Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

" Sayang!" Aldy mengusap punggung tangan Khanza dan sesekali mengecupnya dengan lembut


" Kamu senang banget sih bikin orang panik, sudah berapa kali kamu pingsan hem?" ucap Aldy sambil menatap lekat wajah Khanza yang masih setia menutup matanya


"Cepatlah bangun, jangan seperti ini terus!" Aldy menghela nafasnya berat karena Khanza belum juga mau membuka matanya


" Mas!" suara Khanza terdengar sangat lemah


"Sayang kamu sudah sadar?" Aldy begitu lega melihat Khanza akhirnya membuka matanya setelah beberapa jam pingsan


" Mas!" tiba-tiba mata Khanza berkaca-kaca, tubuhnya kembali bergetar


" Ada apa sayang? apa kamu merasa ada yang sakit hem?" bilang sama mas mana yang sakit?" Aldy menelisik wajah Khanza yang masih pucat


" Apa aku sedang bermimpi mas?" tanya Khanza yang seketika membuat Aldy mengerutkan keningnya


" Bermimpi?" tanya Aldy


" Iya mas, Nana dia_" kata-kata khanza tercekat rasanya sulit untuk meneruskan kalimatnya


" Sayang!" Aldy mengusap pipi Khanza yang sudah basah dengan air mata


" Kenapa menangis hem?" tanya Aldy dengan suara selembut mungkin


" Nana mas?" Khanza malah terisak


" Emangnya gue kenapa?" suara serak dan pelan terdengar samar-samar dari arah samping tempat tidur Khanza


Seketika Khanza menghentikan isak tangisnya, matanya menyusuri ruangan yang didominasi warna putih tersebut.


Mata Khanza membola saat tirai yang menjadi pembatas diruangan tersebut bergeser dan nampaklah seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya dengan seulas senyum diwajahnya.


" Na... Nana!" beo Khanza membekap mulutnya sendiri dengan berjuta rasa tidak percayanya pada sosok gadis yang tengah tersenyum padanya


" Kenapa loe liatin guenya gitu banget? gue masih mau melihat keponakan gue lahir Za" ucap Nana dengan suara pelan


"Nana" Khanza begitu terkejut dengan apa yang ada di hadapannya, air matanya pun tidak kuasa untuk dibendungnya


...Flashback on...


" Sayang!" teriak Aldy saat Khanza jatuh pingsan tepat diatas tubuh Nana.


Haris yang masih berdiri di ambang pintu langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat Aldy yang sedang menggendong Khanza


" Khanza kenapa?" tanya Haris


" Dia pingsan lagi" jawab Aldy lalu membawa Khanza keluar dari ruangan tersebut


" Za!" Langkah Aldy terhenti di ambang pintu saat mendengar sayup-sayup ada suara yang memanggil nama Khanza


Aldy membalikkan badannya begitu juga Haris yang langsung menoleh ke arah Nana, seketika keduanya dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Dengan wajah yang masih terlihat sangat pucat gadis itu menatap lekat kearah keduanya


" Nana!" ucap Aldy dan Haris bersamaan kedua mata mereka membola merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Haris yang tersadar dari keterkejutannya dengan cepat langsung berteriak memanggil para dokter.


Tidak berapa lama beberapa dokter dan suster masuk ke dalam ruangan tersebut, Hana dan yang lainnya nampak terkejut sekaligus bingung dengan apa yang telah terjadi di dalam ruangan ICU tersebut.


Aldy sambil menggendong Khanza keluar dari ruangan dimana Nana sedang dalam pemeriksaan dokter sementara Haris tetap memilih untuk tidak keluar


Hana, Miska dan yang lainnya terkejut dan panik saat melihat Khanza berada di gendongan Aldy dalam keadaan tidak sadarkan diri.


" Khanza!" Hana dan Miska langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Aldy dan Khanza


" Khanza kenapa pak?" tanya Miska


" Dia terlalu syok, aku harus membawanya ke ruangan dokter Dinda" jawab Aldy lalu pergi begitu saja meninggalkan Hana dan Miska


Sementara di dalam ruang ICU beberapa dokter tengah memeriksa keadaan Nana, sungguh keajaiban mereka tidak menyangka kalau Nana ternyata masih hidup bahkan perkembangan kondisi kesehatannya sangat meningkat drastis.


Setelah beberapa waktu Nana dalam pantauan dokter Malik akhirnya Nana dinyatakan sudah melewati masa kritisnya dan bahkan kondisi kesehatannya meningkat pesat, Nana pun bisa langsung dipindahkan ke ruang perawatan.


