Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Tidak Ada Lagi Perusahaan Surendra


__ADS_3

Hasna pergi kekampus dengan mata sembab dan bengkak setelah menangis semalaman karena ketidak hadiran Johan dirumahnya. Dia berjalan dengan menundukkan kepala. Langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan seseorang.


"Terimakasih sudah mengantarku. kamu hati-hati ya. Dan kabari aku ketika kamu sampai rumah" Tia sedang bicara pada Johan sebelum dia pergi


"Ya, kamu juga jaga diri. Aku akan menjemputmu lagi saat kuliahmu sudah selesai. Jadi beritahu aku jika kelaamu selesai" Johan bicara dengan sangat lembut pada Tia


"Ya, aku akan mengabarimu lagi nanti" Johan pun mengecup kening Tia sebelum dia pergi


"Kalian… Apa maksudnya ini?" Tia dan Johan menoleh ketika mendengar suara Hasna didekat mereka


"Hasna? Sejak kapan kamu disini?" Tia berjalan kearah Hasna dan meraih tangannya


"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" Hasna menepis tangan Tia dengan keras. Air mata mulai mengalir membasahi wajahnya yang diselimuti amarah dan kekecewaan


"Hasna, apa yang terjadi denganmu? Apa … kalian saling mengenal?" Tia menunjukkan wajah bingung dan bertanya pada Hasna dan Johan dengan menoleh pada mereka secara bergantian


"Itu, akan aku jelaskan padamu sayang" Johan mengabaikan Hasna dan mendekati Tia sambil tersenyum lembut padanya


"Johan, ternyata kamu dan Tia …" Hasna menggantungkan kalimatnya melihat sikap Johan pada Tia. Air mata kini semakin deras membasahi kedua pipinya


"Rupanya kalian memiliki hubungan? Johan, kenapa kami melakukan itu padaku? Apa salahku padamu, hiks … hiks… hiks …" Hasna bertanya disela isak tangisnya


"Kamu tidak punya salah apapun. Mungkin, orang tuamu yang punya salah pada orang lain. Dan malangnya kamu karena menjadi anak mereka jadi kamu harus menerima kebenciannya juga. Aku sudah lama pacaran dengan Tia. Jauh sebelum aku mengenalmu, dan sekarang kami berencana untuk menikah" Johan menerangkan pada Hasna dengan senyum dan nada bicara yang lembut sambil merangkul Hasna disebelahnya. Pasangan kekasih itu saling menatap mesra tanpa mempedulikan keberadaan Hasna diantara mereka.


"Apa maksud dari ucapanmu? Kamu bercanda kan?" Hasna masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Johan padanya. Yang dia tahu ibu dan ayahnya memang orang yang tamak akan harta tapi mereka tidak pernah melukai orang lain


"Sebaiknya tanyakan sendiri pada orang tuamu. Mungkin mereka mau menjelaskan semuanya padamu. Karena aku sendiri tidak tahu cerita pastinya. Dan mengenai hubunganku dengan Tia … kami memang sudah lama bersama" Johan menjawab dengan sikap tenang disertai senyum manis


"Maksudmu… kamu hanya mempermainkanku saja?! Dasar pria brengsek! Bisa-bisanya kamu mempermainkanku sedangkan aku benar-benar mencintaimu" Hasna berteriak kesal dengan derai air mata yang terus mengalir


"Sayang, lebih baik kamu masuk sekarang. Banyak orang memperhatikan kita, aku juga harus segera pergi" Sambil mengusap pipi Tia, Johan tersenyum lembut


"Baiklah, sampai jumpa" Tia pun berjalan masuk ke dalam kampus sedangkan Johan hendak meninggalkan kampus dan berjalan menuju mobilnya. Tiba-tiba Hasna berjalan cepat dan menarik tangan Johan

__ADS_1


"Tunggu! Kamu tidak bisa melakukan itu! Kamu tidak bisa bersikap seperti ini padaku! Jangan pergi begitu saja! Jelaskan semuanya dulu padaku! Katakan kalau kamu hanya bercanda! dan kamu benar-benar mencintaiku!" Hasna semakin histeris dengan derai air mata yang terus mengalir


"Lepaskan!"


"Ah!"


