Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Jebakan Safira


__ADS_3

Catherin membawa Safira menuju hotel yang lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi pemotretan Safira. Disana pak Najim sudah menunggu disalah satu kamar hotel.


"Tolong bantu aku membawanya ke kamar. Dia sedang tidak enak badan dan aku tidak bisa membawanya pulang kerumah" ujar Catherin pada pegawai hotel saat dia meminta bantuan untuk membawa Safira dari mobilnya.


"Baik, Nona". Pegawai hotel pun langsung menggendong Safira ke kamar yang sudah dipesan. Dia tidak tahu kalau itu adalah Safira karena Catherin memakaikan masker pada Safira untuk menutupi wajahnya.


Catherin tersenyum sepanjang jalan membayangkan apa yang akan terjadi pada Safira.


"Safira, kali ini kesombonganmu akan hilang. Aku akan membawamu dengan tanganku sendiri pada pak Najim. Dengan begitu, aku bisa mengamankan posisi sebagai pemeran utama dalam film yang diproduserinya nanti sekaligus menjatuhkanmu untuk membalas dendam atas apa yang sudah kamu lakukan pada Yulita" batin Catherin tersenyum puas saat melihat Safira dibawa ke kamar Najim.


Tak lama mereka tiba di depan kamar


Tok tok tok


Catherin mengetuk pintu kamar pak Najim karena tidak memiliki kuncinya.


Ceklek


"Akhirnya kamu sampai juga. Ayo bawa dia masuk" pinta Najim pada pria yang membantu menggendong Safira


Pria itu pun membantu meletakan Safira dengan sangat hati-hati diatas tempat tidur. Dia memicingkan mata heran melihat Catherin dan juga Najim.


"Ada apa dengan mereka? Bukannya dia bilang kalau gadis ini temannya? Tapi kenapa malah ada pria dikamarnya? Apa dia kerabatnya?" pikir pria itu menatap Catherin dan Najim secara bergantian.


"Ini tips untukmu. Terimakasih" Catherin memberikan sedikit uang pada pegawai hotel yang membantunya sebagai tips.


"Terimakasih. Saya permisi". Pemuda itu berjalan pergi meninggalkan kamar Najim dan sesekali menoleh ke belakang karena merasa khawatir dengan gadis yang dia bawa.


"Kerja bagus. Sekarang kamu bisa pergi dan tinggalkan kami berdua saja" Najim bicara dengan senyum tipis tanpa menatap Catherin. Dia terus menatap wajah Safira yang kini terbaring tak berdaya dihadapannya


"Baik, Pak. Eh tapi tunggu, aku membutuhkan fotonya agar bisa menjatuhkan Safira" ujar Catherin sambil mengeluarkan ponselnya sebelum dia meninggalkan kamar hotel.

__ADS_1


"Nanti saja. Sekarang kamu bisa tunggu dulu di lobby sampai aku menghubungimu. Setelah aku selesai, kamu bisa kembali kemari, jadi tidak perlu repot untuk melepaskan pakaiannya" Najim bicara dengan wajah kesal saat Catherin tidak langsung pergi dari kamarnya


"Baik, Pak" akhirnya Catherin pun mulai beranjak pergi meninggalkan kamar hotel Najim


"Haah ... aku harus meminta Steve menunggu lebih lama karena pak Najim tidak membiarkanku mengambil fotonya lebih dulu" Catherin menghela napas panjang karena tidak bisa mengambil foto Safira untuk diberikan pada Steve.


Didalam kamar ... Najim menatap Safira yang sedang terbaring dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Safira, kamu memang sangat cantik. Tidak heran kalau banyak orang yang memuji kecantikanmu" kata Najim dengan suara rendah dan senyum menggoda dari bibirnya.


"Kamu baru sadar aku cantik?" Safira bicara dengan mata yang masih terpejam dan nada bicara yang dingin


"Hah? Jadi kamu sudah sadar?" Najim terkejut sampai dia sedikit menjauh dari Safira.


Safira bangun dan duduk bersandar pada ujung tempat tidur


"Jadi kalian bersekongkol untuk menculikku? Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang? Kamu bisa saja hancur setelah aku membuka suara tentang apa yang kamu lakukan" Safira bicara dengan sikap yang tenang. Sorot matanya menatap tajam dengan seringai tipis dibibirnya


"Siapa bilang aku tidak punya bukti? Aku bisa menggunakan Catherin sebagai buktinya" Safira tersenyum penuh percaya diri ketika dia mengatakan kalau dia memiliki bukti.


"Tidak mungkin kalau dia mau menjatuhkanku. Dia itu membencimu, sudah pasti kalau dia akan membelaku. Apalagi dia sangat ingin menjadi pemeran utama dalam film yang aku produseri nanti" Najim juga terlihat sangat yakin kalau catherin tidak akan pernah meninggalkannya.


