Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Nasihat Orang Tua


__ADS_3

Di halaman belakang kediaman keluarga Dinata kini semuanya tengah berkumpul bersama dan rupanya Zaira belum selesai merajuknya dengan Azka karena Zaira masih setia dengan wajah memberengutnya.


" Udah dong yang jangan ngambek terus, iya deh mas minta maaf!" bujuk Azka kepada Zaira agar berhenti merajuknya.


" Mas aja tuh kebiasaan selalu aja maksa aku untuk ini itu sampai perutku terasa begah pun tetep saja mas paksa untuk makan, mas kita perut aku karung apa!" kesal Zaira


" Ya bukan begitu sayang, mas cuma gak mau anak kita kelaparan" ucap Azka dengan polosnya


" Ya gak gitu juga kali mas, apa yang aku makan itu ya pasti anak kita makan. gak mungkinlah dia kelaparan" ucap Zaira sambil mengelus perutnya


" Belum berhenti nih ceritanya ngambeknya?" goda Lia membuat Azka mendelik tajam ke arah Lia


" Dek diam deh kamu jangan bikin tambah runyam" ucap Azka melirik tajam ke Lia


" Yang bikin runyam itu bukan Lia tapi mas Azka yang selalu maksa orang" kesal Zaira


" Iya mas ngaku salah maaf deh ya!" ucap Azka dengan suara yang sangat lembut


" Makanya mas jangan suka maksa, orang sudah kenyang masih aja dipaksa makan, emangnya Za itu sapi gelonggongan apa yang dipaksa minum tanpa berhenti!" ucap Lia membuat Azka semakin kesal dengan adiknya itu sementara Mario sudah menarik-narik tangan Lia agar Lia berhenti mengganggu sang kakak.


" Sayang sudah jangan membuat suasana semakin panas, kasihan pak Bagaz!" ucap Mario membuat Lia mengerutkan keningnya


" Pak Bagaz?" tanya Lia menaikkan satu alisnya


" Rio jika di rumah jangan terlalu formal, aku ini sudah menjadi kakak ipar mu sekarang jadi panggil aku kak Azka saja kecuali jika kita berada di lingkungan sekolah" ucap Azka yang mendengar Mario menyebutnya pak Bagaz.


" Iya Rio, panggil kak Azka atau mas Azka jangan bapak kalau di rumah kesannya gue tuh nikah sama orang yang sudah tua aja" ucap Zaira membuat Azka langsung mendelik tajam.


" Jadi kamu nyesel gitu sudah nikah sama orang setua aku!" kali ini Azka yang nampak merajuk


" Dihh, ngambek gak malu apa sama umur?" ledek Zaira yang malah membuat Azka semakin jengkel bukan merayu agar tidak marah Zaira malah membahas tentang umur.


" Za loe kalau ngomong suka tepat ya, gak nyangka gue tuh mulut langsung bikin kak Azka langsung kicep!" ucap Lia membuat Mario geleng-geleng kepala sementara papa Sam, mama Maria dan bunda Aryani hanya memperhatikan mereka dari jarak jauh.


" Sudah ah acara ngambeknya capek mas, mendingan kita samperin papa sama mama dan bunda aja yuk mas!" Zaira langsung menggandeng lengan Azka tanpa memperhatikan apa wajah Azka masih cemberut atau tidak.


" Sudah gitu acara ngambek-ngambeknya?" tanya Lia sambil geleng-geleng kepala


" Sudah dong capek ah, mas Ayuk gak boleh ya ngambek sama isteri yang sedang hamil, dosa gak baik buat anaknya loh!" ucap Zaira tanpa berdosa padahal dia yang lebih dulu ngambek.


Mario hanya menahan tawanya mendengar ucapan Zaira yang menurutnya itu sangat lucu, Lia yang melihat wajah Mario yang nampak lucu langsung menyenggol lengan Mario.


" Kenapa?" tanya Lia kepada Mario yang masih menahan tawanya


" Gak Kenapa-napa" jawab Mario


" Jangan bohong ya, cepat bilang kenapa?" tanya Lia yang masih tidak percaya.


