Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Cemburu


__ADS_3

Pagi yang cerah namun tidak secerah kondisi Lia saat ini. pasalnya saat hendak berangkat ke sekolah dipertengahan jalan mobilnya tiba-tiba saja mogok.


" Sial banget sih gue hari ini!" kesal Lia melihat kondisi ban mobilnya yang pecah.


" Jauh dari bengkel lagi, apa gue telpon kak Azka aja kali ya?" gumam Lia bertanya pada dirinya sendiri.


Baru saja mau menghubungi nomor kakaknya tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di hadapannya. Lia yang tahu siapa si pemilik motor menghentikan jarinya yang hendak menekan nomor sang kakak.


Mario tidak banyak bertanya karena dengan jelas matanya dapat melihat ke arah ban mobil Lia yang kempes.


" Naik kalau loe gak mau telat!" titah Mario datar seraya menyodorkan helm kepada Lia.


Lia menatap helm yang disodorkan oleh Mario


" Lama banget sih, buruan mau naik apa gak? kalau gak gue tinggal!" ucap Mario kesal karena Lia hanya diam saja.


Karena Lia sama sekali gak bergeming akhirnya Mario menghidupkan motornya kembali dan pergi meninggalkan Lia.


Setelah Mario pergi meninggalkannya Lia mendengus kesal dan mengumpat sendiri.


" Dasar jahat, pergi gitu aja. gak ikhlas banget sih ngajaknya. dasar nyebelin!" umpat Lia yang menendang kakinya ke udara.


" Dasar nyebelin!" teriaknya lagi tanpa sadar kalau orang yang sedang di umpatnya tengah berada di belakangnya. Mario memang sempat pergi tapi mana tega dia meninggalkan Lia begitu saja di pinggir jalan apalagi jam masuk sekolah sudah mepet.


" Udah ngoceh-ngocehnya, Kalau sudah buruan naik kalau belum gue tinggal beneran?" ucap Mario yang langsung membuat Lia menegang karena saking terkejutnya dengan suara yang amat sangat dikenalnya.


Lia memutar tubuhnya berbalik badan dan betapa malunya Lia karena orang yang baru saja di umpatnya sedang menatapnya tajam dengan melipat tangannya di dada. Lia yakin Mario mendengar semua ocehannya.


" Mario!" ucapnya lirih dan tentu saja wajah Lia sudah merah bak kepiting rebus malunya bukan main Lia kali ini.


" Kayak emang perlu gue tinggal beneran deh ini anak dari tadi diam aja!" ketus Mario.


" Iya gue ikut, sabar Napa sih. bentar gue ambil tas gue dulu!" sahut Lia jutek.


" Buruan keburu telat!" tegas Mario


" Iya!" Lia mendengus kesal. Lia mengambil tasnya di dalam mobil setelah itu ia menghampiri Mario.


" Ni pake!" Mario menyodorkan helm ke Lia.


"Lama!" ucap Mario saat Lia hendak mengambil helm nya Mario malah langsung memasangkan helm ke kepala Lia.


Lia tercengang dengan perlakuan Mario terhadapnya, ini seperti sepasang kekasih yang sedang memakaikan helm ke pacarnya. jantung Lia berdegup kencang ini terlalu manis Mario hampir saja Lia pingsan.


" Woyyy!" panggil Mario karena Lia belum juga naik ke atas motornya.


" Eh iya, sorry!" ucap Lia yang langsung naik ke atas motor Mario.


" Io!" panggil Lia membuat Mario menaikan alisnya.


" Loe panggil gue apa barusan?" tanya Mario mengira salah pendengaran.


" Apa?" tanya Lia balik


" Gak jadi!" Mario langsung menghidupkan kembali mesin motornya dan baru saja ia menarik gas motornya Lia kembali memanggilnya.


" Io!" panggil Lia dan Mario mematikan kembali mesin motornya.


" Apaan lagi?" tanya Mario dengan nada jutek


" Io, mobil gue gimana?" tanya Lia hati-hati.


Mario menghela napas " Loe tenang aja nanti orang gue yang akan bawa mobil loe ke bengkel" sahut Mario dan langsung tancap gas.


