
Zaira menundukkan kepalanya dan enggan menoleh ke belakang saat dua pria dewasa berjalan tepat di belakangnya.
" Za loe kenapa si?" tanya Mona yang entah kenapa kini sudah kembali ke semula tingkat loadingnya agak lambat
" Loe gak liat apa?" Mita menunjuk dengan ekor matanya
" Oh pantas saja diam" Mona tertawa kecil
" Udah Za santai aja" ucap Lia yang ikut menimpali ucapan mereka
" Gue sih udah bersikap biasa aja tapi tuh orang matanya minta dicolok kali ya!" kesal Zaira yang tanpa sengaja matanya bertemu dengan pandangan seseorang yang sedari tadi ingin sekali ia hindari.
" Ya selama masih batas aman kita biarkan saja Za, tapi kalau sudah mengusik baru kita bertindak" tutur Lia
" Betul apa yang dikatakan Lia, loe santai aja Za jangan loe tunjukkan perasaan gak suka loe sama tuh orang" timpal Mita
" Iya, gue cuma gak suka aja cara dia natap gue bikin risih tau" sahut Zaira
" Loe sih terlalu cantik Za jadi wajarlah tuh orang suka sama loe" ucap Mona
" Apaan sih loe Mon" Zaira malah mengerucutkan bibirnya
" Loe itu sekarang tambah berisi tambah seksi jangankan tuh orang loe liat aja cowok-cowok yang ada di sini pada ngeliatin loe tanpa kedip dari tadi" tutur Mia yang ikut menimpali
" Perasaan gue biasa aja deh" ucap Zaira yang merasa tidak ada yang berbeda dari dirinya.
Zaira melihat kesekeliling dan benar saja cowok-cowok yang ada di kantin tersebut menatap kagum ke arah Zaira.
" Sudah yuk ah kita ke kelas aja!" Zaira beranjak dari duduknya dan pada saat hendak berjalan kaki Zaira tersandung dan hampir saja terjatuh namun dengan gerakan cepat tangan kekar seseorang sudah menarik Zaira agar tidak tersungkur ke lantai.
" Ma..maaf saya tidak sengaja!" ucap Zaira sedikit gugup
" Tidak apa-apa, lain kali kalau jalan itu hati-hati" ucap seseorang yang selalu membuat jantung Zaira berdesir
" Iya pak, terima kasih" ucap Zaira dengan senyum yang mengembang sempurna
" Hampir saja!" ucap Zaira bernapas lega
Melihat wajah Zaira yang nampak tegang membuat teman-temannya tidak bisa lagi menahan tawanya.
" Ih jahat banget sih, teman dapat musibah malah diketawain" Zaira mendengus kesal
" Bukan apa-apa Za, kita ketawa itu karena gak kuat lagi menahannya, habisnya lucu banget sih muka loe itu tegang banget" Ucap Lia
" Untung saja pak suami dengan sigap langsung menghampiri gue, gak kebayang deh kalau tadi itu pak Aldy." tutur Zaira
Zaira langsung menunduk saat melihat Azka datang bersama Aldy guru baru yang ingin dia hindari sedari tadi dikelas.
Jam pulang sekolah
" Mona!" panggil Yoga yang setengah berlari menghampirinya
" Iya ada apa Yo?" tanya Mona saat Yoga sudah berada di hadapannya
" Gue antar ya!" ucap Yoga
" Tapi gue bawa mobil" sahut Mona
" Mobil loe biar Mia yang bawa aja loe pulang bareng Yoga aja sana!" ucap Indah
__ADS_1
" Eh, sorry gue gak bisa, gue sudah di jemput" ucap Mia
" Kalau loe Mita?" tanya Indah
" Gak usah ditanya loe gak lihat tuh siapa yang berdiri di depan pintu gerbang!" Mia menunjuk ke arah pintu gerbang dengan dagunya.
