
Kenzie langsung menghubungi Risha dan Kenzo begitu Cheva meninggalkan kantornya.
Tuut tuut tuut
"Ada apa kamu menghubungi kami siang hari begini? Kita kan sedang bekerja jangan seenaknya menghubungi begitu saja" Risha menggerutu saat Kenzie menghubunginya disela pekerjaannya
"Ini waktunya makan siang. Aku tahu kamu sedang bersama Rendra. Sekarang aku butuh pendapat kalian berdua" Ujar Kenzie dengan panik
"Apa yang terjadi?" Zo bertanya dengan sikapnya yang tenang dan dingin
"Mami tahu mengenai aku dan Meisya" Zie langsung mengatakan apa yang jadi masalahnya
"Bagaimana tante Cheva bisa tahu? Kamu sudah menjelaskan semuanya?" Risha pun bertanya dengan wajah penasaran
"Gosip dikantor menyebar luas mengenai aku yang dekat dengan Meisya. Aku juga tidak tahu bagaimana ceritanya sampai mami mendengar berita ini. Tadi mami datang kemari dan memintaku membawa Meisya menemuinya. Apa yang harus aku lakukan? Mami pasti akan terus menggangguku" Kenzie terlihat sangat panik sekali saat ini
"Apa lagi? Kamu harus membawanya menemui mami. Tidak ada jalan lain kan?" Kenzo menjawab dengan sikapnya yang dingin
"Aku juga tahu itu. Apa kamu tidak punya cara lain? Kalian tahu kalau aku dan Meisya itu hanya pura-pura pacaran, bagaimana bisa aku membawanya menemui mami?" Tanya Kenzie lagi yang terus mendesak Zo dan Risha
"Hanya ada satu cara jika kamu tidak ingin membawanya sebagai pacar palsumu"
"Apa itu?"
Risha dan Kenzie terlihat penasaran dengan cara lain yang dimaksud oleh Kenzo
"Jadikan saja dia pacar aslimu"
"Apa katamu?!"
Kenzie sangat terkejut dengan apa yang disarankan Kenzo
"Itu bukan solusi. Kamu kira mudah untuk membuka hubungan baru?"Kenzie menanggapinya dengan kesal
"Memang hanya itu caranya. Kamu tidak ingin membawanya karena kalian hanya pura-pura pacaran, kenapa kamu tidak menjadikannya pacar sungguhan dan membawanya menemui mami? Lagipula kamu juga sudah bertemu ayahnya dan mengikuti seleksi kelayakan untuk jadi pendamping gadis itu kan?"
Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh
"Kenzo benar. Tidak ada jalan lain. Jadikan saja dia pacarmu!"
Risha pun membenarkan sambil terus menutup mulutnya karena menahan tawa. Bisa-bisanya Kenzo bicara dengan santai sedangkan saudaranya sangat panik
"Kalian berdua memang ahli dalam membuatku kesal. Sudahlah percuma saja aku menghubungi kalian. Awas saja kalian. Aku akan buat kalian mengalami hal yang sama" Kenzie mengancam Kenzo dan Risha dengan nada kesal
"Hei, jangan macam-macam kamu Zie! Awas saja kalau kamu sampai bilang pada papiku tentang apa yang aku lakukan disini!"
Risha pun berbalik mengancam Kenzie dengan nada kesal agar dia tidak cerita pada Diaz mengenai Rendra
__ADS_1
"Aku tidak takut sama sekali dengan ancamanmu!" Jawab Kenzie dengan kesal
"Kalian lanjutkan saja pertengkaran kalian. Aku ada telepon masuk" Kenzo langsung menutup teleponnya dengan Kenzie dan Risha lalu menerima telepon masuk dari Tiara
"Halo, Ra" Sapa Kenzo dengan sikap yang tenang
"Kak Kenzo. Kak Safira masuk rumah sakit" Tiara bicara dengan nada yang panik
"Apa katamu?! Kirimkan alamatnya, aku kesana sekarang!" Kenzo pun menutup teleponnya dengan Tiara dan bergegas pergi kerumah sakit
***
Kenzie sedang memikirkan apa yang Kenzo katakan
"Apa aku harus menjadikan dia pacarku? Dia baik dan cantik juga, apa salahnya? Tapi, apa dia mau ya?" Batin Kenzie bicara sambil menatap Meisya yang ada di depannya
"Ada apa bapak memanggilku?" Tanya Meisya yang bingung karena Kenzie tidak mengatakan apapun
"Meisya, bisa kamu pergi makan denganku?" Tanya Kenzie setelah cukup lama diam
"Apa tadi anda ditegur oleh bu Cheva? Apa jabatan anda akan diturunkan gara-gara saya?" Meskipun sedikit ragu, namun Meisya tetap bertanya pada Kenzie
"Apa?"
