Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Makan Malam Kenzie Dan Perusahaan Estin


__ADS_3

Meisya memperkenalkan dirinya dengan anggun. Senyum menawan terlihat jelas dari bibirnya yang kecil. Tanpa ada yang menyadari, Meisya melirik Deby untuk melihat ekspresi wajahnya saat ini. Dia terlihat pucat pasi dengan ekspresi tak percaya mendengar apa yang dikatakan suami Sintia.


"Tidak mungkin! Bagaimana bisa dia adalah putri dari pak Arseno yang terkenal itu?!" pikir Deby menatap Meisya dengan tatapan penuh kebencian.


"Jadi benar anda putri pak Arseno?" tanya suami Sintia lagi memastikan.


"Benar. Saya putrinya" Meisya menanggapi dengan senyum yang lembut


"Beruntung sekali saya bisa mengenal nona disini. Ternyata pemimpin dari perusahaan Kusuma adalah kekasih dari putrinya pak Arseno " suami Sintia terus saja memuji Kenzie dan juga Meisya sambil menatap mereka secara bergantian


"Pak Kenzie, anda sangat beruntung. Apa kalian sudah lama menjalin hubungan?" tanya Sintia dengan senyum yang lembut.


"Ya, kami menjalin hubungan saat aku masih menjadi manajer biasa diperusahaan Kusuma dan dia adalah karyawan magang saat itu" Kenzie pun menjelaskan dengan sikap yang tenang.


"Jika anda memang putri pada seorang konglomerat, kenapa anda menjadi karyawan biasa di perusahaan orang lain? Akan lebih baik jika anda meneruskan perusahaan ayah anda, kan?" Deby bertanya dengan nada yang tenang dan sikap yang sinis


"Aku sudah pasti meneruskan perusahaan papa. Tapi karena papa masih bisa mengerjakan semuanya sendiri, kenapa aku tidak mencari pengalaman dengan bekerja diperusahaan orang lain? Toh itu juga bisa jadi pembelajaranku sebagai pemimpin nantinya" Meisya pun menanggapi dengan sikap yang tenang dan elegan.


"Ternyata anda memiliki pemikiran yang berbeda dari orang kaya kebanyakan" puji Sintia dengan senyum lembut dan elegan.


"Karena itu aku merasa sangat beruntung memiliki tunangan seperti dia. Tidak seperti gadis lain pada umumnya, dia memiliki pemikiran sendiri yang unik dan tidak pernah merugikan orang lain. Dia juga tidak pernah


memaksakan kehendaknya pada orang lain” Kenzie menyanggah Sintia dengan lembut dan sesekali matanya mendelik pada Deby yang kini terlihat sangat kesal.


“Benarkah? Apa sebelumnya anda sudah tahu kalau Bu Meisya adalah putri dari pengusaha terkemuka?” kini Sintia bertanya pada Kenzie dengan senyum yang menggoda.


“Tidak. Aku tidak tahu kalau dia adalah anak pengusaha. Saat itu aku hanya tahu kalau dia sedang membutuhkan bantuan saja”. Sintia dan suaminya saling menatap satu sama lain karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kenzie


“Kami bertemu diluar kantor. Saat itu dia sedang

__ADS_1


dikejar-kejar beberapa orang. Setelah itu kami bertemu lagi di perusahaan Kusuma” Kenzie kembali melanjutkan penjelasannya sebelum Sintia dan suaminya bertanya


“Oh, jadi begitu. Sudahlah, kita nikmati saja makan malam kita dan merayakan awal kerjasama kita” ujar Sintia yang tidak ingin lagi membahas hubungan Kenzie dan Meisya lebih jauh lagi.


“Baiklah. Kita nikmati saja makan malam kita”. Sang suami pun mengikuti apa yang dikatakan Sintia.


Deby sudah terlihat sangat kesal dengan apa yang sudah terjadi karena makan malam ini tidak sesuai dengan rencananya.


“Bagaimana bisa jadi seperti ini? ternyata pacar pak Kenzie bukan orang biasa saja. Lalu bagaimana aku bsia menyingkirkannya?” pikir Deby sambil terus menatap Meisya tanpa disadari oleh orang lain.


Meisya yang sejak tadi merasa diperhatikan oleh Deby, kini mulai berinisiatif bertanya padanya


“Kamu sekertaris kak Zie, kan? Waktu itu kita bertemu saat makan siang, kan?” tanya Meisya dengan sikap yang tenang dan senyum elegan.


“Benar. Saya adalah sekertaris pak Kenzie. Saya yang membantu pak Kenzie selama menjadi direktur disini. Saya juga membantu pak Kenzie mendapatkan banyak proyek Kerjasama dengan perusahaan lain” Deby menjawab dnegan sikap yang tenang namun ada senyum sinis dibibirnya.


