
Pagi ini Khanza merasa kram diperutnya hingga membuat Aldy panik bukan main.
" Kita ke rumah sakit aja ya sayang" bujuk Aldy yang merasa khawatir dengan keadaan isteri kecilnya itu
" Tidak usahlah mas, nanti juga akan hilang sendiri setelah istirahat sebentar" tolak Khanza dengan sikap tenang
" Tapi mas khawatir sayang, jika sudah di periksa dokter setidaknya mas bisa tenang" protes Aldy
" Nanti saja mas, pagi ini kan jadwal mas padat lagi pula ada test kan nanti?" Aldy berpikir sejenak
" Iya mas tahu jadwal mas pagi ini memang sedikit sibuk tapi kesehatan kamu dan calon bayi kita itu jauh lebih penting sayang!" seru Aldy
" Tapi mas perut aku juga sudah baikkan kok, sudah tidak kram lagi tugas mas juga pasti sudah menunggu"
" Enggak ada tapi-tapian sayang, soal tugas pagi ini nanti mas bisa minta tolong sama pak Wahyu"
" Sekarang kamu bersiap-siap aja sana!"
" Mas!"
" Khanza Az-Zahra!"
Khanza langsung terdiam ketika Aldy sudah menyebutkan namanya dengan lengkap maka tandasnya suaminya itu tidak menerima bantahan.
Khanza akhirnya menurut setelah siap ia pun langsung menghampiri Aldy yang tengah melakukan panggilan telepon dengan pak Wahyu.
Beruntungnya pagi ini jadwal pak Wahyu tidak terlalu sibuk, selain menjabat sebagai kepala sekolah pengganti pak Wahyu juga masih mengajar di kelas 10. tapi untuk hari ini pak Wahyu hanya mengajar satu kelas saja.
" Bagaimana mas?" tanya Khanza setelah Aldy Aldy selesai melakukan panggilan
" Aman sayang"
" Sudah siap?" Khanza mengangguk
" Terus bagaimana dengan jadwal ulangan aku hari ini mas?" tanya Khanza
" Tenang saja sayang, kamu kan bisa melakukan test susulan"
" Enggak enak banget" ucap Khanza cemberut
" Demi kesehatan kamu dan juga calon anak kita sayang" Aldy mengusap lembut perut Khanza
" Iya mas, maaf!"
" Tidak apa-apa sayang, mas ngerti kok. Ayok berangkat!" Khanza mengangguk
Sekitar 30 menit mereka pun sampai di rumah sakit Darma Medika
" Cukup antri ya mas?" Khanza melihat antrian yang cukup banyak
" Kenapa, kamu capek atau merasa kram lagi?" tanya Aldy cemas
" Tidak kok mas" Aldy menuntun Khanza duduk di salah satu kursi kosong dan saat menoleh Khanza terkejut saat melihat seorang yang tengah duduk tidak jauh dari tempat dia duduk hanya terhalang dua pasangan suami isteri yang sedang mengantri juga
" Mas!" panggil Khanza pada Aldy yang tengah duduk di sampingnya
" Ada apa sayang?" tanya Aldy
" Lihat itu mas?" Khanza menunjuk ke arah sepasang suami isteri yang tidak jauh dari tempatnya duduk dengan ekor matanya
Aldy menoleh dan melihat ke arah yang ditunjuk Khanza
" Mereka ke sini juga, untuk apa mas?" tanya Khanza, Aldy tidak menjawab hanya mengulas senyum
" Atau jangan-jangan Miska_?" tebak Khanza menutup mulutnya dengan tangannya sendiri saking terkejutnya melihat sahabatnya yang juga mengantri di dokter kandungan.
