Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Ramah Tapi Menyeramkan


__ADS_3

Kenzie sudah menahan amarahnya melihat tingkah Rubi yang tak tahu malu


"Pak Kenzie, apa bapak tidak suka pada perempuan?" Tanya Rubi dengan nada yang menggoda sambil mengangkat sedikit roknya ke atas


"Apa?" Kenzie menatap Rubi dengan wajah terkejut


Drrt drrt drrt


"Aku harus angkat telepon" Kenzie masih membiarkan Rubi tetap diruangannya meskipun Risha menghubunginya


"Ada apa Sha?" Nada bicaranya kembali lembut saat bicara pada Risha. Setelah itu Kenzie merubahnya menjadi panggilan video call


"Apa kamu sudah mendapat kabar dari Kenzo tentang Safira? Eh, siapa itu?" Risha yang sebelumnya ingin membahas masalah hilangnya Safira, teralihkan perhatiannya ketika dia melihat Rubi yang tersenyum saat Kenzie saling bertatapan dengan Risha melalui video call


"Dia karyawan disini yang memegang salah satu bagian produksi. Awalnya aku ingin mempertahankannya karena butuh tenaganya, tapi setelah dipikirkan lagi … aku tidak butuh pelacur" Rubi yang sebelumnya masih tersenyum langsung terkejut mendengar ucapan Kenzie yang bicara dengan nada yang dingin


*Maksudmu … dia mencoba merangkak naik dan menggodamu, begitu?" Tanya Risha memastikan


"Betul. Dia mencoba merayuku. Kamu tahu Sha kenapa aku selalu ramah pada orang lain? Aku suka jika mereka hanya melihat penampilan luarku dan masuk perangkap. Aku bisa bermain dengannya"Kenzie tersenyum manis saat bicara dengan Risha


"Zie, jika aku disana, aku akan ikut bermain denganmu. Sayangnya, aku sedang bekerja sekarang. Lalu, apa yang akan kamu lakukan padanya? Kamu tidak berniat mencicipi darah rendah seperti dia kan?" Risha bicara dengan senyum mencibir dan nada yang acuh tak acuh


"Kamu anggap apa aku ini? Kamu pikir aku sudi berdekatan dengan perempuan rendahan yang menghalalkan segala cara?Kamu tidak lupa siapa aku kan? Pelatihan kita akan sia-sia jika aku sembarangan bergaul. Menurutmu hukuman apa yang cocok untuk perempuan tidak tahu malu? Apa aku harus menembak kakinya? Atau memecatnya saja? Ah itu tidak mengasyikkan" Kenzie berbalik dan menatap Rubi. Dia juga mengeluarkan pistol yang di diletakkan dilaci meja.


Rubi yang sebelumnya masih memiliki harapan tinggi, kini gemetar dengan wajah pucat melihat senyum Kenzie. Terlebih lagi setelah mendengarkan percakapan Kenzie dan Risha


"Ya ya ya aku selalu tahu kalau selera Kenzie Lutherin Anggara selalu tinggi. Jadi mana mungkin gadis rendahan seperti dia berhasil merayumu"


"Apa? Kenzie Lutherin Anggara?" Rubi semakin pucat mendengar nama Kenzie


"Hemn... tapi jangan terlalu kejam Zie. Dia itu hanya gadis murahan yang tidak terlalu berguna"


Zie tertawa mendengar ucapan Risha


"Hahaha... Arisha Nedzara Kusuma, kamu sedang mendukungnya atau malah menjerumuskannya?" Tanya Zie dengan senyum ramah


"Aku tidak sekejam itu, hanya saja itu membuat kesal mengingat dia berusaha menggoda saudaraku tercinta"


"Hah ... hentikan omong kosongmu! Nanti kita bicarakan lagi masalah Kenzo. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Sampai jumpa!" Kenzie langsung menutup sambungan video callnya dengan Risha dan kembali menatap Rubi dengan senyum lembut seperti biasanya

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan padamu? Ah, bukannya kamu suka menggoda pria. Aku mempunyai pekerjaan yang lebih cocok untukmu. Kenzie kini menghubungi Kenzo"


Tuut tuut tuut


Tak berselang lama, Kenzo menerima telepon dari Zie


"Halo, Zie?" Sapa Kenzo dari ujung telepon


"Zo, apa sudah ada kabar dari Safira?" Tanya Kenzie basa basi terlebih dahulu


"Ya, aku sudah menemukannya. Sekarang dia masih belum sadarkan diri. Ada perlu apa kamu menghubungiku?" Tanya Kenzo dengan nada bicaranya yang dingin


"Bukannya kamu punya banyak kenalan? Aku ingin mengenalkan seorang gadis yang ingin jadi pelacur" Kenzie bicara dengan senyum tipis


