Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kepanikan Arseno Yang Mirip Dengan Cheva


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" Meisya bertanya dengan wajah bingung sambil mengunyah bubur yang disuapi Kenzie


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku merasa kesal pada saudara kembarku sendiri" Kenzie menjawab dengan wajah ditekuk karena kesal pada Kenzo yang tidak membiarkannya bermain dengan Berly Wiguna


"Apa yang dilakukan kak Zo?" Meisya semakin bingung dengan apa yang dikatakan Zie


"Zo dan Rendra itu sama-sama menyebalkan! Mereka bersikap seolah mereka berdua berada dirantai makanan paling atas dimana mereka tidak bisa ditinkas seenaknya. Dan sekarang ditambah degan Noey, itu membuat mereka semakin lengkap. Rasanya aku berada di dunia yang berbeda dari mereka" Zie terus menggerutu karena dia kesal


"Apa kak Zie membenci mereka?" Meisya kembali bertanya dengan sikap yang tenang


"Tentu saja tidak. Mana munkin aku membenci mereka padahal sudah menolongku? Aku bukan orang yang tidak tahu caranya berterimakasih" Kenzie kembali bicara dengan raut wajah ceria


"Ku kira kak Zie membenci mereka. Oh iya kak Zie belum jawab aku. Memangnya apa yang mereka lakukan?" Meisya masih penasaran dengan apa yang dilakukan Zo, Noey dan juga Rendra


"Aaa..." Kenzie menyodorkan sesendok bubur kemulut Meisya sebelum dia memberikan jawabannya


"Katanya Zo sudah membereskan keluarga Wiguna"


"Memberskan keluarga Wiguna? Bagaimana dia melakukannya? Kak Zo kan berada diluar negeri" Meisya semakin bingung dengan apa yang dilakukan Zo


"Hemn ... entahlah. Aku harus memeriksanya dulu" Kenzie pun mengeluarkan ponsel dan mencari informasi


"Kenzo itu pandai dalam urusan IT, aku yakin kalau dia menggunakan kemampuannya untuk menghancurkan Wiguna" Kenzie menjelaskan sambil membuka jaringan internet untuk mencari sesuatu yang janggal


"Sesuai dugaan, dia menggunakan kemampuannya. Tapi ... sepertinya ini bukan akun Zo? Lalu ini milik siapa?" Kenzie   menatap Meisya dengan tatapan bingung. Dan itu ditanggapi dengan mengangkat kedua bahunya oleh Meisya


"Noey, kurasa ini dilakukan Noey atas perintah Zo. lalu apa yang dilakukan Rendra?" Kenzie terlihat penasaran dengan apa yang telah dilakukan Kenzo, Noey dan juga Rendra


"Kenapa tidak tanyakan langsung saja pada mereka? Kak Zie tidak mungkin akan mendapatkan jawabannya sendiri kan?" Meisya menyarankan dengan sikap yang tenang, dia baru selesai makan bubur yang disuapi Kenzie karena tangan kanannya tidak bisa bergerak dengan bebas


"Ya, kamu benar. Aku harus menanyakan langsung pada mereka. Aku akan menghubungi Noey sekarang" Meisya menganggukkan kepala pelan disertai kedipan mata. Setelah itu Kenzie mulai merogoh saku untuk mencari ponselnya dan menghubugi Noey


Drrt drrt drrt


"Halo" Terdengar suara Noey yang dingin dan datar dari ujung telepon


"Halo Noey. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu" Kenzie langsung bicara begitu dia mendengar suara Noey

__ADS_1


"Ada apa?" Noey bertanya dengan sikapnya yang dingin


"Apa yang sudah kalian lakukan pada keluarga Wiguna?"


Dahi Noey berkerut mendengar pertanyaan Kenzie


"Kenapa kamu ingin tahu hal ini?"


"Tidak. Hanya saja Zo berada di negara F. Bagaimana bisa dia tahu kalau aku sedang dalam masalah. Apa kamu yang memberitahunya?" Zie bertanya pada Noey dengan nada curiga


"Tidak. Zo memang sedang bermasalah dengan perusahaan Wiguna sebelum kamu bermasalah dengan Berly Wiguna. Sebelum dia pergi ke negara L, dia memintaku menyelidiki Sheila Wiguna dan perusahaannya. Dia juga meminta orang suruhan Rendra untuk mengawasi pergerakan keluarga itu. Dan sangat kebetulan sekali karena kamu memiliki masalah dengan Berly wiguna. Jadi Kenzo membereskan keluarga itu dengan alasan kalau mereka berusaha mencelakaimu" Noey menjelaskan dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh


"Bagaimana cara dia membereskannya?" zie semakin penasaran dengan apa yang dilakukan Kenzo


"Ya, dengan kerjasama yang baik. Kenzo memintaku membuat postingan mengenai Berly Wiguna dan juga Sheila Wiguna, dia juga meminta Rendra agar bisa menahan Marina dirumah sakit jiwa dan membuatnya semakin gila. Sedangkan Zo sendiri mengurus masalah saham perusahaan itu. Dia memanipulasi datanya dan membuat harga saham terlihat turun. Dengan begitu banyak pemegang saham yang meninggalkan perusahaan Wiguna dengan menjual saham mereka. Tentu saja dengan tidak adanya investor perusahaan wiguna akan kesulitan dana. Berly Wiguna tidak mungkin bisa menutupi kerugian perusahaan itu sendirian" Noey menjelaskan dengan sikap yang acuh tak acuh