" Gak Kenapa-napa sayang, ya cuma melihat Za seperti itu aku tuh ngebayangin aja kalau_" belum selesai Mario menyelesaikan ucapannya Lia sudah memotong kata-katanya.


" Jadi kamu itu sedari tadi sedang membayangkan Za? kamu masih belum bisa move on dari Za iya begit_" Kali ini Mario yang memutus ucapan Lia.


Pletakk


Mario menjitak kening Lia " Awww, sakit!" pekik Lia lalu mengusap-usap keningnya.


"Itu tau sakit tapi masih aja menghayal yang bukan-bukan" sahut Mario dengan tatapan kesal.


" Kam_" Mario meletakkan jari telunjuknya ke bibir Lia.

__ADS_1


" Makanya kalau suami sedang bicara itu didengarkan dulu sampai selesai baru boleh protes" ucap Mario membuat Lia memutar bola matanya kesal.


" Aku tuh melihat Za membayangkan bagaimana kalau posisi kamu tuh seperti Zaira apa akan se absurd itu, apa wanita hamil akan bersikap gak jelas seperti Zaira dia yang marah tapi tiba-tiba dia yang menyalahkan orang jika marah. itu lucu menurutku jika kamu tengah hamil seperti Zaira semoga tidak bersikap sepertinya ya " ucap Mario dengan gemas mengacak-acak rambut Lia untung Zaira sudah pergi lebih dulu menarik tangan Azka untuk menghampiri para orang tua.


Mendengar ucapan Mario Lia menjadi malu sendiri, hamil? ah ini masih jauh dari pikirannya. Lia masih ingin sekolah dan berharap tidak hamil dalam waktu dekat setidaknya sampai ia lulus tapi seandainya diberi kepercayaan lebih awal ya dia tetap tidak bisa menolak karena anak adalah amanah dan rezeki yang tiada taranya. Lia tersenyum kepada Mario dan bergelayut mesra dilengannya.


" Maaf!" hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Lia yang merasa bersalah karena salah paham.


" Sudah jangan dibahas lagi, ayok kita kesana!" ajak Mario sambil tersenyum tampan.


" Io!" panggil Mario sambil melangkahkan kakinya berjalan menuju para orang tua yang tengah duduk di gazebo.


" Hemm!" jawab Mario singkat sambil melirik ke arah Lia.


" Jangan tersenyum seperti tadi ya kalau berada jauh dari aku!" pinta Lia membuat Mario seketika menghentikan langkahnya dan menatap mata Lia yang ternyata tengah menatapnya.


" Aku saja meleleh melihat senyum tampanmu itu apalagi para pelakor diluaran sana. aku gak mau kamu sampai tergoda " ucap Lia sendu membuat Mario menggelengkan kepalanya lalu


Pletakk


Mario kembali mendaratkan satu lagi sentilan di kening Lia " Aww, Io sakit!" Lia memberengut.


" Tau kan sakit, tapi masih aja menghalu yang tidak-tidak." ucap Mario tegas dan langsung menarik kembali Lia untuk berjalan menghampiri semuanya yang tengah menunggu kedatangannya.


" Cie pengantin baru maunya berduaan terus, nempel terus kayak perangko!" goda Zaira sahabat yang gak ada akhlak batin Lia sih.


" Udah sayang jangan godain Meli terus!" pinta Azka


" Iya... iya..!" ucap Zaira kesal membuat Lia menahan tawanya melihat Zaira yang memberengut.


" Za kakak iparku yang bawelnya gak ketulungan dan jiwa keponya tingkat internasional, jangan memberengut gitu ya, ingat loh ya gak boleh ngambek gak baik untuk anak kalian dosa nanti ngajarin anak ngambek!" ucap Lia menyindir ucapan Zaira sendiri yang dilontarkan kepada Azka.


Lia yang mendapat tatapan tajam dari Mario langsung diam dan menunduk.


...☄️☄️☄️...


Semuanya kini telah berkumpul bersama papa Sam menarik napasnya terlebih dahulu sebelum memulai berbicara.


" Begini ya anak-anak papa dan menantu-menantu papa yang sama-sama sangat papa sayangi" ucap papa Sam dengan nada serius.


