Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Sadarnya Rendra


__ADS_3

"Hemn ... kamu ingin aku bangun atau tidak? Kamu tidak berpikir kalau kamu mengancamku, itu membuat aku tidak ingin bangun?"


Kenzo yang sebelumnya menundukkan kepala dengan bersedih dan sedikit menitikan air mata, dengan cepat mengangkat kepalanya setelah mendengar samar-samar suara Rendra. Dia tersenyum diantara derai air matanya


"Bodoh, kamu bangun? Aku tahu kalau kamu paling takut dengan ancamanku, ancaman itu lebih ampuh membuatmu sadar daripada tangisan dengan kata-kata yang manis karena aku bukan pacarmu" Kenzo bicara sambil tersenyum lembut


"Aku akan panggilkan dokter dulu. Kamu harus diperiksa lagi, siapa tahu ada yang salah dengan otakmu" Kenzo mengejek Rendra sambil berlalu keluar dari kamarnya untuk memanggil dokter


Tak berapa lama dokter dan beberapa suster kembali masuk kekamar Rendra. Dokter kembali memeriksa kondisi Rendra. Mulai dari memeriksa matanya dengan senter kecil dan juga bagian dada dan perutnya menggunakan stetoskop. Kemudian dia melaporkannya pada suster agar dia mencatat hasil pemeriksaan, dan suster lainnya memeriksa tekanan darah, infus dan juga membaca data monitor dan menuliskannya. Mereka juga melepas selang oksigen yang terpasang di hidung Rendra.


"Semua alat vitalnya normal tidak ada yang salah. Tapi kita akan melakukan rontgen dan ct scan ulang untuk memastikan kalau semua bagian dalamnya baik-baik saja" Dokter menjelaskan dengan tenang mengenai keadaan Rendra. Diapun menjelaskan tindakan yang akan diambil selanjutnya.


"Baik dokter, saya percayakan dia pada anda. Saya yakin anda akan melakukan yang terbaik untuknya" Raut wajah Kenzo yang sebelumnya terlihat tegang perlahan sudah mulai mengendur. Dia pun kembali mendekati Rendra setelah dokter meninggalkkan ruangan


"Ceritakan padaku apa yang terjadi di pesta kemarin! Aku ingin kamu cerita sedetil-detilnya, jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun. Kamu lihat kan siapa yang mendorongmu saat pesta?"


Kenzo kembali terlihat serius dengan nada bicaranya yang dingin. Dia benar-benar menunggu apa yang akan menjadi jawaban Rendra.


"Zo, aku baru saja sadar, kamu ingin membuatku berpikir keras lagi?" Rendra mengerucutkan bibirnya dan bicara dengan malas


"Ya sudah, Kalau begitu cukup katakan saja siapa yang telah mendorongmu" Kenzo tetap tidak terkecoh dan terus menanyakan palakunya pada Rendra


"Fredi. Dia putra Rian. Sebelumnya kami berselisih di ruang pesta, karena aku tidak ingin merusak pesta, jadi aku ke balkon untuk menghindarinya sekaligus menghubungi Risha. Eh siapa sangka kalau dia mengikutiku dan mendorongku sampai jatuh. Tunggu Zo, aku merasa ada yang aneh ..."


Rendra menghentikan ceritanya dan berusaha meraih kakinya. Tangannya meraba-raba ke kaki lalu kembali menoleh pada Kenzo dengan ekspresi wajah serius


Kenzo mengerutkan keningnya penasaran melihat ekspresi Rendra


"Apa yang aneh?"


"Kakiku. Kenapa aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku?" Rendra berusaha keras mengangkat kedua kakinya, namun itu tidak berhasil.


Kenzo pun terlihat panik, dia lansgung berdiri dan mendekati kaki Rendra


"Apa ini sakit?!" Tanyanya dengan cepat sambil memukul pelan kaki Rendra


"Aku tidak merasakan apapun!" Rendra menjawab dengan putus ada panik

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" Kenzo langsung berlari dan kembali memanggil dokter


"Cepat periksa dia, dokter. Apa yang terjadi dengan kakinya?!" Tak lama Kenzo langsung kembali dengan dokter, dia dengan cpat memita dokter untuk memeriksa kaki Rendra.


"Bagaimana? kenapa dia tidak bisa menggerakkan kakinya?" Kenzo terlihat panik saat dia bertanya pada dokter. Dia kehilangan ketenangan yang selama ini selalu dia tunjukkan


"Ada salah satu saraf dibagian kakinya yang mengalami kerusakan akibat pasien terjatuh kemarin. Tapi anda tidak perlu khawatir, ini hanya bersifat sementara saja. Bisa dibilang kalau saraf kakinya seakan terkejut dan jika menjalani terapi degan rutin pasti akan bisa kembali berjalan"


"Berapa lama dok? Harus menunggu berapa lama sampai saya bisa kembali berjalan?" Rendra pun bertanya mengenai kondisi kakinya. Tentu saja dia ingin tahu harus berapa lama di duduk di kursi roda


"Kami tidak bisa memastikannya. Entah itu memerlukan waktu beberapa bulan atau lebih lama yang pasti suatu hari, itu akan kembali normal"


Entah harus senang atau sedih Rendra dan Kenzo sama-sama terdiam mendengat kemungkinan yang dikatakan dokter. Dokter pun langsung bergi setelah memberikan penjelasannya


"Zo, apa ini mimpi? Tidak mungkin aku menggunakan kursi roda kan?"