"Kali ini aku tahu kenapa aku tidak bisa mengejar Kenzo. Ternyata dia mengatur strateginya dengan sangat sempurna" Zie menanggapi dengan gelengan kepala berkali-kali


"Kamu baru menyadarinya sekarang? Zo itu punya otak bisnis yang melibihi rata-rata. Strategi bisnisnya dilakukan seakan dia akan berperang" Noey memuji Kenzo dengan penuh kebanggan


"Cih, sepertinya otakmu sudah dicuci oleh Kenzo. Kamu itu asisten pribadiku tapi kamu selalu berpihak pada Zo" Zie berdecih kesal pada Noey, namun dengan senyum dibibirnya


"Owh jadi begitu. Kamu itu terpaksa jadi asistenku?" Zie bertanya dengan nada mencibir


"Hemn ... mungkin. Zo bilang kamu akan jadi penerus perusahaan Kusuma, jadi kamu butuh asisten yang kompeten seperti aku" Noey memuji dirinya sendiri dengan sangat tenang


"Kompeten? Kamu?" Zie bertanya dengan nada tak percaya


"Tentu saja. Zo tidak mungkin mempercayakan aku untuk jadi asistenmu jika aku tidak cocok untuk posisi itu" Noey tetap percaya diri dengan apa yang dia katakan


"Ya baiklah. Mungkin penilaian Zo memang benar, kamu memang pantas jadi asistenku. Tapi lebih patuh pada Zo daripada aku" Kenzie dan Noey terus saja berdebat mengenai rasa percaya mereka masing-masing


"Karena Zo yang memintaku jadi asistenmu, tentu saja aku akan lebih patuh padanya. Sudahlah aku masih banyak pekerjaan. Sampai jumpa. Tut tut tut" Noey bicara dengan sikap yang dingin, lalu menutup teleponnya


"Kak Zie, kenapa kamu tersenyum begitu? Padahal sepertinya kak Zie berdebat lagi dengan Noey saat ditelepon tadi"


Meisya bertanya setelah melihat Kenzie terus saja tersenyum setelah menutup telepon Noey

__ADS_1


"Tidak ada. Hanya lucu saja. Saat berzama Zo, Noey akan bersikap seperti dia tidak ingin diperintah dan maunya melakukan apapun sesuka dia. Tapi saat dibelakang Zo, dia akan terus memuji Zo dan rela melakukan apa saja untuknya. Gengsinya benar-benar sangat tinggi" Kenzie menjawab sambil menggelengkan kepala berkali-kali


"Mungkin memang dia memiliki gengsi yang tinggi. jadi dia selalu memuja Kenzo tapi tidak ingin ketahuan olehnya"


"Mungkin kamu benar. Dia mengagumi Kenzo tapi tidak ingin diledek olehnya"


Kenzie menjawab sambil kembali berjalan mendekati Meisya


"Apa kamu. membutuhkan sesuatu?" Tanya Kenzie dengan senyum yang lembut


"Tidak ada" Meisya menjawab sambil menggelengkan kepala


"Kak Zie, apa kamu sudah menghubungi papa?" Kini Meisya terdengar sedikit ragu saat menanyakan sang ayah


"Ah! Kamu benar, aku lupa menghubungi om Arseno. Dia pasti akan marah besar padaku. Aku akan memberitahunya sekarang" Zie terkejut karena dia melupakan ayah Meisya. Diapun mengeluarkan ponsel untuk menghubungi ayah Meisya


Tuut tuut tuut


Cukup lama sampai pak Arseno menerima telepon dari Kenzie


"Halo"


"Halo om, ini aki Kenzie"


"Ya aku tahu. Ada perlu apa kamu menghubungiku?" Pak Arseno menanggapi dengan sikap yang dingin


"Itu … aku ingin memberitahu om kalau Meisya …"


"Ada apa dengan Meisya? Apa dia baik-baik saja?!" Pak Arseno menyela Kenzie sebelum dia selesai bicara dan bertanya dengan nada yang panik


"Eum … tangan Meisya terluka dan sekarang dia dirawat dirumah sakit" Kenzie menjelaskan dengan sedikit ragu-ragu


"Apa?! Terluka?: Bagaimana bisa?! Bagaimana kondisinya?! Lukanya tidak serius kan?! Dia tidak akan cacat atau lumpuh kan?! Apa kamu tidak menjaganya?! Aku kesana sekarang!"


Kenzie hanya terdiam dengan dahi berkerut karena pak Arseno sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan padanya


"Sya, apa papamu memang seperti itu? Saat papamu seperti barusan, aku jadi teringat pada mami. Atau mungkin mereka saudara yang terpisah ya?" Zie bertanya pada Meisya dengan raut wajah bingung karena sikap pak Arseno

__ADS_1


"Jangan bicara sembarangan! Mana mungkin papaku saudara tante Cheva. Dari usia saja sudah beda jauh. Kak Zie ada-ada saja"


__ADS_2