" Sorry Yo, lain kali aja deh!" Mona menolak ajakan Yoga karena dia juga bawa mobil sendiri
" Oh yaudah kalau begitu gue balik duluan ya!" Yoga pamit dan berlalu pergi
" Za, loe pulang bareng kak Azka apa bareng gue aja!" tanya Lia yang melihat raut kebimbangan pada Zaira karena sedari tadi nampak diam saja
" Gue_" belum sempat menjawab seseorang sudah lebih dulu menyela
" Pulang bareng kakak!" ucap Azka membuat Zaira langsung menoleh
" Kenapa, masih marah?"tanya Azka
" Enggak, siapa yang marah?" Zaira mencibikkan bibirnya
" Yaudah yuk pulang, kasihan baby Zia dan bunda !" ajak Azka
Semua pergi masuk ke dalam mobil masing-masing, Mita berjalan ke arah Arta, Indah pergi masuk kedalam mobil Dion, Mia menghampiri Sendy yang sedari terus saja tersenyum saat melihat Mia berjalan ke arahnya begitu juga dengan Lia yang menghampiri Mario yang baru saja keluar dari kampus yang letaknya memang bersebelahan dengan SMA Darma Bangsa sementara Zaira sudah masuk ke dalam mobil Azka
Pada saat Zaira masuk ke dalam mobil Azka seseorang yang sedari tadi terus memperhatikan Zaira tengah mengepalkan tangannya.
" Ternyata pak Bagaz sudah bertindak lebih cepat, aku tidak boleh keduluan olehnya" batin pak Aldy yang kini berada di dalam mobilnya
" Kamu kenapa sih sayang, kok dari tadi diam terus. apa masih marah soal tadi?" Azka meraih tangan Zaira membuat Zaira seketika terkejut
" Eh?" Zaira menatap lekat tangannya yang dikecup oleh Azka
" Iya ada apa hem?" tanya Azka yang sesekali menoleh karena dia sedang mengemudi
" Guru baru itu_?" Zaira menggantungkan kata-katanya
Azka langsung menoleh dan menatap tajam Zaira yang seolah ingin bertanya tentang guru baru tersebut.
" Mas biasa aja dong ngeliatinnya!" Zaira mendengus kesal
" Kamu kenapa tiba-tiba bertanya tentang guru baru itu? apa kamu naksir?" tanya Azka ketus
" Apaan sih mas ngaco aja deh" Zaira memberengut
" Ya terus ngapain kamu tanya-tanya soal pak Aldy?" tanya Azka yang langsung menepikan mobilnya karena dia tidak mau mengemudi dalam keadaan emosi dan membahayakan dirinya terlebih Zaira isteri kecil yang sangat dia cintai
" Aku tuh sebenarnya justru merasa gak nyaman mas sama guru baru itu?" Azka mengerutkan keningnya
" Maksud kamu?" Azka merasa penasaran dengan ucapan isterinya yang merasa tidak nyaman dengan guru baru tersebut padahal mereka baru bertemu untuk yang pertama kali.
" Emmm... sebenarnya aku tuh gak suka aja dengan cara dia memandang aku mas" ucap Zaira jujur
" Gak suka apa suka?" goda Azka membuat Zaira semakin mendengus kesal
" Aku tuh serius mas, tadi tuh dia seperti sedang mencari perhatian aku gitu. dia juga menyuruh aku membawakan buku ke ruangannya" tutur Zaira
" Terus kamu mau?" Azka sudah nampak emosi
" Ya enggaklah, tapi guru tersebut seakan memaksa untung saja ada Yoga yang membantuku dengan alasan dia juga ingin ke ruang guru" lanjut Zaira menceritakan Azka mengangguk paham.