Haris, Hana dan juga yang lainnya sungguh merasa bahagia mendengar Nana yang dinyatakan masih hidup.

__ADS_1


Sementara di sisi lain Karena Khanza yang masih belum sadarkan diri dari pingsannya akhirnya Aldy memutuskan untuk menempatkan Khanza berada dalam satu ruangan dengan ruang perawatan Nana dan untung saja dokter Malik mengizinkannya.


Aldy sudah tahu bagaimana keadaan Nana dari Miska yang datang bersama Roni untuk melihat keadaan Khanza


Sungguh diluar dugaan isterinya yang tadi memarahi dan memaki-maki Nana ada hasilnya, dia merasa takjub dengan persahabatan sang isteri yang begitu kuat


...Flashback off...


" Nana elo_?" Khanza masih merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ini sungguh luar biasa dia tidak menganggap Nana sahabatnya masih hidup dan kini berada di hadapannya


" Gue enggak mau loe membenci gue Za, loe jahat banget sampai ngancam-ngancam gue segala" keluh Nana dengan suara yang masih sangat pelan


" Ya kalau loe enggak mau bangun juga dari tidur panjang loe itu, beneran gue enggak akan ngizinin loe bertemu dengan anak gue setelah lahir nanti" sahut Khanza


" Loe tega banget Za marahin gue segitunya" Nana mengerucutkan bibirnya


Nana dan Khanza dirawat di dalam satu ruangan yang sama, mereka hanya tersekat dengan tirai yang menjadi pembatas untuk kedua tempat tidur mereka.


lebih tepatnya untuk area privasi masing-masing pasien


" Elo aja yang keterlaluan mau pergi ninggalin gue gitu aja" kesal Khanza


" Sudah sayang, hei kalian ini" Aldy geleng-geleng kepala melihat keduanya


Tok


Tok


Tok


...Ceklek...


Haris masuk setelah mengetuk pintu ruangan itu terlebih dahulu, wajahnya sudah tidak semendung beberapa hari terakhir ini, senyum pun tak lepas dari bibirnya sungguh ia sangat bahagia pujaan hatinya kini telah kembali ke sisinya.


" Selamat pagi, Alhamdulillah Khanza akhirnya sudah sadar" ucap Haris


" Eh bang Haris, tuh wajah udah berseri banget pagi-pagi begini?" goda Khanza


" Harus dong, masa mendung terus sih kan pelanginya sudah muncul lagi" Haris menoleh ke Mana sambil menaik turunkan alisnya


" Dih bang Haris genit" Nana mengerutkan keningnya


" Tau tuh Han, Abang loe pagi-pagi udah ceria bener" sahut Khanza


" Eh Za, Alhamdulillah loe udah sadar" Hana dan Billy menghampiri Khanza


" Emangnya gue pingsan lama banget apa?" tanya Khanza


" Enggak sebentar kok cuma tidurnya yang kayak kebo" sahut Billy


" Wah parah loe Bill, gue dibilang kayak kebo. mas Billy tuh!" ucap Khanza dengan suara yang dibuat sedikit manja


" Ha... ha... bumil bisanya ngaduan" tawa Hana


" Oiya, Na bagaimana keadaan loe sekarang? apa masih ada yang sakit?" tanya Hana yang saat ini sudah beralih ke Nana


" Sudah jauh lebih baik, hanya kepala yang masih terasa berat sama tangan sedikit nyeri" jawab Nana apa adanya


" Semoga cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala ya Na!"


" Amin" jawab semuanya bersamaan


Nana beralih pada Haris yang sedang mengupas buah apel untuk Nana


" Bang Haris!" panggil Nana


Haris pun yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh ke arah Nana


" Iya kenapa?" tanya Haris


" Emmm... apa orang tua ku tidak tahu dengan apa yang aku alami saat ini bang ?" tanya Nana tiba-tiba membuat Haris menjatuhkan pisau ditangannya


Prank


Khanza, Aldy Hana dan Billy langsung menoleh ke arah sumber suara

__ADS_1


Deg


Haris tercekat, mulutnya seakan terkunci rapat sulit untuk dibuka


" Bang !" panggil Nana lagi karena Haris belum menjawab pertanyaannya


Haris dengan Hana saling melempar pandangan, dia tidak tahu harus menjawab apa, hal yang ditakutkan beberapa jam yang lalu akhirnya terjadi. Nana menanyakan tentang kedua orang tuanya, jika ia memberitahukan keadaan yang sebenarnya mampukah Nana menerima kenyataan itu.


