Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kemarahan Rendra


__ADS_3

Rendra menatap Risha dan Ana dengan sorot mata tajam. Tangannya mengepal dengan keras melihat Ana


"Berani sekali kamu menamparku?! Kamu pikir, kamu ini siapa, hah? Kamu tidak tahu siapa aku?" Ana bertanya dengan nada kesal dan sombong. Dari matanya terlihat jelas kalau dia sangat marah saat ini


"Bukan aku yang mulai. Kamu sendiri yang ingin menamparku lebih dulu, jadi wajar saja kalau aku membela diri dan menamparmu duluan. Lagipula aku tidak peduli siapapun kamu" Risha menjawab dengan tenang dan elegan


"Dasar gadis ******. Kali ini kamu menggoda siapa disini? Dulu saat aku bertemu denganmu, kamu sedang bersama om-om yang kamu bilang dosenmu, apa sekarang kamu menggoda pemilik perusahaan ini?" Ana menghina Risha dengan senyum mencibir


"Jaga bicaramu! Jangan sampai aku menampar pipimu yang satunya lagi!" Nada bicara Risha terdengar sangat dingin dia juga menatap Ana dengan sorot mata yang tajam dan tangan mengepal


"Kenapa? Kamu malu jika kedokmu terbongkar? Gadis sepertimu itu tidak mungkin bisa masuk keperusahaan ini tanpa koneksi. Kamu pasti memanjat ke tempat tidur petinggi perusahaan ini kan?"


Ana tak henti-hentinya menghina Risha dengan perkataannya yang tidak masuk akal. Orang-orang yang berkumpul disana pun mulai membicarakan Risha dan menatapnya dengan tatapan merendahkan. Rendra pun semakin kesal mendengar perkataan Ana tentang Risha yang tentunya salah besar karena dia tahu betul bagaimana sepupu dari sahabatnya itu.


"Siapa gadis ini? Berani sekali dia mempermalukan Risha di depan banyak orang. Kalau saja dia laki-laki pasti aku sudah menghajarnya" Pikir Rendra yang terus menatap Ana dengan sorot mata tajam penuh emosi.


"Sudahlah, aku malas meladenimu. Aku ada janji yang lebih penting daripada meladenimu" Risha pun berbalik hendak pergi ke restoran untuk makan siang dengan Rendra. Langkahnya terhenti dan dia terpaku pada salah seorang pria yang berada diantara kerumunan orang disana. Pria itu menatap kearahnya dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah


"Rendra? Sejak kapan dia berdiri disitu?" Gumam Risha melihat Rendra berdiri disana.


Risha pun kembali melangkah dan melewati kerumunan orang yang perlahan memberikan jalan untuknya meskipun dengan tatapan mencibir. Hanya Rendra yang tidak bergerak dari tempatnya sehingga mereka kini saling berhadapan satu sama lain. Risha menyunggingkan senyum lembut pada Rendra dan bertanya padanya


"Bisa kita makan siang bersama diluar?"


Rendra mengabaikan Risha dan berjalan melewatinya. Dia melangkahkan kakinya menuju Ana memandang Risha dengan tangan dilipat didada disertai senyum sombongnya

__ADS_1


"Siapa namamu? Ini pertama kalinya aku melihatmu disini" Tanya Rendra dengan sikapnya yang tenang dan datar


"Saya Ana. Saya mendapatkan panggilan disini untuk mengisi posisi sebagai manajer keuangan" Ana menjawab dengan senyum lembut dan penuh percaya diri


"Oh kalau begitu kamu bisa pulang sekarang. Aku tidak butuh karyawan sepertimu!" Ujar Rendra dengan sikapnya yang dingin dan langsung berbalik meninggalkan Ana yang terkejut dengan mata membelalak


"Apa?! Hei, mana bisa seperti itu? Memangnya siapa kamu seenaknya saja memutuskan kalau aku tidak bisa bekerja disini?! Aku ini sudah dipilih HRD dan akan segera mulai bekerja!" Teriak Ana pada Rendra yang kini sudah berjalan kembali mendekati Risha


Rendra menoleh pada Ana tanpa membalikkan badannya


"Aku, Rendra Adelio Dirga, pemilik perusahaan ini dan aku tidak butuh karyawan sepertimu yang sombong dan suka menganggap rendah orang lain"


Nada bicara Rendra dingin dengan sorot mata yang tajam. Tidak hanya Ana yang terkejut, bahkan Risha dan semua orang disana juga terkejut melihat sikap Rendra