" Miska hamil mas?" Aldy mengangguk
" Mas sudah tau ?" tanya Khanza dengan suara pelan dan Aldy pun mengangguk
" Kok bisa?" tanya Khanza mengerutkan keningnya
" Roni yang cerita" jawab Aldy
" Roni?" Aldy mengangguk
" Wah ini anak enggak asik ya, masa enggak mau kasih tau kalau ternyata dia juga sedang hamil" gumam Khanza menatap kesal ke arah Miska
" Jangan mengambil kesimpulan sendiri, kamu tahu pastinya bagaimana kronologi mengapa dia bisa hamil bukan, jadi kemungkinan besar dia masih belum siap untuk cerita sama kamu ya mungkin menunggu momen yang tepat" ucap Aldy mengingatkan sang isteri
" Perjalanan mereka tidak seperti kita sayang jadi jangan berpikiran negatif dulu, takutnya sikap kamu yang salah persepsi malah membuat sahabat kamu itu merasa bersalah atau malu dengan kehamilannya itu dan bisa berakibat fatal nantinya"
Khanza diam dan mencerna setiap kata-kata yang Aldy ucapkan.
" Iya mas, Za mengerti!"
" Syukurlah sayang, kita ambil positifnya aja dan mencoba untuk memposisikan diri kita sebagai dia sebelum kita mengatakan sesuatu tentangnya"
" Iya mas" Khanza tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami
__ADS_1
Setelah suster memanggil nama pasien yang duduk di samping Khanza disaat itulah Roni yang menoleh ke arah pasien tersebut melihat Khanza dan Aldy.
" Mami!" panggil Roni
" Hemm?" jawab Miska yang tengah asik memainkan ponselnya
" Mami!" panggil Roni lagi
" Apaan sih? nama aku tuh masih lama" ketus Miska
" Mih, itu liat!" bisik Roni
Miska yang kesal dengan Roni yang menurutnya bawel langsung mendongak
" Liat apaan?" ketus Miska menatap lurus tapi tidak ada apa-apa
" Bukan kesitu liatnya tapi kesamping kanan kamu" Ucap Roni menggeser wajah Miska pelan ke arah kanan
Miska tidak protes dan mengikuti gerak tangan Roni dan seketika Miska terkejut
" Khanza!" beo nya dan Khanza tersenyum seraya melambaikan tangannya
" Mereka juga kesini?" gumam Miska
" Mereka pasti curiga dan pasti sudah menebak kalau aku_" Roni meraih tangan Miska dan menggenggamnya
" Mereka pasti sudah tau sayang, dan apa salahnya juga kalau mereka tahu." jawab Roni menenangkan Miska
Khanza yang melihat perubahan sikap Miska teringat akan ucapan suaminya tadi, bisa jadi Miska memang belum siap akan kehamilannya itu.
" Mas!" ucap Khanza lirih dengan pandangan mata menatap ke arah Miska dan Roni
" Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, Miska mungkin terkejut dan masih belum siap orang lain tahu tentang kehamilannya. pelan-pelan saja sayang" ucap Aldy menenangkan sang isteri yang memang selalu sensitif apalagi jika berkaitan dengan sahabatnya itu.
" Mau menghampirinya?" tawar Aldy
" Iya mas, setidaknya biar Miska pun tenang dan tidak berpikir yang macam-macam" jawabnya
Aldy pun membantu isterinya berdiri dan dengan langkah perlahan mereka berdua menghampiri Miska dan Roni
" Ka!" Panggil Khanza saat sudah berdiri di hadapan sahabatnya itu
Miska mendongak dan seketika air mata gadis tersebut menetes begitu saja
Khanza yang melihat Miska menangis terkejut
" Loh kok nangis sih, hey Ka!" Khanza langsung duduk di kursi kosong yang ada di samping Miska
" Sayang !" panggil Roni yang juga tidak tahan jika melihat wanitanya menangis
Miska meraih kedua tangan Khanza " Za maafin gue ya!" pinta gadis tersebut disela isak tangisnya
" Minta maaf untuk apa Ka, elo enggak ada salah sama gue" sahut Khanza seraya menghapus air mata dipipi Miska
" Maaf karena gue enggak cerita sama loe soal_!" Miska menggantung kata-katanya
" Iya, tenang aja gue ngerti kok posisi loe. jadi loe enggak usah merasa bersalah kayak gitu." sahut Khanza
" Gue juga pernah berada di posisi yang sama seperti loe Ka, jadi setidaknya gue tahu apa yang loe rasain saat ini dan sebaiknya loe juga jangan terlalu banyak memikirkan tentang hal-hal yang bisa mempengaruhi kesehatan kandungan loe deh sekarang, dibawa happy aja dan kita syukuri apa yang sudah Allah berikan kepada kita" ucap bijak Khanza dan Miska pun tersenyum
" Terima kasih ya Za" Miska memeluk Khanza
" Sama-sama " Khanza membalas pelukan Miska dan mengusap punggungnya
" Udah ah jangan nangis lagi" ucap Khanza lalu mengurai pelukannya
Miska tersenyum sambil mengusap air matanya.
