Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Terungkap


__ADS_3

Di sebuah taman di dekat sebuah area taman bermain, Mita dan dokter Ariel tengah duduk berdua.


Sebelumnya Mita sudah bertemu dengan dokter Ariel ketika Mita yang di temani oleh Lia datang ke rumah dokter Ariel untuk menjemput papanya, awalnya dokter Ariel menolak namun setelah Mita menjelaskan kalau ternyata Rosa mamanya Mita sudah memaafkan papanya dan sudah menerima permintaan papanya yang ingin rujuk kembali mau tidak mau dokter Ariel pun mengizinkannya.


Dokter Ariel sesekali melirik ke arah Mita yang hanya diam menatap lurus ke depan.


" Maaf!" ucap dokter Ariel pelan membuat Mita menoleh.


" Maaf untuk apa?" tanya Mita tanpa menoleh.


" Maaf karena aku belum bisa mengatakannya!"


Mita tersenyum getir mendengar penuturan dokter Ariel.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan" ucap Mita datar dan beranjak dari duduknya dan dokter Ariel ikut berdiri dengan cepat mencekal pergelangan tangan Mita.


" Tapi aku_!" ucap dokter Ariel tiba-tiba terpotong dengan suara seseorang yang berlari menghampirinya.


" Ayah!" teriak seorang anak kecil berusia sekitar 8 tahun berlari ke arah dokter Ariel dan Mita yang tengah duduk di taman tersebut.


Tentu saja hal tersebut membuat keduanya tersentak kaget terutama dokter Ariel yang langsung membulatkan matanya tatkala anak kecil tersebut semakin dekat.


" Ayah" teriaknya lagi


Mita menoleh ke arah dokter Ariel yang nampak begitu terkejut melihat seorang anak kecil yang berlari ke arahnya.


Anak kecil tersebut langsung memeluk dokter Ariel " Ayah kenapa tidak pernah pulang Aliya sangat merindukan ayah, begitu juga dengan kak Alifa!" ucap gadis kecil tersebut sesenggukan.


Dokter Ariel langsung berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Aliya " Maafkan ayah sayang" dokter Ariel memeluk gadis kecil tersebut penuh rasa kerinduan.


" Bagaimana Aliya bisa berada di sini? Aliya ke sini sama siapa?" tanya dokter Ariel


" Sama kak Alifa, itu!" ucap Aliya menunjuk ke arah Alifa yang melangkah dengan perlahan mendekati mereka.


" Ayah!" ucap Alifa lalu mengulurkan tangannya mencium punggung tangan dokter Ariel.


" Alifa" panggil dokter Ariel


" Kalian bagaimana bisa berada di sini dan kamu sedang apa disini?" tanya dokter Ariel yang melihat Alifa membawa keranjang berisi makanan.


" Alifa dan Aliya berjualan karena ibu sudah tidak bisa bekerja lagi dan tidak bisa mencari uang untuk kita membeli makan!" jawab Alifa


Mita yang melihat dan mendengar cerita kedua anak tersebut memejamkan matanya merasa bagaikan dihantam batu besar.


" Ibu kalian kenapa?" tanya dokter Ariel yang sedikit khawatir karena sewaktu dulu ia meninggalkan keluarganya tersebut mereka dalam keadaan baik-baik saja.


" Ibu_!" Alifa menjeda ucapannya saat melihat ke arah Mita yang berada di samping ayahnya. Mita yang menyadari arti tatapan Alifa yang seolah bertanya tentang dirinya langsung memperkenalkan diri.


" Emmm, hai!" sapa Mita yang sedikit merasa canggung. " Kamu pasti bertanya kakak ini siapakah?" tanya Mita sambil tersenyum ramah dan kedua anak tersebut mengangguk Pelan sementara dokter Ariel menarik napasnya dalam-dalam.


" Perkenalkan nama kakak Mita, kakak ini dulu pasiennya ayah kalian. Ayah kalian ini adalah dokter yang hebat" ucap Mita membuat dokter Ariel memejamkan matanya sejenak.


" Kakak pernah di obati sama ayah?" tanya Aliya


" Iya" jawab Mita dengan memperlihatkan senyum ramahnya.


" Kalian berjualan?" tanya Mita yang kini telah mengajak Aliya dan Alifa duduk bersama di taman tersebut sedangkan dokter Ariel tengah membeli makanan untuk kedua putrinya.


" Iya kak, kami kasihan dengan ibu yang pastinya sangat kelelahan " jawab Alifa


" Emmm... memangnya kalau kakak boleh tau, ibu kalian sakit apa?" tanya Mita


" Ibu tidak sakit kak" jawab Aliya


" Tidak sakit?" tanya Mita yang nampak bingung


" Ibu sedang hamil besar kak, kata ibu sebentar lagi dedek bayi akan segera lahir" jawab Alifa yang langsung membuat Mita langsung diam mematung.


