Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kegembiraan Kenzie


__ADS_3

Meisya kembali kedalam rumah dengan raut wajah sedih setelah dia bicara dengan Kenzie. Dia berjalan dengan kepala tertunduk lemas tak bersemangat sedikitpun.


"Mei, apa kamu sudah selesai bicara dengannya?" tanya Pak Arseno begitu melihat putrinya masuk kedalam rumah.


"Sudah, Pah" Meisya menjawab dengan singkat pertanyaan sang ayah. Dia hanya menoleh sebentar kemudian kembali berlalu meninggalkan sang ayah dengan raut wajah sedih. Masih ada sisa air mata yang masih membasahi pipinya dan juga dimatanya yang bengkak.


Pak Arseno terdiam memandangi punggung putrinya yang semakin menjauh. Dia terus memandangi Meisya yang terlihat lemas dan murung, namun pak Arseno tetap membiarkannya tanpa mengatakan apapun lagi.


Sementara Meisya terlihat bersedih, Kenzie pulang larut malam dengan senyum bahagia diwajahnya. Dia berjalan menuju kamarnya sambil terus bersenandung kecil.


"Na na na na"


Saat Kenzie melewati kamar Risha, ternyata saudaranya itu masih belum tidur dan langsung keluar begitu mendengar suara Kenzie.


"Kamu sudah pulang? Bagaimana? Sepertinya berjalan lancar ya?"


"Ya ampun. Kamu mengejutkanku, Sha! Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam". Kenzie terkejut hingga berjingkut karena Risha tiba-tiba keluar dari kamarnya dan berdiri tepat dihadapannya.


"Masa begitu saja terkejut? Aku tidak bisa tidur, lalu aku mendengar nyanyian anehmu, karena itu aku tahu kamu datang" ujar Risha dengan nada bicara yang manja.


"Rasanya aku bersenandung dengan suara yang pelan. Apa masih terdengar ya?" Kenzie bicara sambil tertawa kecil dan menggaruk kepala bagian belakangnya karena salah tingkah.


"Meskipun itu pelan, tapi ini malam hari dan semua orang sudah tidur. Jadi, tentu saja aku bisa mendengarnya karena rumah ini sangat sunyi. Cepat katakan! Apa semuanya berjalan lancar? Tapi, kenapa dengan bibirmu ini? Kamu berkelahi?". Risha terlihat sangat antusias dan juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Kenzie. Dia terus bertanya tanpa membiarkan Kenzie menjawab pertanyaan sebelumnya.


"Kamu ini kan anaknya om Diaz dan tante Tania, tapi kenapa kamu cerewet seperti mamiku? Apa karena sudah bersama sejak kecil, jadi kamu sudah tertular virus cerewet mami?" Kenzie bicara pada Risha dengan sikap yang acuh tak acuh tak acuh.


Bug!


"Sembarangan! Jika tante Cheva dengar, maka telingamu ini akan habis ditarik olehnya". Risha bicara dengan nada yang sinis sambil menunjuk telinga Kenzie.


"Aduuh ... sejak kapan kamu jadi suka bermain kasar padaku?" Kenzie mengeluh sambil mengusap sebelah tangannya yang dipukul oleh Risha.

__ADS_1


"Berhenti bicara dan ceritakan semuanya padaku, sekarang!". Risha yang tidak sabar mendengar cerita dari Kenzie, menjadi kesal karena Kenzie terus saja mengulurnya.


"Baiklah-baiklah. Aku akan menceritakannya padamu. Tadi aku pergi kerumah Meisya, tapi ayahnya melarangku masuk, bahkan pengawal rumahnya semuanya menahanku dan menyerangku agar aku tidak masuk, karena itu aku dapat luka ini. Nah setelah mendengar keributan itu, Meisya keluar dan menahan pengawal ayahnya agar tidak menyerangku lagi. Dia mengancam, jika ayahnya tidak menghentikan para pengawal, maka dia juga akan tutun tangan dan melawan mereka bersamaku. Akhirnya pak Arseno setuju dan


membiarkan aku bicara berdua dengan Meisya. Awalnya dia menangis sangat keras


karena harus putus denganku, tapi karena kami saling mencintai satu sama lain, jadi kami sepakat untuk mencari jalan keluar agar bisa tetap bersama”.


Kenzie menjelaskan pada Risha dengan antusias dan senyum ceria yang tak pernah hilang saat dia bercerita. Mereka bicara sambil berjalan bersama menuju kursi diruangan terbuka dekat kamar mereka.


“Lalu, apa yang akan kalian lakukan untuk bisa tetap mempertahankan hubugan kalian dan mendapatkan restu dari ayah Meisya?”. Risha


pun kembali bertanya dengan rasa penasaran yang masih tinggi sambil duduk di sebelah Kenzie.


