
"Safira, tante tidak bisa menemanimu lagi disini. Kami harus kembali ke negara A karena ada beberapa masalah dikantor yang tidak bisa diatasi oleh orang lain" Cheva terdiam sesaat kemudian melanjutkan perkataannya
"Ehm … Bagaimana kalau kamu ikut dengan kami saja ke negara A? Kami akan mengantarkanmu ke rumah sakit tempat Rendra dirawat dan kamu bisa menemani Kenzo disana" Cheva bicara pada Safira sambil menggenggam kedua tangannya
"Tapi, tante, aku takut kalau aku malah merepotkan Kenzo disana. Aku tidak papa kok sendiri. Lagipula disini ada Tiara dan Kenzo hanya seminggu berada disana" Safira menolak dengan senyum lembut dibibir1nya
"Bagaimana tante bisa tenang meninggalkanmu sendiri disini, sedangkan sekarang kamu sedang sakit. Lagipula tidak perlu khawatir karena Kenzo sudah miliki rumah sendiri, jadi kamu tidak perlu takut kalau akan merepotkan ataupun terganggu oleh kami" Cheva bersikeras membawa Safira dan mengantarkannya ke tempat Kenzo
"Tante, ini hanya penyakit ringan. Aku tidak akan mati hanya karena penyakit ini. Aku akan tetap meminum obat dan memeriksa selalu keadaanku. Hanya saja aku tidak ingin melakukan operasi" Safira memberitahu Cheva agar tidak khawatir padanya dengan senyum lembut dibibirnya.
"Tetap saja itu berbahaya untukmu. Tante ingin kamu sembuh sepenuhnya dan menemani Kenzo seperti biasanya. Tante senang melihat kedekatan kalian berdua" Cheva bicara sambil mengusap air matanya yang mulai menetes dengan sapu tangan yang diberilan Lian
"Aku akan selalu menemani Kenzo sampai akhir, tante" Safira pun mulai menitikan air matanya
"Safira ..." Akhirnya Safira dan Cheva saling berpelukan satu sama lain dalam derai air mata mereka
Prok
"Kalau begitu kita sepakat" Diantara keharuan yang terjalin antara Safira dan Cheva, Lian memecah kehenigan dengan bicara sambil menepuk tangannya, membuat calon mertua dan menantu itu melepas pelukan mereka dan menoleh pada Lian bersamaan
"Safira akan ikut ke negara A dan memberi kejutan pada Kenzo. Bukankah tidak ada jadwal syuting film?" Lian bicara dengan tenang dan senyum yang tipis
"Tapi om..." Ujar Safira yang mencoba membantah Lian
"E e e ... tidak ada bantahan, kamu akan ikut kami dan menerima pengobatan juga disana" Lian menolak dengan menggelengkan kepala perlahan berkali-kali
"Hubby, aku semakin cinta padamu"
"My princess, tidak baik menggombal di depan Safira. Kenzo sedang tidak ada disini, kasihan kalau dia iri"
"Kalau begitu aku akan tutup mata saja" Safira langsung menutup matanya dengan kedua tangan agar Cheva dan Lian bisa bermesraan. Suasana haru yang sebelumnya terjadi berubah menjadi tawa bahagia diantara mereka bertiga
***
Keesokan harinya dirumah sakit.
"Aku bosan. Kalian tidak ingin mengajakku pergi keluar? Rasanya aku tidak bisa bernapas padahal baru dirawat selama 2 hari" Rendra mengeluh karena dia terus berada dikamar
__ADS_1
"Salah, bukan 2 hari tapi 3 hari. Aku sudah 3 hari meninggalkan negara F dan 2 hari menemanimu disini" Kenzo memprotes dengan sikap yang acuh tak acuh sambil terus memainkan laptopnya.
"Yang 1 hariya aku tidak sadar, jadi itu tidak bisa dihitung" Rendra membela diri dengan ucapannya.
"Tidak bisa begitu. Yang dihitung kan waktu kamu dirawat disini" Kenzo pun tak ingin kalah dari Rendra.
"Bisakah kalian berdua diam! Kalian berdua benar-benar berisik!" Risha yang kesal dengan perdebatan Kenzo dan Rendra pun akhirya meninggikan suara dan membentak mereka berdua
"Ini semua karena Kenzo, dia selalu saja mencari masalah denganku" Rendra bicara dengan nada kesal
"Aku tidak mencari masalah, aku hanya membenarkan apa yang salah saja" Kenzo kembali menanggapi Rendra dengan nada bicara yang tenang dan sikap yang acuh tak acuh. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan sorot mata yang tajam, seakan ada kilatan petir yang menyambar keluar dari mata mereka berdua.
"Hentikan …! Sepertinya otak kalian berdua tidak bisa berpikir karena terus berada disini selama 2 hari terakhir. Kalau begitu, kita keluar saja untuk mencari udara segar dan menjernihkan otak kalian berdua" Risha bicara dengan emosi yang meledak-ledak karena Kenzo dan Rendra.
