
"Jadi mereka ditangkap polisi? Cih, dasar amatir. Bisa-bisanya mereka memintaku bekerja sama dan sekarang mereka ditangkap polisi?" Steve mencibir ketika mendengar kalau Catherin dan Najim ditangkap oleh polisi.
"Sekarang apa yang akan anda lakukan, Pak? Pak Kenzo mungkin tahu kalau anda terlibat dengan mereka berdua untuk menjebak istrinya" asisten Steve bertanya setelah mendengar ucapan atasannya.
"Dia tidak mungkin tahu, dan juga tidak punya bukti yang kuat kalau kita terlibat dengan kedua orang bodoh itu. Yang penting kamu lakukan apa yang jadi tugasmu saja. Buat dia melakukan kesalahan agar kita bisa menunjukkan kalau dia tidak becus bekerja" ujar Najim dengan sikap yang tenang dan nada bicara yang dingin
"Baik, Pak. Saya mengerti" asisten Najim pun beranjak pergi dari ruangannya
***
Sementara itu, Kenzo datang ke penjara untuk menemui Catherin dan bertanya perihal keterlibatan Steve dalam rencana penculiknanya
"Untuk apa lagi kamu kemari?" tanya Catherin pada Kenzo dengan nada yang sinis. Catherin yang saat ini sungguh berbeda dari Catherin beberapa waktu lalu. Jika sebelumnya model cantik itu selalu terlihat modis dengan riasan yang sedikit tebal, saat ini dia terlihat berantakan dengan seragam tahanan, wajah polos tanpa make up dan rambut diikat berantakan.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana nasib dari orang yang menculik istriku. Sepertinya kamu baik-baik saja disini" Kenzo menanggapi dengan sikap yang dingin dan senyum tipis dibibirnya.
"Baik-baik saja? Kamu tidak lihat tubuhku penuh memar begini? Kamu yang membuat para penjaga menutup mata dan telinga atas apa yang terjadi padaku, kan?! Lihat juga pak Najim yang harus selalu menuruti apa kata teman satu selnya! Kamu bilang seperti ini baik-baik saja?!" Catherin menanggapi dengan kesal ucapan Kenzo. Dia mengungkapkan apa yang ada dipikirannya pada Kenzo
"Itu adalah harga yang harus kamu bayar karena telah berani mengganggu istriku" ujar Kenzo dengan sinis
"Kami tidak melakukan apapun pada istrimu! Kenapa kamu melakukan ini pada kami?!" Catherin berteriak kesal pada Kenzo yang mengatakan kalau lukanya tidak seberapa
"Bukan tidak melakukan apapun, tapi belum sempat melakukan apapun" Kenzo kembali menimpali dengan sikap yang tenang
"Lantas, apa yang akan kamu lakukan sekarang?! Untuk apa kamu datang kemari?!" Catherin bertanya dengan kesal mengenai itu, dia langsung membela dengan sikap yang sinis
"Aku ingin memberikan tawaran menarik untukmu" Kenzo menanggapi dengan sikap yang acuh tak acuh
"Tawaran? Tawaran apa itu?" tanya Catherin dengan dahi berkerut
__ADS_1
"Katakan padaku kalau Steve juga bekerja sama denganmu. Dengan begitu, aku bisa sedikit meringankan hukuman yang kamu dapatkan" Kenzo menawarkan dengan sikap yang acuh tak acuh
"A-aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak mengenal pria bernama Steve. Bagaimana bisa aku bekerja sama dengannya?". Catherin menanggapi pertanyaan Kenzo dengan panik dan gugup. Terlihat jelas kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kamu yakin tidak tahu? Jika memang begitu … aku tidak bisa berbuat apa-apa" Kenzo bicara dengan sikap acuh tak acuh sambil berdiri dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Catherin yang masih terdiam dengan kepala tertunduk seakan dia sedang memikirkan sesuatu.
"Tu-tunggu!". Langkah kaki Kenzo terhenti setelah mendengar suara Catherin. Dia berbalik dan kembali mendekati Catherin yang terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu.
"Ada yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Kenzo yang kini berdiri dihadapan Catherin.
"I-itu … sebenarnya Steve memang terlibat. Dia yang memberikan obat bius padaku dan juga mencarikan orang untuk membantuku. Tapi aku tidak punya bukti untuk membawanya dalam kasus ini" ujar Catherin menjelaskan dengan hati-hati.
