Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Maaf


__ADS_3

Sudah dua pekan Zaira tidak masuk sekolah, walaupun sudah mengikhlaskan bunda Aryani tapi hati siapa yang tahu, Zaira sudah berusaha untuk kuat dan juga tegar demi sang buah hati.namun tetap saja Zaira begitu rapuh.untung sekolah milik papah mertua jadi tidak masalah Zaira tidak masuk.


" Sayang!" panggil Azka saat melihat wajah Zaira yang masih diliputi rasa duka yang mendalam.


Zaira lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya, kepergian bunda Aryani benar-benar telah merubah Zaira.


" Sayang, jangan seperti ini terus. mas tahu kamu merasa sangat kehilangan bunda tapi dengan sikap kamu yang terus menerus meratapi kepergian bunda seperti ini membuat mas dan Zia kehilangan kamu sayang. apa kamu sudah tidak peduli lagi dengan suami dan anakmu!" tutur Azka meluapkan kekecewaannya . kamu sedih kehilangan bunda tapi apa kamu tidak berpikir Zia yang kehilangan kasih sayang kamu dan juga perhatian dari kamu padahal jelas-jelas kamu ada di sisinya. kamu boleh merasa kehilangan bunda tapi tidak harus mengabaikan Zia. dia butuh kamu sayang!" ucap Azka lirih


" Ya sudah, aku berangkat mengajar dulu. kemasi barang-barang kamu kalau kamu mau ikut mas pulang. hari ini kita pulang ke rumah" ucap Azka lalu mengecup keningnya dan pergi meninggalkan Zaira yang masih diam saja.


Setelah sedetik kepergian Azka dari kamar Zaira baru mencerna semua kata-kata suaminya yang nampak kecewa dan marah terhadap dirinya.


" Mas!" lirihnya dan kembali menitikkan air mata.


Ceklekk


Azka masuk ke dalam kamar kembali karena ponselnya tertinggal dan melihat Zaira menangis membuat Azka mengusap wajahnya kasar.


" Alzaira Kiana Putri, mau sampai kapan kamu seperti ini? apa dengan terus menangis bunda akan kembali lagi? aku tidak tahu harus berkata apa lagi. kamu egois Za.. egois!" Azka sudah tidak sabar lagi menghadapi Zaira yang bersikap egois dan seolah tidak memperdulikan putrinya Zia.


Karena Zaira lebih banyak diam dan jarang berinteraksi dengan Zia. saat ini Zia lebih sering bersama Lia dan juga Mita yang hampir setiap hari datang untuk menemui Zaira dan membantu merawat si kecil.


" Kak!" ucap Lia yang berdiri di ambang pintu karena pada saat dia ingin mengajak Zaira sarapan tanpa sengaja ia mendengar suara Azka yang tengah meluapkan rasa kecewanya terhadap Zaira.


" Maaf kak jika Mel lancang tapi biarkan Mel yang bicara dengan Za. kakak sebaiknya pergi mengajar saja!" ucap Lia dan Azka menghela napasnya kasar setelah itu meraih ponselnya yang berada di atas nakas dan pergi begitu saja.


Azka bukan tidak mengerti dengan keadaan Zaira saat ini tapi bukankah hidup akan terus berjalan bukannya mundur kebelakang.


meratapi kesedihan tidak akan menghasilkan apa-apa yang ada orang-orang yang kita cintai semakin bersedih dan juga kecewa karena merasa tidak dipedulikan.


Azka kecewa karena Zaira masih meratapi kepergian bunda Aryani padahal di kehidupan nyata yang masih harus berjalan ada baby Zia yang membutuhkan Zaira.


Azka keluar kamar dengan rasa kecewanya dan mengambil baby Zia yang berada di gendongan Lia sebelum keluar dari kamar tersebut.


" Aku akan membawa Zia ikut dengan ku kesekolah dan bi Ningsih akan ikut bersama ku!" ucap Azka


" Tapi kak_" ucap Lia terpotong


" Kakak gak mau Zia terabaikan, setidaknya kakak akan menjaga Zia disekolah tidak diacuhkan dan diabaikan seperti di rumah ini!" setelah mengucapkan itu Azka langsung pergi dan meminta bi Ningsih menyiapkan semua keperluan Zia.