__ADS_1
" Terus tadi sewaktu di kantin, aku sempat terkejut saat mas datang bersama guru baru itu apalagi saat itu aku melihat dia terus saja menatap aku!" Zaira menghela napasnya kasar
" Tadi itu dia mau makan tapi tidak tahu letak kantinnya dan kebetulan mas juga sedikit lapar jadi yaudah sekalian" Azka mengusap lembut pipi Zaira agar tidak cemberut lagi
" Dan untungnya saat aku tersandung mas yang menolong aku, gak kebayang kalau dia yang_"
" Tentu saja mas yang akan menolong kamu, mana mungkin mas membiarkan laki-laki lain menyentuh isteri mas" Azka mengacak-acak rambut Zaira membuat Zaira kesal dan menepis tangan Azka
" Mas ih berantakan deh rambut aku" kesal Zaira yang langsung merapihkan rambutnya dan Azka tertawa melihat tingkah isterinya
" Mas juga sempat memperhatikan dia saat ngeliatin kamu, tapi selama dia tidak berbuat macam-macam dan hanya sekedar kagum serta isteri ku ini tidak tergoda olehnya mas rasa itu tidak masalah tapi jika dia sudah berani mengusik kamu mas pasti akan memberinya perhitungan" tutur Azka dengan kembali menyalakan mesin mobilnya
" Mas, apa dia tidak tahu ya hubungan kita?" tanya Zaira
" Sepertinya tidak sayang, karena hanya sebagian orang saja yang tahu itu pun yang memang sudah lama sekolah di SMA Darma Bangsa." Sahut Azka
" Oiya, mas sebenarnya pak Bambang kenapa tidak lagi mengajar?" tanya Zaira
" Pak Bambang memilih mengajar di kampung halamannya karena ingin menjaga dan merawat orang tuanya yang sudah renta" sahut Azka dan Zaira mengangguk paham
Mobil yang mereka tumpangi tidak terasa sudah sampai di kediaman bunda Aryani.
" Assalamu'alaikum " ucap Azka dan Zaira saat masuk ke dalam rumah bundanya.
" Wa'alaikum salam!" sahut Bunda Aryani seraya menghampiri keduanya bersama baby Zia yang berada di gendongannya.
" Hai sayang!" Zaira hendak menggendong baby Zia tapi langsung dilarang oleh Azka
" Sayang, cuci tangan kamu dulu!" Azka mengingatkan
" Iya mas!" Zaira pun pergi untuk membersihkan tangannya begitu juga dengan Azka.
Saat ini Zaira dan Azka sudah kembali ke rumahnya setelah menjemput baby Zia.
Zaira meletakkan baby Zia diatas tempat tidur karena sepanjang perjalanan pulang baby Zia tertidur.
" Sayang!" panggil Azka saat Zaira baru keluar dari kamar baby Zia
" Mas mau makan?" tanya Zaira tapi bukannya menjawab Azka malah menarik pinggang Zaira dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zaira
" Mas lepas ih, malu kalau bi Ningsih lihat!" Zaira berusaha memberontak namun Azka semakin mengeratkan rangkulannya
" Aku kangen sayang!" bisik Azka dan Zaira langsung melotot
" Mas ini masih siang, sudah ah cepat lepas aku mau bersih-bersih dulu, lengket!" Zaira mendorong dada bidang Azka namun ternyata usahanya sia-sia karena Azka dengan cepat langsung menggendong Zaira ala bridal style masuk ke dalam kamarnya.
Zaira hanya bisa pasrah karena menolak pun sepertinya hanya sia-sia.
" Kamu kenapa sih mas?" tanya Zaira menatap manik mata Azka yang seperti menahan amarahnya.
" Aku hanya takut sayang" Zaira mengerutkan keningnya
" Takut?" tanya Zaira bingung
" Iya, takut kamu akan tergoda dengan guru baru itu, karena terlihat dari usianya dia nampak lebih muda dari suami mu ini"
Zaira melingkarkan tangannya di leher Azka lalu tertawa " Dasar bodoh, bisa-bisanya kamu punya pemikiran seperti itu. kamu ini suami aku ayah dari anakku mana mungkin aku berpaling begitu saja. walaupun banyak pria tampan di dunia ini tapi bagiku suamiku ini yang paling tampan" ucap Zaira lalu tanpa aba-aba langsung mengecup bibir Azka membuat Azka seketika melotot.
" Kamu menggodaku sayang!" Azka langsung balik menyerang Zaira dan mereka akhirnya menghabiskan siang hari yang panas dengan kegiatan yang membuatnya semakin panas
__ADS_1