
Ceklekk
Semua menoleh bersamaan saat pintu terbuka dari luar.
Deg
Jantung Lia berdegup kencang saat mendengar pintu ruangan terbuka dari luar dan belum ada siapapun yang masuk.
" Assalamu'alaikum!" ucapnya saat masuk ke ruangan rawat Lia tersebut dengan tersenyum sopan.
" Wa'alaikum salam!" jawab mereka yang berada di dalam ruangan secara bersamaan.
" Maaf non Meli, ini saya tadi di suruh nyonya besar untuk membawakan non Meli baju ganti, tuan dan nyonya sudah sampai di bandara dan sebentar lagi akan sampai kesini katanya non" ucap bi Sum orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
Lia menghela napasnya lega, ah rasanya sangat menegangkan lebih menegangkan disaat menghadapi ujian. Lia pun menggeleng pelan lalu senyam-senyum sendiri jika mengingat isi otaknya barusan. " Iya bi taruh saja di situ!" ucap Lia menunjuk ke arah nakas.
" Li gue pamit ya, takut nyokap gue khawatir!" pamit Mita dan di ikuti oleh Mona.
" Oia, Mit, bagaimana keadaan Mia dan Indah?" tanya Lia yang baru saja teringat dengan kondisi Sahabatnya yang sempat pingsan saat berada di lokasi kejadian.
" Mereka Alhamdulillah baik Li, Mona dan Indah juga di rawat di rumah sakit ini juga kok dan loe gak perlu cemas, mereka hanya butuh istirahat aja, justru loe yang bikin gue khawatir" sahut Mita
" Yaelah lebay loe pada pakai sok khawatirin gue, loe liat gue gak kenapa-napa kan!" ucap Lia dengan wajah yang dibuat seceria mungkin.
" Jelaslah kita khawatir soalnya loe kan ham_" ucap Mona langsung terpotong saat melihat lirikan tajam dari Mita.
" Loe kan hampir ngilang setelah dibawa pergi lebih dulu sama tuh orang" lanjut Mita agar Zaira tidak curiga.
" iya, benar kata Mita loe hampir ngilang " ucap Mona yang sudah keringat dingin karena mendapat tatapan tajam dari pak guru ganteng, untung saja Mita gerak cepat.
" Yaudah, kita pamit ya, takut keburu malam" pamit Mita
" Iya, loe hati-hati ya di jalan!" ucap Lia
" Terima kasih ya Mita, Mona!" ucap Azka
" Sama-sama pak" sahut Mona
" Thanks ya gaess, emwahh!" ucap Lia
" Lebay!" sahut Mita dan Mona barengan
dan membuat semua jadi tertawa.
Mita dan Mona keluar dari ruangan tersebut dan saat hendak membuka pintu ternyata pada saat bersamaan pintu pun terbuka dari luar nampak pasangan suami istri paruh baya yang masih terlihat cantik dan tampan meskipun sudah banyak kerutan.
" Assalamu'alaikum!" ucapnya saat hendak masuk
" Wa'alaikum salam!" Jawab Mona dan Mita yang kebetulan berdiri dihadapan mereka yang hendak pulang.
" Tante, Om!" sapa Mita dan Mona seraya menyalami keduanya.
" Loh kalian mau kemana?" tanya mama Maria
" Mau pulang tante!" sahut Mita sopan.
" Oia, Bagaimana keadaan kalian sayang?" tanya mama Maria
" Alhamdulillah baik tante" jawab Mita tersenyum ramah
" Syukurlah kalau begitu, tante lega mendengarnya" ucap mama Maria
" Tante sama om kapan sampai?" tanya Mita basa basi
" Baru saja sayang!" sahut mama Maria dan Mita tersenyum manggut-manggut.
" Oia, tante kami pamit pulang dulu ya, sudah malam!" pamit Mita.
" Kalian pulang naik apa?" tanya mama Maria
" Naik taksi tante" sahut Mita
" Ini sudah terlalu malam sebaiknya kalian pulang di antar pak Ahmad saja!" kali ini papa Sam yang bicara
" Tidak usah om, biar kami naik taksi saja!" tolak Mita secara halus.
" Tidak ada penolakan, biar pak Ahmad yang mengantarkan kalian pulang!" ucap papa Sam tegas
" Benar sayang, biar lebih aman !" ucap mama Maria.
