
"Aku sudah mendapatkan restu dari kakek dan nenek Safira. Mami bisa kesini secepatnya untuk peresmian pernikahanku. Kita bisa menggelar makan makan keluarga sebagai pengganti resepsi" Kenzo sedang menghubungi Cheva untuk membicarakan mengenai pernikahannya dan kedatangan keluarga Kusuma di negara F
"Benarkah? Ini kabar yang bagus. Kapan kamu akan mendaftarkan pernikahan kalian? Mami akan datang bersama yang lainnya" Cheva menanggapi dengan antusias dan nada yang terdengar sangat ceria
"Aku ingin minggu ini juga. Aku dan Safira sudah menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan untuk pendaftaran pernikahan kami" Kenzo bicara dengan sikapnya yang tenang dan dingin
"Aaawwww"
"Minggu ini juga? Kamu yakin? O iya apa kamu sudah bicara dengan saudaramu? Atau mami saja yang beritahu Kenzie mengenai rencanamu"
"Tidak perlu. Aku sendiri yang akan memberitahu Zie dan juga Risha. Setelah aku menghubungi mami, aku akan langsung memberitahu mereka"
"Ya sudah. Kalau begitu mami tutup dulu agar kamu bisa menghubungi Zie dan Risha. Mereka juga sedang bersama dibalkon" Cheva bersikap tenang saat bicara dengan Zo, namun pada kenyataannya dia sangat bahagia sampai mencubit tangan Lian yang ada disampingnya
"Zo, kamu membuat papi teraniaya oleh ibumu karena dia terlalu bersemangat!" Teriak Lian yang sudah tidak bisa menahan cubitan tangan sang istri
"Apa maksudnya pih?" Kenzo terdengar bingung karena dia tidak tahu apa yang terjadi
"Tidak ada, mami tutup ya. Sampai jumpa Zo" Cheva menyela tanpa membiarkan Lian kembali bicara
"Ya sudah mih sampai jumpa" Mereka pun mengakhiri telepon mereka
***
Dibalkon lantai 2, Kenzie dan Risha sedang bersantai menikmati waktu mereka berdua yang kini semakin berkurang.
"Kamu sedang membuat apa Sha? Kenapa serius sekali?" Kenzie bertanya pada Risha setelah cukup lama memperhatikan dia sibuk dengan laptopnya
"Aku sedang membuat proposal untuk mencari investor" Risha menjelaskan pada Kenzie sambil tetap mengerjakan apa yang dia kerjakan. Dia hanya sekali menoleh pada Kenzie sampai kembali fokus lagi
"Investor? Apa itu untuk film baru yang akan diproduksi perusahaan? Kamu ikut serta dalam filmnya?" Zie terlihat sangat antusias membicarakan film itu
"Ya, ini untuk film baru kita. Tapi aku sama sekali tidak terlibat dengan pembuatan film itu. Aku hanya melakukan sedikit kesalahan dengan film itu saja"
Zie terlihat bingung dan penasaran dengan apa yang dimaksud Risha
"Kesalahan? Kesalahan seperti apa maksudmu?" Kenzie dibuat semakin penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Risha
__ADS_1
"Aku meminta direktur lain untuk bertaruh denganku" Risha menjawab dengan nada mengeluh dan bibir mengerucut
"Taruhan? Taruhan apa? Sepertinya karena sudah lama kita tidak bertaruh jadi kamu sengaja mengajak orang lain bertaruh ya?" Kenzie bertanya dengan nada mengejek. Diapun terus saja tersenyum seakan menertawakan tindakan Risha
"Bukan begitu! Dikantor tersebar gosip kalau aku adalah wanita simpanannya papi. Bahkan ada foto saat kami makan siang bersama yang dijadikan sebagai bukti nyata yang mereka tunjukan. Aku dengar kalau orang pertama yang menyebarkan rumor gila itu adalah salah satu direktur perusahaan kita. Itu sebabnya aku menantangnya bertaruh" Jelas Risha dengan nada mengeluh manja
"Apa?! Wanita simpanan?! Hahaha ... Apa tampang dan penampilanmu saat dikantor terlihat begitu murahan sampai dibilang wanita simpanan? Hahaha" Kenzie terbahak mendengar cerita Risha yang dibilang simpanan ayahnya sendiri
Bug bug
"Kenapa kamu malah mengejekku?! Kamu tidak kasihan pada sepupumu yang cantik dan sudah diperlakukan tidak adil ini?! Bukannya kamu juga jadi simpanan tante Cheva ya?!"Risha yang kesal memukul Tangan kenzie dengan keras sambil bicara padanya
"Sakit Sha! Aku tidak peduli dengan gosip seperti itu. Kalau mereka sudah keterlaluan baru aku akan bertindak tegas" Kenzie hanya bisa meringis dan mengusap tangan yang dipukul Risha
"Lebih baik kamu pergi saja kalau hanya ingin mengejekku!"