" Papa itu sengaja mengumpulkan kalian disini karena papa ingin mengatakan sesuatu kepada kalian semua terutama Meli putri papa" papa Sam melirik ke arah Lia


" Ada apa sih pa, jangan bikin Mel penasaran deh!" ucap Lia


" Makanya dengarkan dulu!" sahut papa Sam.


" Jangan suka memotong ucapan orang tua gak sopan!" bisik Mario mengingatkan Lia membuat Lia menyengir.


" Iya maaf!" bisik Lia


" Sekarang anak-anak papa sudah memiliki tanggung jawab dan kewajibannya masing-masing, papa berharap kalian semua bisa saling melengkapi kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing. di dalam menjalankan hubungan suami istri dalam membina rumah tangga yang baik harus bisa menerima baik dan buruk sifat masing-masing jangan menekankan ego dan merasa ingin menang sendiri, biasakan untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya." Tutur papa Sam memberikan wejangan kepada pasangan suami istri yang ada di hadapannya.


" Tidak mudah memang menyatukan dua kepala menjadi satu, dua pemikiran yang selalu berbeda pendapat menjadi satu keputusan yang sama. belajarlah untuk mencari solusi disetiap masalah yang ada berkomunikasi dengan baik adalah salah satu kunci kesuksesan dalam menjalankan biduk rumah tangga karena tanpa adanya komunikasi yang baik maka akan timbul sebuah kesalahpahaman yang ujung-ujungnya menimbulkan pertengkaran dan yang lebih parahnya sebuah perpisahan." lanjut cuap-cuap papa Sam


" Meli!" panggil papa Sam membuat Lia menoleh ke arah papa Sam.


" Iya pah!" sahut papa Sam


" Meli kamu baru saja melangkahkan kakimu kedalam sebuah hubungan yang dinamakan rumah tangga, papa tau ini masih sangat dini sebenarnya untuk kalian" papa Sam menatap bergantian antara Lia dan Mario.

__ADS_1


" Tapi karena ini memang jalan yang sudah kalian sepakati bersama papa harap kalian bisa menjalani hubungan ini dengan baik dan kamu Mel belajar untuk memahami orang yang kini sudah berstatus suami kamu jangan pernah menekan ego kamu setiap kali ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin." ucap papa Sam dan Lia hanya mengangguk Pelan.


" Mungkin Mario sudah mengatakannya sama kamu kalau dia bukan hanya menanggung beban sekolah saja sekarang tetapi menanggung tanggung jawabnya terhadap kamu ditambah lagi dengan tanggung jawabnya dalam mengurus pekerjaan papanya yang sudah dilimpahkan kepadanya. sebagai isteri kamu harus bisa memberi dukungan kepada suami kamu dalam hal apapun itu jangan mengeluh dengan kesibukkan yang akan dia emban beberapa hari kedepan, ya semoga saja menantu papa bisa menjalankan semuanya dengan imbang walaupun ya papa tahu itu tidaklah mudah jadi papa sangat berharap putri papa bisa menjadi isteri yang bisa diandalkan dan bisa memberi semangat kepada sang suami" nasihat papa Sam untuk Lia dan juga Mario.


" Amin, semoga saya tidak mengecewakan papa dan bisa menjalankan semuanya dengan baik!" ucap Mario membuat papa Sam bangga.


" Sayang, Zaira!" panggil papa Sam dan Zaira pun menoleh ke arah papa Sam.


" I.. iya pah!" ucap Zaira sedikit gugup.


" Kamu jangan merasa terbebani ya sayang dalam menjalankan kehamilan kamu ini, papa sangat berterima kasih kepada kamu sayang karena sudah mau mengandung cucu papa di usia kamu yang masih terbilang muda. papa sangat bangga sama kamu sayang, dan jangan pernah ragu dengan papa jika kamu merasakan tidak nyaman atau membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya kepada papa, dengan sangat senang hati apapun akan papa lakukan untuk kamu dan juga cucu papa" lanjut cuap-cuap papa Sam kepada Zaira.


