
Pagi ini Khanza tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah tapi seperti biasa sebelum berangkat Khanza menyempatkan diri terlebih dahulu untuk membuat sarapan. Aldy yang baru saja keluar dari kamar langsung menghampiri Khanza yang sibuk menata makanan di atas meja.
" Emmmm... harum banget, kamu masak apa sayang, bikin cacing-cacing di perut mas berdemo minta cepat-cepat diisi nih?" Aldy menarik kursinya seraya menatap satu persatu menu yang tersaji di atas meja.
" Aku cuma masak ini aja mas bahan-bahan yang ada di kulkas" sahut Khanza
" Ini apa?" tanya Aldy menunjuk salah satu masakan Khanza
"Itu rolade asam manis mas "
Aldy mengambilnya lalu mencicipinya
" Emmm.... ini enak sayang, mas suka" puji Aldy sambil mengunyah.
" Syukurlah kalau mas suka" Khanza tersenyum senang
Selesai sarapan Aldy dan Khanza berangkat bersama, hanya butuh waktu 15 menit mereka kini sudah sampai di sekolah. suasana yang masih pagi dan nampak masih sepi membuat mereka bisa leluasa keluar dari dalam mobil bahkan berjalan beriringan.
" Mas jalan duluan aja gih !"ucap Khanza yang memundurkan langkahnya
" Tidak, kamu saja yang duluan!" seru Aldy yang menghentikan langkah kakinya dan menyuruh Khanza untuk berjalan di depannya.
" Yaudah aku duluan mas" Khanza pun berjalan melewati Aldy dan saat sudah berada di koridor sekolah Khanza melihat Miska.
Baru saja Khanza ingin menghampiri Miska tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat netranya melihat pemandangan yang cukup mengusik pikirannya.
Alis Khanza mengkerut saat melihat Miska sedang beradu mulut dengan seorang siswa yang cukup dikenalnya
" Mereka_?" tanda tanya besar muncul dibenak Khanza
" Ada apa sayang?" tanya Aldy yang sudah berdiri di belakang Khanza lalu netranya mengikuti arah pandang mata Khanza yang nampak serius menatap pemandangan yang ada di hadapannya
" Bukannya itu Miska sahabat kamu sayang?" tanya Aldy pelan dan Khanza mengangguk membenarkan
" Iya mas"
" Sedang apa mereka berdua?"
" Entahlah mas tapi kenapa aku sedikit curiga ya mas sama mereka" ucap Khanza
" Sudahlah sayang, biar itu menjadi urusan mereka tunggu saja sampai Miska sendiri yang cerita sama kamu dan semoga saja anak itu tidak mengulangi kesalahan yang sama " Aldy merangkul bahu Khanza dan mengajaknya pergi
" Miska bukan cewek yang lemah, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri tapi yang menjadi pertanyaan kenapa mereka bisa bersama selama ini mereka itukan musuh bebuyutan"
" Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, ayok jalan!" ajak Aldy masih dengan tangan merangkul bahu Khanza
__ADS_1
" Mas jangan seperti ini nanti ada yang melihat!" Khanza melepaskan tangan Aldy dari bahunya
" Ya ampun sayang aku jadi gemas sendiri, ingin rasanya tuh mengumumkan tentang hubungan pernikahan kita kepada seluruh dunia kalau kamu itu adalah isteri mas" ucap Aldy menghela napasnya panjang
" Sabar mas!" Khanza mencubit gemas pipi Aldy
" Husss, jangan genit sayang nanti ada yang lihat" sindir Aldy seraya tertawa dan diikuti oleh Khanza turut tertawa juga. mereka pun jalan beriringan dan terpisah saat Khanza menuju kelasnya.
Sementara di koridor sekolah Miska dengan seorang siswa masih saja terlihat berdebat dan keduanya tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
**
" Awas loe ya kalau sampai dekat-dekat gue disekolah, kali ini yang pertama dan terakhir. gue enggak mau berurusan dengan loe disekolah, ingat itu!" tegas Miska sementara sang siswa tersebut hanya tersenyum miring menanggapi kemarahan Miska
" Loe pikir loe itu siapa, hah... sok ngatur-ngatur gue segala. ingat loe itu bakal jadi milik gue camkan itu dan satu lagi gue berhak mau ngapain juga terserah gue!"