“Kali ini Meisya yang akan berusaha membujuk ayahnya. Kami sepakat untuk pura-pura putus dihadapan ayahnya. Dan Meisya akan melakukan aksi mogok makan dengan alasan bersedih atas perpisahan kami”


Risha mengangguk-anggukan kepala mendengar Kenzie yang bercerita dengan antusias. Dia juga ikut senang karena saudaranya ini sudah menemukan jalan keluar untuk kesulitannya. Hanya tinggal menunggu hasil dari rencana mereka saja. Entah itu butuh


"Kalian berdua ini seperti buruh pabrik yang minta kenaikan upah saja. Sampai memancarkan aksi mogok makan segala. hahaha".


"Semua itu butuh perjuangan. Jadi kami sepakat tidak akan menyerah dengan hubungan kami"


"Baguslah, kukira kamu akan menyerah begitu saja. Lebih baik kamu tanyakan pada om Lian cara menaklukkan ayah mertua. Karena kita jelas tahu sendiri kalau kakek Ed sangat menyayangi ibumu". Risha memberikan nasihat dengan sikap yang tenang


"Kamu bercanda ya? Meskipun kakek itu keras kepala, tapi ada nenek Ji yang membuatnya lembut. Sedangkan ayah Meisya tidak memiliki pawang disampingnya, jadi selain usaha sendiri … kami tidak memiliki jalan lain" ujar Kenzie menanggapi Risha


"Ah iya. Kamu benar. Kakek Ed itu hanya jadi raja singa saat diluar rumah. Ketika dirumah, dia jadi kucing yang sangat jinak". Risha menggelengkan kepala ketika membicarakan Ed dan Ji.


"Yaah … mau bagaimana lagi" Kenzie pun menanggapi Risha dengan acuh tak acuh sambil mengangkat kedua tangan dan bahu bersamaan.


***

__ADS_1


Kenzo kembali keperusahaan JB Company untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk setelah pergantian pemimpin. Hari ini dia juga memiliki janji dengan orang yang direkomendasikan Rendra untuk menjadi asistennya. Pemuda itu bernama Max.


"Apa Rendra sudah memberitahumu apa saja yang harus kamu lakukan?" tanya Kenzo dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa.


"Ya. Pak Rendra sudah memberitahuku rincian singkatnya tentang pekerjaan saya disamping anda" Max menanggapi dengan sikap tenang dan penuh hormat.


"Aku ingin tanya dulu. Bagaimana kamu bisa mengenal Rendra?"


"Kami berdua belajar dikampus yang sama, Pak"


"Apa kamu juga tahu siapa aku?" Kenzo bertanya dengan memicingkan mata untuk mengetahui pendapat Max terhadapnya.


"Ya, saya tahu siapa anda" Max menjawab dengan sikap yang serius.


"Kalau begitu, kamu sudah memiliki sedikit gambaran kan tentang bagaimana pekerjaanmu nanti? Tidak akan mudah untuk menjadi asistenku. Itu bisa jadi pekerjaan yang melelahkan dan merepotkan, karena sebagai asisten kamu akan selalu dituntut untuk sigap dalam menyelesaikan masalahku".


Kenzo sedikit memperingatkan Max mengenai tugasnya sebagai asisten.


"Saya mengerti, Pak. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, karena itu saya sudah siap untuk pekerjaan apapun yang akan anda berikan pada saya". Max menanggapi dengan sikap yang tenang meskipun saat ini kedua telapak tangannya berkeringat karena gugup.


"Baiklah, kamu bisa jadi asistenku. Tapi ingat, aku hanya butuh asisten yang cekatan dan melakukan apa  yang aku perintahkan dengan cepat. Aku tidak suka orang yang lambat"


"Baik, Pak. Saya mengerti. Terimakasih"


"Kamu bisa temui sekertarisku diluar ruangan ini dan tanyakan padanya dimana meja kerjamu. O iya, aku juga punya asisten lain selain kamu, nanti akan aku pertemukan kalian agar bisa membahas mengenai pekerjaanku"


"Baik, Pak. Saya permisi" Max pun beranjak pergi dari hadapan Kenzo setelah dia mendapat anggukan kepala darinya


"Pyuh ... menegangkan sekali. Auranya terasa menyeramkan. Bagaimana dia bisa seperti itu ya? Ternyata apa yang dikatakan Rendra memang benar. Dia sangat dingin, bahkan melebihi dinginnya gunung es".


Max bergumam membicarakan Kenzo setelah dia keluar dari ruangannya. Dia pun bergegas pergi dengan perasaan bergidik yang belum sepenuhnya menghilang.

__ADS_1


__ADS_2