“Baguslah, aku khawatir jika kak Zie tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Tadinya aku berniat menjadi sekertarisnya kalau saja sekertaris dia yang sekarang tidak bisa bekerja dengan baik” ujar Meisya dengan sangat percaya diri dan matanya terus menatap sinis pada Deby.


“Apa kamu serius ingin jadi sekertarisku?” tanya Kenzie dengan senyum lembut yang menggoda.


“Ehm ... jika Kak Zie tidak punya sekertaris, maka aku akan membantu kakak” Meisya  tersenyum lembut manantang Kenzie. Mereka pun saling menatap satu sama lain.


“Ehem ehem ... sampai kapan anda berdua akan bermesraan seperti itu didepan kami?" goda suami Sintia dengan senyum mengembang dibibirnya.


“Maafkan kami. Aku jadi melupakan makan malam ini. Padahal ini makan malam bisnis kita” ujar Zie dengan senyum ramah.


“Ya, Pak Kenzie harusnya tidak lupa kalau ini adalah makan malam antara kedua perusahaan untuk menjalin kerjasama, bukan untuk memamerkan pasangan”. Deby malah menjadikan ucapan suami Sintia sebagai kesempatan untuk menyudutkan Kenzie.


Sintia dan suaminya saling menatap satu sama lain dengan ekspresi tak percaya setelah melihat tanggapan dari Deby yang malah menyudutkan atasannya sendiri.

__ADS_1


“Kamu itu hanya sekertaris, kenapa kamu bersikap kurang ajar pada atasanmu?!” Sintia bicara pada Deby dengan sikap sinis.


Sikap Sintia itu langsung membuat Deby terlihat gugup dan panik , namun dia masih bisa mengatasi rasa gugupnya dan bersikap biasa lagi.


“Anu ... saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya mengingatkan pak Kenzie pada tujuan makan malam ini. Karena sudah kewajiban saya mengingatkan pak Kenzie. Dan saya memang yang membantu Pak Kenzie selama ini. Jika tanpa bantuan saya, mungkin pak Kenzie tidak akan bisa mengatasi semua kesulitan yang dia temui saat baru menjabat sebagai direktur” ujar Deby dengan penuh percaya diri.


Semua menatap heran sikap Deby. Dari wajah mereka terlihat jelas kalau mereka tidak suka dengan sikap yang ditunjukkan Deby.


"Deby, kamu tidak seharusnya bersikap seperti itu!" ujar Kenzie dengan nada bicara yang dingin.


"Maaf Pak, saya tidak bermaksud kurang ajar. Saya hanya ingin mengingatkan anda dengan tujuan kita makan malam dengan Bu Sintia saat ini" Deby menanggapi Kenzie dengan sikap yang sopan.


"Pak Kenzie, sebaiknya kita lanjutkan saja makan malam kita. Jangan buat mood anda jadi rusak karena ini" ujar Sintia menenangkan Kenzie.


Kenzie pun menganggukkan kepala dan tidak lagi mempermasalahkan sikap kurang ajar Deby padanya.


"Anda benar. ini makan malam kita. Tidak seharusnya rusak hanya karena hal sepele seperti itu. Ini akan jadi urusan antara direktur dan sekertarisnya" Kenzie tetap bersikap tenang namun sorot matanya terlihat sinis menatap Deby.


Deby langsung tertegun dengan kepala tertunduk setelah melihat sorot mata Kenzie nenatapnya tajam.


"Bagaimana ini? Pak Kenzie terlihat sangat marah padaku" pikir Deby dengan kepala tertunduk.


Treng


Semua terkejut saat Meisya menjatuhkan sendok miliknya.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukannya" ujar Meisya yang langsung menunduk untuk mengambil sendoknya. Deby yang berada di sampingnya juga ikut menunduk untuk mengambilkan sendok Meisya. Namun saat mereka mulai berdekatan Meisya berbisik pada Deby.


"Kamu ingin merebut kekasihku dariku? Jangan mimpi! Karena aku tidak akan membiarkan siapapun merebut kebahagiaanku!" ujar Meisya dengan sikap yang tegas dan nada bicara yang dingin.

__ADS_1


Deby terkejut dengan sikap Meisya. Dia tidak menyangka kalau Meisya bisa bersikap tegas padanya


"Bagaimana ini? Dia tidak mungkin berani, kan? Pasti hanya menggertak saja, kan? ya tidak mungkin dia berani melakukan sesuatu. Pasti hanya bualan belaka"


__ADS_2