
"Arumi!" Panji berteriak melihat apa yang akan Arumi lakukan pada Risha, namun tangan Risha bergerak cepat dengan menahan tangan Arumi sebelum mendarat dipipinya.
"Jangan berani macam-macam denganku atau kamu akan menyesal karena telah berani menyentuhku!" Risha memperingatkan Arumi dengan sorot mata yang tajam sambil menahan tangannya yang akan menamparnya
"Kamu pikir kamu siapa hah? Berani-beraninya mengancamku!" Ujar Arumi yang tidak terima dengan sikap Risha
"Sudah, hentikan! Rumi, sebaiknya kamu ikut denganku sekarang! Tidak baik bersikap seperti ini didepan para mahasiswa dan mahasiswiku. Sha, maafkan sikapnya yang kasar padamu. Nanti kita lanjutkan lagi pembahasan kita" Panji menengahi Risha dan Arumi, kemudian dia bicara dengan nada keras pada Rumi, namun menggunakan nada yang lembut pada Risha
"Panji! Kenapa kamu malah membelanya? Harusnya kamu membela aku! Aku ini yang tunanganmu, bukan dia!" Arumi tidak terima denga perlakuan Panji yang berbeda padanya dan Risha. Dia berteriak pada panji. Mereka kini sudah jadi pusat perhatian banyak mahasiswa dan mahasiswi yang ada di perpustakaan.
"Apa kalian tidak tahu ini dimana? Bisa-bisanya membuat keributan di dalam perpustakaan?" Mereka menoleh setelah mendengar suara Kenzie yang tenang namun dingin
"Zie? Kamu disini? Sejak kapan?" Risha terlihat bingung saat melihat Kenzie ada disana dengan kedua tangan dilipat didada. Dia sudah tahu dari nada bicara Kenzie kalau saat ini Zie sedang kesal
"Sorot mata Kenzie terlihat kesal? Apa dia mendengar semuanya ya?" Pikir Risha yang belum mendapatkan jawaban dari Kenzie
"Sejak dia hampir menamparmu. Apa kamu terluka? Jika dia berani saja menyentuh sehelai rambutmu, akan ku buat dia menyesal" Jawab Kenzie dengan nada yang dingin
"Aku tidak papa. Lagipula kamu lihat kan kalau aku bisa mengatasi ini?" Risha yang tadi bersikap dingin pada Arumi kini kembali ceria di depan Kenzie
"Baguslah, sebaiknya kita pergi sekarang! Dan untuk anda pak Panji, selesaikan urusan anda baik-baik. Jangan libatkan Risha dalam kekacauan hubungan kalian. Ayo Risha!" Kenzie langsung beranjak pergi dari perpustakaan diikuti Risha dibelakangnya. Sesaat Risha menoleh pada Panji yang terlihat tidak enak hati padanya
"Kamu ikut aku sekarang! Ayo!" Panji langsung menarik tangan Arumi dengan kasar
"Tunggu! Panji, kamu mau membawaku kemana? Apa tidak bisa pelan-pelan sedikit?" Arumi meronta agar Panji melepaskan tangannya
"Kita ketemu ayahmu sekarang!" Jawab Panji singkat tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Arumi
"Apa?! Sekarang?!" Arumi sangat terkejut tapi setelah itu dia tersenyum tipis dan mengikuti Panji dengan patuh. Panji mengendarai mobil Arumi dan bergegas kerumah Arumi
__ADS_1
Tak berselang lama akhirnya mereka tiba dirumah Arumi. Panji keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Arumi sebagai bentuk sopan satun.