Lia refleks langsung berpegang pada Mario dan sontak saja hal itu membuat Mario tersenyum dibalik helmnya.


Motor melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, tentu saja hal itu membuat seorang Lia merasa sedikit ngeri. " Io loe bawa motornya jangan ngebut-ngebut dong, gue belum mau mati muda. gue belum ngerasain yang namanya nikah!" Lia memukul bahu Mario dari belakang.


" Loe tenang aja Napa si, kita itu hampir telat Kalau loe gak mau kenapa-napa pegangan yang kuat!" sentak Mario yang langsung menarik tangan Lia melingkar di perutnya.


Lia melotot tapi mau bagaimana lagi jika tidak begitu bisa saja dia terpental ke aspal. mau tidak mau Lia hanya pasrah.


Benar saja hampir mereka berdua telat jika Mario tidak membawa motonya dengan kecepatan tinggi.


Dengan santainya Mario memarkirkan motornya. kedatangan Mario yang membonceng seorang siswi tentu saja menjadi pusat perhatian terutama kaum hawa.


Lia merasa bingung ketika hendak melepas helm yang dikenakannya. " Loe mau pakai itu terus sampai ke dalam kelas ?" tanya Mario karena melihat Lia yang masih tak bergeming.


" Io, apa gak kenapa-napa kalau loe bareng gue?" tanya Lia membuat Mario menaikan satu alisnya.


" Maksud loe?" tanya balik Mario


" Ya loe liat aja tuh para fans loe pada melotot gitu, pasti mereka penasaran kan loe bareng siapa?" sahut Lia yang menunjuk kesekeliling siswa dan siswi yang tengah menatap ke arah mereka.

__ADS_1


" Gak usah loe pikirin mereka, apa loe mau disini terus tuh udah mau bel" Mario meletakkan helm yang dipakainya di atas motor lalu turun dari motor.


" Udah gak usah loe peduliin mereka, atau jangan-jangan loe yang malu karena bareng sama gue?" cecar Mario membuat Lia melotot.


" Issh, bukan itu io, gue cuma_" belum selesai bicara Mario sudah mendelikan matanya.


" Tunggu dulu, loe dari tadi gue dengar manggil gue apa, Io?" tanya Mario dan Lia hanya cengengesan di balik helm yang dikenakannya.


" Iya, kenapa emangnya? gue males manggil Mario kepanjangan, kalau manggil Rio ahh.. males gue itu panggilan sayang loe kan sama si kunbi?" sahut Lia.


" Kunbi? maksud loe Putri?"


" Iya, siapa lagi" Lia mencibikkan bibirnya


" Terus maksud loe panggil gue Io itu apa?" tanya Mario menaik turunkan alisnya.


Lia nampak gugup dia sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin memanggil Mario dengan panggilan Io, dan merasa tidak suka kalau memanggilnya dengan nama Rio.


" Woyyy... !" Mario mengagetkan Lia.


" Ish, ngagetin aja sih!" kesal Lia memukul lengan Mario


" Lagian loe malah bengong, udah buka helm nya udah sepi tuh!" ucap Mario menunjuk ke arah gedung sekolah.


Lia langsung membuka helmnya dan memberikannya kepada Mario. " Udah sana masuk kelas!" suruh Mario


" Iya, loe juga dan thanks ya atas tumpangannya!"


" Hem!" singkat Mario, Lia mengerucutkan bibirnya kesal dengan jawaban singkat Mario tapi sedetik kemudian Mario tersenyum karena melihat bibir Lia yang terlihat menggemaskan menurutnya.


" Gemesin!" batin Mario


Melihat Mario tersenyum, Lia seperti terhipnotis langkahnya terhenti dan jantungnya seakan lari maraton pagi ini.


" Woyyy, Lili jangan bengong gitu loe, udah sana masuk!" teriak Mario dan sontak Lia pun terkesiap dari lamunannya.


" i..iya!" Lia langsung balik badan dan dengan segera ia lari ke kelasnya.


Untung di kelas Lia jam pelajaran pertama gurunya belum datang, sehingga Lia dengan tenang bisa masuk ke kelasnya.


Lia dengan napas yang ngos-ngosan mendudukkan dirinya di bangkunya sebelah Zaira.


