Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kepedihan Rendra


__ADS_3

"Maafkan aku. Aku hanya ingin memberikan dukungan saja" Risha yang tanpa sadar memegang tangan Rendra langsung melepaskannya dan bersikap canggung


"Arisha Nedzara Kusuma, apa yang kamu lakukan? Berani-beraninya kamu langsung memegang tangan pria begitu saja" Batin Risha menggerutu pada dirinya sendiri


"Tidak papa" Jawab Rendra yang juga canggung


"Rendra... Rendra kenapa kamu jadi gugup begitu? Biasanya kamu bisa bersikap tenang menghadapi siapapun. Kenapa menghadapi Risha malah sikapmu memalukan begitu?" Batin Rendra pun menggerutu pada dirinya sendiri


Mereka berdua pun kembali makan siang bersama meskipun dalam suasana canggung yang cukup lama.


"Kenapa suasananya jadi aneh begini? Seperti kamu sengaja dipaksa makan bersama" Pikir Risha setelah cukup lama saling diam. Akhirnya Risha kembali berusaha membuka percakapan diantara mereka.


"Lalu … apa yang akan kamu lakukan dengan kakakmu? Apa kamu tidak ada niatan untuk memperbaiki hubungan dengannya?" Risha bertanya pada Rendra mengenai tindakan yang akan dia ambil selanjutnya


"Bukankah kamu sudah dengar sendiri tadi apa yang aku katakan pada kakakku?" Rendra bertanya dengan sikapnya yang tenang


"Iya sih, tapi seperti yang kakakmu bilang. Kalian tidak punya keluarga lain. Hanya tinggal kalian berdua saja yang tersisa dari keluarga Dirga"


"Aku memang tidak punya keluarga lain. Tapi kakakku masih punya keluarga paman dari ibunya. Kurasa itu tidak akan jadi masalah juga untuknya"


"Haah, ternyata kamu keras kepala juga ya? Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi padamu" Risha menarik napas panjang karena kesal dengan sikap Rendra yang keras kepala


"Apa kamu bisa membayangkan hidup bersama orang yang selama ini jadi penyebab penderitaanmu? Aku bahkan tidak bisa menatap wajah kak Bastian. Dulu aku sangat ingin berhubungan dekat dengannya. Aku ingin seperti anak lain yang bisa bermain dan bertengkar dengan kakaknya. Tapi aku, setiap aku mendekati kak Bastian, ibunya akan memberi jarak. Mengatakan kalau aku hanya anak dari perusak rumah tangganya. Aku hanya akan merebut kebahagiaan kakakku. Setiap kakak berbagi sesuatu denganku, maka aku akan dihukum dalam ruangan gelap atau dipukul karena dituduh mencuri sesuatu milik kakak. Ibuku hanya bisa menangis dan memohon agar aku tidak dihukum, sampai akhirnya ibuku memberanikan diri untuk meminta tinggal terpisah"


Ada kesedihan dan luka mendalam yang terlihat jelas dari sorot mata Rendra saat dia bercerita.


"Apa karena ini kamu memberi jarak pada kakakmu? Aku baru mengerti kenapa kamu bersikap dingin. Kuharap kamu bisa menyembuhkan luka itu meskipun memerlukan waktu lama. Tidak benci pada kakakmu saja sudah bagus. Aku tidak akan memaksamu mengorek luka lama yang entah kapan akan sembuh"


Risha pun mengerti kenapa Rendra bersikap dingin dan sangat waspada. Dia berusaha melindungi hatinya agar tidak terluka lagi. Risha pun diam dan merasakan sedih atas apa yang dialami Rendra dimasa lalu.


"Ah iya, apa kamu sudah mendengar kabar dari kantor polisi? Bagaimana dengan Kia, Elisa dan Nura?" Tanya Risha dengan ceria karena berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Dia tidak ingin Rendra terlalu larut pada kenangan pahitnya dimasa lalu

__ADS_1


"Yang kutahu mereka juga ditangkap karena menjadi otak dari tindak kriminal itu, tapi aku tidak tahu berapa lama hukuman mereka. Aku sudah tidak peduli juga. Toh semua sudah selesai dan kamu juga baik-baik saja" Rendra kembali bicara dengan sikap acuh tak acuhnya


Risha menatap Rendra cukup lama dia terlihat penasaran dengan sesuatu


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Risha sebelum dia bertanya pada Rendra


"Tanya apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Rendra mengernyitkan dahi menatap Risha dengan heran


"Kamu anggap aku ini apa?"


