Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Bab 10


__ADS_3

Daniyal menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju ruangan di mana adiknya, Ivy di rawat. Setelah tahu kalau Ivy tidak sadarkan diri Juan langsung membawanya ke rumah sakit.


Juan juga memaksa dokter untuk melihat kondisi tubuh Ivy dan terlihat banyak sekali luka bekas cambukan di sekujur tubuhnya. Juan tahu kalau keluarga Ivy memang keras, tapi ia tidak menyangka akan sampai seperti itu, dan yang lebih membuatnya sakit hati, dorongannya tadi terlalu kuat dan membuat punggungnya sedikit membiru.


“bagaimana keadaanya? Apa dia baik-baik saja?” tanya Daniyal pada Juan Panik di depan ruang VIP tempat Ivy di rawat setelah tadi mendapatkan pertolongan pertama di UGD.


“jika seseorang berada di rumah sakit tentu saja sedang tidak baik-baik saja bukan?”


“ya kau benar (duduk di samping Juan)”


Hening, tidak ada yang membuka suara. Tak heran karena kedua pria ini memiliki sifat yang hampir sama.


“bisa kau jelaskan padaku! Kenapa sampai seperti itu? itu keterlaluan” Juan tidak meninggikan suarannya sama-sekai, tetap datar dan dingin.


“entahlah, ayah dan ibu memang sangat kasar pada Ivy, aku pun awalnya juga tak luput. Kau tahu kalau Ivy anak hasil dari perselingkuhan ayah dan sampai sekarang dia tidak tahu di mana ibu kandungnya. Seharusnya itu bukan salah Ivy. Cambuk adalah hal biasa bagi ayah, terutama dia itu perempuan, keluarga kami tidak akan mengakui seorang anak perempuan. Aku sangat menyesal, rasanya tidak aneh jika kakek sangat menyayangi Ivy melebihi apapun. Aku juga baru menyadari kesalahan itu semenjak beberapa hari yang lalu. Kekasihku meninggal bunuh diri karena tidak kuat dengan perlakuan orang tuanya. Aku takut hal yang sama akan terjadi kepada Ivy, di saat itulah aku tersadar”


“jika kau sadar kenapa kau tidak melaporkannya?”


“tentu saja aku ingin, sangat ingin melaporkannya. Tapi kuasa ayahku terlalu besar, dia bisa membeli segalanya termasuk hukum. Tentu kau tidak bodoh untuk tidak mengetahuinya”


“Nicholass (Juan menengok Daniyal) kau, apa kau menyayangi Ivy? Kau terus mendesak kami untuk menikahi Ivy, apa kau benar-benar menyayangi adikku?” mata Daniyal berkaca-kaca, setetes air matanya keluar dan dengan cepat ia mengusapnya.


“ya, tentu saja. Aku sangat menyayanginya”


“boleh aku meminta tolong sesuatu padamu? Tolong berikan adikku kasih sayang yang tak pernah aku berikan padannya, pelukan setiap hari, bertanya apakah dia sedang baik-baik saja, menanyakan bagaimana harinya yang tak pernah sekali pun aku ucapkan padannya” Daniyal meremas celananya dan menunduk menangis. Juan masih melihatnya datar tanpa ekspresi lalu memalingkan lagi pandangannya ke depan.


“ya, tentu saja. Aku akan memberikan segalanya”


Ivy yang masih tersadar di dalam ruanganya tentu saja mendengar percakapan mereka berdua. Menatap lurus langit-langit rumah sakit dengan pandangan kosong. Dia hanya bisa berharap semua akan membaik.


.


.


.


Adam sedang duduk bersila di depan sebuah ukiran tempat sahabatnya menuliskan janji mereka berdua. Setelah diam cukup lama, Ia memberikan sebuah ukiran baru di bawahnya. Ia juga menaruh bunga lily putih di samping ukiran itu sebagai hadiah untuk sahabatnya. Senyum hangat kembali menghiasi wajahnya yang awalnya terlihat kosong dan datar. Merebahkan tubuhnya dan menatap langit malam yang menurutnya indah.


“apa kau melihatnya, langitnya sedang mendung, tapi terlihat sangat indah”


“jika kau masih di sini kira-kira apa yang terjadi ya. Apa aku bisa menjadi seperti remaja lain pada umumnya? Aku aneh, tapi hanya kau dan diriku sendiri yang tahu. Ini rahasia kita, tidak aka nada seseorang yang tahu. Hanya kau, dan aku”


‘aku baik-baik saja’


.


.

__ADS_1


Keesokan harinnya Ivy tidak masuk sekolah, bukan karena bolos tetapi karena dia sedang harus berbaring di salah satu brankar rumah sakit. Terus mengganti channel televisi dengan asal, dia sedang bosan. Jika jam segini dia pasti sedang makan di kantin bersama Nina, Adam dan teman-teman yang lain. Ivy menoleh di samping kanan, tepat sebuah sofa dengan ukuran sedang terletak di sana, yang tentu saja tidak kosong.


Juan tertidur lelap setelah menjaga Ivy semalaman, karena Ivy yang mengeluh tubuhnya tiba-tiba sakit. Matanya terlihat mengantung dan gelap. Sayang sekali, pria tinggi itu terlihat kesusahan tertidur di sofa yang jauh lebih kecil dari tubuhnya itu.


“oh bapak sudah bangun? Bapak nggak ngajar?” tanyanya ketika tiba-tiba Juan sudah duduk dengan mata kantuknya. Juan berjalan gontai menuju tempat tidur Ivy dan memeluknya.


“eh, pak? Kenapa pak?”


“aku bukan bapak kamu”ucapnya lalu ikut tertidur si ranjang Ivy dan memeluk tubuh Ivy erat sampai membuatnya susah untuk bergerak.