" Ha... hamil?" tanya Mita terbata-bata Alifa dan Aliya mengangguk.


" Ayah tidak tahu kalau ibu sedang hamil kak, karena ayah tidak pernah pulang setelah pamit pergi ke kota katanya ingin mencari keluarganya ayah" ucap Alifa.


" Jadi ayah kalian tidak tahu kalau ibu kalian sedang hamil?" Alifa mengangguk.


" Ibu juga baru tau kalau ibu sedang hamil setelah dua bulan ayah pergi kak," Sahut Alifa


" Dan sebenarnya ayah Ariel itu bukanlah ayah kandung kami kak ayah kami sudah meninggal" ucap Alifa membuat Mita mengerutkan keningnya.


" Maksudnya ?" tanya Mita yang bertambah bingung.


" Ayah Ariel adalah ayah sambung kami kak, ayah Ariel adalah sahabat baik ayah kami" sahut Alifa


"Ayah kami meninggal saat akan menolong ayah Ariel yang hampir tertabrak mobil dan sebelum ayah meninggal ayah meminta kepada ayah Ariel untuk menikah dengan ibu, awalnya ayah Ariel dan ibu menolak tapi mungkin karena ayah Ariel merasa bersalah ayah Ariel akhirnya memenuhi permintaan terakhir ayah apalagi waktu itu Aliya yang baru berusia 3 tahun sampai jatuh sakit setelah kepergian ayah kami " tutur Alifa menceritakan tentang hubungannya dengan dokter Ariel.


" Apa kak Mita adalah wanita yang ayah suka?" tanya Alifa tiba-tiba membuat Mita tercekat


" Maksud Alifa?" tanya Mita yang seolah-olah tidak paham dengan pertanyaannya.


" Apa kak Mita akan mengambil ayah Ariel dari kami?" tanya Alifa yang langsung membuat Mita terasa sulit untuk menelan salivanya.


" Kakak... kakak tidak mungkin mengambil ayah kalian apalagi ibu kalian sedang hamil, kakak ini hanya pasien ayah kalian" ucap Mita sedikit berbohong.


" Benarkah?" tanya Alifa memastikan


" Iya sayang" sahut Mita mengusap lembut pucuk kepala Alifa dan juga Aliya.


" Adik di dalam perut ibu kalian pasti sangat membutuhkan ayah kalian mana mungkin kakak berbuat sejahat itu memisahkan adik kalian dengan ayah kalian" ucap Mita dengan lembut.


Saat mereka tengah asik berbicara dokter Ariel pun datang membawa banyak makanan untuk Alifa dan Aliya.


" Maaf ya menunggu lama" ucap dokter Ariel


" Alifa, Aliya ini untuk kalian!" ucap dokter Ariel memberikan makanan yang dibelinya.


" Untuk kami semua ayah" ucap Aliya yang nampak berbinar


" Iya sayang" dokter Ariel membelai lembut rambut Aliya


" Ayah, apa ayah akan pulang bersama kami?" tanya Aliya penuh harap.

__ADS_1


Dokter Ariel menghela nafasnya berat lalu menoleh ke arah Mita dan Mita hanya tersenyum tipis.


" Pulanglah mas bersama mereka, kasihan mereka dan isteri mas juga pasti sudah lama menunggu mas untuk pulang" ucap Mita dengan seulas senyum dan menampakkan wajah yang terlihat biasa-biasa saja membuat dokter Ariel menelan salivanya kasar.


" Mita aku_!" ucap dokter Ariel menggantung.


Mita hanya bisa tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sangat hancur mengetahui kisah yang sebenarnya dan alangkah lebih menyakitkan lagi justru dia harus tahu dari orang lain bukan dari kejujuran dari dokter Ariel sendiri.


Di hadapan Aliya dan Alifa seorang Mita Paramita tidak menunjukkan sedikitpun rasa kecewanya terhadap ayah sambung mereka. Mita terus menyunggingkan senyumnya dihadapan anak-anak yang tidak tahu apa-apa terlebih Aliya yang sangat merindukan sosok seorang ayah.


" Ayah ayuk kita pulang!" ucap Aliya menarik tangan dokter Ariel


" Pergilah mas!" pinta Mita tetap dengan wajah tersenyum


" Tapi bagaimana dengan mu?" tanya dokter Ariel


" Aku tidak apa-apa mas" Mita meyakinkan dokter Ariel


" Aku akan jelaskan besok!" ucap dokter Ariel


" Iya mas"


" Kak Mita kami pamit pulang ya!" ucap Alifa dan Aliya


" Iya sayang, hati-hati ya!" ucap Mita.


