
Mario dengan kecepatan tinggi mengikuti arah sinyal yang terhubung dengan gelang yang digunakan Lia.
Pada saat itu di dalam mobil Lia berusaha untuk bersikap tenang dan setelah itu ia sadar akan fungsi gelang yang ada di tangannya yang nampak seperti asesoris biasa lalu tanpa sepengetahuan para pria yang menyeramkan itu Lia menekan tombol kecil yang ada di gelangnya.
Kini mobil yang membawa Lia semakin pergi menjauh dari ibu kota, tempat yang sangat sepi dan gelap. Lia teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu dan kini ia mencoba untuk bersikap tenang dan dia sangat yakin Mario pasti akan menolongnya dan dia juga akan tahu sebenarnya siapa dalang dari semua kejadian ini.
Mobil tersebut pun sampai di sebuah bangunan besar dan mewah. Lia yang dianggap Zaira pun dimasukkan ke dalam rumah tersebut. Lia mengernyitkan alisnya melihat rumah mewah tersebut.
Para pria tersebut memaksa Lia untuk masuk lalu ia dikurung di sebuah kamar yang terbilang cukup bagus tidak seperti biasanya para tawanan disekap dan di kurung di gudang yang kotor.
Lia terkejut karena saat ini dia berada di sebuah kamar yang terbilang cukup waw ini sih batin Lia.
" Siapa sih yang mencoba menculik Zaira, kenapa mereka membawanya ke tempat ini, apa sebenarnya tujuan mereka. jadi penasaran gue" gumam Lia
Tidak lama pintu terbuka datang dua orang pelayan wanita yang terbilang masih sangat muda membawakan Lia yang disangka Zaira itu makanan.
" Nona sebaiknya anda makan terlebih dahulu atau mandi. ini baju ganti untuk anda nona!" ucap salah satu pelayan tersebut.
" Apa boleh saya tahu sebenarnya ini dimana?" Tanya Lia yang hanya ditanggapi oleh mereka dengan senyuman.
" Maaf nona kami tidak bisa memberitahu Anda, kami hanya bertugas untuk melayani anda nona" ucapnya.
" Kalau begitu permisi nona" ucapnya dan langsung beranjak pergi.
Lia semakin penasaran siapa sebenarnya yang melakukan kepada Zaira dan kenapa mereka memperlakukan Zaira sampai segitunya. apa Irfan? tapi dari mana ia memiliki uang sebanyak itu untuk menyewa orang-orang bayaran.
Di dalam kamar tersebut Lia terus berpikir rasa penasarannya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Lia lalu berdiri di dekat jendela mengintip keadaan di luar tapi sepertinya suasana sangat sepi. Lia lalu kembali berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepi kasur.
" Apa segitu banyaknya ya yang ngefans sama kakak ipar gue yang satu itu, sampai berkali-kali diculik. " gumam Lia lalu tiba-tiba ia diserang rasa ngantuk yang tidak tertahankan.
Lia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang cukup besar tersebut. sedetik kemudian Lia sudah terlelap.
Ketika Lia tengah terlelap di dalam kamar yang terbilang nyaman tersebut disisi lain seorang pria dengan sepeda motornya melaju dalam keadaan cemas, pikirannya dilanda kepanikan yang luar biasa apalagi sepertinya Mario tahu yang membawa pergi Lia bukanlah orang sembarangan.
Mario terus menerobos jalanan ibu kota dengan kecepatan diatas normal karena rasa paniknya yang sudah diluar batas. dia takut para penculik Lia itu berbuat nekad apalagi kalau mereka tahu yang mereka culik bukanlah Zaira melainkan Lia.
...☄️☄️☄️☄️☄️...
Sementara di kediaman keluarga Dinata papa Sam marah besar kepada para anak buahnya yang tidak becus untuk menjaga menantunya dan kini malah putrinya yang mengalami penculikan.
