
Hari berganti waktu berlalu sekarang kondisi Nana sudah dinyatakan baik dan sudah diperbolehkan pulang.
Semua sahabatnya nampak gembira melihat kondisi Nana yang sudah benar-benar pulih namun ada hal yang mengusik hati mereka saat Nana hendak akan pulang
Bagaimana jika Nana bertanya tentang kedua orang tuanya, apa yang harus mereka katakan rasanya sungguh sulit untuk menjelaskan kenyataan pahit yang harus Nana terima sementara kondisinya saja ia baru pulih.
Haris nampak begitu gusar ia harus membawa Nana kemana, jika pulang kerumah kedua orang tuanya bagaimana jika dia mencari keberadaan papa dan mamanya, tapi jika dibawa kerumahnya bagaimana menjelaskan pada Nana, ah sungguh hal yang sulit untuk Haris hadapi
" Ada apa bang kok kelihatan bingung gitu?" tanya Nana yang seketika membuyarkan lamunan Haris
" Eh enggak ada apa-apa sayang , oiya ada hal yang harus abang urus, kamu enggak apa-apa kan abang tinggal sebentar, Hana sama Billy juga udah ada dibawah sebentar lagi mereka juga pasti sampai" ujar pria tersebut
" Iya bang enggak apa-apa" jawab Nana dengan seulas senyum diwajahnya
Haris pun keluar dari ruangan Nana, barang-barang Nana sudah dikemas mereka sebenarnya bisa langsung pulang karena semua biaya administrasi sudah lunas dan tentu saja oleh pemilik rumah sakit tersebut.
Haris yang bingung harus membawa Nana pulang kemana memilih duduk sebentar ditaman yang berada di rumah sakit tersebut dan disaat hatinya sedang dilanda keresahan yang sangat besar tiba-tiba ia dikejutkan dengan tepukan tangan di pundaknya
" Sedang memikirkan apa?" tanya pria paruh baya yang baru saja datang bersama isteri tercintanya
Ia dan isterinya tahu hari ini Nana sudah diperbolehkan pulang, oleh karena itu isterinya yang tidak lain adalah mama Maria dengan bergegas memaksa suaminya untuk segera pergi ke rumah sakit untuk menjemput kepulangan Nana yang memang sejak peristiwa itu terjadi merasa iba dan akan menganggap Nana sebagai putrinya sendiri.
" Tu... tuan Sam, nyonya" sapa Haris yang sedikit merasa gugup
" Ada apa kamu duduk sendiri di sini? apa ada hal yang memberatkan pikiran mu?" tanya mama Maria yang kini ikut duduk di samping Haris
Haris menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan segala kegundahan hatinya saat ini.
" Maaf nyonya, tuan saya hanya bingung harus berbuat apa. hari ini Nana sudah diizinkan pulang oleh dokter"
" Itu bagus dong" sahut mama Maria
" Iya nyonya, itu memang sangat bagus dan sudah lama kami nantikan Nana bisa kembali pulih dan sehat tapi_" Haris menjeda kata-katanya
"Tapi apa?"
" Kemana saya harus membawa Nana pulang?" tanya Haris
" Jika saya membawanya pulang ke rumah Nana pasti akan bingung dan bertanya-tanya tapi kalau saya bawa dia pulang ke rumahnya bagaimana jika nanti dia bertanya-tanya tentang kedua orang tuanya, saya harus bagaimana menjelaskannya. saya belum siap melihatnya terluka dan sedih" jawab Haris yang sudah berkaca-kaca
" Kamu tenang saja, biar itu menjadi urusan saya" jawab mama Maria yang langsung beranjak dari duduknya
" Ayo pah kita temui Nana" ajak mama Maria
" Iya mah, ayo nak Haris kita temui Nana sekarang biar urusan Nana kami yang urus" ucap pria paruh baya tersebut
" Baik tuan" ucap Haris yang sudah merasa sedikit lega
Tuan Sam dan mama Maria kini sudah berada di kamar Nana Haris tidak masuk mereka menunggu di luar kamar bersama Billy
__ADS_1
" Sayang, bagaimana keadaan kamu hari ini?" tanya Mama Maria seraya mengusap lembut pipi Nana
" Alhamdulillah sudah jauh lebih baik tante" sahut Nana
" Jangan panggil tante, panggil mama saja seperti Khanza dan juga Miska" ucap mama Maria
" Kalian semua itu udah mama anggap seperti anak-anak mama sendiri jadi jangan sungkan untuk memanggil mama ya" ucap mama Maria yang juga menoleh pada Hana
Miska tidak datang menjemput karena pagi tadi merasa perutnya sedikit kram jadi Roni melarangnya untuk banyak bergerak, dan menyuruhnya untuk banyak beristirahat.
