
"Bagaimana kamu bisa makan siang dengan kakakku? Apa kamu sengaja memintanya kemari untuk makan siang bersama? Tapi sejak kapan kalian saling kenal?" Rendra mengajukan banyak pertanyaan pada Risha. Saat ini mereka kembali makan siang bersama karena Bastian sudah kembali ke kantornya
"Aku tidak makan siang dengan kakakmu. Aku makan siang denganmu" Risha menjawab dengan sikap yang tenang sambil menikmati makanan penutupnya
"Tapi tadi kamu bersamanya. Jika aku tidak datang kemari, mungkin kamu akan makan siang berdua saja dengannya" Rendra bicara dengan sikap yang sinis
"Aku tidak tahu kenapa dia bisa ada disini. Lagipula mana mungkin aku bisa menghubunginya, aku kan tidak punya nomornya" Risha tetap tenang menanggapi Rendra yang terlihat kesal
"Mana mungkin dia sengaja menemuimu hanya untuk makan siang bersama jika memang tidak ada apa-apa diantara kalian berdua" Rendra masih tetap dengan nada bicaranya yang sinis
"Ya ampuun ... harus berapa kali aku bilang kalau aku tidak tahu kenapa dia ada disini" Risha memegang dahinya sendiri karena merasa frustasi dengan sikap Rendra
"Tunggu! Apa kamu sedang cemburu?" Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan bertanya dengan senyum yang menggoda Rendra
"Apa? Siapa bilang? Aku tidak cemburu sama sekali. Mana mungkin aku cemburu padamu? Kita tidak memiliki hubungan apapun" Rendra menjawab dengan cepat dan wajah yang panik. Dia kembali salah tingkah dengan menoleh kesana kemari sambil memegangi punggung lehernya seakan dia pegal
"Kalau memang kamu cemburu katakan saja. Tidak perlu malu seperti itu. LIhatlah, wajahmu yang berubah merah seperti tomat yang sudah matang!" Risha tak henti menggoda Rendra yang semakin salah tingkah
"Siapa bilang? Jangan kurang ajar pada atasanmu sendiri ya!" Rendra tetap tidak mau mengakui kalau dia memang sedang cemburu pada kedekatan Risha dan Bastian sebelumnya
"Baik pak. Aku mengerti, tapi sekarang ini kita sedang diluar kantor jadi saya bukan bawahan anda melainkan sepupu dari sahabat anda" Risha tetap tidak ingin berhenti menggoda Rendra yang sedang salah tingkah dan wajahnya merah karena malu
"Lucunya ... saat begini dia memang menggemaskan. Kalau ku foto, apa dia akan marah ya? Aku ingin mengabadikan wajahnya yang seperti ini dan menyimpannya hanya untukku saja" Pikir Risha dengan senyum yang tak berhenti
"Haah ... pantas saja Kenzo selalu kesal padamu, ternyata kamu ini menyebalkan ya" Ujar Rendra yang tak bisa menghadapi keusilan Risha
"Diam! Jangan bawa-bawa Kenzo dalam urusan kita!" Rendra langsung diam setelah Risha menatapnya dengan tajam
"Perempuan memang menyeramkan!" Gumam Rendra sedikit mendelik pada Risha
***
Kenzie baru akan pulang kerumah setelah pekerjaannya selesai. Tiba-tiba dia dihalau oleh beberapa mobil hitam di depannya
__ADS_1
"Ada masalah apa ya? Kenapa mereka menghalangi jalanku?" Gumam Kenzie menatap mobil yang baru saja berhenti itu. Seseorang dengan setelah jas hitam rapih turun dari mobil dan berjalan mendekat ke mobil Kenzie.
Tok tok tok
Kenzie menurunkan kaca jendela mobilnya yang diketuk oleh orang itu
"Ada masalah apa ya kenapa kalian menghalangi jalanku?" Tanya Kenzie dengan sikap yang tenang
"Tolong ikuti kami. Tuan ingin bertemu dengan anda" Orang itu langsung kembali kemobilnya tanpa menunggu jawaban dari Kenzie
"Tuan? Siapa yang mereka maksud? Sudahlah. Sebaiknya ikuti dulu saja!" Kenzie pun mengikuti mobil tadi dari belakang. Sedangkan dari belakang mobil Kenzie juga diikuti oleh rekan dari pengemudi didepannya.