"Baiklah-baiklah. Tapi aku sedikit kecewa Sha"
"Kecewa kenapa?" Tanya Risha yang kini menatap Kenzie dengan tatapan heran
"Kenapa kamu hanya mengajaknya taruhan saja? Padahal kamu bisa memberinya pelajaran karena telah menghina dan merendahkanmu!" Kini Kenzie bicara dengan sikap yang sinis dan nada yang dingin. Dia terlihat kesal kali ini
"Mana mungkin aku melupakan sapupu tercintaku ini, hah? Jadi kenapa hanya meminta taruhan saja?" Kenzie bicara dengan senyum ceria sambil mengusap kepala Risha hingga membuat rambutnya berantakan
"O iya,. Bagaimana kondisi Meisya? Apa lukanya sudah membaik? Kenapa kamu tidak menemaninya dirumah sakit?" Risha mengalihkan pembicaraan sambil merapikan rambutnya yang berantakan
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku ingin tahu kenapa harus taruhan seperti itu?" Kenzie bicara dengan tegas dan wajah serius
"Aku ingin buktikan kalau aku mendapatkan posisi direktur bukan karena aku merangkak ketempat tidur dan menjadi wanita simpanan. Yaa … meskipun sebenarnya itu karena aku adalah bagian dari keluarga Kusuma juga, tapi aku punya kemampuan juga untuk menempati posisi itu. Dia harus tahu kalau dia salah menilai gadis muda yang cantik sepertiku ini"
"Ya baiklah. Tapi kamu harus ingat kalau orang yang sudah memiliki pemikiran jelek itu tidak selalu menerima kekalahan dan saat dia kalah pasti dia akan mengatakan kalau kamu menggunakan koneksi untuk memenangkan taruhan ini. Kita tahu betul orang seperti apa mereka itu" Kali ini Zie terlihat sangat serius dengan apa yang dia katakan
"Aku tahu. Kamu tidak perlu khawatir. Jika memang dia tidak mau menerima kekalahan dan melakukan cara yang licik maka kita bisa memberikan dia pelajaran yang akan membuat dia menyesal dengan apa yang telah dia lakukan" Risha tersenyum manis saat dia bicara pada Zie
"Baiklah, aku percaya padamu. Lagipula disana ada papimu, tidak ada yang perlu aku khawatrkan, iya kan?" Kenzie tidak lagi memperpanjang apa yang dia katakan. Dia menerima jawaban Risha sepenuhnya
"Zie, tadi aku serius bertanya padamu. Bagaimana kondisi Meisya dan kenapa kamu tidak menemaninya?" Risha kembali menanyakan bagaimana kondisi Meisya saat ini
__ADS_1
"Disana sudah ada papanya. Kamu tidak tahu pak. Arseno itu menyeramkan. Apalagi saat putrinya perhatian padaku. Dia seperti kan menekanku hidup-hidup tapi kondisinya sudah membaik, hanya saja luka ditangannya cukup dalam jadi dia masih tidak bisa menggerakan tangannya dengan bebas" Zie menjelaskan dengan tenang kondisi Meisya
"Sudah bisa dibayangkan bagaimana kamu jika menikah dengannya nanti. Dia pasti akan selalu mengejarmu"Risha bicara dengan tenang sambil tersenyum mengejek Kenzie
Drrt drrt drrt
"Eh Kenzo menghubungi lewat video call" Kenzie melihat ponselnya bergetar dan itu panggilan dari Kenzo
"Tunggu apa lagi? Cepat terima teleponnya!" Jawab Risha dengan santai
"Hai Zo!" Kenzie dan Risha melambaikan tangan bersamaan ketika Zie mengangkat telepon dari Kenzo
"Hai, apa yang sedang kalian berdua lakukan?" Tanya Kenzo dengan sikap yang dingin
"Kami hanya sedang kangen-kangenan saja. Sudah lama kan kami tidak bersama seperti ini. Benarkan, Sha?" Kenzie menjawab dengan senyum ceria
"Kangen-kangenan? Zie sedang mengganggu pekerjaanku Zo. harusnya kamu marahi saja dia!" Risha mengadu pada Zo dengan sikap yang tenang
"Apa maksudnya itu? Aku sama sekali tidak mengganggu. Sudah ku bilang jika butuh bantuan, katakan saja padaku" Zie membela diri dengan senyum yang manis
"Kapan kamu mengatakan itu? Kamu tidak mengatakan apapun!" Risha kembali membantah ucapan Kenzie
"Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan pada kalian berdua" Kenzo menyela perdebatan Risha dan Zie
"Apa itu? Kenapa aku merasa merinding bahkan sebelum kamu bicara ya?" Zie kembali menanggapi dengan sikap yang tenang
"Benar. Aku juga sedikit curiga padanya" Risha pun menanggapi dengan sedikit khawatir
"Jangan berpikir macam-macam dan duduilah dengan tenang!" Pinta Kenzo sebelum dia bicara
"Jangan bertele-tele! Cepat katakan!" Zie dan Risha terlihat tidak sabar menunggu
"Baiklah, akan segera aku katakan!" Zo terdiam cukup lama hingga membuat suasana semakin tegang
"Katakan apa yang ingin kamu katakan! Jangan buat kami gugup!" Ujar Risha mulai kesal
"Haah... Aku akan menikah dengan Safira"
__ADS_1
"Apa?!"