
Kenzo sedang disibukan dengan perbaikan software yang dirancangnya. Meskipun sudah selesai dengan virusnya, dia masih harus mengawasi beberapa fungsi dalam software rancangannya yang kini bekerja sama dengan perusahaan teknologi lain untuk pengawasan dan promosi karena perusahaan Santoso sudah tidak ada lagi. Karena kesibukannya bahkan Kenzo sudah beberapa hari ini tidak masuk kantor dan juga tidak bertemu dengan Safira.
Drrt drrt drrt
Ponsel Kenzo berdering saat dia sedang serius dengan laptop miliknya. Dilihatnya dilayar ponsel itu tertulis nama mami
"Halo, mami" Kenzo menjawab telepon dari Cheva dengan sikapnya yang tenang
"Zo, kenapa kamu tidak memberitahu mami kalau kamu merancang software sendiri? Bagaimana bisa mami tahu melalui televisi?" Cheva bertanya dengan nada bicaranya yang sedikit kesal
"Maafkan aku mami. Awalnya aku berniat memberi kalian kejutan setelah launching software rancanganku. Aku tidak tahu kalau akhirnya malah terjadi masalah seperti ini. Aku sama sekali tidak bermaksud menyembunyikan apapun dari kalian" Zo menjelaskan dengan sikap yang tenang dan nada sedikit lemah agar terdengar menyesal
"Ya sudahlah, semua juga sudah terjadi. Sebenarnya mami menghubungimu untuk mengatakan sesuatu. Nenekmu ingin kamu mulai terjun mengelola perusahaan kita sendiri" Cheva pun mulai membicarakan tujuannya menghubungi Kenzo
"Ya, nenek sudah mengatakan itu padaku sebelumnya. Tapi aku tidak tahu harus mengambil alih perusahaan mana. Perusahaan nenek atau perusahaan papi?" Kenzo terlihat bingung dengan apa yang akan dia putuskan. Dua-duanya bukan pilihan baik karena tetap saja masih harus mengungkap identitasnya
"Papimu ingin kamu mengambil alih perusahaan Anggara. Paman Sam dan paman Pram terus mengeluh kalau mereka ingin beristirahat dan menikmati masa tua mereka. Kamu tahu sendiri kalau papimu tidak ingin mengelola perusahaan disana. Dia lebih suka disini sambil mengelola galeri miliknya" Cheva menceritakan mengenai apa yang Lian katakan padanya
"Tentu saja papi ingin tetap disana, karena papi tidak mungkin mau jauh dari mami. Tapi mih, bukannya nenek juga ingin aku mengambil alih JB Company ya? Sebenarnya aku harus masuk keperusahaan mana?" Kenzo mengernyitkan dahi dan bertanya pada Cheva dengan nada yang bingung
"Kamu ingin masuk perusahaan mana?" Cheva kembali bertanya pada Kenzo
"Kenapa mami justru bertanya padaku? Aku saja bingung harus pilih yang mana. Bukannya aku sudah bilang agar tidak memiliki banyak perusahaan? Kita tidak bisa mengelola semuanya" Kenzo pun kini mulai kesal karena harus memilih perusahaan yang akan dia ambil alih
"Apa masalahnya? Kakek buyutmu saja tidak masalah dengan banyak perusahaan yang dia kelola" Cheva menjawab dengan acuh tak acuh
"Mami, jangan samakan aku dengan sang raja bisnis yang legendaris Yudha Arya Kusuma. Mau bagaimanapun aku ini tidak bisa mengikuti jejak kakek" Kenzo bicara dengan nada yang mengeluh kesal
"Siapa bilang kalau kamu tidak bisa? Kamu bisa mengelola 3 perusahaan kita disana. Perusahaan papimu, nenekmu dan juga milik kakekmu" Cheva bicara dengan senyum penuh keyakinan
"Mami, apa kamu ingin membunuhku perlahan-lahan? Kenapa tidak kamu tembak saja aku?Sudahlah aku sibuk. Aku akan memberitahu mami jika aku sudah siap. Sekarang, aku masih harus menyelesaikan masalah software milikku dulu" Kenzo menjawab dengan nada yang sedikit kesal
"Baiklah-baiklah. Mami tidak akan mengganggumu lagi. Kamu harus secepatnya menyelesaikan itu dan hubungi mami atau papimu agar bisa segera masuk keperusahaan papimu" Cheva berskeras dengan nada bicara yang memaksa
__ADS_1
"Baik, mami. Aku mengerti. Aku akan menghubungi mami setelah urusanku selesai" Kenzo memperlambat cara bicaranya pada Cheva
"Bagus. Kalau begitu sampai jumpa pangeran es mami"
"Mami kenapa ... tut tut tut" Cheva langsung menutup teleponnya sebelum Kenzo marah padanya
"Apa-apaan mami ini? Kenapa dia memanggilku seperti Zie dan Risha? Ini pasti karena mereka berdua" Kenzo bicara dengan wajah kesal sambil menggelengkan kepala berkali-kali menatap ponsel ditangannya
***
Risha sedang berjalan kaki dari apartemennya menuju kantor. Karena jaraknya tidak terlalu jauh dia selalu mampir untuk sarapan di kafe dekat kantor.
