
Hasna memutuskan pulang kerumah setelah membuat keributan di hotel
"Berani pulang juga kamu?! Papa kira kamu tidak akan berani menginjakkan kaki di rumah ini lagi?" Adnan menyambut Hasna yang baru pulang dengan sikap yang sinis. Terlihat jelas dari tatapannya kalau dia sangat marah pada Hasna
"Papa ... itu ... " Hasna tergagap dengan kepala tertunduk dan memainkan kedua tangannya
"Apa yang ingin kamu katakan?! Sebenarnya kenapa kamu melakukan itu semua?! Apa salah kami padamu?! Apa belum cukup kemewahan yang selama ini kami berikan padamu? Uang, semua fasilitas dan nama baik telah kami berikan untukmu. Kenapa kamu malah melempar kotoran tepat diwajah kami, hah?!" Adnan terus berteriak pada Hasna sedangkan sang ibu hanya menangis melihat putrinya
"Papa, maafkan aku. Aku mencintai Johan dan dia akan datang kemari untuk melamarku. Kami ini saling mencintai, pah. Jadi kurasa tidak ada salahnya aku bersama dia karena kami memutuskan untuk segera menikah" Hasna mengangkat kepalanya dan menatap Adnan dengan penuh keyakinan dan tatapan memohon
"Apa kamu yakin itu? Kamu jangan bersikap bodoh hanya karena wajahnya yang tampan. Zaman sekarang ini banyak laki-laki yang hanya ingin mengincar harta dan mempermainkan para gadis untuk kepentingannya sendiri. Kamu bisa saja hanya dipermainkan olehnya. Seharusnya kamu memikirkan itu lebih dulu!" Ujar Adnan berteriak mengingatkan Hasna
"Pah, dia itu baik. Aku akan segera mengenalkannya pada kalian. Kalian pasti akan menyukainya" Hasna tidak ingin terlalu disalahkan dan dia memang berniat membawa Johan untuk menemui kedua orang tuanya
"Baik. Kalau begitu ajak dia kemari untuk makan malam. Papa ingin bertemu langsung dengannya" Adnan pun mengalah dan meminta Hasna membawa johan menemuinya
"Iya, aku akan membawanya kemari untuk makan malam dengan kita" Hasna kini tersenyum setelah mendengar kalau sang ayah ingin mengenal Johan
"Sudahlah, kembali ke kamarmu sana!" Pinta Adnan sambil memalingkan wajahnya dari Hasna
"Baik pah" Hasna menuurti sang ayah dan bergegas kekamarnya dengan kepala tertuduk. Dia sama sekai tidak mempedulikan sang ibu.
Setelah tiba dikamarnya dia langsung menghubungi Johan
"Halo" Sapa Hasna setelah beberapa saat menunggu telepon tersambung
"Halo, apa kamu sudah sampai rumah dengan selamat? Kenapa kamu tidak mengizinkanku untuk menemui kedua orang tuamu sekarang?" Tanya Johan yang kini sedang bersama dengan gadis lain di sebelahnya
__ADS_1
"Aku tahu kamu pasti lelah setelah apa yang terjadi. Lagipula saat ini papa sedang marah, aku tidak mau kamu dibenci olehnya. Aku ingin kamu istirahat saja, sangat merepotkan setelah wartawan datang dan terus menghujani kita dengan ribuan pertanyaan. Kamu pasti merasa sangat tidak nyaman?" Hasna bicara dengan nada yang manja dan lembut
"Aku tidak papa. Kamu pasti sangat terkejut ya? Aku tidak tahu bagaimana bisa para wartawan itu tahu kalau kita sedang berada dihotel. Apa ... kamu dimarahi orang tuamu?" Johan masih bersikap lembut pada Hasna meskipun saat ini gadis yang ada disebelahnya telah mengerucutkan bibir karena kesal dengan sikap Johan pada Hasna
"Aku memang sedikit terkejut, tapi tidak apa-apa. Saat tiba dirumah, papa memang terlihat marah, tapi akuĀ berhasil meyakinkannya dan dia ingin bertemu denganmu. Papa mengundangmu untuk makan malam dengan keluargaku" Hasna tersenyum ceria mengatakan kalau Johan diundag untuk makan malam. Dia tidak tahu kalau Johan juga tersenyum mendengar apa yang dia katakan. Namun bukan senyum karena akan bertemu dengan orang tua Hasna. melainkan tersenyum ceria karena akan menerima sisa uang yang telah dijanjikan oleh Radit
"Benarkah? Papamu setuju untuk bertemu denganku?" Tanya Johan memastikan
"Ya, nanti papa mengundang kamu untuk makan malam dirumah kami" Hasna menjawab dengan senyum ceria dan lembut
"Baiklah, aku pasti akan datang. Sebaiknya kamu istirahat, kamu harus pergi ke kampus kan?" Ujar Johan dengan lembut
"Ya, aku ada kelas pagi. Apa kamu akan mengantarkanku ke kampus?"