" Biar saya saja yang mengantarkan mereka pulang om!" suara bariton terdengar dari balik punggung papa Sam.
" Dokter Ariel!" gumam Mita pelan
" Dokter Ariel!" ucap Mona saat mengetahui pemilik suara bariton tersebut.
Papa Sam berbalik badan dan melihat dokter tampan yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
" Om!" sapa dokter Ariel lalu menyalami punggung tangan papa Sam.
" Nak Ariel!" papa Sam menepuk bahu dokter Ariel menyapa.
" Biar mereka pulang bareng saya saja om, kebetulan juga saya ada urusan di sekitar daerah rumah mereka" tawar dokter Ariel yang langsung membuat Mita melotot
" Emm... om sih terserah mereka saja nak Ariel!" ucap papa Sam ramah
" Bagaimana Mona, Mita apa kalian mau diantar pulang oleh dokter Ariel?" tanya papa Sam
" Tidak, terima kasih dokter!" jawab Mita
" Boleh, jika tidak merepotkan pak dokter!" sahut Mona yang diucapkan secara bersamaan dengan Mita.
membuat mereka semua akhirnya saling melempar pandangan.
Mendengar pembicaraan yang cukup alot di ambang pintu dan juga ada rasa penasaran Azka dan Zaira memilih menghampirinya.
" Loh kalian belum pulang?" tanya Zaira yang melihat Mona dan Mita masih ada di sana
" Belum Sayang, ini sudah malam tapi mereka tidak mau diantar pulang" sahut mama Maria.
" Ehhh.. mama, kapan sampai?" tanya Zaira lalu menyalami tangan mama dan papa mertuanya.
" Kak!" sapa Zaira saat melihat dokter Ariel yang ternyata ada disana juga.
" Al!" sapa balik dokter Ariel dengan senyum manisnya
Mita yang melihat dokter Ariel tersenyum manis kepada Zaira entah kenapa ada rasa sesak di dadanya dan karena tidak mau terus berada di situasi yang terasa tidak nyaman ini akhirnya Mita memutuskan untuk segera beranjak pergi.
" Maaf tante, om, Za, pak Bagaz dan dokter Ariel kami pamit pulang duluan ya, ayok Mon!" ucap Mita dan setelah itu menyalami tangan mama dan papa Sam.
" Hati-hati ya kalian!" ucap Zaira kepada dua sahabatnya itu.
Mona dan Mita hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada Zaira.
" kalau begitu saya juga permisi om, tante, semuanya!" pamit dokter Ariel yang langsung mengejar Mita yang sudah pergi lebih dulu.
🍁🍁🍁
" Sayang, bagaimana keadaan kamu, hem?" tanya mama Maria membelai pucuk kepala Lia dengan lembut.
" Mel baik-baik saja ma!" sahut Lia dengan senyum di wajah cantiknya.
" Syukurlah kalau begitu sayang, mama lega mendengarnya" sahut mama Maria
" Pa, mana oleh-olehnya masa pergi keluar negeri gak bawa apa-apa sih buat putrimu yang cantik ini!" ucap Lia yang sengaja mengalihkan pembicaraan karena takut jika Zaira kepikiran yang macam-macam.
" Mana sempat sih sayang, lagi pula ya papamu disana itu hanya sibuk bekerja, mama saja dianggurin" oceh mama yang menimpali pembicaraan Lia karena diapun tahu maksud dari putrinya yang satu ini.
" yehh si papa gak tau apa kalau mama itu sukanya di apelin bukan dianggurin" ledek Lia dan seketika suara tawa pun menggema di ruangan tersebut.
mama Maria lalu menoleh ke arah Zaira yang wajahnya nampak begitu pucat. " Sayang, kamu sakit?" tanya mama Maria kepada Zaira yang wajahnya nampak sedikit pucat.
" Iya sayang, wajah kamu pucat gini" Azka ikut menimpali dan memeriksa wajah Zaira
" Aku gak apa-apa mas, mah... ini mungkin efek kurang tidur aja " jawab Zaira yang memang sejak hilangnya Lia membuat Zaira kurang tidur dan juga kurang makan otomatis hari ini Zaira nampak pucat dan lemas.