Dokter Ariel akhirnya pergi bersama dengan Aliya dan Alifa.


Mita duduk termenung di taman tersebut seorang diri, Mita tersenyum seakan cinta tengah mentertawakannya. Hatinya terasa sakit dadanya begitu sesak setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.


Bagaimana hubungannya dengan dokter Ariel selanjutnya itulah yang menjadi beban besar di dalam pikirannya jika dia memilih bersikap egois maka dia akan tetap mempertahankan dokter Ariel disisinya toh yang saat ini dokter Ariel cintai adalah dirinya dan anak-anaknya itu hanyalah anak sambung tapi jika berpikir secara hati nurani bagaimana dengan anak yang berada di dalam kandungan isteri dokter Ariel kemungkinan besar itu adalah anak kandungnya dan apa dia tega merampas kebahagiaan Alifa dan Aliya yang sangat merindukan ayahnya.


Mita menarik napasnya dalam-dalam berusaha untuk menenangkan pikirannya namun ternyata rasa itu terlalu menyakitkan membuat air mata Mita pun akhirnya tumpah.


Mita menangis sesenggukan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. tubuhnya semakin bergetar membuat siapapun yang melihatnya merasa miris.


" Gadis cengeng, senang sekali ya menangis di tempat umum?" ucap seseorang yang dengan santainya duduk di sebelah Mita.


Mita yang mendengar suara bariton yang terdengar tidak begitu asing dengan cepat langsung menghapus air matanya dan menoleh kesamping kanannya.


Laki-laki yang tengah duduk disamping Mita melemparkan senyumnya " Ini ambillah siapa tahu dengan memakan es krim ini kesedihan mu bisa berkurang!" ucap seseorang yang tidak lain adalah Arta menyodorkan es krim di hadapan Mita.


" Ambillah!" ucapnya


Mita dengan perlahan tangannya terangkat dan meraih es krim yang berada di tangan Arta.


" Terima kasih!" ucap Mita


" Kau ini hobby sekali ya menangis di tempat umum, selain di jalan raya dan ditaman apa tidak bisa kamu menangis di dalam kamar saja" ucap Arta sedikit mengejek membuat Mita mendengus kesal.


" Bukan urusanmu!" ucap Mita kesal


" Jelas urusan ku bagaimana mungkin aku tega melihatmu menangis sendirian di tempat seperti ini." ucap Arta


" Emmm, bagaimana kalau kita kesana, siapa tahu rasa sedih mu bisa berkurang bahkan bisa saja menghilang!" ajak Arta membuat Mita mengerutkan keningnya.


Belum juga Mita menjawab Arta sudah lebih dulu menarik tangan Mita dan mengajaknya ke taman bermain anak-anak.


Arta yang tahu kalau Mita merasa malu langsung mendorong Mita agar duduk di atas ayunan tersebut.


" Tidak usah memperdulikan tatapan mereka, yang seharusnya kamu pikirkan sekarang adalah bagaimana cara membuat hatimu merasa lega dan tenang hilang dari segala kesedihan" ucap Arta yang dengan perlahan sudah mendorong ayunan Mita hingga melayang-layang di udara.


Mita yang awalnya merasa sedikit takut akhirnya tersenyum rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan seperti itu.


Mita memejamkan matanya berusaha melupakan semua kesedihannya namun di saat yang sama tiba-tiba muncul selintas gambaran yang hampir sama dengan apa yang terjadi hari ini namun bedanya gambaran itu terlihat dirinya yang masih kecil.


" Kakak!" pekik Mita pelan membuat Arta tersentak kaget.


" Ada apa?" tanya Arta sedikit panik dan Mita tercengang pandangan matanya menatap lekat wajah pria dihadapannya dengan perasaan yang aneh.


" Hei, kamu tidak apa-apa?" tanya Arta lagi


" Ah iya,maaf aku tidak apa-apa?" ucap Mita yang nampak canggung


" Kenapa aku merasa seperti tidak asing dengannya dan tadi kenapa aku jadi teringat dengan kakak tampan?" gumam Mita dalam hati.


" Emm... aku mau pulang saja, terima kasih ya sudah menemaniku. maaf jika setiap kali bertemu dengan ku pasti aku sedang menangis" ucap Mita membuat Arta tertawa.


" Iya kamu itu gadis tercengeng yang pernah aku temui!" ucap Arta tertawa


" Maaf, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi dan jika kau melihat ku menangis sebaiknya kamu langsung pergi saja!" ucap Mita yang merasa malu dengan Arta.