"Tidak perlu khawatir. Aku punya cara sendiri untuk itu. Aku hanya ingin dengar kalau dia memang terlibat. Itu saja". Kenzo langsung berbalik dan pergi meninggalkan Catherin yang masih duduk dan menatap kepergiannya
"Zack, kamu sudah dengar kan? Jadi, aku ingin kamu mengumpulkan semua bukti mengenai kejahatan Steve. Aku harus bisa menyeretnya ke jeruji besi karena telah mengusik kehidupanku" ujar Kenzo pada sang asisten begitu meninggalkan kantor polisi
"Baik, Pak. Saya mengerti"
Setelah urusannya dikantor polisi selesai, Kenzo langsung pulang kerumah barunya dimana sang istri telah menunggu kedatangannya
Safira sedang duduk disofa menunggu kedatangan sang suami sambil membaca skrip yang ditawarkan padanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, sayang?". Kanzo yang bari saja tiba langsung berdiri dibelakang Safira dan mengecup pucuk kepalanya
"Kamu sudah pulang? Aku sedang membaca skrip. Kak Mona menawarkan beberapa peran padaku. Dan sekarang, aku sedang memilih film mana yang ingin aku mainkan" Fira menjawab dengan sikap yang tenang sambil menatap lembut wajah Kenzo
"Ada berapa film yang ditawarkan padamu? Coba aku lihat perannya". Kenzo meraih naskah film ditangan Safira dan mulai membaca Sinopsis film itu dan peran yang ditawarkan untuk sang istri
"Kamu baru saja pulang, lebih baik istirahat dulu saja. Kita bisa mempelajari ini nanti" ujar Safira yang kembali mengambil naskah film dari tangan Kenzo
__ADS_1
"Aku sudah bilang padamu sebelumnya, tidak masalah jika aku harus mempelajari peran yang kamu miliki sebelum kamu memutuskan untuk mengambilnya. Bahkan jika kamu memang benar ingin aku jadi manajer pribadimu, maka aku akan melakukannya". Kenzo bersikeras dengan apa yang dia katakan sebelumnya dan tetap membaca naskah film yang ditawarkan pada Safira dengan serius.
Safira pun tidak dapat melakukan apa-apa dan tetap berada disamping sang suami sambil menatap wajah tampannya dengan dasi yang mulai ditarik kebawah.
"Kalau begitu, kamu mandi dulu, setelah itu kamu bisa membantuku memilih naskah film. Badanmu pasti lengket setelah seharian bekerja. Aku akan siapkan air hangat untukmu mandi". Safira meraih sebelah tangan Kenzo agar dia memperhatikannya saat bicara
"Baiklah. Aku tidak akan menolak istriku. Apalagi jika kamu mengatakan ingin mandi bersamaku" Kanzo tersenyum menggoda Safira
"Eh? Apa yang kamu katakan? Sudah jangan bercanda. Aku akan siapkan airnya sekarang" Safira yang tersipu malu langsung beranjak dari hadapan Kenzo dan pergi kekamar mereka untuk menyiapkan air mandi untuknya.
Kenzo hanya tersenyum setelah menggoda sang istri. Dia memijat pelipisnya dengan sebelah tangan begitu Safira beranjak pergi. Kenzo benar-benar terlihat lelah. Dia harus mengelola perusahaan Anggara, menangani masalah Steve dan juga mulai mempelajari masalah perusahaan Ji sebelum dia mengambil alihnya, dia tidak ingin langsung mengambil alih perusahaan sang nenek tanpa tahu apa yang terjadi dalam perusahaan itu.
"Sayang, airnya sudah siap. Kamu bisa mandi sekarang" ujar Safira yang berjalan mendekat padanya setelah menyiapkan air mandi untuk Kenzo
"Terimakasih. Kalau begitu aku akan mandi sekarang. Kamu benar-benar tidak ingin menemani aku mandi?" tanya Kenzo lagi yang kembali menggoda Safira untuk menutupi rasa lelahnya dari sang istri
"Aah! Berhenti menggodaku!" Safira mendorong Kenzo dengan lembut agar dia segera pergi membersihkan diri. Kenzo tertawa saat meninggalkan sang istri yang tersipu malu
"Dasar mesum!" ujar Safira menatap punggung Kenzo yang berjalan kekamar mandi
Setelah selesai mandi, dia kembali mendekati sang istri yang membaca naskah. Kenzo terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Kapan rencanamya film-film ini akan mulai syuting?" tanya Kanzo yang mulai membaca salah satu naskah ditangannya.
"Ehm … sepertinya film-film ini akan mulai proses syuting dalam tahun ini juga" jelas Safira dengan sedikit ragu
"Kalau begitu film ini sedang dalam pertimbangan. Jika syuting sekarang … ada kemungkinan tayang akhir tahun atau awal tahun. Berarti kita harus memilih peran yang segar dan perannya menonjol" gumam Kanzo mempertimbangkan
"Sayang, tidak perlu khawatir. Apapun peran yang aku ambil, aku pasti bisa memainkannya dengan baik. Apalagi suamiku sendiri yang memilihkannya. Tentu aku tidak boleh mengecewakanmu kan?" jawab Safira dengan bangga
__ADS_1
"Tentu saja peran yang dipilih Kenzo Osterin Anggara tidak akan mengecewakan. Kamu pasti tidak akan menyesal karena aku yang memilihnya"