
Willy sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Kenzie. Dia terdiam setelah sambungan teleponnya dengan Kenzie berakhir
"Apa? Kontrak kerja kami berakhir begitu saja? Dia juga akan memutuskan kontrak kerja perusahaan ku dengan perusahaan lain? Tidak mungkin! Memang siapa dia bisa bertindak seenaknya? Dia pasti hanya menggertak saja. Ini tidak mungkin terjadi padaku. Benar kan?" Willy bicara pada diri sendiri untuk meyakinkan kalau apa yang dikatakn Kenzie itu hanyalah kebohongan. Tapi tak lama kemudian pintu kantornya diketuk dengan keras
Tok tok tok
"Maaf pak saya langsung masuk begitu saja. Saya baru saja mendapatkan kabar buruk" Sekertaris Willy masuk dengan tergesa-gesa dan wajahnya terlihat sangat panik
"Ada masalah apa?" Tanya Willy masih santai menanggapi ucapan sekertarisnya
"Saya baru saja mendapat telepon dari beberapa perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita kedepannya. Mereka membatalkan kontrak kerja sama dengan kita" Sekertarisnya menjelaskan masih dengan panik
"Apa katamu?! kamu bercanda kan? Kita bahkan belum mulai bekerja sama dan itu baru akan dilakukan minggu depan dan juga bulan depan. Berapa perusahaan yang membatalkan kerja sama dengan kita?" Willy yang terkejut kini berusaha menenangkan dirinya sendiri
"Semuanya pak" Willy terbelalak mendengar kalau semua perusahaan yang akan bekerja sama degannya telah membatalkan kontrak kerja sama mereka dalam waktu singkat
"Kamu boleh pergi" Willy bicara dengan wajah yang muram . Dia menutup matanya dengan kedua tangannya
"Baik pak. Permisi"
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ini semua gara-gara rencana bodoh Luki. Sekarang apa yang harus aku katakan pada petinggi perusahaan dan pemegang saham disini? Semuanya hancur. Hancur begitu saja. Harusnya aku tidak mudah terhasut oleh bujuk rayu si LUki yang bodoh itu" Willy meratapi semua kesaahannya. Dia terlihat frustasi dengan apa yang terjadi.. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai perusahaan ini bangkrut
***
Risha sedang fokus bekerja dengan tugas yang ditawarkan Rendra. Saat ini dia sedang merancang sebuah proposal untuk kerja sama dengan salah satu vendor perusahaan
Flash back On
"Sha, kamu sudah lama mempelajari bisnis. Kamu tidak hanya ingin bergelut dalam bidang keuangan saja kan?" Risha menatap tajam Rendra dengan menunggu apa yang akan dia katakan padanya
"Apa maksudnya?"
"Aku akan melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan besar dalam bidang tekhnologi. Apa kamu mau bergabung dengan bagian perencanaan? Jika kamu tertarik, aku ingin kamu membuat proposal kerja sama dengan mereka" Risha menatap tajam pada Rendra yang sedang bicara dengan senyum tipis diwajahnya
"Maksudmu ... aku bisa masuk ke bagian perencanaan?" Risha memicingkan mata bertanya pada Rendra untuk memastikan apa yang dimaksud oleh Rendra
"Benar. Bukankah kamu suka tantangan? Aku tahu kalau Kenzo suka sesuatu yang menantang dan beda, karena kalian tumbuh bersama, aku yakin kalau kamu juga memiliki keinginan yang sama"
Risha tersenyum sambil menganggukkan kepala berkali-kali menanggapi apa yang ditawarkan Rendra padanya
__ADS_1
"proposal tentang apa yang akan ditawarkan?" Tanya Risha dengan senyum ceria
"Kita bergerak dalam bidang elektronik. Aku ingin kamu membuat penawaran dengan sesuatu yang berbeda yang akan dibutuhkan banyak orang nantinya"
"Seperti .... robot atau mesin?" Tanya Risha mencari ide yang lebih spesifik dan dibalas dengan anggukan oleh Rendra
"Bagaimana kalau mesin? Kita sudah banyak memproduksi lemari es dan juga mesin cuci. Aku ingin membuat sebuah mesin yang memiliki fungsi berbeda. Misalnya sebuah mesin yang membantu kita memasak atau mungin yang bisa membantu orang-orang disabilitas?" Rendra sedikit memberikan gambaran tentang apa yang dia pikirkan
"Kita sudah membuat lemari pendingin, bagaimana kalau kita membuat juga sesuatu yang bisa menghangatkan? Kita bisa mulai memproduksi penghangat?" Tanya Risha memikirkan ide