"Ayo kita pergi Sha. Waktu makan siang akan segera habis" Ujar Rendra dengan sikap yang tenang tanpa mempedulikan semua orang yang ada disana


"Pak. tolong maafkan saya. Saya telah melakukan kesalahan. Saya tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi" Ana memohon pada Rendra dengan linangan air yang hampir jatuh


"Kenapa kamu memohon padaku? Bukannya tadi kamu bersikap sangat sombong dan begitu yakin dengan durimu sendiri?" Rendra bertanya dengan senyum mencibir


"Risha, sampai kapan kamu akan berdiri disitu? Ayo cepat kita pergi!" Rendra memanggil Risha yang masih terpana menatapnya


"Ah ya, baik!" Risha pun tersadar mendengar panggilan Rendra dan berjalan dengan langkah cepat mengejarnya


"Ren, kamu yakin tidak masalah jika bersikap seperti tadi? Mereka bisa memandang rendah kamu sebagai atasan karena bersikap pilih kasih pada karyawan biasa sepertiku" Risha bertanya dengan sikap yang tenang. Kini dia menatap Rendra dengan tatapan penuh harap

__ADS_1


"Sejak kapan kamu peduli hal seperti itu?" Rendra memicingkan mata menunggu jawaban Risha


"Entahlah. Aku hanya tidak ingin citramu jelek didepan semua karyawanmu" Jawab Risha dengan kepala tertunduk


"Mereka bekerja pada kita dan kita juga membayar mereka sesuai dengan apa yang harus mereka terima, kurasa … itu sudah cukup. Dengar Risha jangan pernah pikirkan pendapat orang lain. Mereka tidak tahu bagaimana kita. Mereka hanya bisa menilai kita dari luarnya saja. Jika kamu terus memikirkan pendapat orang lain, lama kelamaan kamu akan kehilangan rasa percaya dirimu. Karena kamu lebih percaya dan peduli pada apa kata orang lain ketimbang percaya pada diri sendiri"


Rendra terlihat serius saat bicara dengan Risha, dan itu membuat Risha tersenyum


"Kenapa kamu malah senyum-senyum seperti itu?" Tanya Rendra yang kembali dengan sikap acuh tak acuhnya


"Tidak ada. Aku hanya baru tahu kalau kamu ternyata cukup bijaksana" Risha bicara dengan nada sedikit mencibir


"Jangan meremehkanku. Aku cukup lama memgikuti saudaramu. Dan aku belajar darinya kalau hidup itu tidak perlu mempedulikan apa kata orang lain. Dulu aku selalu berusaha untuk jadi anak baik agar bisa disayangi dan disukai oleh keluargaku. Aku mengikuti apa kata mereka sampai melupakan keinginanku sendiri. Sampai aku mengenal Kenzo, dia selalu meyakinkanku untuk melakukan apa yang aku inginkan tanpa peduli apa pendapat orang lain. Orang lain hanya akan menilai penampilan luar saja entah itu baik atau buruk, mereka tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi. Jadi aku tidak peduli kalau karyawan ku mau menilai aku sebagai atasan yang baik atau buruk. Yang tahu tentangku hanya aku sendiri dan orang-orang terdekatku"


Risha terdiam menatap Rendra dengan tatapan kagum. Bahkan dia tidak berkedip sedikitpun


"Hei, hei. Sampai kapan kamu akan terus menatapku seperti itu?" Tanya Rendra dengan tangan melambai di depan wajah Risha


"Ah maafkan aku. Ucapanmu tadi benar-benar membuatku kagum. Bagaimana ini? Sekarang aku jadi lebih menyukaimu" Risha menggoda Rendra dengan nada bicara yang manja


"Kamu tidak lelah, selalu bicara manis seperti itu?" Tannya Rendra dengan tatapan tak peduli


"Mau bagaimana lagi aku tidak bisa berhenti menyukaimu. Semakin lama aku mengenalmu, rasa cintaku justru semakin besar padamu. Haah... Jangan-jangan suatu hari nanti, aku bisa terkubur dalam cinta yang ku kumpulkan untukmu?" Risha bicara dengan wajah polosnya sedangkan Rendra mengernyitkan dahi dengan kedua alis yang hampir menyatu


"Haaah Entahlah aku tidak tahu harus mengatakan apalagi padamu" Ujar Rendra dengan menghela napas panjang

__ADS_1


"Tidak perlu mengatakan apa-apa. Cukup katakan saja aku mencintaimu!" Goda Risha lagi pada Rendra


"Dasar gombal. Ayo lanjutkan makannya"


__ADS_2