Pria paruh baya itu berkali-kali memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. bagaimana kalau sampai istrinya tahu tentang apa yang tengah menimpa keluarganya pastinya ia akan marah besar karena sudah berani merahasiakan hal ini darinya. untuk membayangkannya saja papa Sam sudah bergidik ngeri,
Papa Sam dibantu oleh Bram, Yoga dan juga Sendy bergegas melacak keberadaan Lia dengan berbekal ponsel milik Mario.
Papa Sam sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Lia.
Bram memerintahkan Yoga dan Sendy untuk menyelidiki siswa yang bernama Leo. entah kenapa Bram melihat ada kejanggalan dengan anak itu setelah melihat video yang sempat diperlihatkan oleh Sendy kepadanya.
Sendy dan Yoga langsung bergegas pergi untuk menyelidiki Leo sementara papa Sam menunggu di rumah bersama dengan bi Sum dan mbok Iyem yang diminta untuk datang ke kediaman Dinata untuk menjaga Zaira selama Azka dan Bram pergi menyusul Mario.
Bram juga tidak mau mengambil resiko selain sudah mengerahkan semua anak buahnya Bram juga sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib.
Mendengar kejadian yang menimpa sahabatnya yaitu Lia dan Zaira dari yoga tentunya Mona langsung mengajak Mia dan Indah pergi ke rumah Lia dimana Zaira berada saat ini.
Mona, Mia dan Indah datang untuk menemani Zaira, mereka tahu disaat seperti ini Zaira pasti sangat membutuhkan keberadaan mereka untuk menemaninya.
Mia berusaha untuk menenangkan Zaira yang sedari tadi nampak gelisah memikirkan keadaan Lia.
" Mia, Lia Mi Lia!" ucap Zaira berulang-ulang sambil mengguncang tubuh Mia dengan mata yang sudah sembab karena sedari tadi ia terus saja menangis mengingat Lia yang nekat malah menggantikan posisinya.
__ADS_1
" Iya Za kita juga tahu loe mengkhawatirkan dia, kita juga sama Za cemas dengan keadaan Lia. Sebaiknya sekarang kita banyak berdoa aja ya Za semoga Lia gak Kenapa-napa" ucap Mia mencoba untuk menenangkan Zaira
" Iya Za apa yang dibilang Mia benar. loe sebaiknya sekarang istrirahat deh Za kasihan sama anak di perut loe. prioritaskan anak loe juga Za." ucap Mona menimpali.
" Iya Za loe istirahat aja dulu ya!" Indah mengusap bahu Zaira mencoba ikut menenangkan Sahabatnya itu.
Zaira pun berbaring kembali di kasur, Zaira saat ini berada di kamar tamu yang sudah disulap sebagai ruang perawatan Zaira oleh Azka.
Sementara Papa Sam sedang berada di ruang keluarga, ia duduk bersandar sambil memejamkan mata dan tangannya sedari tadi tidak henti memijat dahinya. Rasa cemas dan takut terjadi sesuatu terhadap putrinya kini terus berputar di dalam pikirannya.
Bi Sum lalu datang membawakan tuannya secangkir teh ginseng agar tuannya sedikit tenang, bi Sum tahu tuannya saat ini tengah dilanda kegelisahan, bagaimana tidak anak gadisnya dibawa pergi oleh pria-pria berbadan tinggi besar yang tidak mereka kenal
" Tuan besar, diminum dulu teh ginseng ini, agar tuan lebih tenang!" ucap bi Sum sambil meletakkan secangkir teh ginseng tersebut ke atas meja.
" Terima kasih ya bi!" ucap papa Sam masih dengan memejamkan mata.
Setelah meletakkan secangkir teh ginseng di atas meja untuk papa Sam bi Sum pun kembali ke dapur untuk memasak makan malam dibantu oleh mbok Iyem.