"Itu tidak terlalu diperlukan disini" Risha dan Rendra sama-sama terdiam berpikir
"Bagaimana kalau kita membuat sesuatu yang bisa digunakan untuk memudahkan kaum disabilitas untuk melakukan aktivitas? Misalnya sebuah jalan kecil otomatis yang bisa dipasang dikursi roda mereka, atau mungkin sebuah alat seperti petunjuk arah yang bisa digunakan para penderita tuna netra" Risha memberi saran dengan sikap yang lembut dan tenang
"Petunjuk arah? Hemn... Bagaimana kalau jam tangan yang bisa menggunakan suara. Itu akan beroperasi menggunakan GPS" Rendra menyarankan dengan senyumnya yang manis
"Itu ide yang bagus. Dengan begitu bisa memudahkan para penderita tuna netra, jadi meskipun mereka tidak bisa melihat mereka bisa tahu jalan menggunakan suara dari GPS yang terpasang di jam tangan" Risha menanggapi dengan senyum ceria diwajahnya
"Kalau begitu kamu susun proposalnya. nanti kita ajukan saat meeting"
"Baik. Aku mengerti"
"Tidak akan bagus untuk kita jika membuat masalah dengan dia, karena dia selalu dilindungi pak Rendra" Ujar Kia dengan sikap yang tenang
"Dikantor memang dia selalu dilindungi, tapi diluar kantor kan tidak. Dia sudah berani mempermainkanku. Aku tidak bisa tinggal diam begitu saja" Nura terlihat sangat marah dan benci pada Risha
"Tapi Ra, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Elisa yang mulai penasaran
"Aku akan membuat dia kehilangan kesombongannya" Nura tersenyum mencibir kearah Risha. Entah apa yang dia rencanakan. Dia terlihat sangat percaya diri
***
Ditempat lain, Kenzo sedang disibukan dengan para gadis yang terus beralasan meminta bantuannya
"Kenzo, apa kamu tidak bisa memperbaiki komputerku lebih dulu? Aku harus mengerjakan laporanku"
"Tidak, dia harus mengerjakan punyaku dulu. Dia harus keruang produksi untuk memperbaiki mesin"
"Ayolah, aku hanya punya satu tangan. Kalian bisa meminta orang lain untuk memperbaikinya" Kenzo berusaha menolak karena semua ingin dia yang memperbaikinya
__ADS_1
"Baiklah, biar aku yang bantu Zo"
"Tidak perlu. Aku bisa menunggu Kenzo selesai dengan pekerjaannya"
"Benar, kami bisa menunggu sampai dia selesai dengan pekerjaannya"
"Aku harus memperbaiki saluran listrik. Lebih baik, kalian dibantu orang lain" Kenzo langsung pergi meninggalkan para gadis dan juga rekan kerjanya untuk memperbaiki listrik seperti yang dia katakan
"Ini menyebalkan. Sampai kapan aku harus bekerja seperti itu?" Guman Kenzo sambil berlalu pergi
"Aku merindukan Safira. Dia sedang apa sekarang ya? Apa masih syuting?" Kenzo pun mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Safira
Tuut tuut tuut
"Halo" sapa seseorang dari ujung telepon
"Kamu siapa? Apa Safira sedang sibuk?" Tanya Kenzo yang tidak mendengar Safira
"Kak Kenzo, ada masalah kak. Safira hilang" ujar Tiara yang menerima telepon dari Kenzo
"Apa katamu?! Safira hilang?!" Kenzo sangat terkejut begitu mendengar berita kalau Safira menghilang. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung pergi ke kantor Ji
"Zo? Ada apa kamu kemari?" Tanya Adel yang berada di luar ruangan Ji
"Aku harus masuk. Tolong izinkan aku menemui nenek!" Kenzo terlihat panik saat bicara pada Adel
"Tentu saja. Masuklah!" Adel langsung mempersilahkan Kenzo masuk keruang Ji
Tok tok tok
"Nek, aku harus pergi ke lokasi syuting Safira" Kenzo langsung bicara begitu dia masuk keruang Ji
"Ada apa? Kamu langsung masuk begitu saja dan mengatakan mau ke lokasi syuting safira?" Ji bertanya dengan sikapnya yang tenang
"Aku tadi menghubungi Safira dan asistennya yang menerima teleponku. Katanya Safira hilang Dilokasi syuting. Tolong izinkan aku pergi ya nek?" Tanya Kenzo dengan wajah seakan memelas
"Hemn baiklah. Kamu bisa pergi. Katakan pada nenek jika kamu membutuhkan sesuatu!"
"Baik nek, terimakasih. Aku pergi dulu" Kenzo langsung pergi meninggalkan ruang Ji dan bergegas ke lokasi syuting Safira diluar kota
__ADS_1