
Pernikahan Risha dan Rendra hanya tinggal menghitung hari. Pasangan itu kini tengah disibukkan dengan persiapan akhir sebelum pesta pernikahan mereka digelar. Kini Risha dan Rendra sedang melakukan pengecekan ulang untuk semua yang diperlukan. Mereka tengah memeriksa masakan yang akan dihidangkan dan juga dekorasi yang akan dipakai.
Risha terus menekuk wajahnya dan terlihat murung dan tidak bersemangat. Rendra terus memperhatikan sang kekasih yang tidak terlihat seperti biasanya. Akhirnya, Rendra yang merasa khawatir pun mulai
mendekati Risha dan duduk disampingnya.
“Sayang, apa kamu baik-baik saja? Aku perhatikan sejak tadi kamu tidak bersemangat dan terlihat murung. Apa kamu sakit? Atau ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiranmu?”. Rendra bertanya dengan sikap yang tenang. Dia pun memegang dahi Risha untuk memeriksa kesehatannya. Setelah memastikan tubuh Risha tidak panas, dia memegang tangannya dengan lembut dan menunggu jawaban dari sang kekasih.
“Aku baik-baik saja. Aku hanya memikirkan Kenzie”. Risha menanggapi dengan suara yang lemah dan wajah sedih.
“Kenzie? Ada apa dengannya?”. Rendra bertanya dengan dahi mengernyit dan terlihat sangat penasaran.
“Dia sedang patah hati, jadi akhir-akhir ini dia menjadi lebih murung dan pendiam. Aku hanya khawatir saja, karena Kenzie yang biasanya ceria dan hangat, kini lebih pendiam dan dingin” Risha pun menjelaskan pada Rendra mengenai apa yang jadi kekhawatirannya.
“Kenzie patah hati? Apa dia dan Meisya benar-benar putus?” Rendra kembali bertanya pada Risha untuk memastikan apa yang dia artikan dari ucapan Risha.
“Ya mereka putus. Ayah Meisya tidak setuju kalau putrinya menjadi bagian dari keluarga kami”. Risha kembali menjelaskan alasan berakhirnya hubungan Kenzie dan Meisya.
“Tidak setuju menjadi bagian dari keluarga Kusuma? Ayahnya gila atau dia merasa lebih hebat dari keluargamu?”. Rendra bertanya dengan senyum mencibir dibibirnya.
“Entahlah aku tidak tahu. Yang pasti jika Kenzie ingin menikah dengan Meisya, maka dia harus meninggalkan kami”. Risha terus menundukkan kepala sambil mengepal dengan erat saat dia bicara.
“Apa?! Meninggalkan keluarga kalian? Sayang, ada masalah apa dengan keluarga kalian?! Apa ayah Meisya memiliki masalah pribadi dengan keluarga Kusuma? Atau mungkin ... dia salah satu dari sekian pengusaha yang usahanya hancur oleh keluaga kalian?”. Rendra semakin terkejut dengan alasan Kenzie putus. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan ayah Meisya. Disaat banyak gadis yang ingin menjadi pasangan Kenzie, dan banyak pula orang tua yangningin menjadikan putrinya sebagai pasangan Kenzie, pak Arseno justru tidak
ingin memiliki hubungan dengan keluarga Kusuma.
“Entahlah, aku tidak tahu bagaimana cerita pastinya. Kenzie hanya cerita kalau ayah Meisya takut jika putrinya nanti masuk keluarga kami, dia bisa jadi direndahkan karena statusnya yag lebih rendah dari kami”.
Rendra semakin mengerutkan dahinya setelah mendengar penjelasan Risha.
“Memang ada ya keluarga yang memiliki status sosial lebih tinggi dibandingkan keluarga Kusuma? Setahulu keluarga kalian adalah keluarga dengan status social paling tinggi karena semua perusahaan milik keluarga Kusuma berkembang dengan baik. Oh mungkin yang memiliki status sama dengan kalian hanyalah pemimpin Negara. Itu pun dengan jumlah kekayaan yang belum tentu lebih besar dari kekayaan kalian” Rendra bicara dengan sedikit nada menerka.
__ADS_1
“Kenzie hanya menceritakan kalau ayah dan ibu Meisya memiliki hubungan yang buruk setelah mereka menikah, karena status mereka yang berbeda. Karena itu ayah Meisya tidak setuju dengan hubungan Meisya dan Kenzie”
“Karena itu dia mengajukan syarat agar Kenzie meninggalkan rumah? Apa dia tidak takut kalau tante Cheva akan marah? Meskipun hubungan darah tidak akan pernah bisa diputuskan walau sudah meninggalkan keluarga, tetap saja akan ada jarak kalau sampai Kenzie setuju meninggalkan keluarganya”. Rendra terlihat sangat kesal mendengar cerita Risha tentang pak Arseno. Risha dan Rendra saling terdiam memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.