"Maksudmu? Sejak kapan kamu berteman dengan perempuan seperti itu? Jangan macam-macam, kalau tidak papi melotot padamu dan mami akan memarahimu tanpa henti!" Kenzo terdengar kesal saat Zie menanyakan hal itu padanya


"Tenang dulu. Aku hanya membantu orang saja. Sepertinya pekerjaan di kantorku tidak cocok untuknya, jadi aku ingin mengenalkannya pada pekerjaan yang lebih cocok untuknya"


"Ooh, ku kira kamu suka bermain dengan gadis seperti itu" Kenzo kembali tersenyum mendengar penjelasan Kenzie


"Suruh saja seseorang dari bar XX datang. Disana banyak pria yang gagah perkasa menginginkan para gadis melayani mereka dengan puas" Ujar Kenzo dengan nada yang tenang


"Berikan aku alamatnya. Aku akan bawa dia kesana. Dan sepertinya aku harus mulai menyiapkan pengawal pribadi"


"Apa katamu?!" Kenzo langsung menutup teleponnya dan membuat Kenzie semakin penasaran


"Haah... aku kalah satu langkah lagi darinya. Tapi aku harus cari asisten dulu"


Kenzie pun memanggil bagian keamanan ke ruangannya


"Tolong minta bagian keamanan masuk keruanganku"


"Pak Kenzie, tolong ampuni aku. Aku melakukannya karena aku menyukai pak Kenzie. Aku ingin bersama dengan bapak. Aku bisa melakukan apa saja untuk pak Kenzie" Rubi memohon pada Kenzie dengan derai air mata diwajahnya


"Karena kamu rela melakukan apa saja untukku, jadi kamu bisa pergi ke bar yang dikatakan saudaraku. Aku tidak suka orang sepertimu berkeliaran sekelilingku"


Tok tok tok


"Masuk!" Dua orang bagian keamanan pun masuk keruang Kenzie. Mereka terkejut melihat Rubi yang duduk dilantai dengan derai air mata yang merusak riasan wajahnya sambil memohon pada Kenzie

__ADS_1


"Bawa dia keluar dari sini. Jangan biarkan dia menginjakkan kaki lagi dikantor ini. Dan karena aku baik hati … daripada kamu terlantar dijalanan tanpa pekerjaan, lebih baik antarkan dia ke bar XX" Kenzie memberikan perintah sambil tersenyum


"Maksud anda, dia akan dijadikan pelacur?" Tanya salah satu satpam yang tahu mengenai bar XX. Aku merekomendasikan dia sebagai pelayan, tapi jika memang dia ingin seperti itu, mau bagaimana lagi" Jawab Kenzie dengan senyum ramah dan nada bicara acuh tak acuh


"Baik pak kami mengerti. Ayo ikut kami!"


"Tidak pak Kenzie. Tolong maafkan saya! Saya tidak akan melakukan itu lagi. Tolong ampuni saya!" Rubi meronta dan berteriak saat kedua satpam membawanya pergi. Semua karyawan kini berbisik membicarakan Rubi


"Apa yang terjadi? Kenapa Rubi dibawa seperti itu?"


"Aku juga tidak tahu, bukannya tadi dia bilang mau mengantarkan laporan?"


"Eh tidak, tadi dia bilang kalau dia pasti bisa memiliki pak Kenzie"


"Hah? Apa?"


"Iya, sebelumnya dia bilang akan mendapatkan pak Kenzie"


Flash back on


Pagi hari di lobby kantor


"Pak Kenzie keren ya? Dia ramah, bertanggung jawab tapi juga tegas. Jika bisa jadi pacarnya, bagaimana ya?"


"Pasti keren dan beruntung sekali kalau bisa jadi pacarnya?"


"Tentu. Dan aku pasti bisa dapatkan pak Kenzie"


Rubi menjawab dengan sangat yakin


"Kamu yakin bisa dapat perhatian pak Kenzie? Sepertinya dia bukan pria yang mudah dirayu"


"Lihat saja nanti"


Flash back off


Kenzie menatap Rubi yang dibawa satpam dengan berdiri dipintu


"Kalian disini bekerja sebagai karyawan perusahaan. Bukan sebagai wanita penggoda, jadi saya harap kalian bisa mengerti dan melakukan pekerjaan kalian dengan baik" Kenzie bicara dengan sikap yang tenang dan ramah pada para karyawan yang terlihat bingung melihat apa yang terjadi pada Rubi

__ADS_1


"Baik pak!" Semua pun mengerti


"Meskipun dia terlihat ramah, tapi dia pemuda yang tegas dan menyeramkan" Pikir Meisya menatap Kenzie


__ADS_2