Haris benar-benar dilanda dilema pikirannya kalut entah dia harus menjawab apa.


Ceklek


Pintu terbuka dari luar muncul sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meskipun usianya kini sudah tidak muda lagi.


Wanita itu datang bersama suami, anak dan juga menantunya


" Assalamualaikum" ucapnya saat masuk ke dalam ruangan tersebut


" Wa'alaikum salam" jawab semua yang berada di ruangan tersebut serempak


" Sayang!" wanita itu berjalan menghampiri Khanza


" Mama, papa!" ucap Khanza yang langsung dibantu oleh Aldy untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur


" Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya mama Maria seraya memeluk Khanza


" Alhamdulillah baik ma' jawab Khanza


" Kamu ini senang betul disuntik sih papa aja enggak mau" seloroh papa Sam sambil bergidik


" Emm... papa mah ketauan takut jarum suntik" timpal Mama Maria


" Ha... ha... nah itu mama tau, enggak kayak Khanza mentang-mentang berani apalagi kalau disuntik Aldy wah malah seneng banget dia, liat aja tuh disuntikkin mulu sampai melendung gitu perutnya" ucap papa Sam kembali berseloroh


" Ha..ha.." ucapan papa Sam mengundang tawa Billy dan Azka yang mendengarnya sementara Zaira hanya geleng-geleng dengan senyum yang menghias wajah cantiknya


Khanza sendiri mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan papa Sam sementara mama Maria mencubit pinggang papa Sam yang sudah berani bicara menjurus hal mesum


Hana dan Haris hanya tertawa kecil sedangkan Nana diam dengan wajah sendunya, melihat ekspresi Nana semuanya menjadi hening seketika, Haris menatap sendu wajah Nana yang memalingkan wajahnya


" Sayang!" panggil Haris pelan


Nana menoleh ke arah Haris dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dia tidak ingat sama sekali bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumah sakit bahkan ia lupa dengan kecelakaan yang sudah menimpa dirinya dan juga keluarganya


" Bang, aku tidak ingin mereka khawatir jika memang mereka belum tau tidak apa-apa bang, jangan beritahu mereka. aku takut mereka jadi khawatir!" ucap Nana yang langsung membuat semua orang terdiam


" Apa kamu benar-benar tidak ingat apa-apa, Na?" tanya Haris dengan sangat hati-hati


Nana menggeleng " Tidak bang" jawabnya


" Kamu tidak usah pikirkan hal itu dulu sayang, fokus saja dengan kesembuhan kamu dulu, soal orang tua kamu nanti biar mama yang urus ya sayang" ucap mama Maria yang sudah berdiri di samping Nana


" Tante" ucap Nana


" Panggil mama saja!" sahut mama Maria


" Iya mah" Nana pun tersenyum


" Mulai sekarang jangan pikirkan apapun dulu, fokus saja dengan kesembuhan kamu ya" ucap mama Maria mengusap lembut kepala Nana


Zaira terdiam wajahnya berubah sendu tiba-tiba bayangan masa lalunya muncul kembali dalam ingatannya, Azka yang melihatnya langsung menggenggam erat tangan Zaira, ia tahu apa yang sedang isterinya itu pikirkan.


Aldy yang tak sengaja melihat wajah sendu Zaira seketika hatinya berdenyut nyeri ia jadi teringat dengan apa yang sudah dilakukan mamanya pada bundanya Zaira.


Aldy menundukkan pandangannya rasa bersalah kembali menghantui pikirannya


" Kamu kenapa hem?" tanya Azka lembut


Zaira menggeleng " Tidak apa-apa" jawabnya


Zaira kembali teringat tentang dirinya yang dulu begitu sulit menerima kenyataan tentang kematian bundanya yang pergi meninggalkannya secara tiba-tiba dan kini ia menatap iba pada Nana yang bahkan belum mengetahui kalau kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.


" Mas" Zaira mendongak menatap mata suaminya yang juga tengah menatapnya


Azka yang seolah tahu isi hati isterinya pun mengusap punggung Zaira " Semoga Nana bisa kuat dalam menghadapi kenyataan yang pastinya akan menyakiti hatinya, semoga saja teman-temannya bisa memberinya kekuatan dan juga semangat pada Nana" ucap Azka

__ADS_1


" Amin , semoga saja mas" sahut Zaira


Nana berusaha untuk tetap tersenyum walaupun sebenarnya didalam hatinya ada rasa kekhawatiran yang begitu besar.


__ADS_2