" Baiklah kalau begitu, tapi sebaiknya jika kita bertemu lagi kau tidak sedang menangis ya!" ucap Arta


" Ya sudah aku pergi ya?"


" Mau aku antar?"


" Tidak usah, aku ingin sendiri!" ucap Mita


" Boleh, tapi jangan sampai menangis dijalan lagi ya!" ucap Arta membuat Mita tersenyum tipis


" Nah gitu dong senyum kan cantik!" puji Arta membuat Mita tersipu malu.


" Apa sih, ya sudah aku pergi!"


" Iya hati-hati!"


Mita pun pergi dari taman tersebut dan tidak lama Mita pergi Arta pun pergi ke rumah Mario untuk membicarakan tentang keberangkatan mereka ke Jerman.


...☄️☄️☄️☄️...


" Bagaimana?" tanya Arta kepada Lia yang tengah duduk di samping Mario


" Bagaimana apa ya kak?" tanya Lia bingung


" Tentang sahabat mu itu, apa kau sudah memberitahunya tentang dokter itu?" tanya Arta


" Belum kak!" sahut Lia

__ADS_1


" Apa dia sudah mengetahui kebenarannya?" tanya Arta


" Aku juga tidak tahu kak, tapi hari ini katanya mereka akan bicara kak!" ucap Lia dan tidak berapa lama ponselnya berdering.


" Sebentar ya kak, Io aku angkat telepon dulu" pamit Lia


" Siapa?" tanya Mario pelan


" Mita" sahut Lia


" Panjang umur tuh anak" sahut Mario


Lia pergi menjauh dari kedua pria tampan yang tengah duduk di ruang TV yang ingin membahas tentang keberangkatan mereka ke Jerman.


Lia📞


" Hallo, assalamu'alaikum!"


Mita 📞


" Wa'alaikum salam!"


Lia 📞


" Iya Mita ada apa?"


Mita 📞


" Gue ganggu loe gak Li?"


📞 Lia


" Gak kok, kenapa emangnya?"


📞 Mita


" Gue boleh ke rumah loe gak?"


📞 Lia


" Sekarang?"


📞 Mita


" Iya"


📞 Lia


" Boleh Mit kapan pun loe mau main pasti boleh kok. tapi gue lagi di rumah Mario sekarang. loe dimana biar gue jemput?"


📞 Mita


" Di rumah Mario? gak usah deh Li gak enak sama nyokap bokapnya Mario"


📞 Lia


" Santai aja, mereka sekarang lagi di Jerman dan besok juga Mario berangkat ke sana jadi loe bisa kalau mau menginap juga disini!" ucap Lia


📞 Mita


" Tapi Li gue_"


📞 Lia


" Sudah gak usah banyak mikir, loe dimana sekarang gue jemput?"


📞 Mita


" Gue di jalan xx"


📞 Lia


" Di jalan xx? itu sih gak jauh dari rumah Mario. yaudah gue jemput loe sekarang!"


📞 Mita


" Iya, gue tunggu"


📞 Lia


" Assalamu'alaikum"


📞 Mita


" Wa'alaikum salam!"


Setelah sambungan teleponnya terputus Lia berjalan kembali ke ruang TV tapi tidak melihat Mario dan Arta. Lia lalu pergi ke ruang kerja papa Alex dan ternyata dugaannya benar.


" Io aku pamit keluar sebentar ya!" ucap Lia saat sudah berada di ruang kerja papa Alex


" Mau kemana?" tanya Mario


" Mau jemput Mita" sahut Lia


" Mita?" tanya Arta


" Iya kak Mita sahabatnya Lia yang tunangannya dokter itu" sahut Mario


" Oh dia"


" Iya kak, aku pamit ya?" ucap Mita seraya mencium punggung tangan Mario membuat Arta berdehem merasa seperti obat nyamuk.


" Makanya nikah kak, gak usah menunggu yang gak pasti deh!" ucap Mario membuat Lia mengerutkan keningnya sementara Arta tidak peduli dengan ucapan Mario yang sudah ribuan kali di dengarnya.


" Menunggu yang tidak pasti?" tanya Lia yang muncul jiwa keponya


" Sudah nanti aku ceritain sekarang cepat jemput Mita kasihan kalau dia sampai kelamaan menunggu" ucap Mario


" Oh iya, yaudah aku pamit. Assalamu'alaikum!" pamit Lia

__ADS_1


" Wa'alaikum salam" sahut Mario dan Arta


Lia pun pergi untuk menjemput Mita di jalan xx


__ADS_2