
“Kamu sudah lupa padaku? Bisa-bisanya kamu melamar sepupuku tapi tidak memberitahu kabar baik ini padaku? Kamu anggap apa aku ini?” Kenzo sedang menghubungi Rendra untuk menanyakan perihal lamarannya pada Risha. Dia
bicara dengan nada yang terdengar kesal dengan sikap yang sangat dingin.
“Maaf, Zo. Aku tidak bermaksud menyembunyikan kabar bahagia ini darimu. Hanya saja ... aku memang belum sempat menghubungimu. Aku berencana memberitahu padamu secara langsung mengenai lamaranku pada Risha, tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara memberitahumu” Rendra menjawab dengan senyum canggung dibibirnya sambil menggaruk kepala bagian belakangnya. Dia terlihat serba salah dan tidak tahu cara bicara pada Kenzo.
“Memberitahuku secara langsung? Apa kamu berniat datang ke negara F hanya untuk memberitahuku masalah ini? Rendra, aku tahu kamu tidak akan melakukan itu. Cukup ceritakan saja padaku kalau kamu bahagia. Itu sudah cukup membuatku senang. Lagipula yang akan kamu nikahi itu adalah sepupuku, jika kamu tidak bahagia dan justru kalian malah menderita. Aku akan membuat kalian berdua berpisah agar kalian bisa menemukan kebahagiaan kalian yang lain” Kenzo bicara dengan sikap yang acuh tak acuh dan nada bicara yang dingin.
“Kamu itu sedang mendoakan aku atau sedang mengancamku?” ujar Rendra dengan nada yang bercanda.
“Keduanya. Aku mendoakan kalian agar selalu bahagia, tapi aku juga mengancammu, jika kamu berani macam-macam pada Risha dan membuatnya menderita, maka aku akan jadi orang pertama yang membuat kamu menyesal” ujar Kenzo dengan sikap yang sinis.
“Zo, kamu benar-benar mengancamku?! Aku ini sahabatmu sendiri” Rendra kembali menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum yang hangat, juga nada bicara yang terdengar tidak percaya.
“Lalu kenapa? Kamu pikir aku tidak berani? Jika kalian melakukan kesalahan dan kalian berdua menderita, tentu aku akan membela keluargaku. Tapi jika memang dia yang salah dan menjadi masalah penderitaan diantara kalian, maka akan aku cari sumber masalahnya dan aku bereskan sampai keakarnya. Sebagai orang yang mengaku sahabat ... tentu kamu juga tahu bagaimana aku, kan?” Kenzo bicara dengan sikap yang tenang. Ada seringai tipis dibibirnya dan sikap yang tetap acuh tak acuh.
“Ya ya ya, seharusnya kamu cukup mendoakan kebahagiaanku saja. Tidak perlu sampai mengancamku, karena aku sudah tahu konsekuensi yang akan aku terima setelah menjadi bagian dari keluarga kalian. Zo, aku benar-benar mencintai Risha dan aku juga ingin membina rumah tangga yang bahagia dengannya. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan apa yang sudah aku dapatkan" Rendra kini kembali bersikap tenang setelah dia mengerti dengan apa yang dikatakan Kenzo.
“Aku selalu mendoakan kebahagiaan orang-orang terdekatku. Tidak hanya keluargaku, tapi kamu dan juga Noey. Aku selalu berharap kalian bahagia. Sudah cukup kepedihan yang kalian alami selama ini". Kini nada bicara Kenzo terdengar murung dan sedih. Dia bicara seperti orang tua yang sudah melewati banyak hal dalam kehidupan.
“Terimakasih. Meskipun dimata orang lain kamu sangat dingin dan menyebalkan, tapi aku tahu kalau kamu sangat baik hati dan aku merasa beruntung bisa menjadi teman dekatmu” Rendra bicara dengan sikap yang tenang dan senyum
yang terlihat tipis dibibirnya.
__ADS_1
“Sudahlah. Jika diteruskan lagi, mungkin kamu akan menangis karena merasa terharu dengan kebaikan dan juga pengertianku” Kenzo menanggapi ucapan Rendra dengan sikapnya yang dingin dan penuh percaya diri.
“Apa maksudnya itu?! Kamu pikir aku akan menangis begitu saja, hah?! Tut tut tut. Zo? Kenzo? Dasar ya teman kurang ajar! Tidak sopan! Tidak menghormati orang yang lebih tua!”
Rendra sangat kesal dengan apa yang dikatakan Kenzo. Diapun semakin kesal dan terus menggerutu sambil menatap layar ponsel yang mati setelah Kenzo menutup teleponnya begitu saja.
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?” tanya Safira yang melihat Kenzo terus tersenyum setelah selesai bicara ditelepon.
