
Kenzie masih berdiri dan baru saja akan duduk saat pria paruh baya itu bertanya padanya
"Apa yang kamu miliki sampai berani pacaran dengan anakku?' Suaranya tenang namun terasa dingin. Bahkan dia menatap Kenzie dengan sorot mata yang tajam seakan bisa menusuk.
Saat baru masuk pun Kenzie sudah tahu kalau pria ini bukanlah pria sembarangan. Dia adalah salah satu pengusaha kaya yang bergerak dibidang konstruksi. Namanya sudah sangat dikenal dimana-mana, Arseno Wilandra. Duda dengan 1 orang anak perempuan yang ditinggalkan oleh istri yang paling dicintainya karena sakit. Dia tidak pernah dekat dengan wanita lain dan sangat menyayangi putri semata wayangnya. Dia juga tidak pernah menunjukkan putri semata wayangnya di depan publik dengan alasan untuk melindunginya.
Kenzie terdiam mendengar pertanyaan pak Arseno. Dia menunjukkan senyum tipis dan perlahan duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Saya tidak memiliki apapun untuk diberikan pada Meisya, karena saya juga tida akan meminta apapun yang dimiliki olehnya" Kenzie menjawab dengan sikap tenang tanpa ada rasa takut atau apapun diwajahnya meskipun kini dia dikelilingi oleh anak buah Arseno yang berjaga direstoran.
"Bagaimana kamu bisa begitu berani pacaran dengannya padahal tidak memiliki apapun? Saya tidak ingin anak saya menderita setelah dia memilih hidup denganmu" Arseno terlihat tegas dan berwibawa saat dia bicara pada Kenzie
"Bagaimana anda bisa yakin kalau Meisya akan menderita setelah hidup dengan saya? Kita belum tahu karena kami juga belum hidup bersama dan yang paling penting adalah yang akan menjalaninya adalah kami, bukan anda"
"Memang benar kalian yang akan menjalaninya, tapi sebagai orang tua, saya ingin yang terbaik untuk anak saya" Pak Arseno terlihat mulai kesal dengan Kenzie yang mengatakan tidak memiliki perencanaan apapun kedepannya
"Sebagai pasangannya pun tentu saya akan melakukan yang terbaik untuknya. Meskipun saat ini saya tidak memiliki apa-apa, tapi saya pasti akan memberikan apapun yang pasangan saya inginkan"
"Huh, hanya manajer produksi saja bagaimana bisa kamu memberikan apapun yang putriku inginkan?" Arseno mendengus kesal pada Kenzie
"Pak tua ini keras kepala sekali. rasanya ingin kutembak mati saja kepalanya itu?" Batin Kenzie terus menggerutu kesal meskipun bibirnya berusaha tersenyum
"Manajer produksi hanyalah pekerjaan awal saja. Saya masih muda sehingga banyak yang masih bisa saya capai kedepannya" Jawab Kenzie dengan yakin
"Masa muda akan cepat berlalu jika kamu menyia-nyiakannya dan melewatkan kesemapatanmu!" Arseno bicara sambil menyeruput kopi yang dia pesan
"Saya tidak pernah menyia-nyiakan masa muda saya. Saya dan saudara-saudara saya dibesarkan dengan modal yang cukup untuk menata masa depan kami. Dan sekarang saya juga sedang berusaha mencapai apa yang ingin saya gapai" Kenzie pun terus menjawab apa yang dibicarakan Arseno
"Bukan berarti kamu bisa berhasil mendapatkan masa depan yang kamu inginkan" Kenzie sudah mulai kesal dengan sikap pak Arseno yang menyebalkan
"Heeuh ,,, jika bukan karena Meisya meminta bantuanku, sudah kutembak mati pria tua ini!" Batin Kenzie terus menggerutu kesal menghadapi ayah Meisya
__ADS_1
"Belum bisa dipastikan juga kalau saya akan gagal. Lagipula, sekarang saya sudah mulai melihat hasil dari kerja keras saya. Jadi saya sangat yakin kalau saya akan berhasil" Kenzie tetap menanggapi dengan sikap yang tenang dan penuh percaya diri
"Kemarau setahun dihapus hujan sehari, kamu pernah dengar peribahasa itu kan?" Tanya Arseno dengan senyum tipis yang terlihat sombong
"Tentu saja saya tahu"
"Kalau begitu, kamu jangan terlalu yakin dulu sebelum semua terbukti. Bisa jadi kerja kerasmu akan runtuh dalam waktu satu hari" Arseno tetap bersikeras kalau Kenzie akan gagal
"Kenapa anda terus mengatakan itu? Apa anda berniat menghancurkan perusahaan saya?" Kenzie mendelik curiga pada Arseno yang terus saja berusaha menyudutkannya
"Jangan berprasangka buruk dulu. Saya hanya memberikan nasehat sebagai orang yang memiliki banyak pengalaman dalam bisnis" Arseno tetap menjawab dengan sikap tenang
"Saya tidak berprasangka, saya hanya bertanya alasan anda terus menyudutkan saya" Kenzie tersenyum tipis pada pak Arseno
"Saya ingin kamu jauhi putri saya. Kalau tidak, saya akan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal!" Arseno mendekatkan wajahnya pada Kenzie dan mengancam dengan sorot mata yang tajam
"Jika putrimu tidak meminta bantuan untuk pura-pura pacaran. Aku juga tidak perlu repot seperti ini" Pikir Kenzie yang mulai malas
"Kamu mengenalku?" Tanya pak Arseno dengan penuh selidik
"Siapa yang tidak kenal anda? Benyak perusahaan yang ingin bekerja dengan anda. Banyak juga pihak pengembang perumahan yang ingin menggunakan rancangan bangunan anda. Bagaimana mungkin saya tidak kenal?"
