
Keluarga Surendra menunggu kedatangan Johan hingga larut malam sampai mereka akhirnya melewatkan makan malam.
"Apa kamu sudah menghubungi pacarmu itu?" Tanya sang ibu pada Hasna yang sudah terlihat sangat bingung
"Aku sudah menghubunginnya berkali-kali, tapi dia tidak mengangkat teleponku" Hasna menjawab dengan wajah yang terlihat sedih. Dia juga terlihat sangat kebingungan
"Apa terjadi sesuatu padanya ya?" Gumam Hasna lagi setelah dia memikirkan segala kemungkinan yang ada dan ibunya mendengar apa yang dia katakan
"Jangan bicara sembarangan!" Bantah sang ibu menenangkan Hasna dari kegusarannya
"Ma, dia tadi langsug dari luar kota. Itu bisa saja terjadi kan?!" Teriak Hasna lagi meyakinkan
"Kami masih sangat lelah. Sebaiknya kami istirahat duluan" Ujar suami Astria sambil memapah sang istri yang sangat lemah setelah kepergian Pras
"Kalian tidak makan sesuatu? Tadi kalian hanya makan sedikit lalu minum susu saja" Sani menegur adik iparnya agar makan sesuatu sebelum mereka kembali ke kamarnya
"Tidak, kami sudah cukup makan. Kami mau istirahat saja" Suami Astria kembali menjawab karena sang istri hanya diam saja
"Baiklah. Selamat malam" Astria dan suaminya pun mulai beranjak pergi meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya
"Sudahlah, aku juga sudah tidak ingin makan apapun. Aku juga akan kembali kekamarku" Ujar Adnan yang juga terlihat kesal dan kecewa saat ini
Hasna hanya terdiam dengan menundukkan kepala dan raut wajah yang sedih. Dia kecewa pada Johan, bahkan dia tidak tahu alasan apa yang dimiliki Johan sampai tidak bisa datang dan juga tidak memberikan kabar apapun
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Gumam Hasna dengan sedikit menitikan air mata
***
Keesokan harinya Kenzie dan Risha berusha menjauh dari Lana ketika mereka berada di sekolah
"Kenzie, Risha ... Aku mencari kalian di kantin tapi kalian tidak ada. Rupanya kalian ada disini" Lana tiba-tiba muncul saat Risha dan Kenzie sedang duduk di taman sambil makan cemilan
"Ya ampun, kenapa anak menyebalkan ini selalu mengganggu kami?" pikir Risha sambil memukul keningnya sendiri
"Lana, kenapa kamu selalu mengikuti kami? Kamu tidak bisa membiarkan kami berdua saja?" Risha bertanya dengan wajah yang terlihat putus asa
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin berteman dengan kalian, apa itu salah?" Lana kembali bertanya dengan wajah polos
__ADS_1
"Kamu bisa mengerti privasi tidak? Kami sedang membahas sesuatu, jika kami memang ingin bersama denganmu, maka kami pasti akan mengajakmu bergabung saat dikelas tadi" Kenzie berusaha bicara pada Lana dengan senyum lembut
"Kenapa kalian seperti itu? Aku hanya ingin berteman saja, tapi kalian malah menjauhiku. Apa salahku pada kalian?" Lana bicara dengan air mata yang mulai menetes dikedua pipinya
"Hah, apa-apaan ini?" Risha mengerutkan dahi melihat sikap Lana. Semua orang pun mulai memperhatikan mereka bertiga karena Lana menangis. Kenzie yang biasa ramah pun kini menunjukkan wajah kesal sambil menggerakkan dagunya ke kanan dan ke kiri
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari kami? Kurasa kita tidak terlalu dekat sampai kamu harus mengikuti kami kemanapun?" Kenzie bertanya dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam. Sikap yang dia tunjukkan saat ini sama persis dengan cara Kenzo bersikap
"Kenzo?! Apa kamu Kenzo?" Lana terkejut melihat ekspresi wajah Kenzie dan mengira kalau itu adalah Kenzo
"Itu tidak penting! Apa yang kamu inginkan sebenarnya?!" Kenzie tidak menanggapi pertanyaan Lana dan tetap bersikap dingin padanya
"Aku ... aku hanya ..."
"Kenapa dia bersikap seperti ini? Apa yang salah?" Lana yang gugup semakin bingung dengan sikap dingin Kenzie
"Sudahlah lupakan! Ayo Sha, kita kembali ke kelas. Waktu istirahat hampir habis" Karena tidak mendapatkan jawaban dari Lana setelah menunggu cukup lama, akhirnya Kenzie kembali mengabaikannya dan mengajak Risha kembali ke kelas. Risha mengikuti Kenzie dan meninggalkan Lana sendiri
"Sepertinya aku tidak bisa mendekati Kenzo dan Kenzie secara langsung. Hmn... mereka bilang selalu menghabiskan waktu dirumah. Bagaimana kalau aku datang kerumah mereka ya? Tidak mungkin mereka mengusirku jika aku sudah sampai disana kan?" Pikir Lana dengan senyum yang terlihat licik
Jam pulang sekolahpun tiba. Kenzie dan Risha seperti biasa langsung pulang kerumah, karena mereka tidak memiliki acara diluar sekolah. Begitupun Kenzo yang langsung pulang dan saat ini dia sedang latihan menembak.