"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu. Aku ada pekerjaan yang harus ku bereskan karena gosip itu" Johan terdengar sedih sekarang, membuat Hasna menekuk wajahnya karena khawatir
"Apa kamu mendapat masalah karena gosip itu?"
"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Kamu bisa menghubungiku saat urusanmu selesai, dan nanti aku akan menunggumu untuk makan malam dengan keluargaku"
"Baiklah, aku akan menghubungimu saat urusanku selesai nanti" Johan dengan sikapnya yang lembut berhasil meyakinkan Hasna kalau dia juga terkena dampak dari gosip itu dan akan segera menyelesaikannya
"Ya, selamat istirahat. Sampai jumpa"
"Hmn, sampai jumpa" Hasna dan Johan pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka
"Kamu bilang hanya akan mengambil uangnya saja? Kenapa kamu bersikap lembut begitu padanya?" Tanya gadis yang ada disebelah Johan dengan nada yang sedikit marah
__ADS_1
"Sayang, aku kan harus meyakinkan dia kalau aku suka padanya. Jika aku tidak melakukan itu maka semuanya akan gagal dan sia-sia saja" Johan dengan nada yang menggoda meyakinkan Gadis bernama Tia itu
"Aku tidak suka itu. Mana ada seorang gadis yang mengizinkan pacarnya mendekati gadis lain. Bahkan sampai menghabiskan malam dengannya" Tia mengerucutkan bibirnya dengan nada bicara yang manja
"Aku tahu, tapi kita sudah sepekat kan? Lagipula, aku melakukan ini semua demi kita berdua. Setelah ini kita bisa pergi berlibur atau mungkin, kita bisa menggelar pesta pernikahan mewah dengan uang itu?" Johan terus menggoda Tia agar dia tidak marah lagi
"Johan, apa kamu akan melakukan hal yang sama padaku? Menghianatiku dengan gadis lain lagi nantinya?" Dengan wajah sedihnya, Tia bertanya pada Johan dan menunggu jawaban darinya
"Tidak akan. Kita sudah lama pacaran, dan kamu juga tahu kalau aku sangat menyayangimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Dan rencana ini, bukankah kamu yang mengusulkan ini padaku?" Johan bertanya dengan senyum tipis diwajahnya dan sebelah tangan merangkul Tia dipelukannya
"Ya, aku tahu. Ini salahku karena memintamu melakukan hal yang seharusnya tidak kamu lakukan" Tia menundukkan kepala dengan wajah sedih penuh penyesalan dipelukan Johan
"Kalau begitu tidak perlu bahas ini lagi. Kita hanya perlu mendapatkan uangnya dan pergi dari kota ini" Tia menanggapi Johan dengan anggukan kepala pelan disertai senyum yang lembut
***
Keesokan harinya gosip mengenai Hasna yang berkencan dihotel masih menjadi perbincangan hangat dari mulut kemulut. Dia berjalan sepanjang jalan menuju kampus dengan tatapan mata penuh cibiran dari orang-orang. Hasna hanya bisa melangkah dengan kepala tertunduk. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepala menatap orang-orang itu
"Lihatlah siapa yang baru saja datang? Orang kaya somong yang ternyata rela tidur dengan pria mana saja"
"Aku tidak menyangka kalau dia masih memiliki muka untuk datang ke kampus ini. kenapa dia tidak tinggal dirumah saja dan belajar sediri? Hanya bisa mencoreng nama baik kampus saja. Jika ingin bersenang-senang jangan sampai mempermalukan banyak orang!"
"Apa semua orang kaya memang begitu ya?"
"Berhenti! Kenapa kalian memperlakukan Hasna seperti itu? Kalian seperti tidak pernah melakukan kesalahan saja!" Hasna terkejut karena masih ada orang yang mau membelanya
"Apa-apaan kamu?! Tidak perlu membela dia! Seperti kamu dianggap teman saja olehnya. Bukankah selama ini kamu hanya dianggap seperti kacung saja olehnya?" Salah seorang mahasiswi berkata dengan senyum mencibir padanya
__ADS_1
"Jaga bicaramu!" Gadis yang membela Hasna mengangkat sebelah tangannya karena kesal
"Tia, jangan! Biarkan saja mereka, tidak perlu mengurusi mereka"