Rendra bertanya dengan wajah tak percaya dan mata berlinang. Entah mereka harus senang sata sedih saat ini. yang pasti untuk sementara waktu Rendra tidak bisa berjalan menggunakan kedua kakinya.


"Kamu harus menggunakannya untuk sementara waktu sampai kamu bisa berjalan lagi. Kita akan melakukan terapi dan meminta bantuan dari terapis handal dan mencari dokter berpengalaman untuk penyembuhanmu"


Kenzo menenangkan Rendra agar dia tidak frustasi. Sorot  matanya kembali berubah gelap ketika mengingat hal yang sebelumnya Rendra katakan. Kedua tangannya mengepal keras menahan semua amarahnya


"Rendra!" Kenzo dan Rendra langsung menoleh ke arah pintu, dengan cepat Risha langsung berlari dan berhambur ke pelukan Rendra yang masih berbaring di tempat tidur.


"Syukurlan kamu sudah sadar. Kamu tidak tahu kalau aku sangat khawatir. Aku takut kamu tidak akan bangun lagi dan meninggalkanku" Risha terus bicara dengan air mata yang juga terus mengalir


"Tenanglah, aku sudah tidak papa. Kamu tidak perlu khawatir lagi" Kini Rendra yang menenangkan Risha dengan mengusap lembut punggungnya.


"Akhirnya kamu siuman Ren. Jika tidak, rumah sakit ini akan terendam oleh air mata Risha" Kenzie menyambut Rendra dengan senyum yang ramah dan nada bicara yang lembut


"Terimakasih kalian sudah repot-repot datang kesini" Rendra menunjukkan senyum yang manis meskipun wajahnya masih terlihat sedikit pucat


Kenzo mundur ke sofa dan membuka laptop miliknya. Dia mulai memainkan jari jemarinya diatas keyboard. Dia mencari data lengkap mengenai Fredi dan Rian. Kenzo terus fokus dan mengabaikan orang-orang didepannya yang sedang berbagi cerita. Konsentrasinya terganggu ketika ponselnya berdering.


Drrt drrtt drrrt


Kenzo pun meraih ponselnya dan menerima panggilan telepon itu

__ADS_1


"Halo, Ra" Sapa Kenzo saat dia baru menerimanya


"Halo Zo. Apa kamu sudah sampai?" Safira bicara dari ujung telepon. Suaranya sangat lembut dan nada bicaranya masih terdengar lemah


"Ya, aku sudah sampai tadi pagi. Apa kamu baik-baik saja? Bagaiamana dengan hasil pemeriksaannya kemarin?" Sambil bersandar pada sofa dan kaki disilang, Kenzo menanyakan kondisi Safira


"Aku baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan hasil pemeriksaannya. Bagaimana dengan Rendra? Apa dia baik-baik saja?" Safira tidak membiaran Kenzo bertanya lebih jauh tentangnya. Dia langsung mengalihkan pembicaraannya dengan menanyakan kabar Rendra.


"Dia baru saja sadar. Dokter bilang dia tidak ada masalah, hanya saja sementara waktu ini dia haru menggunakan kursi roda" Kenzo menjelaskan denggan tenang mengenai bagaimana kondisi Rendra.


"Zo, apa itu Safira? Kenalkan dia pada kami" Risha mendekati Kenzo dan meminta dengan senyum lembut agar dikenalkan pada Safira.


"Tidak mau. kamu pergi saja pada Rendra" Kenzo menolak dengan tegas permintaan Risha.


"Cepat kenalkan dia pada kami. Jangan menyimpannya sendiri" Risha bersikap manja dan bersikeras ingin dikenalkan pada Safira


"Haah baiklah. Ra, ubah panggilannya ke mode video. Sicerewet ingin bicara denganmu"


"Ya" mereka pun merubahnya  ke panggilan video


"Hao Fira. Aku Risha, akhirnya aku bisa langsung kenalan denganmu" Risha begitu antusias, dia melambaikan tangan dan bicara dengan senyum ceria. Dia pun membantu Rendra duduk dan mereka melakukan video call bersama membiarkan Kenzo sendiri dengan laptop miliknya


"Ra apa kamu sakit? Kenapa wajahmu terlihat pucat?" Risha bertanya dengan khawatir. Tiba-tiba Cheva muncul dari belakang Safira


"Karena dia memang sedang sakit, jadi jangan lama-lama mengganggunya! Risha, Kenzie, Meisya dan Rendra sangat terkejut karena Cheva langsung berteriak


"Mami"


"Tante"


Kenzie dan Meisya serempak memanggil Cheva dengan senyum canggung


"Rendra, bagaimana kondisimu nak?" Tanya Cheva melihat Rendra tengah duduk dan bersandar


"Aku baik tante. terimakasih sudah mengkhawatirkan aku" jawab Rendra dengan senyum lembut


"Ya, dimana Kenzo?" Tanya Cheva penasaran

__ADS_1


"Dia sedang menggunakan komputernya, mungkin ada sedikt pekerjaan yang diselesaikan"


"Haah anak itu. Pasti berselancar dengan semua data lagi. Entah kali ini apalagi yang coba dia selesaikan"


__ADS_2