" Iya pa" ucap bumil yang kini sudah banjir dengan air mata karena ucapan papa Sam mengingatkan Zaira akan sosok ayahnya.


Azka yang melihat Zaira menangis langsung menariknya ke dalam pelukannya.


" Sudah sayang jangan menangis!" pinta Azka


" Za anak papa, kenapa menangis apa ada kata-kata papa yang salah dan sudah membuat kamu menangis nak?" tanya papa Sam yang ikut sedikit cemas dan Zaira menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


" Kamu kenapa sayang?" tanya bunda Aryani yang sudah duduk menghampiri Zaira.


Zaira melepaskan pelukan Azka dan langsung memeluk sang bunda.


" Za tidak kenapa-napa bund, Za hanya teringat ayah, melihat Za yang tengah hamil seperti ini ayah pasti sangat bahagia ya bunda?" ucap Zaira bercerita kepada Bunda Aryani.


" Iya sayang, kamu benar ayah kamu pasti sangat senang melihat kamu kini tengah hamil tapi kamu jangan terus memikirkan hal tersebut jika hanya akan membuatmu menjadi sedih sayang!" ucap bunda Aryani sambil memeluk erat Putri kesayangannya itu


" Iya Za sayang, masih ada papa yang sekarang sudah menjadi ayah kamu juga, kamu boleh bercerita atau meminta apapun kepada papa, buat papa kamu dan Meli itu sama-sama putri papa yang sangat papa sayangi. jangan pernah sungkan kepada papa yang juga ayah kamu ya anakku sayang" ucap papa Sam ikut menimpali ucapan bunda Aryani.


" Terima kasih ya pa!" ucap Zaira yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari sang papa mertua rasa ayah kandung.


" Iya !" ucap papa Sam


" Papa sayang sama kalian semua!" ucap papa Sam.


Setelah pembicaraan yang serius kini semuanya tengah asik dengan obrolan-obrolan ringan di gazebo.


Mario, Azka dan papa Sam sibuk dengan obrolan yang tidak jauh dengan urusan kantor, yang awalnya obrolan santai kini menjadi sedikit serius ketika papa Sam sudah membicarakan soal urusan kantor sementara para wanita sibuk dengan bunda Aryani dan mama Maria yang memberikan wejangan kepada ibu hamil dan memberi nasihat yang baik untuk ibu hamil agar tidak mudah stres selain membicarakan hal-hal seputar kehamilan mama Maria dan bunda Aryani juga membahas tentang hubungan suami istri dan kewajiban isteri kepada suami.


Cerita yang awalnya memberikan wejangan kepada ibu hamil sekarang malah giliran Lia yang mendapat godaan dan ledekan dari kakak ipar dan juga mama Maria dan bunda Aryani.


" Sudah deh ah jangan bahas soal gituan, Mel ini masih polos loh ya, masih anak sekolah gak baik bicara soal gituan!" ucap Lia yang sok-sok polos padahal mah siap di bikin polos.


" Ah sok polos loe padahal mah pingin tuh cepat-cepat dibuat polos sama Mario!" ledek Zaira


" Za gak baik ya bicara hal-hal yang seperti itu kepada anak yang masih berstatus pelajar!" ucap Lia sambil tertawa.


" Iya pelajar yang siap dihajar ya Mel!" sahut bunda Aryani.


" Ah bunda kalau ngomong suka benar!" ucap Lia sambil tertawa.


" Siap berapa ronde nih Mel?" goda Zaira lagi.


" Emang ada ronde-ronde nya ya Za?" tanya Lia kali ini benar-benar nampak begitu polos membuat Zaira, mama dan bunda Aryani tertawa.


"Nanti juga loe tahu sendiri!" sahut Za membuat Lia langsung menoleh ke arah Mario dan ternyata Mario pun tengah menoleh ke arahnya dan pada akhirnya kedua mata mereka saling bertemu dan mengunci.


"Duh sudah seperti baru pacaran aja" batin Lia merasa ada desiran rasa yang aneh pada dirinya saat Za dan kedua mama membahas tentang hubungan suami dan isteri.

__ADS_1


__ADS_2