“Tidak ada. Hanya saja aku baru tahu kalau aku punya teman yang bodoh dan konyol" ujar Zo dengan senyum tipis dibibirnya.
"Maksudmu siapa?" tanya Safira lagi sambil memicingkan matanya karena bingung dengan apa yang dikatakan sang suami.
"Tentu saja Rendra. Siapa lagi?" jawab Kenzo dengan sikap acuh tak acuhnya
"Ah ya, kamu benar. Kamu kan hanya punya Rendra dan Noey saja sebagai temanmu. Tidak ada orang lain lagi yang ingin jadi temanmu" ujar Safira dengan kedua bahu diangkat bersamaan dan nada bicara yang mengejek.
"Aku tidak butuh banyak teman yang hanya suka memanfaatkan aku saja. Lebih baik hanya punya sedikit teman yang berharga daripada banyak teman tapi tidak berguna" ujar Kenzo lagi membela diri.
"Ah alasan. Toh kamu memang tidak suka bersosialisasi dengan banyak orang. Kamu malah terlihat menyeramkan saat orang lain ingin dekat denganmu, bahkan saat kamu hanya diam dan menatap mereka, itu terasa menyeramkan" ujar Safira yang terus menyudutkan Kenzo. Semua kata yang dia ucapkan terasa tertusuk dihati Kenzo
"Sudahlah, berhenti menyudutkanku. Sekarang, sudah waktunya kita tidur. Aku harus pergi ke JB Company besok" Kenzo dan Safira pun beranjak dari tempat mereka untuk kembali kekamar mereka.
"Baiklah" mereka beranjak pergi kekamar mereka. Kenzo melingkarkan sebelah tangannya dipinggang Safira saat mereka berjalan bersama.
__ADS_1
Keesokan harinya Kenzo berangkat ke kantor JB Company. Sementara ini urusan di perusahaan Nugraha ditangani oleh Zack, namun dia akan datang ke JB Company jika butuh persetujuan mengenai sesuatu.
"Selamat pagi, Pak"
"Pagi" Kenzo menjawab disertai anggukan kepala saat setiap karyawan menyapanya
"Selamat pagi. Ternyata pak direktur datang sangat pagi. Saya pikir anda akan datang terlambat" ujar pak Hardi dengan sikap yang sinis dan sombong.
"Saya pikir karena saya direktur disini, jadi saya bisa datang kapan saja sesuai dengan keinginan saya. Lagipula saya bukan hanya direktur diperusahaan ini saja. Tapi juga direktur diperusahaan Anggara. Jadi, bu Jingga pasti mengerti dengan kondisi saya. Anda tidak perlu repot mengurusi saya. Cukup selesaikan pekerjaan anda, karena jika ada sesuatu yang tidak beres … sudah pasti anda akan mempertanggung jawabkan semuanya. Iya kan?" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan berwibawa. Dia sama sekali tidak menunjukkan emosi diwajahnya.
"Apa maksud anda? Anda pikir saya melakukan sesuatu dibelakang bu Jingga sampai merugikan perusahaan ini?" Hardi mulai kesal dengan sikap yang Kenzo tunjukkan padanya
"Tidak. Saya percaya kalau anda tidak mungkin melakukan itu. Karena bu Jingga pasti akan tahu apapun yang terjadi dibelakangnya. Bukan berarti karena sekarang saya yang jadi pemimpin disini, amda jadi bisa melakukan apapun semau anda. Saya tidak akan membiarkan siapapun merugikan perusahaan ini" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin. Matanya menatap sinis pada Hardi
"Anda mengancam saya? Anda pikir saya akan takut pada anda. Jangan mentang-mentang anda direktur disini jadi anda bisa sembarangan menuduh saya. Saya jamin anda akan menyesal karena berani melawan saya" ujar Hardi dengan percaya diri dan penuh kemarahan.
"Anda pikir karena saya lebih muda dari anda, jadi saya akan takut? Pak Hardi, anda tidak mengenal saya. Saya hanya ingin memperingatkan anda untuk tidak menguji batas saya. Karena jika sampai itu terjadi, maka anda akan menyesal" ujar Kenzo sambil menepuk sebelah pundak Hardi kemudian berlalu pergi meninggalkannya sendiri
"Dasar bocah ingusan. Berani-beraninya mengancamku. Kita lihat saja siapa yang akan menyesal nantinya"
*****
Halo Reader. Sorry ya, sorry banget karena akhir-akhir ini aku jarang update. Jadi waktu hari sabtu kemarin ade aku nikah, jadi aku sibuk banget sama real life aku. Aku usahain setelah mengatur waktu lagi aku bakal up normal.
__ADS_1
Terimakasih banyak atas dukungan kalian yang udah setia nunggu aku.
Love u all