Kenzie memicingkan mara karena bingung dengan apa yang ditanya oleh Meisya padanya
"Tadi bu Cheva datang kemari untuk menegur anda kan? Ini semua gara-gara saya. Seandainya sata tidak membawa pak Kenzie ke dalam masalah saya, maka pak Kenzie juga tidak akan terkena masalah seperti ini" Meisya menundukkan kepala karena merasa bersalah pada Kenzie
"Iya, aku menyesal karena aku menempatkan bapak ke dalam masalah. Aku akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanku"
Meisya menjawab dengan kepala tertunduk. Dia tidak tahu kalau Kenzie tersenyum mendengar apa yang dia katakan
"Jadilah pacarku?" Kenzie bicara dengan sikapnya yang tenang dan lembut
"Baik pak. Eh, apa?!"
Meisya langsung menjawab tanpa mendengarkan terlebih dahulu apa yang akan dikatakan Kenzie
"Hahaha. Aku hanya bercanda. Ayo temani aku makan" Kenzie masih terus tersenyum saat mereka hendak meninggalkan kantor untuk menemui Cheva
"Tunggu! Sebaiknya kita tidak jalan bersama, semua orang akan lebih membicarakan kita nantinya" Ujar Meisya dengan wajah yang masih memerah karena malu
"Tidak papa.. Biarkan saja mereka membicarakan kita toh sekarang sudah terlambat untuk disembunyikan" Kenzie menjawab dengan sikap tenang sambil berjalan lebih dulu
"Hadooh, hampir saja jantungku copot mendengar pertanyaan pak Kenzie" Pikir Meisya yang masih diam dibelakang Kenzie
"Kenapa diam saja? Ayo pergi sekarang?" Kenzie memanggil dengan nada yang lembut
__ADS_1
"Baik pak"
Meisya pun akhirnya mengikuti Kenzie dan berjalan beriringan dengannya. Dia hanya menundukkan kepala meskipun banyak orang menatapnya saat mereka hendak keluar
"Pak, aku merasa sekarang ini aku menjadi seekor kelinci. Mereka semua menatapku seakan aku ini mangsa mereka" Meisya berbisik pada Kenzie sambil terus memandang kesekelilingnya
"Biarkan saja. ini belum apa-apa. Kamu akan segera bertemu dengan pemangsa sesungguhnya"
Kenzie pun menjawab sambil berbisik
"Apa maksudnya itu? Bapak ini mau menghiburku atau sengaja membuatku semakin takut?" Tanya Meisya sambil tersenyum manis
"Sudahlah. Ayo cepat! Kita akan makan direstoran sekitar sini saja. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang. Kuharap kamu bisa menyiapkan mental nanti"
Meisya semakin bingung dengan apa yang dikatakan Kenzie
"Bapak bilang kita mau makan? Kenapa aku harus menyiapkan mental segala?" Ujar Meisya sambil menggelengkan kepala disertai senyum
Kenzie tidak bicara apapun lagi dan mereka terus berjalan menuju restoran dimana Cheva sudah menunggunya
"Apa ini restorannya? Kenapa kita tidak makan didepan saja?" Tanya Meisya yang bingung karena mereka berjalan kebagian dalam restoran lebih tepatnya, berjalan menuju ruang pribadi.
"Tidak akan nyaman jika kita makan di bagian utama restoran. akan lebih baik kalau kita makan diruang pribadi saja" Kenzie tetap tidak memberitahu kalau Cheva sedang menunggu mereka.
"Ini ruangannya, ayo masuk!" Kenzie bicara sambil tersenyum dan membuka pintu masuk
Ceklek
"Akhirnya kalian datang juga" Cheva menyambut Kenzie dan Meisya dengan senyum ceria
"Bu Cheva? Jadi pak Kenzie meminta saya makan siang bersama agar bisa menjelaskan kalau anda tidak bersalah?" Bisik Meisya yang masih mengira kalau Kenzie ingin meminta bantuan darinya
"Begini bu Cheva, masalah saya dikantor dengan pak Kenzie itu sama sekali tidak benar. Kami tidak memiliki hubungan apapun. Kami hanya sebatas atasan dan bawahan saja"
Meisya menjelaskan dengan panik begitu melihat Cheva. Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Kenzie dan Cheva untuk menjelaskan semuanya
"Duduklah dulu" Pinta Cheva dengan senyum yang lembut
"Baik bu, terimakasih" Meisya menjawab dengan gugup
"Tenanglah. Tidak perlu tegang seperti itu" Bisik Kenzie yang menarikan kursi untuknya duduk
"Bagaimana aku tidak gugup. Didepanku ada petinggi perusahaan. Mungkin saja dia meminta kita kemari agar salah satu dari kita menunggalkan perusahaan" Bisik Meisya pada Kenzie
"Siapa namamu? Sejak kapan kalian bersama? Apa hubungan kalian sebenarnya dan kenapa kamu ingin bersama dengan Kenzie?" Cheva langsung melontarkan banyak pertanyaan sekaligus dan itu membuat Meisya semakin panik
"Saya Meisya dan kami …" Meskipun Meisya berusaha tidak gugup tetap saja dia sedikit gemetar karena mengira Cheva akan memberikan hukuman karena hubungannya dengan Kenzie
__ADS_1
"Mami, hentikan! Bisakah mami tidak membuatnya takut? Mami terlihat seperti hewan buas yang siap menerkam mangsa kecil" Kenzie bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut
"Apa? Mami?"