Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Ternyata Kamu Punya Keberanian Juga


__ADS_3

“Risha!” Risha, Mariana dan Noey langsung menoleh dengan serempak mendengar suara seseorang


“Zie? Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Risha yang terkejut dengan kemunculan Kenzie disana


“Aku yang membawanya kemari” jawab Noey yang membuat Risha menoleh padanya


“Sha, tanganmu! Siapa yang melakukan ini padamu?!” Wajah


Kenzie langsung panik melihat darah mengalir dari tangan Risha. Diapun menoleh


pada Sean yang berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi tangannya.


“Aku tidak papa. Ini hanya luka gores saja” Risha memegangbtangan Kenzie dan membuatnya kembali menatapnya agar tetap tenang


“Apa dia yang melakukannya?” tanya Kenzie dengan nada bicara yang dingin dan sorot mata yang tajam. Kenzie langsung berjalan mendekati Sean. Auranya saat ini terlihat dingin dan sangat mengintimidasi. Dia terlihat sangat menyeramkan.


“Beraninya kamu  melukai saudaraku. Apa kamu tahu betapa berharganya seluruh tubuhnya? Bahkan dia tidak dibiarkan mengeluarkan darah setetespun dan kamu malah membuatnya berlumuran darah!” ujar Zie dengan nada bicara yang dingin. Dia pun mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya pada Sean. Kali ini Sean terlihat gemetar ketakutan, mengingat dia juga telah ditembak oleh Risha di


tangannya


“Jangan ... jangan lakukan itu. A-aku mengaku salah. Ja-jangan tembak lagi” Sean memohon pada Kenzie dengan suara lemah agar tidak menembaknya


“Zie, jangan lakukan itu! Dia sudah mengeluarkan banyak darah. Dia bisa saja mati karena kehilangan banyak darah jika kamu menembaknya lagi” Risha mengingatkan dengan nada bicara yang datar tanpa rasa khawatir sedikitpun jika Kenzie menembaknya. Mariana hanya diam dan memperhatikan Sean dengan mulut yang ditutupi oleh kedua tangannya. Air matanya berlinang melihat Sean yang memegangi tangannya yang terus mengeluarkan darah.


“Jika dia kehilangan banyak darah, maka kita akan membiarkan dia masuk rumah sakit untuk menerima donor darah. Aku tidak akan membiarkan dia mati begitu saja setelah menyakitimu” ujar Kenzie dengan sorot mata yang tajam dan sikap yang dingin.


Dor!


“Aaah! Kalian semua gila! Mariana! Ini semua salahmu!” Sean terus berteriak mengumpat Kenzie sambil meringkuk dan memegangi kakinya yang ditembak oleh Zie.


“Hubungi ambulance secepatnya!bJangan biarkan dia mati dengan mudah, dia masih harus mendekam dibalik jeruji besi untuk membayar semua kesalahannya” ujar Kenzie pada Noey dengan sikap yang dingin.


“Tentu. Aku baru tahu, ternyata kamu cukup berani” Noey pun mengangguk setuju dan bicara dengan mata mendelik pada Kenzie sambil tersenyum. kemudian dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi polisi


"Apa maksudnya itu? Kamu berani mengejekku?" Kenzie bertanya pada Noey dengan tatapan heran. Namun Noey hanya tersenyum dan mengabaikannya

__ADS_1


“Haah … asisten kurang ajar. Sudahlah. Kita harus segera pergi kerumah sakit. Kamu harus segera menerima pengobatan” ujar Zie yang memapah Risha dengan hati-hati keluar dari rumah Mariana.


“Zie, yang luka itu tanganku. Kenapa kamu malah memapahku?” tanya Risha sambil menatap Kenzie dengan tatapan heran.


“Aku hanya takut kamu kehilangan keseimbangan dan jatuh karena tanganmu terluka” Kenzie kembali bicara dengan nada bicaranya yang santai dan tenang. Senyumnya juga kembali terlihat dibibirnya saat dia bicara


dengan Risha


“Oh tunggu! Aku hampir melupakan sesuatu” Risha langsung beranjak untuk mengambil kamera yang menunjukan aksi kekerasan yang dilakukan Sean padanya dan juga mariana.


“Noey, bawa ini ke kantor polisi dan jadikan ini sebagai bukti dari kekerasan pria kurang ajar itu” Risha menyerahkan kamera pengintai dan juga penyadap pada Noey untuk diserahkan pada polisi dan dijadikan bukti


“Ya, aku mengerti”


“Mariana, kamu ikut denganku ke rumah sakit untuk melakukan visum. Biarkan Noey yang mengurus pacarmu yang gila itu” ujar Risha sambil menoleh pada Sean yang meringis kesakitan sambil berguling dilantai


“Ya” Mariana menganggukkan kepala menanggapi Risha tanpa ragu. Mereka bertiga pun beranjak pergi meninggalkan Noey dan juga Sean.


