
Semua yang ada di ruangan itu menutup mulutnya dengan tangan terperangah melihat Azka yang langsung membopong tubuh mungil Zaira kedalam gendongannya.
" Aaaaaaaaaaaaaa..!" jerit Zaira yang kaget karena tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara.
Azka tanpa bicara langsung membawa Zaira pergi, para sahabat Zaira hanya bisa melongo melihat tingkah guru mereka yang terbilang absurd.
" Gue gak lagi mimpikan?" tanya Mia seketika membuat yang lain menoleh ke arahnya.
" I..itu tadi beneran pak Bagaz sama Za?" Mona ikut bertanya dengan rasa tidak percayanya.
" Hukuman apa ya yang akan diberikan pak Bagaz untuk Za?" tanya Mia lagi
" Gak mungkin kan disuruh lari di lapangan 20 putaran?" celetuk Indah.
" Atau di suruh ngebersihin toilet?" timpal Mona yang semakin ngaco menurut Lia.
" Ngaco!" ucap Lia menoyor kepala Mona yang posisinya lebih dekat dengannya dibanding Mia dan Indah.
" Loe kira pada hukuman di sekolah" seru Mita
" Iya juga ya!" ucap Mia yang merasa bodoh kali ini.
" Terus apa dong? duh semoga aja pak Bagaz gak melakukan KDRT" cemas Mia.
" Ya gak mungkinlah kakak gue ngelakuin KDRT " sanggah Lia yang keceplosan mengatakan kakaknya.
" Kakak loe dari Hongkong" protes Mona.
" Oia, gue baru ingat" ucap Mia sedikit berteriak saat ingat nama yang tadi sempat disebut Lia dan Zaira saat hendak masuk kedalam mobil di parkiran sekolah. " Kakak loe namanya siapa Li?" tanya Mia.
" Namanya emmmm... Azka kalau gue gak salah ingat sih" jawab Mona mewakili Lia.
" kenapa emang loe nanyain kakaknya Lia, naksir loe?" tanyanya " Sayang sudah punya isteri!" lanjutnya lagi.
" Azka?" Mia coba mengingat-ingat
" Yaps tadi gue dengar Zaira pamit dulu gitu sebelum kesini sama yang namanya Azka, Jangan-jangan pak Bagaz itu_?" Mia menggantung ucapannya.
" Iya, dia kakak gue" jawab Lia datar.
" Apa?" Mia, Lia dan Mona terkejut kecuali Mita.
" Mita kok loe gak kaget sih?" tanya Indah yang merasa aneh karena Mita bersikap biasa saja.
" Gue sudah tahu!" jawab Mita santai.
" Apa?" lagi-lagi Mona, Mia dan Indah dibuat terkejut.
" Wah parah kalian, gak asik tau gak" ucap Mona kesal.
" Salah loe yang suka ember!" sargas Lia
" Iya betul, loe tuh harus belajar Mon buat ngerem kalau ngomong. jelaslah Zaira takut kalau loe sampai tahu, bisa-bisa satu sekolah tahu dan Zaira bisa gak sekolah" sahut Mia menimpali ucapan Lia.
" Iya sorry" ucap Mona " Next gue bakalan belajar buat nahan diri deh" ucap Mona lagi.
" Bagus deh kalau gitu" timpal Lia
" Tapi sejak kapan Mit loe tau soal Zaira dan pak Bagaz?" tanya Mia yang sudah penasaran dari tadi.
__ADS_1
" Sejak kita belajar kelompok di rumah Lia!" sahut Mita.
" Jadi loe sudah tau juga dong kalau pak Bagaz itu kakaknya Lia?" tanya Mia lagi dan Mita mengangguk pelan.
" kok loe bisa tahu sih Mit ?" kali ini Indah yang bertanya.
" Iya waktu itu gue gak sengaja melihat Zaira keluar dari kamar kakaknya Lia, gue gak tau kalau ternyata kakaknya Lia itu pak Bagaz. gue aja sempat kaget dan sempat salah paham juga" terang Mita menceritakan saat pertama kali melihat Zaira bersama Azka.
" Sekarang kalian kan sudah tahu semuanya tentang Za dan kakak gue, jadi gue harap ini adalah rahasia kita bersama dan loe Mon harus bisa jaga omongan loe ya dari sekarang jangan asal ceplos aja !"Lia mengingatkan dan semuanya mengangguk.