Zaira semakin terisak, ingin mengatakan maaf namun lidahnya begitu sulit digerakkan hanya buliran air mata yang kembali meluncur dengan bebasnya.


" Za" Lia langsung berhambur memeluk tubuh Zaira yang terlihat bergetar hebat.


" Maaf!" cicit Zaira dengan suara sangat pelan


" Loe gak perlu minta maaf, loe gak salah loe hanya butuh waktu!" tutur Lia mengusap punggung Zaira


" Gue... gue sudah berusaha tapi kalau teringat bunda rasanya begitu sesak Li!"


" Iya gue tahu Za, tapi walau bagaimanapun kehidupan itu terus berjalan dan loe gak boleh terus berada dalam bayang-bayang kesedihan seperti ini terus menerus Za, loe harus menerima kenyataan ini dan ingat Za loe itu ada baby Zia yang sangat membutuhkan loe. jika loe merasa sedih dengan kepergian bunda apa loe gak berpikir bagaimana baby Zia yang juga sedih karena kehilangan kasih sayang loe" ucap Lia panjang lebar.


" Kak Azka membawa Zia kesekolah. gue juga gak habis pikir dengan jalan pikirannya. bagaimana nanti jika banyak yang bertanya tentang Zia" keluh Lia merasa kesal dengan sikap kakaknya yang terkesan sembrono


" Mas Azka membawa Zia ke sekolah?" tanya Zaira yang tersentak kaget dengan penuturan Lia


"Iya!" Lia mengangguk.


" Gue harus ke sekolah sekarang Li!" ucap Zaira


" Lalu bagaimana jika banyak yang bertanya soal kalian!" protes Lia


" Itu gue gak peduli, mas Azka gak pernah seperti ini Li dan gue yakin mas Azka saat ini pasti marah banget sama gue" ucap Zaira seraya mengganti baju dengan seragam sekolahnya.


" Apa loe yakin Za?"


" Iya Li, gue yakin karena ini semua salah gue dan gue yakin sudah membuat mas Azka marah sama gue!"


" Yaudah, loe berangkat bareng gue aja!" ucap Lia seraya berjalan keluar dari kamar Zaira dan menuju kamarnya.


Lia memang beberapa hari ini tinggal di rumah bunda Aryani untuk menemani Zaira dan Mario pun tidak berkeberatan. mama Maria dan mama Novi sesekali datang bergantian untuk menemani Zaira dan Lia karena mereka tahu Zaira membutuhkan perhatian yang lebih.


"Za kamu sudah yakin mau berangkat ke sekolah sayang?" tanya mama Maria yang berpapasan dengan Zaira dan Lia di depan rumah saat baru datang.


" Iya mah, Za harus ke sekolah mas Azka marah besar mah sama Za, dia membawa Zia ke sekolah mah!" tutur Zaira sendu merasa sangat bersalah dengan Azka


" Apa? Azka membawa Zia ke sekolah?" mama Maria terkejut dengan penuturan Zaira yang mengatakan Azka membawa Zia ke sekolah


" Iya mah, kak Azka gak biasanya loh mah kayak gitu" adu Lia


" Yaudah mama ikut kalian, mama akan menjemput Zia dan membawanya pulang. Azka ini bagaimana sih marah kok pakai bawa anak segala" kesal mama Maria


" Yaudah, ayok mah. tuh Mario sudah nungguin!" ucap Lia seraya menunjuk ke arah Mario yang berada di dalam mobil.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, Zaira tidak banyak bicara ia diam dengan pandangan menatap ke arah luar.


" Sayang, kamu tenang saja ya Azka tidak akan marah lama-lama kok!" ucap mama Maria menenangkan hati Zaira yang dia tahu saat ini menantunya itu pasti sedang gelisah.


" Mah, mas Azka membawa Zia ke sekolah apa dia gak berpikir apa, bagaimana kalau mereka bertanya-tanya tentang Zia." dengus Lia yang merasa kesal dengan sikap kakaknya yang menurut Lia sangat kekanak-kanakan.


" Semua salah Za mah, mas Azka melakukan ini karena dia kesal dan marah sama Za yang tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Zia dan beberapa hari ini bahkan Za sudah mengabaikan Zia mah" tutur Zaira merasa bersalah.


