasukkan kartu nama ke dalam tas miliknya.
“Kartu nama gadis tadi. Dia meminta kartu nama kita, tapi aku tidak memberikannya, jadi dia memberikan kartu namanya padaku” Safira menjelaskan dengan sikap yang tenang dan lembut.
Dimeja lain gadis tadi dan juga adik laki-lakinya terus memperhatikan Kenzo dan Safira.
“Kakak, sepertinya rencanamu mendekati pria itu tidak berjalan lancar. Dia juga meletakkan kartu nama yang kamu berikan diatas meja” ujar
Sang adik dengan senyum mencibir sang kakak dibibirnya.
“Kamu tenang saja. Tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan. Tidak mungkin dia bisa menolak pesona dari seorang Olivia Wijaya. Aku pasti
bisa bertemu dengannya lagi dan membuat kesempatan lain. Aku tidak akan menyerah begitu saja" ujar gadis bernama Olivia itu dengan senyum percaya diri dan mata terus menatap Kenzo dan Safira yang sudah berada diluar restoran
***
Sudah beberapa hari ini Rendra selalu datang ke perusahaan Risha setelah pulang kerja. Mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk sekedar makan malam dan berbincang
"Kita akan pergi kemana lagi hari ini?" tanya Risha yang kini sudah berada didalam mobil Rendra
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" ujar Rendra dengan senyum lembutnya
__ADS_1
"Suatu tempat? Kemana? Jangan buat aku penasaran" Risha menanggapi dengan sikap acuh tak acuh dan ekspresi penasaran
"Kamu akan tahu nanti. Ayo jalan!" Rendra menanggapinya dengan lembut tanpa memberikan jawaban atau petunjuk atas apa yang ditanyakan Risha padanya. Risha hanya bisa menganggukkan kepalanya mengikuti apa yang dikatakan Rendra padanya.
Rendra terus mengendarai mobil menuju daerah perbukitan. Dia fokus pada jalanan dan sesekali
menoleh pada Risha sambil tersenyum lembut
"Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan?" tanya Risha setelah memperhatikan Rendra yang terus tersenyum
"Tidak ada apa-apa. Sebentar lagi kita akan sampai" Rendra menjawab dengan tenang sambil terus fokus pada jalanan.
Risha memperhatikan kesana kemari. Mereka tiba di sebuah restoran diatas bukit
"Bagaimana kamu tahu tempat ini?" tanya Risha saat Rendra membantunya turun dari mobil.
"Tentu saja aku mencari tahu lebih dulu. Jika tidak, mana mungkin aku tahu tempat ini" Jawab Rendra dengan sikap acuh tak acuhnya
"Benar juga. Kamu kan tidak tahu daerah sini" Risha pun membenarkan ucapan Rendra
"Tutup matamu!" Rendra bicara dengan senyum yang lembut dan penuh misteri.
"Apa?" Bukannya menutup mata seperti yang diminta Rendra, Risha malah membelalakkan matanya menatap Rendra.
"Aku memintamu menutup mata bukan membelalakan mata" Rendra bicara sambil mengusap wajah Risha dengan lembut
"Baiklah-baiklah. Aku akan menutup mataku" Risha pun langsung menutup matanya seperti yang dikatakan Rendra
"Sekarang pegang tanganku dan aku akan membawamu ke meja kita" Rendra bicara sambil melingkarkan tangan Risha di sekitar sikunya
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan sih sampai harus seperti ini?" tanya Risha yang bingung dengan sikap Rendra
"Sudah, ikut saja. Sebentar lagi kita sampai. Hati-hati dengan langkahmu" Rendra menuntun Risha pada meja yang telah dia pesan.
Sebelumnya Rendra menghubungi pihak restoran dan meminta mereka menyiapkan semuanya.
"Aku akan hitung sampai 3, setelah itu kamu boleh membuka matamu. 1… 2 … 3 … buka matamu"
Risha pun membuka mata dan terkejut sampai menutup mulutnya sendiri
"Rendra … ini …"
__ADS_1
"Will you merry me?"