"Jadi kamu pacaran dengan Meisya karena tahu kalau dia putriku?" Arseno masih terus mencurigai Kenzie
"Kenapa saya harus melakukan itu?" Tanya Kenzie lagi karena bingung
"Tentu saja karena Meisya kaya dan kamu ingin merebutnya dari sisiku!"
"Ya ampun. Saya tidak butuh materi yang anda miliki. Saya bisa dapatkan sendiri kekayaan saya. Bahkan jika saya memang mau itu, saya bisa langsung memintanya pada orang tua saya. Keluarga saya bukan keluarga susah sampai harus numpang hidup pada pasangan mereka" Kenzie mulai kesal dan lelah dengan kecurigaan pak Arseno
"Mana mungkin ada keluarga lain yang lebih kaya dari saya? Apalagi putriku sangat cantik, kamu pasti tidak akan bisa menolak harta dan wanita cantik"
__ADS_1
"Haduuh susah sekali bicara dengan orang ini. Apa aku tinggalkan dia saja dan pergi?"
"Papa!" Saat Kenzie mulai kesal dengan sikap pak Arseno yang menyebalkan, Meisya datang dengan berteriak dan membuka pintu dengan cepat
"Meisya? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya pak Arseno dengan dahi mengernyit
"Tentu saja menjemput pacarku makan siang. Kami memiliki janji untuk makan siang bersama. Jadi, sampai jumpa lagi papa!" Meisya langsung berjalan mendekati Kenzie dan meraih tangannya agar dia cepat berdiri dan ikut bersamanya
"Ayo sayang. Kita harus segera makan siang. Kamu pasti lelah hari ini?" Meisya tersenyum pada Kenzie yang kesal
"Tentu. Kalau begitu, kami permisi dulu pak Arseno" Kenzie langsung berdiri dan mereka beranjak pergi meninggalkan restoran dengan tangan saling bergandengan
"Sampai jumpa papa!" Meisya melambaikan tangan sambil berjalan pergi meninggalkan sang ayah
"Aku tidak bisa membiarkan dia merebut hartaku yang paling berharga. Kamu tidak boleh membawa putriku!" Gumam pak Arseno sambil menatap punggung Kenzie dan Meisya yang semakin menjauh
"Bapak pasti kesusahan ya menghadapi papa saya? Maafkan saya" Bisik Meisya saat mereka berjalan keluar
"Apa kamu sangat membenciku?" Tanya Kenzie menatap sinis pada Meisya
"Ti-tidak kenapa bapak berkata seperti itu?" Meisya terlihat panik karena takut
"Kamu mencoba membunuhku secara perlahan kan dengan meminta bantuanku untuk menemui ayahmu?"
"Hah? Tidak seperti itu... " Meisya kembali panik dan merasa tidak enak pada Kenzie
"Mau bagaimanapun, daripada dikatakan bertemu calon mertua, itu lebih cocok dikatakan sebagai tes sebelum pergi ke medan perang. Kurasa yang jadi calon suamimu nanti bisa mati lebih dulu saat bertemu ayahmu sebelum bisa sampai ke pelaminan"
"Apa?" Ucapan Kenzie membuat Meisya mengernyitkan dahi dan menghentikan langkahnya
"Memangnya separah itu?" Gumam Meisya bingung
__ADS_1