"Jangan pernah menggangguku lagi!" Johan menghempaskan tangan Hasna dengan keras hingga dia terjatuh lalu kembali melangkah menuju mobilnya


"Johan! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Johan …!" Hasna terus berteriak memanggil Johan yang kini semakin jauh dari pandangannya


"Johan … kenapa kamu jahat padaku …hiks… hiks… hiks …" Hasna menangis di tanah tanpa mempedulikan tatapan semua orang padanya. Ada yang menatapnya dengan penuh rasa kasihan, ada juga yang menatapnya dengan tatapan penuh cibiran.


"Tidak, aku harus ketemu papa. Aku harus tanyakan semuanya sama papa!" Hasna bangkit dari duduknya dan kembali kemobilnya untuk pergi bertemu dengan Adnan


***


Disaat yang bersamaan perusahaan Surendra yang dipegang Adnan kini tiba saatnya jatuh tempi atas pinjamannya ke pihak bank


Adnan terdiam memandangi jendela. Memikirkan apa yang sedang terjadi pada hidupnya.


"Kenapa jadi seperti ini? Sebenarnya dimana yang salah?" pikir Adnan tanpa mendengarkan asistennya yang sedang bicara.


Tok tok tok


"Masuk!" Adnan memberikan izin untuk masuk setelah mendengar suara ketukan pintu


"Maaf pak. Ada beberapa polisi dan perwakilan dari pihak bank. Mereka bilang akan menyita perusahaan ini" Rupanya bagian keamanan yang mengetuk pintu kantor Adnan


"Apa?! Pihak bank?!" Adnan terkejut hingga matanya membelalak mendengar kedatangan polisi


"Benar pak. Mereka ada dibawah"


Adnan kembali terdiam. Kali ini dia tidak punya pilihan lain selain kehilangan perusahaan Surendra.

__ADS_1


"Baiklah, kita temui mereka sekarang" Adnan beranjak dari tempatnya dan mulai melangkahkan kaki keluar kantornya untuk menemui polisi yang datang


"Selamat siang pak" Sapa Adnan begitu dia berhadapan dengan beberapa polisi dan pihak bank


"Selamat siang. Kami datang kemari untuk menyita semua aset yang telah anda jaminkan pada bank. Jadi dimohon untuk segera mengosongkan tempat ini" Ujar salah satu petugas dari bank


"Boleh minta waktunya sebentar? Saya dan karyawan saya akan membereskan semua barang milik kami" Adnan mengulur waktu untuk membereskan barangnya


"Kami beri waktu 1 jam dari sekarang. Jika dalam 1 jam tempat ini belum juga dikosongkan, maka kami akan mengeluarkan semuanya secara paksa"


"Baik, saya mengerti" Adnan menjawab dengan patuh atas apa yang dikatakan polisi.


Para polisi itu pun kembali meninggalkan perusahaan dan akan kembali setelah 1 jam


"Kalian semua sudah dengar kan? Sekarang kemasi barang kalian dan cepat tinggalkan kantor ini" Pinta Adnan pada semua karyawannya dan kemudian beranjak kembali ke kantornya


Adnan memperhatikan seisi kantornya. Dia melihat setiap sudut ruangan


"Perusahaan ini harus jatuh saat ditanganku" Gumam Adnan dengan wajah sedih


Brak!!


"Papa!" Hasna langsung menerobos masuk ke kantor ayahnya begitu dia sampai. Bahkan dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu


"Papa jelaskan padaku apa yang terjadi?!" Hasna berteriak meminta kejelasan dari apa yang dikatakan Johan. Namun dia terkejut ketika melihat sang ayah sedang berkemas


"Papa? ada apa? Kenapa papa mengemasi semua dokumen dan barang-barang papa? Bukankah ini dokumen penting perusahaan?" Tanya Hasna yang bingung dengan apa yang terjadi


"Papa harus mengemasi barang-barang papa. Pihak bank akan menyita perusahaan kita sekarang"


"Apa?! Papa bercanda kan? Itu bohong kan?" Hasna tampak terkejut dengan apa yang dikatakan ayahnya. Namun Adnan terlihat sangat tenang dengan ekspresi sedih diwajahnya.


"Papa serius. Mulai sekarang tidak ada lagi perusahaan Surendra"

__ADS_1


__ADS_2