Papa Sam meminum teh ginseng yang dibuatkan oleh bi Sum, teh ginseng bisa memberikan efek menenangkan. setelah meminum teh tersebut papa Sam memutuskan untuk pergi ke kamarnya namun baru saja ia melangkah tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah luar.
Ceklekk
Pintu terbuka papa Sam terkejut dan dengan susah payah menelan salivanya saat melihat siapa yang sudah berdiri di hadapannya saat ini.
" Mama!" pekik papa Sam dengan mata membulat sempurna
Mama Maria berjalan dengan gancang menghampiri papa Sam yang masih berdiri mematung dengan keterkejutannya dan bunda Aryani mengekor di belakangnya.
" Pah, kenapa papa tidak memberitahu mama hah?" kesal mama Maria dengan nada tinggi
Papa Sam hanya bisa menghela napas kasar.
" Hal sepenting ini papa tega tidak memberitahu mama!" mama Maria memukul lengan papa Sam berkali-kali.
" Sudah Mar tenang dulu, mungkin mas Sam punya alasannya kenapa tidak mengatakannya pada kita!" ucap bunda Aryani menenangkan mama Maria.
Mama Maria mencoba mengatur napasnya dan menenangkan dirinya. " Lalu bagaimana keadaan menantu kita pah?" tanya mama Maria setelah merasa lebih tenang.
" Iya mas, Dimana Zaira?" Bunda Aryani ikut bertanya.
" Zaira Alhamdulillah baik-baik saja, kandungannya juga sehat tapi_" papa Sam menjeda ucapannya
" Tapi apa pa?" tanya mama Maria yang sudah mulai panik
" Meli putri kita yang dibawa oleh orang-orang yang entah siapa, Meli menyamar jadi Zaira dan akhirnya Meli lah yang mereka bawa pergi karena pada saat kejadian Azka sedang tidak berada di ruangan Zaira. " tutur papa Sam menjelaskan.
" Meli putriku!" lirih Mama Maria
" Yang sabar Mar, aku yakin Lia bisa mengatasinya dia itu anak yang pintar dia pasti akan baik-baik saja" ucap bunda Aryani.
" Semoga saja ya Ar" ucap Mama Maria
" Lalu dimana menantuku Zaira?" tanya mama Maria yang melihat kondisi rumah nampak sepi.
" Ada dikamar tamu bersama teman-temannya" sahut papa Sam
Mama Maria dan bunda Aryani langsung bergegas pergi ke kamar yang dikatakan oleh papa Sam.
Ceklekk
__ADS_1
Pintu kamar tersebut dibuka oleh mama Maria lalu mama Maria masuk ke dalam kamar diikuti oleh Bunda Aryani.
" Sayang!" teriak mama Maria dan bunda Aryani bersamaan.
" Mama .... Bunda..!" pekik Zaira saat melihat kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Mama Maria dan bunda Aryani langsung menghampiri Zaira yang tengah dibantu Mona dan Mia yang hendak bangun dari tempat tidur.
" Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya bunda Aryani lalu memeluk putri kesayangannya itu.
" Za gak apa-apa kok bund, ma. tapi Lia ma, bund!" ucap Zaira menatap kedua wanita paruh baya itu secara bergantian dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca.
" Kamu tenang ya sayang, gak usah khawatir. Meli pasti baik-baik aja" ucap mama Maria menenangkan Zaira.
" Tapi ma semua ini karena Za, kalau bukan karena ingin melindungi Za Lia pasti tidak akan mereka culik. bagaimana kalau mereka tahu Lia bukan Za dan mereka_" Zaira tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
" Tidak akan terjadi apa-apa Sayang, Meli pasti akan baik-baik saja. kamu tahu Meli kan? dia pasti sudah memprediksikan semuanya dengan matang sebelum dia melakukan ini. anak itu memang benar-benar seperti opahnya dia pasti bisa membaca situasi sayang." tutur mama Maria
" Tapi ma"
" Sudah sayang sebaiknya kamu istirahat ya kasihan bayi yang ada di dalam kandungan kamu nak, kamu gak boleh stres sayang itu bisa berpengaruh dengan kehamilan kamu" pinta bunda Aryani yang membantu Zaira untuk kembali berbaring.