“Sudahlah tidak perlu membahas Kenzie lagi. Dia sudah dewasa, jadi dia pasti sudah memikirkan keputusan yang baik untuk hidupnya. Aku harap dia menemukan gadis baik yang akan mengerti dan menerima keadaannya tanpa syarat”
“Ya kuharap juga begitu”
Setelah beberapa lama, Rendra dan Risha pun berniat makan direstoran sebelum mereka pulang kerumah. Namun saat itu Risha teringat kalau dia meninggalkan sesuatu di toko sebelumnya.
“Ren sepertinya aku harus kembali ke toko itu. Aku meninggalkan tas yang baru saja kamu belikan didekat ruang ganti” ujar Risha
setelah menyadari kalau dia meninggalkan barang belanjaan Karena terlalu banyak
melamun.
“Biar aku saja yang ambil. Kamu tunggu disini”. Rendra berinisiatif
“Tidak perlu. Biar aku sendiri saja yang ambil” ujar Risha sambil menahan tangan Rendra agar tidak pergi
“Kamu yakin? Aku tidak akan lama. Kamu hanya perlu menunggu sebentar saja”
“Aku yakin. Aku bisa mengambilnya sendiri”. Risha bersikeras untuk mengambil barang miliknya sendiri dan tidak membiarkan Rendra mengambilkan untuknya
“Baiklah. Jangan lama-lama. Aku akan tunggu kamu disini”
“Iya. Hanya mengambil tas yang tertinggal saja” Risha pun mulai beranjak pergi meninggalkan Rendra dengan langkah kaki yang sedikit cepat karena tidak ingin Rendra menunggunya terlalu lama. Sedangkan Rendra terus menatap punggung Risha yang semakin menjauh dari pandangannya.
***
"Permisi. Tadi aku meninggalkan 1 buah tas belanjaan disini, apa ada yang menyimpannya?". Risha bertanya dengan tenang dan sopan pada karyawan toko yang ada disana.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Kami tidak melihatnya. Kalau boleh tahu, seperti apa tas yang anda maksud? Mungkin kami bisa bantu tanyakan pada yang lain". Salah satu penjaga toko menanggapi dengan sopan ucapan Risha.
"Eum... kotak tasnya berwarna hitam. Sling bagnya berwarna putih" Risha menjelaskan detil barang yang dia tinggalkan.
"Oh apakah seperti itu, Nona?". Risha pun menoleh mengikuti arah telunjuk penjaga toko itu.
"Ya, sepertinya itu milikku. Terimkasih". Risha pun berbalik pergi dan mendekati sepasang kekasih yang sedang memegang tas yang sama dengan milik Risha
"Permisi, boleh aku melihat tas yang kalian pegang. Aku tidak ada maksud jahat, hanya saja tadi aku meninggalkan tas yang sama seperti itu disini". Risha bicara dengan sikap tenang dan sopan agar pria dan wanita itu tidak merasa tersinggung dengan ucapannya.
"Apa maksudmu? Kamu menuduh kami mengambil barang milikmu?". Gadis itu menanggapi Risha dengan sikap yang sinis.
"Aku tidak memiliki maksud seperti itu. Aku hanya ingin memastikan kalau itu barang milikku atau bukan?" Risha tetap tenang disertai senyum manis saat dia bicara pada pada gadis itu.
"Ini sama sekali bukan milikmu! Ini adalah tas milikku. Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa beli tas ini?!". Gadis itu terus bersikap sinis pada Risha, sedangkan pria yang disampingnya hanya diam dan tersenyum melihat perdebatan Risha dan kekasihnya.
Risha terdiam memperhatikan sekeliling toko. Dilihatnya ada kamera CCTV yang terpasang ditoko tersebut. Risha langsung tersenyum dengan mendelik pada mereka berdua.
"Bagaimana kalau kita lihat saja buktinya. Disini ada kamera CCTV, pasti pemilik tas ini akan ketahuan kan? Aku ingat betul dimana aku meletakkan tas milikku" Risha bicara dengan sikap yang tenang dan penuh keyakinan sambil menunjuk kearah kamera CCTV. Pasangan itu hanya saling menatap satu sama lain dengan raut wajah yang panik.
Risha langsung melambaikan tangan pada salah satu pelayan toko tanpa menunggu jawaban dari pasangan itu. Salah satu gadis pun menghampiri Risha.
"Ya, Nona. Apa ada yang bisa dibantu?" tanya pelayan toko itu pada Risha dengan sikap yang sopan.
"Tolong katakan pada manajer tokomu kalau aku ingin melihat kamera CCTV disini". Risha bicara dengan sikap yang tenang dan elegan
"Hei, siapa yang setuju untuk melihat kamera CCTV? Kamu benar-benar mencurigai kami? Kamu tahu siapa pacarku? Dia ini adalah pemilik mall ini. Kamu pikir kamu siapa? Seenaknya saja menuduh orang mencuri barangmu! Kamu harus berlutut dan meminta maaf" Gadis itu terus saja menggerutu pada Risha dan menyombongkan kekasihnya
Risha tersenyum mencibir sikap gadis itu
"Kalau begitu, sekalian saja kamu minta ayahnya menemuiku. Kita lihat siapa yang akan bertekuk lutut dikaki siapa. Kamu atau aku yang akan bertekuk lutut"
__ADS_1