Risha sedang memakan sandwich pesanannya ditemani segelas kopi sebagai menu sarapan. Tiba-tiba seseorang langsung duduk dihadapannya.
"Apa setiap pagi kamu selalu sarapan disini?" Tanya pemuda itu dengan sikapnya yang datar
"Ya … mau bagaimana lagi. Aku hanya anak rantau saja" Jawab Risha dengan senyum mengembang dan bahu yang diangkat bersamaan
"Aku hanya ingin sarapan diluar saja. Rasanya membosankan sarapan sendiri" Jawab Rendra yang tidak ingin mengakui kalau dia ingin sarapan dengan Risha
"Ajak saja Bastian sarapan denganmu!" Risha menggoda Rendra dengan senyum tipis dibibirnya
"Terimakasih. Aku tidak ingin moodku rusak dipagi hari" Rendra tetap menjawab dengan nada sinis
"Ya ya ya terserah kamu saja. Oh ya, bukannya hari ini ada perekrutan karyawan baru ya?" Risha membuka pembicaraan mereka dengan membahas masalah kantor
"Ini masih diluar jam kantor. tidak perlu membahas masalah kantor" Rendra menanggapi dengan sikap acuh tak acuh sambil menikmati sarapan miliknya
"Kalau begitu … kapan kita mulai berkencan?"
"Uhuk uhuk uhuk"
Rendra langsung tersedak mendengar pertanyaan yang dianjukan Risha
__ADS_1
"Minum dulu! Pelan-pelan!"
"Ah panas panas panas!" Risha mendekatkan kopi milik Rendra agar dia meminumnya. Namun sayang, kopinya masih panas sehingga lidah Rendra seakan terbakar
"Aku tidak tahu kalau ternyata kamu juga ceroboh ya? Ku kira sebagai orang kepercayaan Kenzo, kamu akan sempurna seperti dia. Hahaha" Risha berusaha menahan tawa, namun dia tidak bisa menahannya
"Ini semua karena kamu. Kenapa kamu sangat senang mengajukan pertanyaan seperti itu?" Jawab Rendra kesal sambil membersihkan mulutnya
"Tadi katanya tidak boleh membahas masalah kantor, jadi aku bertanya masalah pribadi" Risha menjawab dengan tenang disertai senyum yang manis
"Haah... gara-gara kamu baju dan dasiku jadi kotor begini" Rendra mengeluh sambil membersihkan dasi dan jasnya yang terkena kopi menggunakan tisu. Namun itu tetap tidak membuat nodanya hilang
"Iya, aku mengaku salah. Maafkan aku. Tapi pertanyaan ku itu serius loh, aku tidak bercanda sama sekali" Risha kembali melayangkan godaannya dengan senyum manis
"Sudah hentikan. Aku harus ke toilet dulu untuk membersihkan ini" Rendra hendak berdiri untuk pergi ke toilet
"Tunggu! Karena ini masih pagi … bagaimana kalau kita membeli 1 set saja pakaian untukmu?" Risha menghentikan Rendra yang baru akan berbalik
"Nona, ini masih pagi, mana mungkin ada toko yang sudah buka?" Tanya Rendra dengan nada menggoda
"Pak Rendra yang terhormat. Ini sudah hampir jam 8. Pasti ada toko pakaian yang sudah buka, apalagi untuk pakaian formal, bisa jadi mereka buka sebelum kantor buka?" Risha menjelaskan dengan penuh keyakinan agar Rendra mau membeli pakaian baru
"Bagaimana kamu bisa sangat yakin kalau sudah ada toko yang buka dijam segini?" Rendra memicingkan mata curiga dengan apa yang dikatakan oleh Risha
"Tentu saka aku sangat yakin. Kalau memang tidak ada yang buka … kita paksa saja pemilik toko untuk membukanya lebih awal" Jawab Risha santai disertai senyum manis
"Kamu mau membeli pakaian atau berniat merampok?" Tanya Rendra memastikan
"Sudahlah jangan banyak bicara. sebaiknya kita berangkat sekarang!" Risha langsung menarik tangan Rendra agar ikut dengannya
"Haah... memang susah ya kalau sudah berurusan denganmu ataupun Kenzo. Kalian selalu bersikeras memiliki apa yang kalian inginkan" Rendra menghela napas panjang dengan tangan yang ditarik oleh Risha
"Karena kami dilatih untuk berusaha mendapatkan apapun yang kami inginkan. Kami tidak dilatih untuk menyerah begitu saja" Jawab Risha dengan senyum tipis dan sorot mata yang tajam
__ADS_1