...☄️☄️☄️☄️...
Di sebuah kamar mewah Lia baru saja mengerjapkan matanya setelah tadi sempat ketiduran. Lia melihat keseluruh ruangan tidak ada siapa-siapa dia masih sendiri di ruangan tersebut. Lia lalu memilih pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan sisa rasa kantuknya yang masih tertinggal. Didalam kamar mandi Lia membasuh mukanya agar kembali segar. setelah selesai dia hendak melangkah dan membuka pintu kamar mandi namun sebelum dia membuka pintu kamar mandi tersebut dia mendengar seseorang tengah berbicara.
Lia lalu memutuskan untuk mengintipnya sejenak dan kembali menyalakan keran air agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Lia berdiri di balik pintu yang ia buka sedikit lalu ia menyipitkan matanya melihat keluar kamar mandi. namun posisi orang tersebut duduk di tepi tempat tidur dan membelakanginya.
Lia mendengus kesal karena tidak bisa melihat siapa orang yang sudah berani bermain-main dengan keluarga Dinata tapi dia masih bisa mendengar sayup-sayup suara orang tersebut sedang bertelponan. Lia sepertinya merasa tidak asing dengan suara orang tersebut tapi siapa dia belum begitu jelas. Lia lebih memilih tetap berada di dalam kamar mandi tersebut setidaknya sampai orang tersebut pergi dari kamar itu.
Setelah menunggu Lia yang disangka Zaira itu tidak juga keluar dari kamar mandi. orang tersebut memilih untuk pergi. dan setelah orang itu pergi Lia baru berani untuk keluar.
Lia menghela napasnya panjang, rasanya ini seperti main petak umpet saja batin Lia.
Lia berjalan ke arah jendela dan mengintip ke arah luar dan Seketika matanya berbinar karena dari kejauhan ia melihat seseorang yang sangat dinantikannya sudah berada tidak jauh dari rumah besar tersebut.
Hati Lia merasa lega setidaknya posisinya saat ini sudah diketahui, kakaknya Azka dan juga orang-orang suruhan papanya pasti sudah bergerak hanya tinggal menunggu instruksi.
Sayup-sayup Lia mendengar suara derap langkah kaki yang perlahan semakin mendekat ke arah kamar tempatnya berada. Lia dengan gerakan cepat langsung naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti dirinya berpura-pura tidur.
Ceklekk
Pintu kamar tersebut di buka dari luar, perlahan langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arah Lia. Dibalik selimut jantung Lia sudah berdetak sangat kencang ia takut orang ini adalah pembunuh berdarah dingin.
Walaupun Lia bisa ilmu bela diri tapi kalau sudah keroyokan jet Li pun kalah apalagi dia hanya seorang Lily. Dengan segala cara Lia berusaha berpikir dengan keras untuk mencari cara agar bisa terbebas dengan situasi ini. Lia masih muda dia tidak mau mati konyol.
Lia berpura-pura tertidur dia tidak merespon saat ada tangan kekar tengah menyentuh selimutnya. perlahan tangan itu menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Lia.
Ceklekk
Pintu kembali terbuka si pria yang berada di dalam kamar menoleh, lalu beranjak dari tempatnya.
" Bagaimana, apa yang akan kau lakukan dengan anak itu?" suara seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
Mereka menganggap Lia yang dianggap Zaira itu tengah syok dan saat ini pasti sedang ketakutan makanya bersembunyi di balik selimut.
Dibalik selimut Lia merasa sangat mengenal dua orang yang tengah berbicara itu tapi siapa Lia masih memperjelas pendengarannya sampai pada akhirnya.
__ADS_1
" Suara itu_?" Lia terkejut setelah teringat siapa pemilik suara tersebut.