" Sayang jangan bilang kalau kamu belum makan dari tadi siang?" tebak Azka dan Zaira hanya menjawab dengan cengar-cengir.
" Ya ampun Za, jadi loe dari siang belum makan?" tanya Lia
Zaira hanya mengangguk pelan, lalu mama Maria mengusap kepala Zaira lembut " kamu kenapa bisa belum makan sayang, kasihan loe anak yang ada di dalam kandungan kamu. pasti dia merasa kelaparan" ucap mama Maria dengan sangat lembut.
" Maaf mah, tadi Za gak ***** makan" ucap Zaira sambil menunduk.
mama Maria mengangkat dagu Zaira sedikit " Kenapa sampai gak ***** makan, apa kamu ingin makan sesuatu yang lain?" tanya mama Maria penuh perhatian dan Zaira hanya menggeleng pelan.
" Lalu?" kali ini Lia yang bertanya.
" Karena...... gue... gue khawatir sama loe, perasaan gue gak tenang sebelum tahu kabar tentang loe" sahut Zaira jujur.
Lia merasa sangat terharu ternyata sahabat dan sekaligus kakak iparnya ini sungguh sangat perhatian kepadanya.
" So sweet banget sih kakak ipar gue yang satu ini, duh cayang cini-cini peyuk" ucap Lia di lebay-lebayin.
Lia merentangkan kedua tangannya dan Zaira langsung mendekat, sedetik kemudian keduanya saling berpelukan.
" Terima kasih ya Za, loe udah segitu perhatiannya sama gue. tapi walau bagaimanapun loe harus ingat Za kesehatan loe itu lebih penting karena loe gak sendiri Za ada calon keponokan gue hidup di dalam rahim loe saat ini" ucap Lia seraya melepaskan pelukannya.
Zaira mengangguk dan mengusap air matanya. " sudah_sudah, Za sebaiknya sekarang kamu pulang saja. dan jangan lupa untuk makan. minta bi Sum untuk memasak makan malam untuk kalian" ucap papa Sam yang ikut angkat bicara.
" Iya pah". sahut Zaira
" Ka, bawa isteri kamu pulang sana dan ingat kasih makan, kamu ini bagaimana si ka, isteri belum makan tapi kamu tidak tahu!" ejek papa Sam.
Azka hanya tertawa kecil dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Yaudah kami pulang dulu pah, mah" ucap Zaira berpamitan dan mencium punggung tangan mereka. setelah berpamitan kepada mama dan papa mertuanya Zaira menghampiri Lia.
" Gue pulang dulu ya, besok pulang sekolah gue kesini lagi!" ucap Zaira.
" Iya, ingat ya Za pulang langsung makan, kasihan keponokan gue!" ucap Lia dan Zaira tersenyum tipis.
" Kakak pulang dulu ya, salam buat malaikat penolongmu ya!" ucap Azka sedikit berbisik di telinga Lia sambil terkekeh.
Seketika Lia melotot mendengar ucapan Azka.
" Kakak" pekik Lia dan cemberut. melihat wajah Lia yang cemberut Azka semakin tertawa.
Zaira merasa aneh dengan sikap suaminya itu tapi dia tidak mau ambil pusing mungkin itu hanya obrolan adik dan kakak saja yang saling menggoda seperti biasa.
Saat ini Zaira dan Azka tengah berada di mobil, " Mas!" panggil Zaira mengurai kesunyian.
" Ada apa hem?" tanya Azka yang menoleh sekilas.
" Mas tadi bicara apa pada Lia, kenapa dia sampai terlihat memberengut seperti tadi?" tanya Zaira yang penasaran sendiri.
" Bukan apa-apa, mas cuma senang aja menggoda Meli tadi!" sahut Azka santai
" Menggoda?" Zaira mengerutkan keningnya
" Hem!" Azka mengaguk sambil tersenyum tipis.
" Oia mas, apa mas tahu tentang malaikat penolong yang dibicarakan Mona dan Mita tadi?" tanya Zaira yang tiba-tiba teringat dengan ucapan Mona.
" Kalau menurut kamu siapa sayang?" Azka balik bertanya.
