Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Khanza menatap horor sang suami yang entah kenapa menjadi ciut bila berhadapan dengan isteri kecilnya.


" Loh kok natap akunya gitu banget sih yang?" Aldy bergidik ngeri melihat Khanza yang seakan hendak mengeluarkan taringnya


" Katanya mau bikin dedek sep_" Aldy langsung menutup mulutnya tatkala Khanza mengangkat satu tangannya mengisyaratkan untuk Aldy tidak melanjutkan kata-katanya


"Sayang kamu_!" lagi-lagi Khanza mengangkat tangannya ke udara


" Cukup, sepertinya pria dewasa yang bahkan berstatus guru disekolah ku ini tidak bisa membedakan mana berlian dan mana krikil kotor ya" sindir Khanza sinis


" Apa maksud ucapan mu itu?" Khanza tersenyum meremehkan


" Aku tidak habis pikir dengan pola pikir kamu mas, diluar kamu begitu dingin bahkan disaat mengajar pun sikap kamu tegas tapi dengan wanita ular itu sedikit pun aku tidak melihat sisi tegasmu disaat menghadapi wanita itu. atau jangan-jangan kecurigaan aku selama ini beralasan?" Khanza memincingkan matanya


" Kamu bicara apa aku enggak ngerti!" elak Aldy


" Tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?" sindir Khanza kembali


" Sebenarnya mau kamu apa sih, bukankah aku sudah mengambil sikap dengan tidak lagi menghiraukan dia?"


"Itu karena ada aku mas, bagaimana kalau tadi aku tidak berada di sini aku tidak yakin seekor kucing akan berdiam diri jika di hadapannya terhidang seekor ikan" ucap Khanza


" Terus sekarang mau kamu apa?" Aldy pusing sendiri


" Mau aku? mas bertanya mau aku apa?"


"Aku mau kita ambil jalan masing-masing" tegas Khanza


" Apa maksud mu ambil jalan masing-masing?" Aldy mengerutkan keningnya


" Aku tidak bisa mas hidup dengan orang yang tidak menghargai status seorang isteri, bahkan dengan rendahnya kamu membentakku mas dihadapan wanita ja**Ng yang berteriak ja**Ng kepada isterimu sendiri" Aldy terdiam


" Kamu memang sudah lama mengenalnya mas dibandingkan diriku kamu jelas lebih dulu mengenalnya dan aku tidak berhak untuk menghakiminya dengan kata-kata kotor itu, aku sadar akan hal itu."


" Aku tidak akan berkata kasar jika wanita itu tidak menghinaku lebih dulu dan aku tidak mungkin bicara jika aku tidak tahu apa-apa tentang siapa wanita yang kamu anggap adik iparmu itu!" tegas Khanza membuat Aldy seperti tercekik sulit untuk berkomentar


" Maafkan aku sayang!"


" Sudahlah mas, aku capek "


Khanza langsung naik ke atas tempat tidur dan menutup dirinya dengan selimut.


Aldy hanya bisa meruntuki kebodohannya yang entah kenapa menjadi lemah di hadapan Mila.


Apa yang dikatakan Khanza memang benar Aldy akui begitu mudah terpancing dan termakan ucapan Mila.


Pagi seperti biasanya Khanza bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan dan membuat secangkir kopi namun yang berbeda kali ini Khanza memilih berangkat sekolah duluan tanpa menunggu suaminya.


Ceklekk


Aldy menatap kesekeliling mencari keberadaan Khanza " Sayang!" teriaknya memanggil Khanza yang tidak juga terlihat batang hidungnya.


Aldy menautkan alisnya saat netranya melihat secarik kertas yang berada di atas meja makan.


..." Mas sarapan sudah aku siapkan jangan lupa dimakan. maaf kalau aku berangkat duluan"...

__ADS_1


Huff....


Aldy menghela napasnya kasar sebelum menikmati sarapannya.


Sesampainya di kelas Khanza langsung disambut oleh ke tiga sahabatnya.


" Kenapa tuh muka ditekuk gitu pagi-pagi?" tanya Miska yang bingung dengan sikap murung Khanza.


" Gue lagi kesal" jawab Khanza malas


" Kesal kenapa lagi sih ?" tanya Hana


" Gue muak banget sama tuh orang" curhat Khanza


" Siapa?"


" Tuh cewek!" sahut Khanza


" Cewek siapa? cewek yang lagi hamidun itu?"


" Iya!"


" Kenapa tuh cewek bikin ulah?" tanya Miska


" Semalam dia datang ke apartemen dan jujur aja gue muak banget sama tuh orang yang bermuka dua. dan yang lebih parahnya lagi laki gue benar-benar naif mudah banget termakan omongannya."'