" Loe ada gerangan apa Li tumben banget datang kesiangan, napas juga sampai ngos-ngosan gitu?" tanya Zaira merasa aneh dengan tingkah adik iparnya.


" Nih minum dulu, loe lari berapa meter sih sampai segitunya?" tanya Mita seraya menyodorkan minum pada Lia.


" Thanks ya!" Lia meraih minumannya dan meneguknya sampai habis


" Loe haus apa rakus?" ledek Mona.


" Dua duanya" sahut Lia terkekeh.


" Woww gaes, ada gerangan apa tuh, gue gak salah lihat kan ya?" ucap Indah antusias saat netranya mengarah ke lapangan dan melihat seorang Mario tengah berlari mengelilingi lapangan.


Mendengar ucapan Indah sontak saja membuat semua murid melihat keluar jendela. " Itukan Mario, sejak kapan dia mau dihukum kayak gitu? biasanya juga milih ribut dia sama si ketos!" ucap salah satu siswi yang juga sedikit ngefans sama Mario.


Mona dan Mia yang mendengar nama Mario di sebut-sebut ikut penasaran, mereka pun langsung melihat ke jendela. " Ini benar-benar sesuatu yang luar biasa, seorang Mario tumben banget mau di hukum" cerocos Mona.


Zaira dan Mita ternyata ikut penasaran juga mereka hanya melihatnya sekilas lalu kembali duduk. " Bagus dong kalau Mario sekarang sudah bisa menyadari kesalahannya dan mau menerima konsekwensinya" ucap Zaira.


" Iya betul Za, gue sependapat tuh. ya semoga aja tuh anak gak bikin onar lagi di sekolah. iya gak Li?" tanya Mita yang melihat Lia nampak melamun.


" Loe kenapa sih Li, bengong gitu?" tanya Zaira menepuk bahu Lia


" Iya kenapa?" tanya Lia dengan raut wajah bingung.


" Deh dia beneran ngelamun ini sih, kenapa sih loe Li?" tanya Zaira penasaran.


" Gue kenapa, gue gak kenapa-napa kok!" elak Lia. Padahal saat ini pikirannya justru tertuju pada Mario.


" Tuh anak kenapa bisa dihukum sih, kan tadi gue sama dia barengan?" batin Zaira


" Loe kenapa sih Li dari tadi bengong aja, ada yang loe pikirin?" tanya Zaira sedikit khawatir.


" Gak ada Za, gue baik-baik aja kok" jawab Lia santai.


" Yakin?" selidik Zaira


" Iya, udah ah gue mau ke toilet dulu!" sahut Lia lalu beranjak dari duduknya dan kebetulan guru pelajaran pertama hari ini kosong, guru mereka hanya memberikan tugas materi.


" Li loe mau kemana?" tanya Mona


" Toilet"

__ADS_1


" Ikut" teriak Mona dan Mia


" Hayuk!" ajak Lia.


Mereka keluar kelas menuju toilet dan saat melewati lapangan tanpa sengaja mata Lia dan Mario bertemu pandang.


Deg


Deg


Deg


Degup jantung Lia semakin kencang apalagi saat lari mengelilingi lapangan mata Mario tidak lepas dari Lia yang tengah berjalan di pinggir lapangan bersama Mona dan Mia.


" Mon loe ngerasa gak kalau dari tadi pandangannya Mario ke arah kita terus?" tanya Mia pada Mona.


" Jangan ke ge'eran dah loe Mi!" sentak Mona


" Deh si bege loe gak nyadar apa dari tadi dia itu ngeliatin ke arah sini terus!" tutur Mia


" Emmmm.. kalau iya berarti dia ngeliatin gue dong?" ucap Mona dengan percaya dirinya.


" Masa sih, bukan gue gitu?" ucap Mia dan Mona memutar bolanya malas.


" Atau jangan-jangan dia ngeliatin loe Li!" ucap Mia menebak dan Lia yang mendengar ucapan Mia pun langsung tersedak Salivanya sendiri.


" Uhukk... Uhukk..." Lia tersedak membuat Mia merasa bersalah. " Sorry Li gue ngagetin loe ya?" tanya Mia yang merasa bersalah.