" Dasar enggak waras, minggir loe!" Miska dengan kasar melewati cowok tersebut dengan membentur bahunya kasar
" Si*LAN loe dasar cewek bar-bar" teriaknya
" Bodo amat" Miska berbalik badan dan mengepalkan tangannya kearah cowok tersebut
" Awas loe !" geramnya menatap lekat punggung Miska yang semakin menjauh
Miska menghempaskan bokongnya di kursinya dengan raut wajah kesal
" Enggak Kenapa-napa" jawab Miska berusaha bersikap biasa
" Ada yang loe sembunyiin dari gue?" Miska menoleh ke arah Khanza yang pura-pura sibuk membaca bukunya
" Eng... enggak ada" Miska salah tingkah sendiri
" Beneran enggak ada?" tanya Khanza tanpa mengalihkan pandangannya ke arah buku yang di pegangnya.
" Ap... Apa loe lihat gue di koridor tadi_?" tanya Miska dengan raut wajah terkejut saat belum selesai dengan pertanyaannya Khanza sudah lebih dulu menganggukkan kepalanya untung saja suasana kelas belum terlalu ramai bahkan Hana dan Nana juga belum datang jadi kemungkinan besar yang melihatnya pun hanya Khanza saja.
Khanza bersikap sesantai mungkin " Gue sempat kaget aja tadi!" ucap Khanza lalu menutup bukunya
" Za jangan cerita ke anak-anak dulu ya, gue juga bingung harus ngomong apa, ini juga terlalu mengejutkan buat gue apalagi elo" terang Miska
Flashback on
" Sayang malam ini kamu harus bersiap-siap ya, dandan yang cantik karena teman papa akan datang bersama keluarganya untuk melamar kamu nanti malam" ucap mama Rika
Deg
__ADS_1
Miska menghela napasnya berat menatap mamanya " Mah apa tidak bisa di undur atau kalau bisa dibatalkan mah?" Miska menatap lekat netra sang mama memohon kepadanya
" Sayang, jika mama bisa sudah mama lakukan. kamu tahu sendiri kan bagaimana papa kamu?" ucap mama Rika dengan mengusap lembut pucuk kepala Miska
" Mereka dari keluarga terpandang dan juga sangat baik nak, papa kamu berhutang budi dengan keluarga mereka"
" Dulu disaat perusahaan kakek mu hampir gulung tikar kakeknya lah yang membantu perusahaan yang kini papa kamu kelola sayang"
" Dan sebelum kakeknya meninggal dia punya satu permintaan pada kakekmu yaitu menjodohkan cucu-cucu mereka dan pada waktu itu umur kalian baru 5 tahun" terang mama Rika menjelaskan
" Sebenarnya perjodohan itu sempat terlupakan tapi setelah teman papamu itu melihat mu entah kenapa dia malah begitu antusias ingin segera menikahkan kalian" lanjutnya
" Tapi mah, Miska masih sekolah dan masih ingin kuliah"
" Itu bisa di atur, kamu masih tetap bisa bersekolah, calon mertua mu yang akan mengurus semuanya" tiba-tiba suara bariton terdengar dari balik punggung Miska.
" Papa" Miska terkejut
" Kamu tidak ada pilihan lain, sekarang masuk ke dalam kamar dan bersiap-siaplah, jangan membuat papa dan mama kecewa" tegasnya
Miska menahan tangisnya runtuh semua harapan dan cita-citanya.
Didalam kamar Miska menangis dan merasa kecewa dengan keputusan kedua orangtuanya. tidak masalah jika memang nasib asmaranya harus berakhir dengan perjodohan tapi setidaknya biarkan ia menyelesaikan pendidikan sekolahnya seperti anak-anak pada umumnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tamu yang ditunggu-tunggu pun kini sudah datang. Mereka berbincang-bincang sebentar sambil menunggu Miska yang masih belum juga keluar dari kamarnya.
" Mah panggilkan putri kita!" titah Suhendra kepada mama Rika
" Iya pah!" mama Rika pun beranjak dari duduknya
" Sebentar ya jeng aku panggilkan putri ku dulu!" pamit mama Rika yang diangguki oleh mommy Sarah isteri dari Bambang Samudera
" Oh iya silahkan jeng!" ucap mommy Sarah
Tok... Tok....Tok....
" Sayang, ayok cepat keluar nak tamunya sudah menunggu diluar!" teriak mama Rika mengetuk pintu kamar Miska
Didalam kamar Miska tengah menatap dirinya melalui pantulan cermin. sesekali ia mengusap air matanya yang tanpa permisi meluncur begitu saja " Ayok Miska loe pasti bisa!" ucap Miska menyemangati dirinya sendiri
Ceklekk
Miska membuka pintu kamarnya dan mama Rika sudah berdiri di depan pintu dengan tersenyum penuh kekaguman.
" Kamu cantik banget sayang!" puji sang mama yang melihat penampilan Miska yang sedikit berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Miska yang menggunakan dres berwarna soft pink dengan rambut yang di cepol ke atas dan sedikit poni yang menggulung dibagian bawah nya membuat gadis itu terlihat sangat cantik bak boneka Barbie.