" Jangan bicara seperti itu sayang, kamu gak salah semua itu memang butuh waktu" ucap mama Maria


Tidak butuh waktu lama mobil yang mereka tumpangi sampai, Zaira sudah turun lebih dulu disusul oleh mama Maria.


" Sayang, kamu hati-hati ya disekolah. jangan macam-macam belajar yang benar!" pesan Mario saat Lia hendak turun dari dalam mobil


" Iya sayang, aku turun ya!" pamit Lia mencium punggung tangan Mario dan Mario menecup kening Lia sebentar seraya mengusap perut Lia.


Lia turun dan langsung menghampiri Zaira dan mama Maria. sementara mobil Mario sudah melesat menuju kampus yang letaknya berada di sebelah SMA Darma Bangsa.


Kedatangan Zaira bersama Lia dan mama Maria menjadi pusat perhatian para siswa dan siswi yang juga baru datang.


Zaira dengan langkah cepat masuk ke dalam sekolah dan tujuan utamanya adalah ruangan Azka.


Semua yang melihat Zaira berjalan begitu tergesa-gesa diikuti oleh Mama Maria dan juga Lia yang mengekor dibelakangnya membuat mereka bertanya-tanya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Ceklekk


Setelah mengetuk pintu Zaira langsung masuk ke dalam ruangan Azka.


" Assalamu'alaikum!" ucap Zaira seraya melangkah masuk ke dalam ruangan


" Wa'alaikum salam!" sahut Azka yang tengah duduk memangku Zia sementara bi Ningsih sedang pergi ke kantin untuk membeli sarapan.


" Mas!" ucap Zaira yang berjalan menghampirinya lalu meraih Zia yang berada di pangkuan Azka.


Azka membiarkan Zaira menggendong putrinya, bahkan Zaira menghujami Zia dengan kecupan di seluruh wajahnya.


" Sayang maafin mama ya nak, maafin mama yang sudah gagal menjadi ibu yang baik untuk kamu. maaf karena mama sangat egois dan hanya memikirkan diri mama sendiri sampai mengabaikan kamu sayang!" Zaira menangis sesenggukan Azka yang tidak tega melihat istrinya menangis langsung beranjak dari duduknya dan menarik Zaira ke dalam pelukannya.


" Maafkan aku mas, aku...!" ucap Zaira terpotong


"Sudah tidak perlu berterima kasih, kamu sudah kembali seperti dulu itu sudah jauh lebih dari cukup.!" ucap Azka


" Kamu ini Ka, bikin orang panik aja tau gak!" kesal mama Maria dan menghampiri keduanya yang sudah mengurai pelukannya masing-masing.


" Mama!" Azka terkejut dengan kedatangan mamanya ke sekolah


" Mas, kamu ini bagaimana sih Zia kamu ajak kesekolah, kalau kamu mengajar terus Zia sama siapa?"


" Ada bi Ningsih!" sahut Azka santai


" Mas ajak bi Ningsih kesekolah, terus orangnya mana sekarang?"


" Ke kantin beli sarapan, mas lapar sudah beberapa hari gak makan?" sindir Azka


" Mas maaf, aku sudah keterlaluan ya!" ucap Zaira sendu


" Sudah jangan dibahas lagi!" Azka mengacak-acak rambutnya.


" Ka, kamu mau mengajarkan?" tanya Maria


" Iya mah" sahut nya santai


" Yaudah sana ngajar dan kalian berdua cepat sana masuk ke kelas masing-masing." ucap mama Maria menoleh ke arah Lia dan Zaira bergantian


" Lalu Zia?" tanya Azka


" Dia akan pulang bersama mama" ucap mama Maria santai.


" Iya mah, yaudah Azka ngajar dulu ya mah" pamit Azka


" Za sama Lia juga pamit ke kelas dulu mah"


"Iya belajar yang benar" pesan mama


🖤


Saat sampai di koridor sekolah mama Maria berpapasan dengan pak Aldy. Keduanya hanya melempar senyum dan pak Aldy tentu belum tahu siapa orang yang tengah berpapasan dengannya.