" Gak apa-apa, uhukk... uhukk!" Lia masih terbatuk-batuk.


Tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan minuman ke pada Lia. " Nih minum, biar batuk loe cepat hilang!" ucap seseorang yang suaranya tidak asing di dengar oleh Lia dan teman-temannya.


" Loe!" tunjuk Mona terkejut dengan sosok seorang siswa yang belakangan ini memang tengah mencari kesempatan untuk mendekati Lia.


" Uhukk..!" Lia masih terbatuk walaupun sudah sedikit lebih jarang.


" Udah ini minum, tenang aja ini air biasa gak gue kasih racun kok" ucapnya membuat Lia dan kedua sahabatnya memutar bola matanya jengah.


" Yakin tuh air gak ada embel-embelnya?" curiga Mona.


" Ya ngapain juga gue mau mencelakai Meliani, kalau pun gue kasih racun yang ada juga gue kasih racunnya racun cinta!" ucap siswa tersebut yang tidak lain adalah Rangga, dan saat Lia dengan santai menerima air minum tersebut tanpa mereka sadari ada seseorang yang tengah mengepalkan tangannya kuat dan langsung pergi begitu saja dengan raut wajah yang sulit diartikan.


" Makasih!" ucap Lia setelah menerima minuman yang diberikan oleh Rangga.


" Sama-sama, yaudah gue balik kelas dulu ya!" ucap Rangga dan Lia beserta dua sahabatnya kembali melanjutkan perjalanannya menuju toilet.


" Cie.. cie... yang habis dikasih suntikan cinta, langsung seger nih?" goda Mona saat berada di toilet


" Loe ngomong apa sih Mon" Lia hanya geleng-geleng kepala menimpali ucapan Mona.


" Yaudah sih Li, tembak aja langsung dari pada dia balik lagi tuh sama si kunbi, mendingan loe aja yang nembak dia." ucap Mia dengan santai


" Loe berdua ngomong apa sih, kalian lupa apa kalau dia itu pacarnya si kunbi, dan gue juga gak mau mencari masalah. malas gue berurusan dengan si kunbi, apalagi ribut gara-gara cowok." ucap Lia


Setelah usai berurusan dengan toiletnya, Lia dan kedua sahabatnya berjalan menuju kelasnya namun dipertengahan jalan tiba-tiba Lia menghilang tanpa sepengetahuan Mona dan Mia. mereka masih belum menyadari jika saat ini Lia sudah tidak ada bersama mereka.


Lia terkejut karena saat berjalan di belakang Mona dan Mia tiba-tiba saja tangannya di tarik paksa oleh seseorang.


" Loe apa-apaan sih, lepas!" sentak Lia memutar bola matanya jengah.


" Sorry!" lirih siswa yang tiba-tiba menarik Lia dengan kasar.


" Loe kenapa sih?" kesal Lia.


" Gue... gue juga gak tau kenapa tapi gue gak suka aja ngeliat loe bersama si pecundang itu!" sahut Mario yang merupakan siswa yang sudah menarik Lia dengan paksa.


" Kenapa memangnya, loe cemburu?" tanya Lia penuh selidik.


" Cemburu? siapa yang cemburu, loe jangan terlalu percaya diri!" sahut Mario sedikit meremehkan.


" Ya udah kalau gitu gue bebas dong dekat sama siapa aja!" Lia melipat kedua tangannya di dada.


" Kalau berani coba aja, gue akan patahin tangannya!" ucap Mario tegas membuat Lia mengerutkan keningnya


" Udah ah gue mau balik kelas" ucap Lia yang merasa jengah berada di dekat Mario


" Pulang gue tunggu, awas saja kalau loe bareng sama tuh anak!" ancam Mario membuat Lia semakin kesal dengan sikap Mario yang seenaknya.


Sementara di dalam kelas, Mita dan Zaira nampak bingung karena tidak melihat keberadaan Lia diantara Mona dan Mia.


" Mana Lia?" tanya Zaira, membuat Mona dan Mia terkesiap


" Nah tuh!" tunjuk Mita saat melihat Lia yang baru saja datang

__ADS_1


__ADS_2