Sementara Khanza sedang dalam perjalanan bersama Aldy menuju rumah sakit tersebut.
Nicko dan Luna baru saja pulang dari rumah sakit tersebut setelah semalaman menemani Nana karena Haris ada urusan mendadak di kantor .
" Assalamualaikum" ucap Khanza yang baru saja masuk bersama Aldy
" Wa'alaikum salam" sahut mereka serempak
" Na bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Khanza
" Sudah sehat Za, gue senang banget hari ini udah boleh pulang. gue kangen pingin bertemu mama sama papah mereka pasti khawatir banget sama anak gadisnya yang hampir dua Minggu enggak pulang-pulang" sahut Nana dengan wajah cerianya
Deg
Semua kata-kata Nana seperti sebuah hantaman batu besar untuk semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terutama Haris yang baru saja masuk bersama Billy
" Ada apa? kenapa kalian berubah murung gitu?" tanya Nana yang bingung melihat ekspresi wajah semua yang ada di ruangan tersebut berubah mendung
Mama Maria berusaha untuk tersenyum dan hatinya juga sakit mendengar kata-kata yang Nana ucapkan
" Sayang!" Mama Maria membelai lembut rambut Nana
" Mah apa kalian tidak senang kalau aku kembali pulang ke rumah?" tanya Nana dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Bukan sayang, bukan seperti itu kami tentu saja sangat senang kamu sudah di perbolehkan pulang itu tandanya kamu sudah benar-benar pulih dan sehat tentunya" jawab mama Maria
" Tapi kenapa wajah mereka nampak sendu mah?"
" Ah itu hanya perasaan kamu saja mungkin" sahut mama Maria
" Tidak mungkin, atau jangan-jangan ada hal yang kalian sembunyikan iya?" tanya Nana yang menatap satu persatu sahabatnya
Hana sudah tidak tahan menahan air matanya begitu juga Khanza
" Ada apa sebenarnya, tolong ceritakan yang jujur!" teriak Nana pada Hana dan juga Haris
" Apa ada kaitannya dengan kedua orang tua ku? "
Deg
__ADS_1
Khanza dan yang lainnya tercekat pertanyaan Nana sungguh menghantam jantung mereka
" Kenapa kalian diam?" tanya Nana yang jadi penasaran dengan kedua orangtuanya
" Kenapa mama sama papah sama sekali tidak menjengukku? tidak mungkin mereka tidak mencari ku, anaknya tidak pulang berhari-hari dan mereka tidak mengkhawatirkan aku, apa yang terjadi sebenarnya?"
" Bang Haris, Hana apa kalian bisa menjelaskannya?"
" Khanza?"
" Billy?"
Satu persatu Nana bertanya pada sahabat-sahabatnya tapi semua diam karena tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Nana
" Sayang, kamu yang tenang dulu ya!" ucap mama Maria berusaha untuk menenangkan Nana
" Kamu harus tenang dulu, jangan emosi karena tidak baik untuk kesehatan kamu yang baru saja pulih" jawab mama Maria
" Tapi kemana mama dan papaku, kenapa mereka tidak mempedulikan aku?" Nana tiba-tiba menangis dia begitu merindukan kedua orang tuanya
" Siapa bilang mereka tidak memperdulikan kamu sayang, mereka jelas sangat khawatir dan sekarang pasti mereka juga sudah tenang melihat putrinya sudah kembali sehat" terang mama Maria bicara dengan nada selembut mungkin
" Tapi jika memang mereka peduli mereka tidak mungkin tidak datang?"
Deg
Deg
Deg
Rasanya semakin sesak saja pasokan oksigen yang Haris hirup pertanyaan Nana membuat pria tersebut merasa tercekik
" Mereka sangat menyayangi kamu dan juga peduli sama kamu oleh karena itu kamu tidak boleh mengatakan hal yang tidak-tidak tentang mereka"
" Tapi dimana mereka kenapa disaat seperti ini mereka tetap tidak juga datang?"
Deg
Tiba-tiba ada selintas bayangan ingatan dimana kejadian kecelakaan itu terjadi
" Aaaa....!" teriak Nana saat bayangan itu semakin jelas terlihat di ingatannya
" Mama... papa!" teriak Nana histeris sambil menutup telinganya saat telinganya seakan mendengar dentuman suara mobil yang sangat kencang saat menabrak sebuah pohon besar
Dumm
" Aaa,.... "
Bruk
__ADS_1
" Nana...!"