" Kenapa anak kecil yang berada di gendongan wanita tadi wajahnya tidak asing ya, cantik dan menggemaskan!" batin Aldy seraya melanjutkan langkahnya menuju kelas 12 yaitu kelas Zaira.


Ceklekk


" Assalamu'alaikum, selamat pagi anak-anak!" ucap pak Aldy saat memasuki kelas


"Wa'alaikum salam, selamat pagi pak " ucap semua murid serempak


Pak Aldy berjalan menuju mejanya dan seperti biasa ia mengabsen murid-muridnya.


Saat nama Alzaira ia sebut ada desiran dan perasaan tidak menentu. berharap Alzaira hadir hari ini.


"Hadir pak!"


Deg


Deg


Deg


Pak Aldy langsung mendongak dan matanya langsung menyorot ke arah Zaira yang tengah duduk di bangku belakang bersama Lia.


" Alzaira, kamu sudah masuk?" tanya pak Aldy yang sejujurnya hatinya begitu senang karena akhirnya Zaira masuk sekolah juga


" Iya pak, maaf kalau saya terlalu banyak liburnya pak!" ucap Zaira


" Tidak apa-apa Al, Saya turut berduka cita ya. maaf kalau saat itu saya tidak bisa hadir!" ucap pak Aldy


" Iya terima kasih , tidak apa-apa pak!" sahut Zaira datar.


Pelajaran dimulai pak Aldy selesai memberi penjelasan langsung memberinya murid-muridnya tugas.


" Al kalau kamu masih merasa tidak enak badan sebaiknya kamu istirahat saja di ruang UKS!" saran pak Aldy


" Saya tidak apa-apa pak, terima kasih!" sahut Zaira sopan


" Tapi wajah kamu pucat!" ucap pak Aldy yang sedikit memberi peringatan kepada Zaira


" Mungkin karena saya kurang tidur saja pak!" ucap Zaira yang sebenarnya malas meladeni ucapan guru yang sok akrab ini batin Zaira.


" Kalau kamu kurang tidur, kamu bisa istirahat diruangan saya!" ucap pak Aldy membuat Zaira hampir tersedak dengan ucapan gurunya tersebut.


" Ya?" Zaira menegaskan pendengarannya takut dia salah mendengar


" Kamu kalau mau istirahat bisa istirahat di ruangan saya !" ucap pak Aldy kembali menawarkan


" Haduh ini guru maunya apa sih, gila aja masa nawarin gue istirahat di ruangannya" batin Zaira.


" Baiklah kalau bapak mengizinkan, saya permisi ke keluar dulu pak!" pamit Zaira


" Silahkan!" ucap pak Aldy

__ADS_1


Setelah keluar dari kelasnya Zaira langsung ke ruangan sang suami. Zaira langsung masuk ke dalam karena dia juga memiliki kunci ruangan tersebut.


Zaira langsung merebahkan tubuhnya di sofa dan tanpa menunggu lama Zaira pun tertidur.


Azka yang baru selesai mengajar merogoh ponselnya dan segera menghubungi isterinya namun berkali-kali melakukan panggilan tetap tidak ada jawaban. Azka menghela nafasnya kasar merasa kesal dengan sikap acuh Zaira. padahal ini jam istirahat tapi Zaira tidak menjawab panggilan darinya.


Azka dengan langkah gontai masuk ke dalam ruangannya setelah tadi sempat pergi ke kantin memesan makanan untuk sarapan.


Ceklekk


Azka berjalan menuju kulkas mengambil minuman dingin dan beberapa cemilan.


" Bertindak seenaknya, dasar anak kecil!" umpat Azka seraya berjalan menuju sofa dan matanya langsung membulat sempurna saat netranya melihat sosok wanita yang tengah meringkuk di atas sofa.


" Owh ya ampun, aku sedari tadi gelisah karena memikirkannya sekarang dia malah enak tidur disini!" keluh Azka namun sedetik kemudian ia pun tersenyum jahil.


Azka mendekatkan wajahnya ke wajah Zaira dan sedetik kemudian.


" Fyuhhh!" Azka meniup wajah Zaira membuat Zaira mengerjapkan matanya saat hembusan angin dengan bau mint menyeruak ke rongga hidungnya.


" Mas!" Zaira melotot saat wajahnya dan wajah Zaira sudah berada sangat dekat bahkan hidung keduanya pun sudah menempel.