"Aku ini seperti tahanan atau orang penting ya? Sampai dikawal dari depan dan belakang oleh beberapa mobil hitam mewah. Sebaiknya beritahu mami dulu kalau aku pulang terlambat. Kalau tidak mami akan menceramahiku tanpa henti" Gumam Kenzie sambil memperhatikan mobil yang ada didepan dan juga dbelakangnya
Tuut tuut tuut
"Halo, sayang. Apa kamu sudah dijalan pulang? Mami akan minta pembantu untuk masak makanan kesukaanmu" Cheva langsung bicara begitu menerima telepon Kenzie
"Tidak perlu mih. Aku ada urusan dulu mungkin aku terlambat pulang. Kalau memang urusanku sampai larut malam, aku akan menginap dihotel dekat kantor" Zie menjelaskan dengan tenang tanpa memberitahu Cheva yang sebenarnya
"Urusan apa sampai tidak pulang? Kamu tidak akan melakukan hal macam-macam kan? Tidak akan membuat kita malu kan? Jangan sampai melakukan hal bodoh! Kamu bisa menyesal nantinya"
Sesuai dugaan Kenzie, Cheva terus bicara tanpa memberikan Kenzie kesempatan bicara
"Mami, aku tidak akan melakukan hal yang bodoh. Mami tenang saja. Aku hanya ada urusan penting saja sebentar" Kenzie menjelaskan dengan sedikit malas
"Urusan apa? Apakah seorang gadis?" Nada bicara Cheva yang sebelumnya terdengar khawatir kini terdengar menggoda Zie
"Bukan mami. Sudahlah aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa mami" Zie langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Cheva
Setelah menempuh perjalan cukup jauh, akhirnya mereka tiba disebuah rumah besar. Disana sudah berdiri seorang pria paruh baya yang wajahnya tidak asing lagi bagi Kenzie
"Selamat datang, maaf menjemput anda seperti ini. Tuan besar ingin bertemu dengan anda lagi, jadi kami terpaksa menggunakan cara ini" Har bicara dengan sikap tenang disertai senyum tipis dibibirnya
__ADS_1
"Ada perlu apa lagi pak Arseno denganku?" Tanya Kenzie dengan dahi mengernyit heran
"Saya juga tidak tahu. Mari saya antar ke tempat tuan" Har dengan sopan menunjuk arahnya pada Kenzie. Dia berjalan lebih dulu agar Kenzie mengikutinya
"Tuan besar, tuan muda Kenzie sudah sampai" Har memberitahu Pak Arseno yang berada diruang kerjanya
"Baik, aku akan segera kesana" Jawab Arseno yang langsung membereskan pekerjaannya
"Silahkan anda duduk dulu. Tuan akan segera kemari" Har mempersilakan Kenzie duduk dan menunggu diruang tamu
"Aku tahu kalau Pak Arseno orang kaya tapi aku tidak menyangka kalau Meisya yang terlihat sederhana adalah putrinya" Gumam Kenzie sambil memperhatikan setiap sudut rumah Meisya. Kenzie berdiri dan mendekati sebuah foto yang terletak diatas meja
"Lucunya, sepertinya ini foto Meisya saat dia masih kecil" Kenzie tersenyum melihat foto pak Arseno yang sedang duduk sambil menggendong anak kecil dipangkuannya dan juga sang istri yang ada disebelahnya.
"Itu Meisya saat dia berusia 5 tahun" Kenzie menoleh saat mendengar suara pak Arseno dibelakangnya
"Sepertinya anda sangat menyayanginya?" Tanya Kenzie dengan senyum ramah dibibirnya
"Tentu saja. Dia adalah permataku yang paling berharga. Dan sekarang kamu ingin merebutnya dariku" Pak Arseno bicara dengan sorot mata yang tajam menatap Kenzie
"Saya tidak berniat merebutnya dari anda. Mau sekarang atau nanti, dia tetap harus menikah dan membangun rumah tangga sendiri. Atau … anda ingin dia terus sendiri seumur hidupnya?" Kenzie tersenyum dengan mata mendelik curiga pada Pak Arseno
Pak Arseno tersentak mendengar ucapan Kenzie
"Mana mungkin aku menginginkan hal itu? Tentu saja aku ingin yang terbaik untuk putriku dan aku ingin kamu membuktikan padaku kalau kamu pantas jadi pasangan putriku!"
Kenzie terdiam mendengar ucapan pak Arseno
"Merepotkan, apa aku harus memberitahunya kalau aku bukan pacar anaknya? Tapi kalau aku memberitahunya, itu juga akan merepotkan. Sepertinya dia akan tetap menanyakan banyak hal padaku. Haah bagaimana aku bisa terlibat dengan ayah dan anak ini?" Batin Kenzie mengeluh saat dia harus menghadapi pak Arseno
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak berani menerima tantanganku?" Pak Arseno bertanya dengan senyum mencibir Kenzie
"Mana mungkin. Seorang Kenzie tidak pernah takut menerima tantangan apapun" Kenzie menjawab dengan penuh keyakinan
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Aku harap kamu tidak mengecewakanku" Ujar pak Arseno dengan senyum menyeringai