
Adnan dan Hasna meninggalkan perusahaan Surendra bersama karyawan lainnya. Karyawan perusahaan Surendra sudah berkurang banyak sejak krisis perusahaan terjadi. Sekarang hanya ada sekitar 30 orang saja yang tersisa di perusahaan Surendra
"Pah, kenapa jadi seperti ini pah? Bagaimana bisa semuanya jadi begini?" Hasna masih bertanya dengan bingung mengenai kondisi yang mereka alami saat ini.
"Papa juga tidak mengerti kenapa semuanya bisa jadi seperti ini. Sekarang tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Lebih baik kita pulang saja" Adnan dan Hasna memandang perusahaan Surendra yang kini sudah dipasang spanduk bertuliskan 'Disita' di depan pintu gerbangnya dengan wajah sedih dan murung.
"Terimkasih karena kalian sudah menemani kami sampai akhir. Aku akan usahakan untuk membayar gaji kalian" Ujar Adnan pada Asisten dan juga karyawan lainnya.
"Kami akan menunggu niat baik anda, pak" Jawab karyawan Adnan lainnya. Mereka tidak bisa lagi melakukan apapun karena semua sudah disita oleh bank
"Ya, kalau begitu kami permisi" Adnan dan Hasna pun berjalan pergi meninggalkan perusahaan
"Pak Galen, pak Rey, kerja keras kalian berdua sia-sia. Semua yang kita bangun dengan susah payah untuk membesarkan nama perusahaan ini sekarang hilang begitu saja" Zul terlihat sangat sedih saat dia menatap perusahaan tempat dia bekerja selama bertahun-tahun akhirnya ditutup. Air mata pun mulai menetes membasahi pipi Zul, namun dengan cepat dia menghapus air matanya dan dengan berat hati meninggalkan perusahaan Surendra
***
"Kalian tidak bisa mengusir kami begitu saja dari rumah kami sendiri! Kalian sama sekali tidak berhak untuk melakukan itu!" Astria berteriak pada polisi dan perwakilan dari bank yang akan menyita rumah mereka
"Tapi bu, kami membawa surat perintah resmi untuk menyita semua aset yang dimiliki oleh keluarga Surendra, karena kalian telah melewati masa jatuh tempo dari apa yang telah disepakati sebelumnya" Pihak bank berusaha memberikan pengertian pada Astria dan keluarganya
"Apa yang terjadi disini?!" Adnan kembali dikejutkan dengan keberadaan polisi begitu dia dan Hasna tiba dirumah
"Kak! Mereka akan menyita semua aset yang kita miliki. Itu mustahil kan? Jika mereka mengambil semuanya, bagaimana dengan kita? Kita akan tinggal dimana?" Astria langsung berlari mendekati Adnan begitu melihat kakaknya itu datang
"Selamat siang, kami dari pihak bank. Kami kesini membawa surat perintah untuk melakukan penyitaan atas semua aset yang telah dijaminkan pada pihak kami" Dia memberikan surat perintahnya pada Adnan dan membiarkannya melihat sendiri surat resmi itu.
Lagi-lagi Adnan terdiam dan tidak bisa melakukan apapun. Akan percuma saja jika dia memberontak dan menolak keputusan dari pengadilan karena dia sendiri yang telah menjaminkan semua aset milik keluarga Surendra.
"Sudahlah, kita tidak bisa melakukan apapun lagi. Kita sudah menyetujui ini sejak awal, jadi tidak ada lagi yang bisa kita perdebatkan" Adnan bicara dengan suara yang lemah. Dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan karena semua cara untuk mempertahankan asetnya sudah dia coba lakukan
"Tapi pah …" Hasna dan Rama pun merengek manja pada sang ayah namun tidak ada gunanya
"Pak, bisa berikan kami waktu untuk mengemasi pakaian kami?" Tanya Adnan yang sangat sedih
__ADS_1
"Baiklah. Lakukan secepatnya!"
"Terimakasih" Adnan pun mengajak keluarganya untuk masuk dan mengemasi pakaian mereka. Mereka tidak dapat membawa barang berharga apapun dari rumah itu.
Dari luar gerbang rumah Surendra, tentu saja Cheva, Radit, Lian dan Diaz memperhatikan mereka. Mereka tidak akan melewatkan kesempatan untuk bisa melihat Adnan dan Astria turun ke jalanan.