" Sejak kapan berada di sini?" tanya Azka dengan sangat lembut.


" Sejak jam pelajaran pak Aldy!" sahut Zaira jujur


" Kamu bolos?"


" Tidak, dia yang menyuruh ku untuk beristirahat dan aku lebih memilih disini lebih aman"


" Maksudnya?" Azka membelai lembut pipi Zaira


" Pak Aldy tadi menyuruh ku untuk istirahat diruangannya, ya aku iyakan saja tawarannya menyuruh ku istirahat dan langsung saja aku kesini, untung saja kunci ruangan ini ada di tas" ucap Zaira jujur dan Azka manggut-manggut mendengarkan cerita Zaira.


" Mau lanjut tidur atau_?" Azka menaik turunkan alisnya


" Mas ih mesum banget sih. ini disekolah tahu!" kesal Zaira mendorong dada bidang Azka yang berada di atasnya


" Mesum dengan isteri sendiri pahala sayang!"


" Tapi tau tempat sedikit mas" Zaira pasang wajah memberengut


" Loh kenapa memangnya kalau disini ? tempat ini tertutup dan tidak sembarang orang bisa masuk ke sini" tutur Azka dengan tangan yang sudah bergerilya kemana-mana


" Mas, ih ini area sekolah mas !" Zaira menepuk-nepuk bahu Azka dan bukan beranjak Azka malah tertawa dan semakin mendekatkan wajahnya


" Mas, aku mau balik saja ke kelas!" dengus Zaira


" Sayang, aku kangen. boleh ya sudah 2 Minggu loh yang. sebentar saja kok janji gak pakai lama" Rajuk Azka memelas


Zaira menatap wajah tampan suaminya yang nampak mendamba. Zaira menghela napasnya panjang.


" Mas boleh tapi tidak untuk yang satu itu!"


" Tapi sayang!"


" Mas!" Zaira tidak mau diprotes


" Iya... iya... nyicil !"


" Sudah mas ih!"


" sebentar lagi dong sayang, mas masih kangen"


" Nanti malam saja mas aku gak mau khilaf!"


" Janji ya nanti malam?" ucap Azka


" Iya janji!"


" Udah, sana ih!" Zaira mendorong tubuh kekar suaminya


Azka langsung beranjak dan merapihkan baju Zaira kembali setelah itu baru ia merapihkan pakaiannya.


" Mas aku ngantuk banget ih, jadi males balik ke kelas!" ucap Zaira merengek manja.


" Nanti dicariin loh kalau gak balik-balik"


" Ya mas Azka aja yang resek orang mau istirahat malah di gangguin. gak tau tempat banget sih!" kesal Zaira pasang wajah cemberut


" Iya maaf, yaudah sekarang makan aja dulu sebentar lagi bel masuk." ucap Azka merapihkan rambut Zaira yang sedikit berantakan.


Azka dan Zaira makan bersama dan selesai makan Azka kembali ke lapangan karena ada jam olahraga kelas 11 sementara Zaira kembali ke kelasnya.


Pak Aldy bergegas masuk ke dalam ruangannya dengan wajah berseri karena ia mengira Zaira berada di ruangannya dan lupa akan pak Bagaz yang merupakan tunangan Zaira.


Ceklekk


Pak Aldy menyusuri isi ruangan dan tidak menemukan keberadaan Zaira. " kemana dia?" gumamnya


" Apa jangan-jangan dia berada di ruangan UKS?"


Pak Aldy dengan langkah cepat berjalan menuju ruang UKS dan setelah berada di ruangan tersebut ia tidak melihat Zaira hanya ada anak kelas 11 yang kelelahan sehabis olahraga.


" Kemana dia?" pak Aldy mengusap wajahnya kasar.


" Alzaira dimana kamu?" pak Aldy Kembali ke ruangannya dengan langkah gontai.


Brukk


" Eh?"


" Aww!"


" Maaf pak... maaf..!"


" Lain kali kalau jalan itu hati-hati!" ucap pak Aldy ketus


" Cih, tuh guru sombong banget sih!" umpatnya yang langsung berlalu pergi ke ruang UKS.

__ADS_1


__ADS_2