" Maksud loe?"


" Gue kesel dan juga marah sama orang yang tidak bisa menempatkan posisinya. jelas gue isteri sahnya tapi dengan seenaknya dia malah marah sama gue saat tuh cewek menghina gue dan gue hina balik" cerita Khanza


" Terus hubungan loe sama dia bagaimana sekarang?"


"Gue masih malas aja bawaannya, makanya gue berangkat lebih dulu!" aku Khanza


" Iya sih pak Gutami juga salah, pra kayak gitu di bela. gue rasa dia enggak tahu aja kalau adiknya itu diselingkuhin" ucap Miska


" Elo gak ada buat ngasih tau laki loe emang Za?" tanya Hana geregetan


" Nanti saja belum saatnya, gue enggak mau terlalu ikut campur selama dia masih bisa gue atasi tapi kalau tuh orang ngelunjak ya mau enggak mau aibnya gue babat abis" sahut Khanza


"Terus rencana loe kedepannya bagaimana?"


Khanza menggidikkan bahunya bingung harus menjawab apa.


Jam pelajaran ke 2 Aldy yang mengisi, Khanza diam saja ketika para murid lainnya mengucapkan salam kepada guru tersebut.


Aldy menerangkan materi yang akan di pelajari semua murid nampak begitu serius mendengarkan apa yang Aldy terangkan kecuali Khanza, gadis itu nampak cuek dan sama sekali tidak memperhatikan pelajarannya.


Dari awal Aldy masuk Khanza hanya sibuk mencoret-coret bukunya tanpa peduli dengan kehadiran Aldy


"Coba jawab soal yang berada di papan tulis sesuai dengan apa yang sudah saya terangkan tadi!" ucap Aldy seraya menunjuk ke arah Khanza.


" Za!" senggol Miska


"Apaan sih malas gue!" sungut Khanza

__ADS_1


"Za itu!" Khanza masih belum sadar kalau saat ini dalam pengawasan sang guru sekaligus guru disekolahnya.


" Apaan sih Miska, gue lagi serius nih" ucap Khanza yang memang tidak begitu memperhatikan Aldy dan lebih memilih untuk mengamati buku yang ada di hadapannya.


"Laki loe manggil tuh!" Miska menunjuk ke arah Aldy dengan ekor matanya


" Kamu maju!" Khanza menunjuk ke dirinya sendiri


"Saya?"


"Iya kamu, dari tadi saya perhatikan kamu sibuk sendiri tidak memperhatikan pelajaran yang saya terangkan"


" Sekarang kamu kerjakan soal nomor 2!" titah Aldy


Khanza beranjak dari duduknya dengan wajah cemberut.


" Makanya kalau lagi belajar itu fokus!"


"Iya pak"


" bawel banget sih udah mana sini soalnya!" ucap Khanza sedikit berbisik


"Nih kerjakan!" Aldy tersenyum tipis melihat Khanza yang diam saja terlihat tengah kebingungan untuk menjawab soal tersebut.


"Bagaimana, bisa?" ledek Aldy


Khanza diam saja seraya mengamati soal tersebut.


" Makanya kalau belajar itu jangan ngelamun" Aldy geleng-geleng kepala berdiri di belakang Khanza


Sedetik kemudian Aldy dibuat tercengang karena dengan mudahnya Khanza menyelesaikan soal yang ada di papan tulis dalam waktu yang terbilang singkat.


"Bagaimana mungkin!" batin Aldy menatap tak percaya ke arah Khanza.


Bukan hanya satu soal tapi Khanza sudah mengerjakan semua soal yang ada di papan tulis dengan jawaban yang membuat mulut Aldy menganga.


" Meskipun mata saya tidak fokus ke satu titik tapi kuping dan otak saya cukup cepat menangkap dan mencerna apa yang bapak terangkan." sahut Khanza dengan senyum menyeringai


" Waww.... keren loe Za!" puji Nicko


"Khanza gitu loh!" timpal Billy


"Hebat loe Za diam-diam menghanyutkan" ucap Nana


Masih banyak lagi pujian-pujian yang dilontarkan para teman-temannya.


Aldy merasa geli sendiri yang ternyata kalah telak oleh isteri kecilnya.


" Kamu memang menakjubkan" puji Aldy


" jangan terlalu memuji bisa jadi keras kepala nantinya saya, " ucap Khanza


" Saya sekolah memang untuk belajar, walaupun terkadang saya tidak fokus bukan berati saya tidak menyimaknya " lanjutnya lagi lalu berbalik badan kembali ke bangkunya


Aldy menghela napasnya berat lagi-lagi kata-kata Khanza membuatnya monohok

__ADS_1


__ADS_2