
"Kek, apa tidak lebih baik kalau aku juga mencari rumah sendiri? Dari sini ke kantor cabang membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Akan lebih efisien kalau aku pindah ke tempat yang lebih dekat dengan tempat kerjaku nanti" Kenzie sedang bicara pada Yudha agar dia juga bisa memiliki tempat sendiri seperti Risha dan Kenzo. Jika dia langsung bicara pada Cheva maka itu tidak berhasil. Setidaknya dia harus punya dukungan yang kuat terlebih dahulu.
"Kamu juga mau meninggalkan rumah ini? Sekarang Risha dan Kenzo sudah tingga diluar, rumah ini akan semain sepi jika kamu juga ingin keluar dari rumah ini" Gina menyela mendengar pembicaraan Kenzie dan Yudha
"Tapi nek, akan sangat melelahkan kalau harus berkendara 3 jam setiap harinya. Setidaknya jika aku lebih dekat dengan kantor. Aku tidak perlu memakan waktu lama utuk berangkat dan pulang kerja" Ujar Kenzie berusaha meyakinkan Gina mengenai keputusannya
"Yang dikatakan Kenzie benar. Dia akan sangat kelelahan jika harus berkendara jarak jauh seperti itu" Ucapan Yudha membuat Kenzie tersenyum
"Hmn ... bagaimana kalau menggunakan sopir pribadi saja? Itu tidak akan membuatmu lelah, jadi kamu bisa fokus pada pekerjaanmu" Yudha menyarankan dengan sikapya yang tenang. Dan itu membuat Kenzie langsung menekuk wajahnya karena kesal
"Kakek buyut, ini sama sekali tidak lucu. Zo dan Risha diizinkan untuk pindah rumah, kenapa aku tidak boleh?" Kenzie bertanya dengan nada bicarannya yang tenang pada Yudha
"Karena kamu yang terakhir berada dirumah, jika kamu pergi juga maka kami akan kesepian" Yudha kembali berusaha meyakinkan Kenzie
"Haah... kalau tahu akan didiskriminasi seperti ini, aku akan keluar sebelum Risha" Gumam Kenzie dengan wajah suram
"Kapan kamu mulai bekerja?" Tanya Yudha mengalihkan pembicaraan dengan Kenzie
"Besok, aku sudah memberitahu penanggung jawab disana kalau aku akan bekerja sebagai manajer biasa, dan dia tidak boleh membocorkan identitas asliku" Kenzie menerangkan dengan sikap yang tenang dan lembut
"Baguslah kalau begitu, setidaknya dikantor cabang sana tidak ada yang mengenalimu kecuali penanggung jawab perusahaan" Gina pun kembali bicara sambil menyiapkan teh untuk Yudha
"Karena usahaku gagal, aku akan kembali kekamarku saja. Rasanya hidup ini sungguh tidak adil" Kenzie mengeluh dengan nada suara yang dibuat sedih sambil berjalan meninggalkan Yudha dan Gina menuju kamarnya. Dia pun menggelengkan kepala berkali-kali dan mengerucutkan bibirnya. Yudha dan Gina hanya tersenyum menanggapi sikap Kenzie yang berusaha membuat mereka kasihan
***
"Apa kamu sudah selesai dengan dokumen milikmu? Kamu harus menyelesaikannya hari ini juga" Kai mendekati Risha dan menanyakan mengenai tumpukan dokumen yang sedang dia pelajari
"Apa? Ini semua? Harus selesai hari ini?" Tanya Risha dengan wajah terkejut karena dokumen itu masih banyak
"Tentu saja. Besok kamu harus mulai dengan pekerjaanmu, jadi sekarang kamu harus mulai memahaminya" Kai tersenyum mencibir Risha
"Kalau gitu, aku akan membawa sisanya kerumahku. Aku akan mempelajarinya setelah jam pulang kerja" Risha merasa tidak mungkin menyelesaikan semua ini dikantor, jadi dia berniat membawanya pulang ke apartemen
__ADS_1
"Kamu bisa lembur disini dan jika memang tidak selesai, maka kamu bisa membawanya pulang"
"Ya, aku mengerti" Kai berbalik meninggalkan Risha yang merasa frustasi dihari pertamanya
"Bagaimana bu? Bukannya dia orang yang gigih?" Elisa mendekati Kai dan membicarakan Risha dengannya
"Dia seperti anak manja yang tidak tahu apa-apa. Bahkan dia tidak bisa menyelesaikan mempelajari dokumen itu dalam waktu satu hari" Kai menanggapinya dengan sikap yang sinis
"Yah mungkin karena ini baru hari pertama jadi dia masih belum terbiasa. Apalagi dia baru lulus kuliah kan?" Elisa berusaha terlihat baik dan perhatian pada Risha di depan Kai
"Kamu terlalu baik. Dia itu belum merasakan bagaimana susahnya mencari pekerjaan. Dia langsung menggunakan koneksi begitu lulus kuliah" Jawab Kai lagi sambil mendelik pada Risha yang sedang fokus mempelajari tumpukan dokumen di hadapannya
"Tetap saja tumpukan dokumen untuk dipelajari selama satu hari agak …"
"Sudahlah biarkan saja. Kembali saja pada pekerjaanmu. Lagipula kita harus menguji anak baru itu" Kai memotong pembicaraan Elisa sebelum dia selesai dengan kalimatnya
"Baiklah, aku tidak akan bicara lagi. Aku akan kembali pada pekerjaanku" Ujar Elisa yang berbalik dan menuju meja kerjanya. Dia tersenyum sinis sambil menatap ke arah Risha
"Aku akan membuatmu kesulitan selama bekerja disini" Pikir Elisa sambil berlalu pergi ke meja kerjanya
"Iya aku akan pulang sekarang" Jawab Risha yang sejak tadi fokus mempelajari dokumen sampai lupa waktu.