“Juan jangan kenceng-kenceng, badanku sakit semua” spontan Juan melonggarkan pelukannya dan menenggelamkan kepalanya di bahu Ivy. Jujur, Ivy sedikit gemas dengan pria yang memiliki ketolak belakangan sifat ini. Jika sedang tertidur begini, wajah Juan yang awalnya terlihat galaK dan sedatar triplek mendadak menjadi menggemaskan.


“yang!”


“eh, kenapa ?” ya maaf, Ivy memang tidak biasa di panggil dengan panggilan seperti itu.


“Peluk!”


“hah?”


“peluk!” menarik lengan Ivy agar menjadi membalas pelukannya. Ivy hanya menurut dan mengelus serta menepuk-nepuk pelan punggung Juan sampai pria itu benar-benar tertidur lelap, Ivy pun menjadi ikut terlelap di posisi itu.


.


.


Di rumah sakit lain. Karena hari ini cukup cerah Zena memutuskan berjalan-jalan sebentar di taman rumah sakit di temani oleh Arvin. Jarang mereka bisa berjalan santai berdua seperti saat ini, karena pekerjaan Arvin yang sangat padat dan terus memanggilnya setiap waktu.


“kamu menyukainya?”


“hmmm (mengangguk semangat) sangat suka”


Mereka berdua duduk di bangku yang berada di taman. Arvin terus menggenggam tangan Zena erat, begitu pun sebaliknya.


“eh, kenapa?”


Zena terkejut dengan Arvin yang tiba-tiba memeluknya dan cukup lama. “aku capek, sebentar saja” pintanya. Zena tersenyum melihat kekasihnya itu, jarang sekali dia bersikap seperti itu.


“kamu sudah bekerja keras” dengan cepat Arvin merubah posisinya menjadi tidur dengan paha Zena sebagai bantalnya. Tentu saja karena dia adalah seorang dokter, pasti sangat melelahkan untuk selalu mengobati semua pasian di setiap waktu, dan dia menyukainya.


"Zen?"


"iya? ada apa?"


"jika aku bilang 'menikahlah denganku' apa kamu akan menerimanya"


"eh, hah? kenapa tiba-tiba kamu bicara begitu?" wajah Zena merah padam.

__ADS_1


"karena aku mencintaimu" setelah mengucapkan itu Arvin benar-benar tertidur lelap dan Zena mengelus rambut kekasihnya itu dengan lembut.


"aku juga"


.


.


“aish, bisa-bisannya mereka. Hey bangun!” Daniyal yang baru saja datang tentu saja terkejut dengan posisi Ivy serta Juan yang masih setia di posisi awal.


“berisik! Ada apa?” desis Juan, karena tidak ingin membangunkan Ivy yang masih tertidur pulas. Juan beranjak dari posisinya dengan hati-hati dan kembali duduk di sofa sambil membenarkan bajunya yang kusut.


Daniyal ikut duduk dan memberikan secangkir kopi yang sengaja ia bawa. Juan menerimannya dan melirik curiga anak kecil yang bersembunyi di belakang Daniyal sejak datang kemari.


“ah, dia Dion, adikku yang paling kecil. Dion kenalkan ini om Juan” dengan sedikit takut Dion keluar dari balik tubuh Daniyal dan tersenyum manis kepada Juan. Juan membalas senyuman Dion dengan senyuman mengerikannya (maksut hati ikut senyum juga) dan malah membuat Dion kembali takut dengan Juan.


“unghh,,,”


“kak Ivy!” berhambur memeluk Ivy erat.


“loh Dion kenapa bisa di sini?”


“kakak yang mengajaknya ah bukan, lebih tapatnya aku menculiknya kemari, kau senang?”


“tentu saja (sumringah)tapi bagaimana jika yang lain tahu?”


"itu urusanku tenang saja"


“kak Ivy sakit apa kok di sini? Kan Dion sudah bilang kalau ada apa-apa bilang aja ke Dion nanti Dion ajar orangnya”


“hahahaha kamu ini menggemaskan sekali. Bagaimana sekolahmu? Apakah menyenangkan?”


“hm, tentu sangat menyenangkan bla,,bla,,bla,,,” mereka berdua terus mengobrol dan seolah meniadakan kehadiran dua pria besar yang tengah duduk manis di sofa sambil menikmati segelas kopi mereka masing-masing. Sungguh kehidupan yang tenang.


.


.


.


Adam duduk mematung di bathup kamar mandi nya yang penuh dengan air. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Matanya merah dan beberapa bagian tubuhnya terlihat banyak sekali luka, rumahnya berantakan, semua berserakan dan beberapa telah pecah.


“kenapa kau di sini? Pergi atau aku akan melukaimu” ancamnya pada pria paruh baya di pojok ruangan. Pria paruh baya itu tidak menjawab dan tersenyum hangat ke arah Adam yang terlihat sedang emosional.


Tatapannya kosong, seolah jiwanya telah terpisah dengan tubuhnya. Siapa sangka, pria yang di beri julukan senyum matahari itu bisa seperti ini. Kebanyakan seseorang yang terlihat selalu bahagia adalah seseorang dengan kehidupan yang sama-sekali tidak bahagia.


“kau di dalam?” ucap suara dari luar.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Adam.


“aku membawakanmu makan malam. cepat keluar dan keringkan dirimu atau kau akan sakit” ucap suara itu lagi dan Adam masih tetap tidak menjawab. “aku akan menaruhnya di sini, jangan lupa di makan”, orang itu pergi, namun Adam masih tidak menjawab. Menenggelamkan tubuhnya yang masih berada di permukaan ke dalam air.


__ADS_2