Apa yang mereka lakukan ternyata menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana
Miska menunduk malu sementara Khanza bersikap biasa saja toh mereka tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain pikirnya
Setelah selesai melakukan pemeriksaan kandungan masing-masing dan dinyatakan sehat begitu juga dengan Khanza yang disarankan oleh dokter untuk lebih banyak beristirahat dan tidak terlalu stress serta jangan banyak gerak yang membuat ibu hamil tersebut cepat kelelahan. mereka memutuskan untuk makan siang bersama terlebih dahulu sebelum pulang.
" Ron enggak nyangka gue kecebong loe tokcer juga ya sampai sekali tembak sahabat gue langsung loe bikin hamil" Seloroh Khanza membuat Miska tersipu malu
" Loe ngomong apa sih Za, bahasan loe terlalu vulgar" ucap Miska merasa risih apalagi membicarakan hal seperti itu di depan pria dewasa yang berstatus guru di sekolahnya
" Ha.... Ha..." Khanza tertawa melihat wajah Miska yang merah bak kepiting rebus
" Biasa aja kali Ka, kita ini sudah berstatus isteri jadi enggak usah malu gitu bahas yang kayak gitu" ujar Khanza
" Tapi kita itu masih berstatus pelajar Za "
" Iya, pelajar yang sudah Tek Dung" sahut Khanza seraya mengusap perutnya yang sudah nampak besar
" Perut loe udah gede aja Za" ucap Roni yang melihat perut Khanza sudah cukup ketara melendung
" Iyalah, dipompa terus sama tuh guru mesum" sahut Khanza membuat Aldy menggelengkan kepala
__ADS_1
" Mesum sama isteri sendiri mah wajar sayang" sahut Aldy
" Tuh dengar mih kata pak guru kita, mesum sama isteri sendiri mah wajar. jadi boleh dong mesum dikit mah" goda Roni membuat Miska kembali bersemu merah
" Ih ngomong apaan sih, udah deh jangan ketularan Khanza!" protes Miska
"Dih, kok gue yang dibawa-bawa" keluh Khanza
" Ya elo yang mulai Khanza Az-Zahra" kesal Miska
" Ha.... Ha.... " tawa Khanza
" Elo enggak usah terlalu kaku Ka, sekarang kita ini isteri apalagi sudah hamil jadi membahas hal seperti itu sudah wajar" Miska menghela napas panjang bicara pada Khanza memang tidak akan menang jadi lebih baik mengalah saja.
" Terserah loe aja deh Za, tapi awas loe jangan mencemari otak laki gue dengan omongan loe yang unfaedah " ucap Miska
" Cie... Cie.... udah di akuin laki nih sekarang!" goda Khanza
" Sayang" tegur Aldy
Khanza kembali tertawa, sedangkan Miska memutar bola matanya malas dan Roni tersenyum simpul.
" Gue senang kalau kalian udah akur begini, bisa menerima kekurangan dan kelebihan diri masing-masing" ucap Khanza setelah berhenti tertawa
" Ron semoga loe tetap istiqamah ya, jangan kembali ke jalan yang hanya akan membuat loe menyesal di kemudian harinya. loe sudah mendapatkan harta yang paling berharga di dunia ini, sebaiknya loe jaga dan loe lindungi dengan baik. jangan pernah loe sakiti dan lukai wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak loe kelak, walau bagaimanapun Miska tercipta untuk dicintai, disayangi dan dilindungi bukan disakiti!"