"Uhuk uhuk" Rendra yang sedang minum langsung tersedak mendengar pertanyaan Risha padanya


"Apa maksudnya itu? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?" Tanya Rendra setelah dia menenangkan diri


"Aku hanya penasaran saja. Selama ini kita dekat. Kamu juga selalu membantuku. Apa hanya karena aku sepupu Kenzo?" Risha bertanya dengan senyum manis dibibirnya. Sebelah tangan dia gunakan untuk menyangga dagu, itu membuatnya terlihat tenang namun sebenarnya dia sangat gugup menunggu jawaban dari Rendra.


Deg deg deg


"Apa yang akan dia katakan ya? Kenapa jantungku berdebar seperti ini hanya karena pertanyaan sepele yang aku ajukan sendiri padanya? Jika jantungku berada diluar, mungkin dia sudah melompat dan lari dari tempatnya" Pikir Risha dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.


"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa baik padamu. Padahal aku yakin kalau kamu bisa menjaga dirimu sendiri. Hanya saja aku selalu ingin jadi orang pertama yang membantumu. Aku ingin kamu hanya bergantung padaku" Rendra menjawab dengan kepala tertunduk dan nada yang lemah


Risha tersenyum tipis mendengar jawaban Rendra


"Apa kamu menyukaiku?"


Rendra terlihat sangat terkejut hingga dia membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Risha. Terlihat jelas kalau Rendra salah tingkah dengan memegangi bagian lehernya sambil menoleh ke arah lain


"A-apa apaan itu? Jangan bertanya hal-hal aneh!" Jawab Rendra dengan gugup dan salah tingkah


"Kenapa kamu gugup begitu? Memangnya apa yang aku tanyakan salah ya?" Risha menunjukkan senyum saat dia bertanya pada Rendra. Tentu saja itu membuat Rendra semakin salah tingkah

__ADS_1


"Ah … kitra sudah terlalu lama diluar, sebaiknya kita kembali ke kantor sekarang" Rendra langsung berdiri dan hendak pergi


"Hei, kamu mau kabur dariku ya?" Tanya Risha yang membuat Rendra menghentikan langkahnya


"Mana ada aku kabur darimu? Hanya saja ini sudah terlalu lama kita berada diluar. Lagipula, seharusnya kakakku juga sudah pergi kan?" Rendra menjawab sambil berlalu pergi lebih dulu


"Ayo cepat! Sampai kapan kamu mau diam disana?" Teriak Rendra memanggil Risha


"Lucunya melihat ekspresi pria yang tidak pernah dekat dengan wanita. Ditanya begitu saja langsung salah tingkah. Bagaimana kalau nanti kamu punya pacar ya? Rasanya ingin selalu menggodamu" Risha tersenyum sambil menatap punggung Rendra. Sorot matanya menunjukkan kalau dia memiliki rencana lain. Risha pun bangun dan mulai beranjak mengikuti Rendra dari belakang


"Hei, tunggu aku!"


***


Karena insiden sebelumnya, syuting Safira ditunda. Mereka harus mencari pemeran pengganti untuk menggantikan Gilang dan Manda. Safira pun kembali bersama dengan Kenzo


"Semuanya jadi sia-sia karena dua orang menyebalkan itu. Kita kan jadi harus menunda syuting" Tiara menggerutu kesal karena syuting dibatalkan


"Sudahlah, toh bukan hanya aku yang batal syuting, tapi semuanya juga harus kembali bersiap dari awal" Safira menenangkan Tiara yang terlihat sangat kesal


"Memang bukan hanya kak Safira saja yang bekerja keras, tapi semuanya juga. Kalau tidak ada kejadian seperti ini pasti syutingnya sudah selesai dalam waktu dekat. Aah kenapa juga harus menggunakan cara kasar untuk menbuatmu keluar dari drama ini? Ini karena si Manda dan Gilang itu. Mereka sengaja merencanakan semuanya untuk menjatuhkanmu. Sekarang mereka sendiri yang menerima akibatnya. Rasakan kalian berdua, karena sekarang kalian tidak bisa syuting lagi!" Tiara terus menggerutu dan mencaci maki Manda dan Gilang


"Sampai kapan kamu akan menggerutu begitu? Kamu seperti orang tua saja!" Safira tersenyum dan menggoda Tiara yang terus mengeluh sepanjang jalan


Kenzo yang sebelumnya hanya diam, kini mulai membuka suara


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan membiarkan siapapun memainkan trik liciknya lagi padamu. Aku akan selalu membuka jalan yang kamu pilih"


Safira manatap lekat Kenzo dan tersenyum padanya


"Terimakasih. Aku beruntung bisa jadi pacarmu"

__ADS_1


"Tentu saja kamu beruntung karena tidak ada pria lain di dunia ini yang tampan dan bisa melakukan apa saja selain aku"


"Rasanya mual. Bisakah kutarik lagi kata-kataku?" Ujar Safira dengan senyum terpaksa diwajahnya


__ADS_2