" Emmmm... kira-kira sekarang Za lagi ngapain ya, hukuman apa ya yang pak Bagaz kasih ke Za!" Mia terdiam sambil membayangkan keadaan Zaira.
" Jangan terlalu banyak ngebayangin nanti bablas lagi ngebayanginnya!" goda Mita kepada Mia.
" Si*lan loe!" kesal Mia.
*
*
*
Zaira saat ini sedang berada di dalam mobil, Azka duduk diam fokus mengemudi. Zaira sesekali menoleh ke arah Azka namun hanya wajah dengan aura dingin yang ia lihat.
Zaira tidak berani bicara pandangannya kembali menatap ke arah jendela mobil. kesal itulah yang Zaira rasakan hari ini lagi-lagi suami tampannya mengekspresikan rasa cemburunya dengan mendiaminya.
Zaira menghela napasnya Azka melirik sekilas lalu kembali fokus memandang kedepan. Azka menarik sudut bibirnya sedikit saat melihat Zaira yang memberengut dan mengerucutkan bibirnya. lucu dan menggemaskan batin Azka rasanya ingin menikmatinya namun ide jahilnya ingin bertahan sedikit lagi.
Mobil Azka kini sudah berada di pekarangan rumahnya, Azka turun lebih dulu meninggalkan Zaira untuk yang kedua kalinya.
" Ishh... dasar nyebelin, guru SMA kok tingkahnya kaya anak TK apa-apa ngambek dan diemin orang" gerutu Zaira kesal seraya turun dari dalam mobil menyusul Azka yang sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu.
Kini Zaira sudah ada di dalam kamar dan melihat Azka yang sedang duduk di sofa memangku laptopnya. Zaira mendengus kesal dan menghentakkan kakinya lagi-lagi Azka mendiaminya.
Zaira hendak melangkah menuju kamar mandi karena seharian berada di luar rumah membuat badannya terasa lengket, namun baru berjalan dua langkah suara bariton dari arah belakang menghentikan langkahnya.
" Diam ditempat, karena aku belum memberimu hukuman!" perintah Azka dengan tegas membuat Zaira sedikit merinding.
" Kenapa suaranya menakutkan sekali sih" batin Zaira
Azka meletakkan laptopnya dan bangun dari duduknya. perlahan ia melangkah menghampiri Zaira yang masih berdiri mematung.
" Aku sudah bilang bukan, tidak suka melihat isteri kecilku berdekatan dengan laki-laki lain!" tegas Azka . Zaira terdiam dan menunduk.
" Kau bertemu dengannya bukan?" Zaira mengangguk pelan tidak berani berbohong.
" Tapi aku tid_" Azka langsung memotong ucapan Zaira.
" Tidak usah membela diri!" Azka menatap tajam Zaira dan melangkah perlahan mengitari Zaira.
Azka berhenti tepat di hadapan Zaira dan mencengkram rahang Zaira, meskipun tidak begitu kencang tapi Zaira merasa apa yang dilakukan Azka sangat menakutkan. mata Zaira sudah berkaca-kaca tapi karena takut Azka semakin murka kepadanya sebisa mungkin Zaira menahan tangisnya.
" Aku mengizinkan kamu pergi ke rumah sakit hanya untuk menemui sahabatmu Mita bukan untuk menemui dokter si*lan itu!" suara Azka menggelegar memenuhi ruangan kamarnya. awalnya Azka memang hanya ingin menjahili Zaira saja tapi entah kenapa saat tahu Zaira sempat bertemu dengan dokter Ariel api amarah Azka sulit dikendalikan.
Zaira tersentak tidak menyangka Azka akan benar-benar semarah ini, tangis yang sedari tadi ditahannya pun kini akhirnya pecah. Zaira memberingsut jatuh kelantai dan menangis sesenggukan. Azka terkejut dengan reaksi Zaira yang begitu menyedihkan.
Dengan rasa bersalahnya Azka ikut duduk di lantai mensejajarkan dirinya dengan Zaira.
melihat Zaira yang semakin sesenggukan Azka langsung menarik tubuh Zaira ke dalam dekapannya.
__ADS_1
" Maaf... maafin mas sayang. mas sudah lepas kendali dan sudah membuat kamu menangis" ucap Azka lirih.