"Apa ini rumah mereka? Gerbangnya besar sekali sampai aku tidak bisa melihat bentuk rumah di dalamnya" Lana yang ada didalam taksi terdiam saat melihat gerbang rumah Kusuma yang sangat besar
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Penjaga gerbang mendekati taksi Lana yang sudah cukup lama berhenti di depan gerbang Kusuma
"Ah iya pak, maaf. Apa ini rumah Kenzie dan Risha? Saya teman sekolah mereka" Ujar Lana dengan senyum yang lembut dan cara bicara yang ramah
"Benar, tuan muda dan nona muda juga belum lama pulang. Apa anda sudah memiliki janji dengan mereka?" Tanya penjaga lagi memastikan
"Iya, saya diminta datang kerumah ini" Lana berbohong agar dia masuk
"Baiklah, silahkan masuk" Karena mendengar Lana sudah membuat janji maka penjaga itu membukakan pintu gerbang dan mempersilakan taksi yang ditumpangi Lana masuk ke dalam
"Terimakasih" Betapa terkejutnya Lana begitu dia memasuki gerbang. Jalanan yang dilalui dari gerbang di penuhi pohon dan bunga-bunga. Lebih terkejut lagi saat dia melihat bangunan besar dan megah bak istana, dimana Kenzie dan Risha tinggal
"Woow, apa benar ini rumah mereka? Jadi mereka anak konglomerat? Waah seleraku memang tidak salah. Pantas saja aku sangat menyukai Kenzo dan Kenzie. Jika aku bisa memiliki salah satu dari mereka, maka masa depanku pasti akan sangat terjamin" Pikir Lana sambil terus mengagumi kemegahan rumah keluarga Kusuma.
__ADS_1
Diapun akhirnya tiba di depan rumah besar itum Banyak pengawal yang berjaga dan salah satunya datang mendekati Ilana
"Permisi nona, anda cari siapa?" Tanya pengawal begitu Lana turun dari mobil
"Saya mencari Kenzie dan Risha" Jawab Lana dengan sikap yang tenang
"Silahkan tunggu sebentar. Saya akan beritahu pada tuan muda dan nona muda" Pengawal pun meninggalkan Lana dan memintanya menunggu di kursi depan semantar dia memanggil Kenzie
Dor... dor....
Perhatian Lana tertuju pada suara tembakan yang berasal dari belakang rumah.
"Apa itu? Bukankah itu suara tembakan? Ba-bagaimana jika terjadi pembunuhan?" Lana terlihat panik mendengar suara itu, namun dia melihat pengawal di sekitarnya sangat tenang dan tetap diam diposisi mereka
"Permisi pak. Apa bapak mendengar suara tembakan itu?" Akhirnya Lana bertanya pada seorang pengawal yang ada disana
"Itu tuan muda Kenzo yang sedang latihan menembak" Jawab pengawal dengan sikap yang tenang
"Benarkah? Dimana dia latihan?" Tanya Lana terdengar antusias
"Ditaman belakang" Jawab pengawal yang tidak tahu apa-apa
"Bisa antarkan aku kesana?" Ilana tersenyum lebar mendengar Kenzo ada dibelakang rumah
"Baik. Silahkan kesebelah sini" Senyum lebar semakin mengembang saat pengawal mengantarkan dia menemui Kenzo. Dia tidak tahu kalau Kenzo bukanlah orang yang ramah dan bisa bersikap lunak pada orang lain
Dor... dor... dor
Lana terpesona melihat Kenzo yang sedang menempak. Dengan mengenakan penutup telinga dan postur tubuh tegap, Kenzo terlihat sangat mempesona
"Maaf tuan muda Kenzo, ada teman anda yang berkunjung" Pengawal bicara pada Kenzo saat dia berhenti menembak untuk mengisi pelurunya.
Kenzo membalikkan badan mendengar perkataan pengawal, kemudian menoleh pada Ilana. Perlahan dia melepas penutup telinganya lalu mengarahkan pistolnya kearah pengawal itu
"Bukankah kamu tahu kalau aku tidak suka diganggu saat sedang latihan?" Ujar Kenzo dengan sorot mata yang tajam
"Maafkan saya. Saya pikir karena nona ini teman tuan Kenzie dan nona Risha, jadi dia juga teman tuan Kenzo" Pengawal itu menjawab dengan kepala tertunduk
__ADS_1
"Tidak peduli siapapun, aku tidak suka diganggu"