"Kalau begitu aku pulang duluan ya"
"Ya hati-hati" Risha pun mulai membereskan barangnya dan membawa sisa dokumen yang belum dia pelajari. Dia berjalan dengan lemas, langkahnya terasa berat.
"Apa semua pekerjaan seperti ini? Ini sangat melelahkan bahkan dihari pertama" Gumam Risha sambil berjalan menuju lift
Tring
Pintu lift pun terbuka dan didalam lift ada Rendra dan Alan yang juga baru mau pulang.
"Sha, kenapa kamu sangat lesu begitu?" Tanya Rendra yang melihat Risha lemah dan murung. Alan menatap Rendra tak percaya. Karena selama dia mengikuti Rendra beberapa bulan ini, dia tidak pernah menyapa karyawan lain lebih dulu. Apalagi bersikap lembut
__ADS_1
"Ren, apa bekerja itu memang melelahkan?" Tanya Risha sambil bersandar pada lift karena lelah
"Apa hari pertama juga kamu memiliki banyak pekerjaan seperti ini?" Tanya Rendra lagi setelah melihat tumpukan dokumen ditangan Risha
"Aku harus mempelajari banyak dokumen dan ini sisanya karena aku belum menyelesaikan semuanya" Risha menjawab dengan nada manja dan lemah
"Apa kamu sudah makan? Ini sudah hampir makam malam" Tanya Rendra dengan sikapnya yang dingin
"Aku tidak makan apapun sejak kita makan siang tadi" Jawab Risha dengan tenang dan sedikit memelas
"Kalau begitu kita makan malam dulu" Risha menganggukkan kepala dengan senyum menanggapi ajakan Rendra
"Sini ku bawakan dokumennya! Kamu terlihat seperti bisa terbawa angin begitu saja" Rendra bicara dengan sikap acuh tak acuhnya dan langsung mengambil dokumen dari tangan Risha
"Ehm... maaf pak sebaiknya saya pulang duluan saja. Saya tidak ingin mengganggu kalian berdua"
"Ya sudah. Sampai jumpa besok" Rendra menanggapi dengan sikap yang dingin
"Baik pak. Permisi" Alan pun langsung pergi begitu mereka tiba dilantai dasar
"Apa pak Rendra mengenal gadis itu ya? Kenapa dia bisa bersikap baik seperti itu?" Pikir Alan setelah mereka berpisah dilantai dasar. Dia terus menatap Rendra dan Risha yang berjalan menuju mobil Rendra
"Kamu tinggal dimana? Apa keluargamu menyediakan tempat tinggal?"
"Aku tinggal di apartemen sekitar sini" Renda menganggukkan kepala berkali-kali menanggapi Risha. Mereka pun makan bersama direstoran dekat kantor sehingga Risha juga tidak pulang terlalu larut
"Apa ini apartemenmu?" Tanya Rendra dengan tatapan heran melihat bangunan tua yang jadi apartemen Risha
"Benar, aku tinggal disini. Jaraknya cukup dekat dengan kantor, jadi aku tidak perlu takut kesiangan karena macet
"Ha ha ha apa semua anggita Kusuma punya selera aneh? Kenzo memilih rumah sedang dengan lokasi jauh dari keramaian. Sekarang Risha, rumahnya di pusat kota tapi yang dia tempati bangunan tua yang kecil?" Rendra tersenyum paksa kemudian bertanya dengan wajah bingung menatap bangunan dia dihadapannya
"Ini memang tempat tinggalku sekarang. Tidak mungkin seorang karyawan biasa saja punya rumah mewah kan?"
__ADS_1
"Aku salut dengan keberanianmu" Ujar Rendra sambil mengangkat sebelah jempol tangannya pada Risha