" Maukan maafin mas?" Azka mencium berkali-kali pucuk kepala Zaira.
Zaira masih diam rasanya masih kesal dengan sikap suaminya yang selalu bersikap seenaknya. Padahal kalau mau dia bisa saja menerima ajakan dokter Ariel yang ingin berbicara berdua dengannya tapi karena sadar statusnya kini adalah wanita yang sudah bersuami dengan halus Zaira pun menolaknya karena tidak ingin terjadi kesalahpahaman kebelakangnya.
" Sayang ayok berdiri!" Azka merangkul bahu Zaira mengajaknya duduk di di tepi kasur.
Zaira masih menangis walaupun sudah tidak sesenggukan seperti tadi tapi hatinya masih kesal karena merasa dibentak-bentak.
" Iya mas mengaku salah karena sudah bersikap keterlaluan sama kamu. mas janji tidak akan mengulanginya lagi, mau ya maafin mas!" Azka mengecup punggung tangan Zaira berkali-kali dengan pandangan mata menatap wajah cantik sang isteri meskipun sedikit sembab akibat menangis.
" Sayang!" ucap Azka lembut mengusap lembut rambut Zaira.
" Mandi yuk, lengket ni seharian diluar!" ajak Azka lalu berdiri. Zaira menggeleng dan menarik tangannya yang ditarik oleh Azka namun nihil tangannya justru ditarik lebih kuat oleh Azka sampai membuat Zaira berdiri di hadapan Azka dan sedetik kemudian tanpa bertanya lagi Azka langsung mengangkat tubuh Zaira ke dalam gendongannya.
" Maaasss!" kesal Zaira yang memukul-mukul dada Azka berkali-kali tapi sama sekali tidak digubris. dengan hati-hati Azka membawa Zaira masuk ke dalam kamar mandi, Zaira hanya bisa mengumpat dalam hati.
Azka mendudukkan Zaira di wastafe sementara dia mengisi air hangat di bathtub untuk Zaira mandi.
Setelah air terisi penuh Azka menurunkan Zaira dengan hati-hati. meskipun merasa senang diperlakukan lembut seperti itu Zaira tetap memilih diam dan mengabaikan Azka yang terus saja berbicara.
" Sayang!" panggil Azka karena melihat Zaira yang masih memberengut.
" mas kan sudah minta maaf, masa gak dimaafin sih!" Azka menunduk dan berpura-pura sedih.
" Ya sudah kalau memang kamu tidak mau memaafkan kesalahan mas, kamu mandi saja mas akan keluar sekarang" ucapannya lagi.
" Sudah sana pergi, cepat sana aku mau berendam. gara-gara kamu mas sudah membuat aku malu di rumah sakit dan di rumah bikin aku nangis gini" gumam Zaira dalam hati.
" Mas keluar sekarang" Azka melangkah perlahan berharap Zaira menahannya.
" Mas keluar ya?" Azka masih berharap Zaira menghentikannya namun tetap saja Zaira tidak bersuara. Azka sampai di depan pintu saat tangannya meraih memegang gagang pintu ia pun berbalik melihat ke arah Zaira yang masih diam di dalam bathtub tanpa menghiraukan ucapannya.
Azka menghela nafasnya berat, mungkin apa yang dilakukannya hari sungguh keterlaluan.
ia pun perlahan membuka pintu namun saat kakinya hendak melangkah keluar suara Zaira membuatnya terhenti.
"Ak..Aku.. Aku tidak mau mas jika kehadiran kak Ariel selalu saja membuat kita seperti ini. Bertengkar tanpa alasan yang jelas. Aku tahu mas belum bisa menerima sepenuhnya tentang kisah masa laluku tapi mau sampai kapan akan seperti ini mas" ucap Zaira lirih namun tanpa menoleh.
Azka berbalik badan dan indera pendengarannya menangkap suara isak tangis Zaira yang semakin menyayat hati.
" Mau tidak mau suatu saat aku harus bertemu dengan kak Ariel, bagaimana pun dia harus tahu tentang ayah. aku juga tidak mau kesalahpahaman terus saja muncul di antara kita" lanjutnya lagi. Azka berjalan perlahan menghampiri Zaira.