"Haah ... aku bisa gila jika terus berada diantara kalian berdua. Zo, bantu aku memindahkan Redra ke kursi roda" Risha pun keluar dari ruangan Rendra untuk mengambilkan kursi roda
"Bukannya kamu sejenis burung yang bisa terbang? Kenapa masih membutuhkan bantuanku?" Kenzo mengejek Rendra dengan candaan yang sama sekali tidak lucu
"ha ha ha ... lucu sekali" Rendra menanggapi dengan sinis. Risha pun kembali masuk dengan mendorong kursi roda didepannya.
"Ya ya ya" Kenzo pun akhirnya bangun dari duduknya dan melangkah mendekati Rendra untuk membantunya pindah ke atas kursi roda.
"Ayo pergi Zo!" Risha mengajak Kenzo untuk pergi dengannya dan Rendra
"Aku tidak mau ikut. Kalian berdua saja yang pergi" Kenzo menolak untuk pergi dan memilih tinggal dengan laptopnya.
"Tidak baik jika hanya bermain komputer saja. Kamu juga butuh udara segar untuk menjernihkan otakmu yang selalu bekerja keras itu. Kepalamu bisa mengeluarkan asap jika teruz berpikir tanpa membiarkan dia istirahat" Rendra terus saja menggoda Kenzo agar dia mau keluar
"Ha ha ha tidak lucu" Kenzo menanggapi dengan senyum mencibir
"Cepat bantu aku dorong kursi roda ini!" Pinta Rendra dengan sinis
"Risha bisa mendorongmu sendiri. Dia adalah super woman" Jawab Kenzo dengan acuh tak acuh
"Tapi aku lelah karena sejak kemarin berada disini. Aku juga kurang istirahat, jadi sekarang aku tidak punya tenaga" Risha kembali berakting manja
"Kalian berdua sengaja ingin menjadikanku pengasuh ya?" Tanya Kenzo dengan sinis
__ADS_1
"Salah, bukan pengasuh, tapi pesuruh" Jawab Rendra dengan senyum polos
"Sialan kalian!" Meskipun Kenzo menggerutu, tapi pada akhirnya dia tetap mendorong kursi roda milik Rendra dan berjalan keluar menuju taman depan rumah sakit.
Saat mereka sedang berjalan, tidak jauh dari mereka terjadi sebuah kerbutan. Banyak perawat dan pasien mendekati seorang gadis cantik untuk berfoto dan meminta tanda tangan. Suasana menjadi sangat riuh meskipun bagian keamanan berusaha melerai mereka
"Ada apa disana? Kenapa ribut-ribut?" Tanya Rendra yang melihat kerumunan orang di depan mereka
"Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin ada artis yang datang kerumah sakit? Bagaimana kalau kita lihat sendiri kesana?" Risha menyarankan pada Rendra dan Kenzo dengan senyum ceria dan kedua alis diangkat bersamaan
"Baik, ayo kesana Zo" Pinta Rendra agar Kenzo mendorong kursi roda kearah kerumunan
Orang yang berada di kerumunan itu tidak terlihat jelas. Hanya sekilas terlihat seorang gadis berkulit putih bersih, bertubuh tinggi semampai, dengan rambut hitam panjang yang mengenakan topi dan matanya ditutup dengan kaca mata hitam. Hidungnya terlihat mancung dan bibir kecilnya berwarna pink. Dia terlihat tetap tersenyum diantara kerumunan orang yang mengelilinginya.
Sekilas Kenzo melihatnya dari sela kerumunan. Dahinya berkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu. Tak lama ujung bibirnya terangkat dan membentuk sebuah senyuman.
"Sha, pegang kursi roda Rendra. Aku akan jadi satria baja hitam yang menyelamatkan seorang gadis cantik" Kenzo bicara dengan mata yang terus menatap kearah kerumunan orang, dia sama sekali tidak menoleh pada Rendra dan Risha
"Apa yang akan kamu lakukan?" Rendra terlihat bingung dengan ucapan Kenzo
"Sudah kubilang, kalau aku akan menyelelamatkan gadis cantik" Kenzo langsung berjalan mendekati kerumunan orang dengan langkah yang berwibawa dan tenang.
"Apa yang dia rencanakan?" Tanya Rendra bingung
"Entahlah, aku juga tidak tahu" Risha menjawab sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Nona, apa anda butuh bantuan dari penyelamat tampan sekarang?" Semua langsung menoleh kearah Kenzo secara bersamaan. Tidak terkecuali Safira yang sedang dikerumuni banyak orang
"Oh sepertinya anda bisa membantuku. Maaf semuanya, tapi aku harus segera pergi" Kenzo pun menarik Safira keluar dari kerumunan dan berlari menuju taman
"Aku sangat merindukanmu" Kata Safira saat mereka berdua tiba ditaman
"Aku lebih merindukanmu. Bagaimana kamu bisa ada disini? Kamu kan sedang sakit" Kenzo mengernyitkan dahi dan bertanya dengan wajah bingung
"Mengikuti pacar tampanku. Aku tidak rela jika membayangkan kamu didekati para gadis yang menggunakan software sebagai alasannya" Ujar Safira dengan nada manja
"Sayang kamu tidak perlu khawatir soal itu, karena yang bisa dekat denganku hanya kamu seorang. Tidak akan ada perempuan manapun yang bisa masuk diantara kita berdua"
__ADS_1