Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Bab 14


__ADS_3

“bukan kah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?” pria itu duduk berhadapan dengan Ivy. Mengambil mie milik Ivy dan memakannya setengah lalu memberikannya lagi pada Ivy. Dia terlihat kelaparan. “dokter Arvin yang menelponku kemarin”


“dokter Arvin? Kenapa tidak menyuruhku saja jika tahu keadaannya begini?”



“hey nona, kamu sedang sakit juga, ingat? Lagipula kamu tidak memiliki ponsel, bagaimana dia menghubungimu?”



“benar juga, tapi,,,,”



“nggak usah tapi-tapi! Yang penting kamu udah di sini kan? masalah selesai, lagi pula kesehatan Zena tidak bergantung padamu, itu memang sudah jalannya begitu. Jadi, jangan menyalahkan dirimu lagi, okee?” Adam benar, tapi setidaknya Ivy ingin tetap ada di samping sahabatnya yang tengah menderita. Adam menarik sudut bibir Ivy ke atas, memaksa membentuk sebuah senyuman.



“jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku, oke? Aku akan pergi karena ada urusan yang tidak bisa aku tinggal. Jaga diri baik-baik aku akan pergi untuk beberapa saat. Sementara aku pergi kau harus tetap tersenyum agar kak Zena juga ikut tersenyum juga. Aku tahu ini pasti sangat berat untukmu, tapi ku mohon tetap pikirkan keadaanmu. Oh iya, aku titip pesan untuk Bian. Tolong katakan kalau aku baik-baik saja dan aku akan segera kembali. Daaaaah”



Belum juga Ivy menjawab Adam sudah berlari pergi, lagi-lagi senyumnya membuat hatinya hangat dan tenang. Ivy menyadarkan dirinya dan menggeleng cepat. “apa ini alasannya tidak masuk sekolah?” Ivy mengangkat bahunya dan memakan mienya yang tinggal setengah itu.


.


.


.


Keesokan harinya Ivy dengan berat hati tetap datang ke sekolah karena Arvin terus mendesaknya.


Flashback


“aku akan menjaga nya jadi kamu harus tetap sekolah!”



“tidak mau, aku harus tetap di sini, Zena merindukanku”



“no no, cepat pergi ke sekolah! Se ka rang!”



“nggak aku tetap di sini titik!”



“kau mau membuat Zena kecewa sewaktu dia bangun atau bagaimana? Jika dia tahu dia pasti,,”



“iya,iya aku berangkat, awas aja kalo ngadu!”



“iya udah pergi sana, hati-hati adek cantik”



“tapi janji ya! Jaga Zena baik-baik oke?”



“iya janji, udah sana!”


End.


Di sekolah Ivy hanya melamun dan tentu tidak bisa fokus ke pelajaran atau apa paun. Dia tidak bisa tenang sama-sekali. Terus menggerakkan kaki dan tangannya. Nina yang merasa tidak nyaman hanya bisa memandang Ivy heran, apa sesuatu terjadi? Nina berkali-kali bertanya namun Ivy hanya menjawab kalau dia baik-baik saja.



“sst Vy!” Nina menyikut pelan lengan Ivy. Ivy mengangkat alisnya, seolah memberi kode ‘apa?’ Nina menunjuk ke depan. Ternyata Selena sudah berdiri di depan kelas dengan wajahnya yang sok cantik itu. Satu kelas berbisik mengenai penampilan Selena yang terlihat terlalu sexy untuk seorang guru sekolah. Namun berbeda dengan anak laki-laki yang melihat Selena dengan tatapan kagum.


__ADS_1


“itu terlalu berlebihan” bisik Nina, Ivy mengangguk mengiyakan dan kembali pada aktivitas melamunnya. Dia terlalu malas untuk mengomentari cabe-cabean berumur itu.



Selena mengajar mata pelajaran Biologi peminatan di kelasnya, jadi hanya satu kali pertemuan dalam satu minggu. Ivy beruntung karena hanya berjumpa satu kali (dua jam pelajaran) dalam satu minggu. Jika lebih dari itu bisa-bisa bisa gila dia.



Ivy melirik Nina yang terlihat terkantuk-kantuk karena penyampaian materi yang membosankan, begitu juga teman sekelasnya yang lain. Pakaian dan gayanya tidak sesuai dengan gara mengajar dan isi otaknya. Ivy yang melihat hal itu hanya terkekeh pelan.


Istirahat Makan Siang.


“gayanya emang hot banget, tapi nagajarnya nggak hot sama-sekali” oceh Nina. Dari tadi Nina terus mengoceh mengenai Selena yang baginya tidak pantas untuk menjadi seorang guru.



“sudahlah Nin jangan di pikirin, mumpung aku baik hati mau makan keripik kentang ku juga?” tawar Toni, Jio langsung melotot.