"Sepertinya permainan kita sudah selesai. Mereka sedang bersiap melepaskan semua harta yang mereka rebut dengan mengorbankan 3 nyawa" Diaz mencibir Adnan dan keluarganya dengan senyum tipis dibibirnya
"Ya, jalanan adalah tempat yang pantas untuk mereka" Radit menanggapi dengan senyum menyeringai
"Dit, bukannya kamu ingin mengenalkan seseorang pada Hasna? Kurasa sekarang dia mulai bertanya-tanya siapa itu Johan" Cheva pun ikut berbincang dengan kedua saudaranya
"Tenang saja kak. Karena aku baik hati, aku pasti memberitahukan padanya" Radit menanggapi dengan sikap yang santai
"Apa jalanan lebih baik dari penjara?" Cheva, Diaz dan Radit langsung menoleh begitu Lian bicara
"Maksud kak Lian, apa kita harus memenjarakan mereka juga?" Tanya Cheva dengan tatapan penuh tanya
"Entahlah. Dijalan mereka bisa kelaparan"
"Tidak. Dipenjara mereka bisa bekerja untuk orang lain" Lagi-lagi Cheva, Diaz dan Radit menoleh pada Lian
"Kamu sungguh kejam, Lian" Diaz mengatakannya dengan sikap yang sangat tenang
"Terimakasih atas pengakuannya" Diaz, Cheva dan Radit sudah tidak terkejut lagi dengan sikap Lian yang seperti itu. Mereka hanya memalingkan wajah kesal atas sikap Lian yang tenang tapi menyebalkan
Tak berapa lama, Adnan dan keluarganya keluar dari rumah Surendra dengan masing-masing koper ditangan mereka.
"Sekarang kita akan pergi kemana?" Tanya Rama dengan wajah sedih.
"Ehm... mama akan pergi kerumah kakek dan nenekmu" Jawab Sani dengan senyum tipis yang dipaksakan
"Aku akan membawa Astria kerumahku. Meskipun itu rumah sederhana, tapi setidaknya kami tidak perlu tidur dijalanan" Suami Astria pun bicara dengan wajah sedih
__ADS_1
Prok prok prok
"Ow ow ow, rupanya keluarga bahagia kita sedang merencanakan masa depan" Cheva mendekati keluarga Adnan dengan bertepuk tangan pelan dan senyum yang manis
"Kalian! Untuk apa kalian datang kemari?! Puas kalian melihat kami seperti ini?!" Astria berteriak ketika melihat Cheva dan lainnya datang
"Tenanglah, kami hanya ingin mengkonfirmasi bagaimana keadaan kalian setelah kehilangan harta yang kalian perjuangkan" Cheva bicara dengan senyum diwajahnya
"Oh aku juga ingin bertanya sesuatu. Bagaimana rasanya dicampakkan seorang?" Hasna yang sebelumnya diam saja mulai membelalakkan mata mendengar ucapan Radit
"Maksudmu?" Tanya Hasna bingung
"Hemn … bukankah dia memintamu menanyakan sesuatu pada ayahmu?" Radit bertanya dengan mata mendelik pada Hasna dan Adnan secara bergantian
"Sebenarnya apa yang kamu maksud? Dan siapa yang dicampakkan?" Adnan terlihat bingung dengan perkataan Radit
"Pah, aku ingin bertanya sesuatu. Apa benar papa menyebabkan orang lain kehilangan nyawanya?" Adnan langsung menoleh pada Radit, Diaz dan Cheva begitu mendengar pertanyaan Hasna
"Itu… itu tidak benar. Papa tidak pernah melakukan hal itu!" Bantah Adnan dengan wajah panik
"Jawab dengan jujur pah! Johan bilang papa menyebabkan orang lain meninggal, apa itu benar?!"
"Papa sama sekali tidak melakukan itu!" Adnan terus mengelak atau apa yang dituduhkan putrinya
"Sampai kapan lagi kamu akan menutupi kebenarannya? Kalian masih belum berpikir jernih ya? Kalian sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Apa kami juga harus merenggut nyawa keluarga kalian satu persatu?" Cheva mengancam dengan sikap yang sangat tenang
"Kamu mengancamku?!" Teriak Adnan kesal
"Sepertinya kamu lupa dengan apa yang aku katakan. Aku pernah bilang kalau aku akan membuat kalian membayar atas apa yang telah kalian lakukan pada Lea, Galen dan Rey. Kalian tega merencanakan kecelakaan mereka karena harta, padahal bisa saja kalian meminta semua itu dengan cara baik-baik. Mereka pasti memberikan semuanya karena Galen masih punya keluarga Kusuma setelah dia menikah dengan Lea. Galen dan Rey juga tidak menginginkan harta itu. Sebagai anak adopsi, mereka merasa tidak berhak akan hal itu. Tapi mendiang ayah kalian yang memaksa mereka untuk menerimanya. Mengingat kalian sama sekali tidak becus dalam mengelola perusahaan. Sekarang terbukti kalian tidak bisa apa-apa tanpa mereka" Diaz bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata penuh emosi
"Jadi ini semua karena kalian?! Kebangkrutan kami itu karena kalian?!" Adnan bertanya untuk memastikan apa yang terjadi
"Menurutmu? Semua yang kalian alami adalah bagian rencana kami. Itu setimpal dengan kejahatan yang telah kalian lakukan!" Ujar Cheva dengan sikap dingin
__ADS_1
"Sekarang, ratapilah penyesalan seumur hidup kalian. Karena apa yang telah kalian lakukan, tidak akan pernah bisa diperbaiki"