"Keluarlah!" Ujar Panji dengan nada bicara yang sinis
"Apa kamu masih marah?" Tanya Arumi dengan nada bicara yang lembut
"Sebaiknya kita segera ke dalam. Aku ingin segera bertemu dengan ayahmu" Panji mengabaikan Arumi dan memintanya untuk segera mengantarnya masuk menemui sang ayah
"Baik, ayo masuk!" Mereka pun berjalan bersama ke dalam rumah. Arumi berulang kali ingin menggandeng tangan Panji, namun panji terus menepis dan melepaskan tangan Arumi
"Panji, rupanya ada kamu" Sambut ayah Arumi dengan senyum ramah dan nada bicara yang sopan
"Selamat siang om. Ada yang ingin saya bicarakan dengan om" Panji menyapa kemudian mencoba agar dia bisa bicara langsung tanpa basa basi
"Silahkan duduk dulu. Ada apa? Sepertinya sangat penting? Katakan saja!" Ayah Arumi terlihat bingung. Dia bertanya sambil melihat pada Arumi dan Panji secara bergantian
"Terimakasih om" Panji pun langsung duduk disofa dengan arumi disebelahnya
"Tidak perlu repot om. Saya tidak akan lama, Setelah ini saya masih harus kembali ke kampus" Jawab Panji dengan sopan
"Ya sudah. Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya ayah Arumi
"Begini om, maaf sebelumnya karena saya tidak sopan, tapi saya ingin membatalkan pertunangan kami"
"Panji! Kamu melakukan ini karena kamu menyukai mahasiswi kamu itu kan?" Arumi sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Panji begitupun dengan ayahnya
"Tunggu, tunggu. Sebenarnya ada masalah apa ini?" Ayah Arumi menatap heran pada Panji dan juga Arumi
"Begini om, saya ini seorang dosen dan saya tentu harus memberikan contoh yang baik untuk mahasiswa dan mahasiswi saya. Menurut om, bagaimana kalau ternyata tunangan saya justru membuat contoh buruk di depan mereka? Saya ini dosen bukan guru TK dimana mahasiswi yang saya ajar adalah gadis dewasa, bukan anak kecil yang baru bisa bicara ataupun senang bermain" Panji tetap berikap tenang namun dari nada bicaranya terdengar jelas kalau dia sedang marah
__ADS_1
"Sebenarnya ada masalah apa ini? Papa sama sekali tidak mengerti. Arumi coba jelaskan!" Ujar ayah Arumi dengan wajah bingung
"Saya tidak bisa lagi mempertahankan hubungan saya dengan Arumi. Jika masalah pertunangan saya ini karena uang, maka saya akan mengumpulkan uang untuk membayar hutang keluarga saya" Panji bicara dengan sikap yang tegas
"Kamu benar-benar melakukan ini karena dia kan? Gadis yang tadi sedang bersama denganmu?!" Arumi mulai kembali berteriak pada panji dengan air mata yang mulai berderai
"Dia itu hanya mahasiswiku saja. Dan kamu lihat sendiri kalau kami sedang membicarakan makalah" Jawab Panji dengan sikap yang tetap tenang. Dia berusaha keras agar tidak terpancing amarah
"Papa sama sekali tidak mengerti, sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?" Ayar Arumi semakin bingung melihat perdebatan antara putrinya dengan panji
"Arumi datang ke kampus om. Dia bersikap tidak sopan pada mahasiswi yang sedang membahas masalah makalah dengan saya. Jadi saya pikir akan lebih baik jika dihentikan sekarang daripada kita selalu bertengkar setelah menikah nanti" Panji terlihat sangat tegas dan penuh kayakinan. Dia benar-benar telah membulatkan tekad untuk membatalkan pertunangannya dengan Arumi
"Kamu tidak bisa melakukan itu! Kita ini sudah dijodohkan sejak kecil. Dan orang tuamu berhutang budi pada papaku!" Teriak Arumi pada Panji.
"Arumi!" Sang ayah ikut berteriak karena merasa putrinya sudah sangat tidak sopan
Sesaat Panji terdiam mendengar apa yang dikatakan Arumi
"Jadi karena orang tuaku memiliki hutang budi padamu, maka aku harus menuruti semua keinginanmu? Karena itu kamu bersikap seenaknya padaku? Apa setelah menikah juga kamu akan melakukan hal ini padaku? Merendahkanku karena apa yang telah dilakukan oleh papamu pada orang tuaku? Kamu anggap apa aku ini, hah? Jadi kenapa aku harus tetap menikah denganmu sedangkan derajatku berada dibawahmu?"
Panji bertanya dengan raut wajah sedih dan kecewa. Tentu dia merasa direndahkan oleh Arumi sedangkan orang lain selalu menghormatinya. Dia selalu diundang untuk jadi pembicara dalam seminar-seminar yang diadakan kampus mewah. Dia menjadi salah satu dosen bergelar doktor termuda yang selalu jadi incaran setiap kampus bergengsi.
Ayah Arumi pun terdiam mendengar apa yang dikatakan Panji
"Arumi, tidak seharunya kamu bersikap seperti itu pada Panji!" Ayah arumi pun kembali berteriak pada putrinya
"Papa ... papa kenapa berteriak padaku? Papa tidak sayang padaku?" Arumi sampai berjingkut karena terkejut dengan sikap sang ayah yang tidak biasa memarahinya. Diapun kembali menangis dan bicara dengan nada manja
"Bukan begitu Arumi" Ayah Arumi kembali melemah melihat air mata sang putri
__ADS_1
"Maaf om, sebaiknya saya permisi. Saya harus kembali kekampus. Dan saya akan membicarakan ini dengan orang tua saya. Saya tetap mantap dengan keputusan saya untuk mengakhiri pertunangan kami. Permisi" Panji berbalik dan melangkahkan kaki meninggalkan rumah Arumi
"Panji! Kamu tidak bisa meninggalkanku begitu saja! Aku tidak akan membiarkanmu bersama dengan anak kecil itu!" Panji mengabaikan teriakan Arumi dan tetap melangkahkan kaki pergi dari rumah besar itu