“ape nih, kok kau tiba-tiba dengan senang hati nawarin pacarku keripik kentang mu yang berharga itu? jangan bilang kau memang naksir Nina?”



“apasih, aku Cuma lagi di mood yang baik aja, jangan menuduh sembarangan!”



“tapi apa ini? Aku selama bersekolah di sini yang terus minta aja gak pernah di kasih, jadi curiga nih”



“jaga mulutmu Jio! Sebelum ku kunyah semua keripik kentang ku!”



“lah, apa hubungannya bege”




“tapi kau berhutang penjelasan padaku, oke?” Bian mengangguk kembali.



“*semoga benar kau baik-baik saja*” Batin Bian penuh harap.


.


.


.


“ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Ivy, bisa-bisanya sewaktu makan siang ada siswa yang memberitahunya untuk segera ke ruangan Juan. Tentu saja sekarang Ivy tengah berada di ruangan pria dingin itu.



*BRAK*



Ivy sedikit berjingkat kaget karena Juan yang tiba-tiba menggebrak meja dengan keras. Juan berdiri dari tempatnya dan berjalan cepat menuju Ivy, Ivy terus memundurkan tubuhnya sampai terhalang tembok dan dia tidak bisa mundur lagi. Dengan cepat Juan meng kabedon Ivy dan membuat wajahnya sangat dekat dengan wajah Ivy.



“jangan alihkan wajahmu, lihat aku!” dengan sedikit takut Ivy melihat wajah Juan dan menatapnya.



“ta-tapi pak, ini terlalu dekat” pelannya. Bukannya memundurkan wajahnya, Juan justru memajukan wajahnya lagi.



“apa kamu menerima nya? Dan kemarin kenapa tidak pulang ke apartemen?”


__ADS_1


“menerima apa? Sa-saya menginap di rumah teman pak” Ivy terlihat gugup dan sangat malu karena ini kali pertama dia berhadapan sedekat ini dengan seseorang terutama seorang pria.



“bohong! Kamu tidak memiliki teman sedekat itu, aku tanya lagi. Apa kamu menerima siswa yang menembakmu kemarin?” Kalimat yang penuh penekanan, Juan semakin memajukan wajahnya. Merasa terlalu dekat Ivy menahan tubuh Juan dengan kedua tangannya sekuat tenaga agar pria itu tidak lagi mendekatkan tubuhnya.



“tentu saja saya tidak menerimanya, bagaimana bisa pacaran dengan pria lain jika saya sebentar lagi akan menikah”



“lalu kenapa kemarin kamu bilang nggak suka sama pria dewasa? Apa Kamu tidak menyukaiku? Apa kamu mau berselingkuh dengan pria yang lebih muda?”



“itu,itu karena ada bu Selena kemarin, saya juga tidak berpikir untuk selingkuh. Jadi bisakah bapak mundur sedikit!”



“ apa kamu menyukaiku?”



“hah?”



“kamu tidak menyukaiku? Kamu tidak mencintai calon suamimu sendiri?”



“saya akan mencoba nya pak, kita juga masih beberapa hari bertemu”



“benarkah? (Ivy mengangguk) baiklah, kalau begitu cium aku”



“hah? Tapi pak ini masih di sekolah”



“jadi jika tidak di sekolah apa kamu mau melakukan apapun keinginanku?” tanya Juan dengan nada sedikit menggoda.



Cup



Dengan cepat Ivy mencium bibir Juan yang sangat dekat dengan wajahnya itu, hanya berselang beberapa detik Ivy hendak memundurkan wajahnya kembali. Namun Juan justru menekan tengkuk Ivy agar tetap berada di posisi itu lebih lama. Ivy yang awalnya menutup matanya kini membuka matanya lebar-lebar.



“pak sudah itu berlebihan (mendorong tubuh Juan)” ucap Ivy sambil mengambil sedikit terengah-engah, wajahnya juga memerah karena malu. Juan yang melihatnya hanya bisa menatap Ivy dengan gemas. “padahal aku tidak meminta ciuman di bibir” Ucap Juan sambil sedikit mengejek Ivy yang tengah malu.



“Baiklah, aku tidak akan menciummu lagi”



“oke, kalau begitu aku yang akan menciummu ”



“cium-cium, cium aja tuh tembok, saya permisi”



“sayang kok pergi sih! Oke nanti aku ganti yang cium kamu, oh iya aku Cuma mau bilang pulang nanti kamu harus pulang denganku tidak ada penolakan”



Ivy melirik Juan sekilas dengan tatapan kesal, lalu segera pergi dari ruang kerja Juan. Bisa dilihat jika Ivy benar-benar sedang kesal sekarang. Berbeda dengan Juan yang terlihat berbunga-bunga di dalam ruang kerja nya.

__ADS_1


__ADS_2