“Berikan kunci mobilmu. Aku yang akan mengemudi” Zie mengulurkan sebelah tangan meminta kunci mobil Risha.


“Hmn ... kamu yakin bahumu tidak papa?” tanya Kenzie dengan raut wajah khawatir


“Aku tidak papa. Ini benar-benar hanya luka gores saja” Risha pun tersenyum menanggapi Kenzie


“Baguslah. Jadi aku masih bisa mempertahankan kepalaku daribkemarahan om Diaz dan juga Rendra. Mereka bisa saja menggantungku atau menembak matiku kalau kamu terluka parah” ujar Kenzie dengan senyum diwajahnya


“Ya, kamu masih harus berterimakasih padaku. Aku masih menyelamatkan hidupmu yang berharga itu” Risha pun tersenyum menanggapi Kenzie. Mariana juga hanya tersenyum melihat perdebatan Kenzie dan Risha.


“Hubungan kalian sepertinya sangat baik?” tanya Mariana pada Kenzie dan Risha


“Apakah terlihat seperti itu? Ya, kurasa hubungan kami memang sangat baik. Meskipun selalu diisi dengan perdebatan bodoh" Risha menanggapi dengan sikap acuh tak acuh sambil mengangkat kedua bahu secara bersamaan saat dia bicara.


"Apa kamu baik-baik saja?" Risha bertanya dengan lembut pada Mariana


"Ya, aku baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir" Mariana pun tersenyum lembut menanggapi perhatian Risha

__ADS_1


"Tidak perlu. bicara formal. Cukup panggil aku dengan sopan saat dikantor saja" Risha kembali tersenyum saat bicara dengan Mariana


"Baiklah".


Tak berapa lama mereka tiba dirumah sakit terdekat untuk mengobati bahu Risha dan juga melakukan visum pada Mariana untuk melengkapi bukti tindak kekerasan yang ditujukan pada Sean.


"Kuharap setelah ini kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik. Kamu harus lebih selektif untuk memilih seseorang dalam hidupmu" Risha mendoakan Mariana setelah mereka selesai melakukan pemeriksaan


"Kuharap juga begitu. Aku tidak akan begitu saja menerima cinta laki-laki seperti sebelumnya" ujar Mariana dengan wajah tertunduk sedih


"Tidak semua laki-laki sama. Kamu tidak bisa membuat asumsi kalau semua laki-laki brengsek " Risha kembali mengingatkan Mariana


"Ya, aku mengerti. Karena semua sudah selesai, aku akan pulang sekarang. Setelah kondisi wajahku membaik, aku akan datang keperusahaan" ujar Mariana dengan senyum lembut


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Kami akan melakukan klarifikasi terlebih dulu untuk memulihkan nama baikmu" Risha bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut.


"Baiklah. Aku mengerti. Sampai jumpa" Mariana pun berbalik dan pergi meninggalkan Risha dan Kenzie


"Aku akan mengantarmu pulang dulu setelah itu kembali ke kantor" Kenzie bicara sambil berjalan lebih dulu


"Tidak. Aku akan pergi ke kantor lagi"


"Apa?!" Kenzie langsung berbalik kembali dan menatap Risha dengan wajah terkejut


"Aku akan kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan" Risha berjalan dengan tenang melewati Kenzie


"Kamu yakin? om Diaz bisa menceramahiku jika dia melihatmu dalam kondisi seperti ini" Ujar Kenzie dengan panik


"Apa bedanya? Kamu akan tetap diceramahi saat kita dirumah. Jadi lebih baik terima sekarang saja" Risha menanggapi dengan sikap acuh tak acuh


"Kamu sama sekali tidak kasihan padaku ya, Sha? Aku selalu membantumu tapi kamu tidak mengkhawatirkan aku sama sekali?" tanya Kenzie dengan wajah kesal


"Aku sayang padamu, aku juga berterimakasih padamu. Tapi aku memiliki banyak pekerjaan yang harus aku periksa. Jadi kamu harus mengantarkan aku ke kantorku sebelum kamu kembali ke kantormu" Risha tersenyum lembut saat bicara pada Kenzie


"Yaah mau bagaimana lagi. Aku ini baik hati dan selalu menyayangi saudara-saudaraku. Jadi … terima nasib saja kalau aku harus diomeli om Diaz" ujar Kenzie acuh tak acuh

__ADS_1


__ADS_2