" Bahagia kan sahabat gue Ron, jadilah pria sejati yang cukup dengan satu isteri" pesan Khanza membuat Roni terdiam menyimak setiap ucapannya dan bukan Roni saja ternyata ucapan Khanza juga begitu mengena pada suaminya sendiri.
Aldy menatap dalam manik mata isterinya sendiri tidak menyangka isterinya akan berkata seperti itu.
" Za!" Miska merasa sangat terharu dengan ucapan sahabatnya itu
" Ka, mulai sekarang loe coba untuk menerima Roni apa adanya ya, menerima masa lalunya dan juga kelebihan dan kekurangannya. Jalani semua ini bersama-sama Ka dengan saling terbuka satu sama lain, jika ada satu masalah bicarakan dengan baik-baik jangan mengambil kesimpulan sendiri, apalagi loe tahu masa lalu Roni dulu seperti apa. jadi semoga loe sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya dan kalian berdua bisa melewatinya bersama." Pesan Khanza pada sahabatnya dan kali ini membuat Miska seketika menitikkan air mata
" Duh bumil yang satu ini rupanya hobby banget nangis ya!" seloroh Khanza
" Za" rengek Miska
" Ha... Ha..." Miska tertawa
" Ron loe yang sabar ya menghadapi istri loe ini!" ucap Khanza tergelak
" Udah ekstra sabar Za" sahut Roni
" Jadi kamu ngeluh ?" tanya Miska yang langsung membuat Roni sulit menelan salivanya takut isterinya merajuk dan mode ngambek lagi
" Enggak kok sayang, aku ikhlas. udah dong ah jangan marah gitu nanti dedek bayinya protes kalau maminya marah!" bujuk Roni
" Duh udah ada panggilan mami aja nih!" goda Khanza lagi
" Sayang udah ih jangan menggoda mereka terus, kapan makannya kalau kamu tuh godain mereka terus" tegur Aldy
" Duh pak suami protes, iya iya maaf, sekarang kamu pesan deh mas aku samain aja ya!"
" Yaudah, mas mau pesan nasi bakar sama ayam rica-rica" ucap Aldy
" Aku samain aja mas!" ucap Khanza
" Ka loe mau pesan apa?" tanya Khanza
" Emmm_" Miska melihat menu seraya memilih
" Nasi goreng seafood sama cumi bakar" ucap Roni dan Miska bersamaan membuat Khanza dan Aldy menoleh ke arah keduanya
" Ka?" panggil Khanza
" Nasi goreng seafood sama cumi bakar?" tanya Khanza memastikan Miska mengangguk
" Loe Ron sama?"
"Iya"
" Udah sehati rupanya!" Khanza tersenyum simpul
Tidak berapa lama menu yang mereka pesan pun tersaji di atas meja. dengan lahap mereka menikmati makanan mereka terutama para Khanza karena kehamilannya yang sudah masuk semester dua jadi tidak masalah dengan pola makannya berbeda dengan Miska yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya
" Ada apa? elo enggak suka dengan menunya, kok enggak di makan?" tanya Khanza yang melihat Miska hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya
" Suka cuma_!" Roni yang tahu kenapa isterinya itu belum juga memakan makanannya langsung menarik piring yang ada di hadapan Miska membuat Khanza mengerutkan keningnya dan sedetik kemudian Khanza mengangguk paham
" Aaaa...!" ucap Roni
" Apaan sih kamu?" Miska menatap malu
" Udah enggak usah malu, kasihan dedek kalau maminya enggak mau makan" ucap Roni tegas
" Udah Ka makan aja, kita juga biasa kok kayak gitu iya kan mas!' ucap Khanza yang diangguki Aldy
" Tuh dengarkan, ayo cepat Aaaa..!" titah Roni dan mau tidak mau Miska yang hanya bisa makan dengan disuapi Roni pun menerima suapan demi suapan dari tangan Roni.
__ADS_1
Ternyata calon bayi yang berada di dalam kandungan Miska begitu manja dengan papinya.
Roni pun merasa senang jika Miska bersikap manja kepadanya itu berarti peluang untuk dirinya bisa selalu berdekatan dengan sang isteri