" Mas ini kebiasaan!" Zaira mengerucutkan bibirnya
" Kebiasaan?" tanya Azka bingung dan menoleh sekilas
" Iya mas tuh kebiasaan kalau ditanya balik nanya" kesal Zaira dan Azka langsung tertawa.
" Ya mas kan cuma mau tahu aja sayang, kali saja kamu bisa menerka-nerka, siapa?"
Zaira nampak berpikir sejenak dan beberapa detik kemudian dia baru teringat akan seseorang yang belakangan ini sepertinya sedang dekat dengan Lia. " Jangan bilang kalau yang dimaksud malaikat penolong Lia adalah Mario!" tebak Zaira.
" Yakin?" Azka tersenyum simpul
" Emmm.. yakin gak yakin sih, tapi firasat aku sih mengatakan iya" jawab Zaira tertawa kecil.
" Kamu benar sayang!" sahut Azka dan Zaira yang mendengar pertanyaan suaminya langsung menggeser duduknya hingga menghadap ke arah Azka yang sedang fokus menyetir.
" Mas gak lagi bohongin aku kan?" tanya Zaira menyelidik
" Hempp, kamu ini ada-ada saja sih yang, ngapain juga aku bohongin kamu!" ucap Azka yang menahan tawanya.
" Jadi itu serius?" tanya Zaira meyakinkan dan Azka mengangguk sebagai jawaban.
" Kalau kamu mau tahu yang, tapi jangan kaget ya?" ucap Azka yang berhasil membuat isteri kecilnya itu semakin penasaran.
" Apa mas, ayo cepat cerita!" Zaira mengguncang lengan Azka berkali-kali sambil merengek seperti anak kecil.
" Iya yang nanti aku kasih tau, tapi jangan seperti ini yang bahaya?" ucap Azka sedikit dibuat kesal oleh ulah sang isteri yang sudah tidak sabaran.
" Iya mas maaf!" ucap Zaira pelan lalu memperbaiki duduknya menghadap ke arah depan.
" Maaf sayang, bukannya mas marah atau apa tapi tindakan kamu tadi itu bisa membahayakan orang lain juga diri kita sendiri, kalau sedang dijalan jangan seperti itu lagi ya kecuali kalau sedang dikamar mas pasrah deh, hehe.." ucap Azka yang awalnya Zaira merasa bersalah berubah kesal dengan pikiran omesnya pak suami.
" Dasar Omes" Zaira pasang wajah memberengut.
" Ha... ha...ha..!" Azka tertawa terbahak-bahak melihat wajah Zaira yang memberengut lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambutnya.
" Tau gak yang, wajah kamu itu gemesin banget kalau lagi gitu, jadi pingin cepat-cepat sampai rumah!" Azka menengok ke arah Zaira dan menaik turunkan alisnya.
" Mas ihh.. genit!" Zaira mengerucutkan bibirnya.
"Gak apa-apa genit sama isteri sendiri ini" Azka tertawa lagi.
" Udah ah, mas mah ketawa mulu kapan ngasih tahunya" Zaira melipat tangannya di dada.
" Iya mas kasih tau, tapi ingat jangan syok ya apalagi sampai pingsan nanti mas gak jadi kasih tau" ucap Azka yang semakin membuat Zaira dibuat tambah penasaran.
" Apaan sih mas, ih bikin orang tambah penasaran aja sih" kesal Zaira
Melihat wajah Zaira yang ditekuk membuat Azka kembali tertawa.
" Sayang, jangan mancing-mancing deh!" Azka mencubit pipi Zaira, karena dalam kondisi mood kesal Zaira menepis tangan Azka kasar, dan lagi-lagi Azka tertawa.
" Yaudah kalau memang gak mau cerita, ngeselin banget sih!" Zaira langsung membuang pandangannya ke arah kaca samping.
" Cie marah, ngambek!" goda Azka tapi Zaira masih cuek.
" Kita cari makan dulu aja ya yang, nanti mas ceritain deh disana, kasihan si dede pasti sudah sangat lapar " Azka mengusap perut buncit Zaira dengan sesekali menoleh sekilas.
__ADS_1
Zaira seketika jadi tersadar hampir saja ia melupakannya lagi. Zaira lalu menoleh ke arah perutnya yang masih bertengger tangan kekar milik pak suami yang tengah mengelus perut buncitnya dengan lembut.