" Hari ini dia memang mengajakku untuk bicara empat mata dengannya. tapi aku sadar statusku mas aku tidak mungkin bertemu dengannya tanpa seizin dari mu. tapi aku mohon mas beri kami waktu untuk bicara jika mas tidak mempercayai aku mas bisa menemaniku bertemu dengannya. Aku ingin melepaskannya dengan baik-baik mas agar kedepannya tidak ada lagi kesalahpahaman yang mungkin bisa saja menjadi bumerang bagi hubungan kita mas" Zaira berdiri dan menatap lekat wajah Azka yang kini sudah berdiri di hadapannya.
" Dulu aku memang memiliki rasa sayang terhadapnya perasaan lebih dari seorang adik terhadap kakaknya tapi sekarang perasaan itu sudah kembali ke yang semestinya, rasa sayang antara adik terhadap kakaknya karena rasa cinta yang aku miliki sudah sepenuhnya terikat oleh seseorang. dan aku tidak akan mungkin berpaling darinya karena aku sangat mencintainya mencintai seseorang yang kini berstatus suami" tutur Zaira dengan linangan air mata Azka tidak dapat berkata apa-apa lagi selain merengkuh Zaira membawanya ke dalam pelukannya. Azka mengecup seluruh wajah Zaira sekejap hatinya mencelos berbunga-bunga. rasanya begitu lega isteri kecilnya menyatakan cinta dan betapa bodohnya dia yang tidak mempercayai isterinya sendiri padahal di dalam hidup berumah tangga kejujuran dan kepercayaan itu adalah kunci utamanya. tanpa semua itu kehidupan rumah tangga pasti akan terasa pahit dan panas pada akhirnya terbakar oleh api kebohongan.
Azka dan Zaira kini tengah duduk di dalam bathtub. tangan Azka melingkar di pinggang Zaira sesekali Azka mengecup bahu Zaira hingga membuat Zaira merasakan sensasi yang berdesir keseluruh tubuhnya.
" Sayang maafkan mas, tidak seharusnya mas bersikap kekanak-kanakan bahkan sampai mas menyakiti hati isteri yang sangat mas cintai." ucap Azka penuh penyesalan. Zaira hanya diam dan matanya kembali berair.
" Mas tahu tidak seharusnya mas menyakiti kamu hanya karena sebuah masa lalu. mas akan belajar untuk menerima kehadirannya yang merupakan kakak angkat mu. Selama dia tidak menyakitimu dan tidak mengusikmu mas janji tidak akan mempermasalahkan statusnya sebagai kakak angkatmu tapi jika dia berani merebut kamu dari sisi mas maaf sayang mas tidak akan tinggal diam karena kami hanya milik mas sampai kapanpun." lanjutnya.
" Jika kamu memang ingin bertemu dengan dia dan berbicara dari hati ke hati sebagai adik yang merindukan kakaknya mas akan izinkan kamu menemuinya tapi dengan syarat mas yang akan menemani kamu menemuinya. mas tidak ingin kamu hanya berada berdua dengannya karena mas takut kalau kamu akan goyah lalu pergi bersamanya dan meninggalkan mas" tuturnya lagi. raut wajah Azka nampak begitu sendu dia merasa begitu takut kehilangan Zaira takut perasaan yang dulu pernah ada muncul lagi dan menggeser posisinya yang belum lama mengenal Zaira namun sudah berstatus suaminya.
" Mas!" panggil Zaira lirih. hatinya begitu sedih melihat betapa takutnya seorang Azka kehilangan dirinya. benarkah secinta itu Azka terhadapnya rasanya Zaira masih sedikit meragukan perasaan yang Azka miliki terhadapnya. Zaira takut bila semua yang Azka lakukan hanyalah sebatas tanggung jawab saja namun ada rasa senang tatkala dirinya ditarik oleh Azka, ada rasa nyaman dan hangat yang Zaira rasakan saat berada di dalam dekapan sang suami tercinta.
Azka menatap wajah Zaira yang sudah menghentikan tangisnya lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
" Kamu cantik bila tersenyum" bisik Azka ditelinga Zaira, membuat Zaira terkesiap dan nampak merah merona menghiasi wajah putih nan halusnya.
" Gombal!" Zaira menepuk bahu Azka dan keduanya akhirnya tertawa bersama dan ritual mandi pun akhirnya berlanjut namun kali ini mandinya bukan lagi mandi biasa.