"Jangan terlalu sombong hanya karena kamu punya banyak uang. Kamu pikir ... kamu orang paling kaya didunia ini? Ingat, diatas langit masih ada langit. Aku bisa membuat kamu jatuh seketika dan menyesal karena telah bermain-main dengan ku" Safira mencibir Najim dengan sikap yang acuh tak acuh dan senyum yang sinis.


"Kamu ini seorang perempuan yang terlalu banyak bicara. Saya hanya ingin membantu kamu saja. Daripada kamu bekerja keras menjadi model, lebih baik kamu berada disamping saya. Saya akan jamin kalau kamu tidak kekurangan suatu apapun"


"Aku tidak perlu bantuan kamu. Jika itu uang, maka aku bisa dapatkan itu sendiri. Lagipula ... bukannya kamu sudah tahu kalau aku ini sudah punya pasangan?" Najim semakiin mendekat pada Safira saat dia bicara, namun Safira beranjak dari tempat tidur dan kini duduk di sofa


"Kamu terlalu sombong! Memangnya sampai kapan pria itu akan bertahan disampingmu?". Najim mulai kesal karena sangat sulit membujuk Safira.


Sementara Safira hanya tersenyum dan tetap tenang sambil terus mengulur waktu

__ADS_1


Tok tok tok


"Siapa?!" teriak Najim kesal saat ada yang mengetuk pintu. Karena tidak ada jawaban, Najim pun beranjak untuk membukakan pintu


Ceklek


"Anda terlalu lama membuka pintunya" ujar Kenzo yang langsung masuk tanpa menunggu izin dari Najim


"Apa yang kamu lakukan disini?! Kenapa kamu langsung masuk begitu saja ke kamarku?!" Najim bertanya dengan kesal pada Kenzo yang langsung masuk kekamarnya didikuti Catherin yang berjalan dibelakangnya sambil dipegangi tangannya oleh seorang petugas keamanan.


Kenzo mengabaikan Najim dan terus berjalan ke arah Safira


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Kenzo berjongkok dihadapan Safira dan bertanya dengan raut wajah khawatir


"Kamu tidak perlu khawatir, Suamiku" jawab Safira dengan senyum lembut sambil membelai sebelah pipi Kenzo.


"Se-sebenarnya bagaimana bisa? Bukankah tadi kamu tertidur?" Catherin bertanya pada Safira dengan raut wajah panik dan terlihat bingung.


"Itu kalau aku minum air yang telah dicampur obat olehmu, tapi aku tidak meminum air itu, makanya aku baik-baik saja" Safira menjelaskan dengan tenang bagaimana saat ini dia masih sadar.


"Jadi ... jadi kamu sudah tahu kalau aku akan menjebakmu dengan minuman yang dicampur obat tidur?" Catherin semakin tak percaya setelah mendengar penjelasan Safira.


"Bukannya kamu sudah tahu kalau aku tidak pernah minum air yang diberikan orang lain selain asistenku? Dan pemuda yang kamu suruh tadi ... dia malah memaksaku minum dengan wajah yang panik dan tangan yang gemetar, tentu saja aku curiga padanya. Dan diluar perkiraan, dia mau bekerjasama hanya dengan sedikit ancaman dan juga uang" Safira menjawab dengan acuh tak acuh disertai senyum tipis dibibirnya.


"Aku dengar tadi kamu bertanya sampai kapan aku akan berada disampingnya?" Kenzo mulai bertanya pada Najim dengan sikapnya yang dingin dan sorot mata yang tajam. Meskipun Kenzo sedikit tersenyum, namun auranya terasa mengintimidasi sampai membuat Najim terdiam.


"Aku akan selalu berada disampingnya sampai maut memisahkan kami. Kamu tidak akan mengerti karena kamu tidak pernah memiliki rasa tulus pada seseorang. Kamu pria tua egois yang tidak pernah berkaca diri. Menggunakan harta dan kekuasaan untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kamu pikir bisa mendapatkan semuanya? Jangan mimpi! Itu hanya bisa kamu lakukan pada orang yang memang membutuhkan kekuasanmu saja. Kali ini kamu salah mencari mangsa. Harusnya kamu cari tahu dulu siapa yang ingin kamu mangsa. Salah-salah, kamu yang akan jadi mangsa"


Kenzo bicara dengan sikap yang dingin. Dia terus berjalan mendekati Najim yang terus mundur setiap dia melangkah maju.


"Lalu, apa maumu?" tanya Najim yang semaki terpojok

__ADS_1


"Bukannya aku pernah bilang kalau aku adalah pencabut nyawamu? Kali ini akan kubuat kalian berakhir sampai disini"


__ADS_2