
Khanza bersikap cuek dan dingin saat memasuki apartemen Aldy rasanya sakit itulah yang dia rasakan setiap kali mengingat sang suami yang sedikitpun tidak ada penolakan saat tangan seorang wanita yang bahkan bukan muhrimnya menyentuh keningnya walaupun itu dengan saputangan.
" Sayang, kok cemberut gitu sih?" Aldy mengejar langkah Khanza yang berjalan cepat
Khanza tidak peduli dengan panggilan Aldy ia langsung masuk ke dalam apartemen dan menuju kamar yang satunya.
Aldy menghela napasnya berat lalu ikut masuk ke dalam apartemennya namun saat masuk ia tidak menemukan keberadaan sang isteri dikamarnya. Aldy mengira Khanza berada di dalam kamar mandi tapi setelah hampir 15 menit berlalu Khanza belum juga keluar bahkan suara gemericik air pun tidak terdengar.
Aldy beranjak dari duduknya dan mendekati pintu kamar mandi, perlahan ia membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci, Aldy tercengang menatap kamar mandi yang ternyata kosong tiada penghuni, ia pun meruntuki kebodohannya sendiri.
" Ais.. bodohnya aku menunggu sedari tadi ternyata kosong" umpatnya
Aldy memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu baru menghampiri isterinya yang sudah ia pastikan berada di kamar satunya.
Setelah selesai mandi Khanza memilih untuk beristirahat karena merasa sangat lelah gadis itu pun tertidur pulas.
Aldy yang juga sudah selesai dengan ritual mandinya berjalan keluar kamar mencari keberadaan sang isteri.
Dengan perlahan Aldy membuka pintu kamar yang Khanza tempati namun lagi-lagi ia mendapatkan kekecewaan karena ternyata Khanza mengunci kamar tersebut.
" Sayang, buka pintunya dong. ayolah jangan marah gitu aku tuh sama Bu Siska enggak ada hubungan apa-apa kamu salah paham sayang!" ucap Aldy yang berbicara di balik pintu kamar Khanza.
" Sayang, Khanza!" Aldy kembali memanggil Khanza dan berkali-kali mengetuk pintu kamar tersebut.
Entah karena saking lelahnya atau apa Khanza tidak terusik sama sekali dengan suara ketukan pintu. bahkan ia semakin erat memeluk gulingnya.
Hari sudah petang tapi Khanza belum juga keluar dari kamar. Aldy yang merasa cemas takut Khanza sakit atau kenapa-napa mengeruk kembali kamar tersebut.
" Sayang ayo dong keluar ini sudah petang, kamu belum makan dari tadi siang aku sudah membelikan makan malam untuk kita!" teriak Aldy seraya mengetuk pintu
Khanza yang baru selesai mengerjakan tiga rokaat, melipat sajadah dan mukenanya setelah itu berjalan ke arah pintu yang sedari berisik karena ketukan Aldy.
Ceklekk
Khanza membuka pintu kamarnya dan tanpa banyak basa-basi Aldy langsung menarik tangan Khanza membawanya ke dalam pelukannya.
" Bapak apa-apaan sih, lepas ah!" Khanza memberontak namun Aldy malah semakin mempererat pelukannya.
" Biarkan seperti ini dulu sayang!" pinta Aldy dengan suara yang sangat lembut
Khanza tidak lagi protes dan memberontak ia diam dan membiarkan guru sekaligus suaminya ini memeluknya.
" Jangan marah lagi ya sayang, kamu cuma salah paham!" ucap Aldy setelah mengurai pelukannya
Khanza tidak menggubrisnya menyingkirkan tangan Aldy lalu pergi begitu saja menuju meja makan.
Marah ya marah tapi perut tetap harus diisi, marah juga kan butuh tenaga.
Khanza dengan santai duduk dan meraih satu bungkusan yang berada di atas meja, dia membuka bungkusan yang ternyata berisi nasi goreng seafood, tanpa banyak bicara Khanza langsung memakannya, nasi goreng seafood yang baru saja Aldy beli tanpa menunggunya terlebih dahulu.
__ADS_1
Aldy duduk di hadapan Khanza meraih bungkusan satunya dan membukanya. keduanya menikmati makan malam bersama dengan hening.
Setelah selesai makan Khanza beranjak dari duduknya meraih piring dan gelas kotor lalu mencucinya, membuang bungkusan bekas nasi goreng tersebut.
Aldy yang masih setia duduk di meja makan tidak berhenti memperhatikan Khanza yang sedang mencuci piring. karena merasa gemas sendiri Aldy lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Khanza
Khanza terperanjat kaget saat tangan kekar melingkar di pinggangnya.
" Jangan marah lagi ya sayang, maaf kalau aku sudah menyakiti hati kamu tapi sungguh itu tidak seperti yang kamu bayangkan" Aldy menjatuhkan kepalanya di bahu Khanza
" Jangan seperti ini pak rasanya kurang nyaman" Khanza ingin melepaskan tangan Aldy dari pinggangnya namun sulit.
Aldy dengan gerakan cepat memutar tubuh Khanza hingga membuat keduanya saling berhadapan
Mata mereka saling bertemu dan bersirobok ada desiran hebat yang mengganggu ketenangan hati dan pikiran Khanza. Dengan cepat Khanza membuang pandangannya dan menunduk.
Aldy meraih dagu Khanza hingga keduanya kembali saling menatap satu sama lain.
" Dengarkan aku baik-baik, aku sedikitpun tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap bu Siska, kamu harus percaya itu. Didalam hatiku saat ini hanya ada Khanza Az-Zahra yang sudah memenuhi ruang didalamnya sehingga tidak ada celah untuk wanita manapun yang bisa masuk ke dalamnya." ucap Aldy membuat Khanza ingin melayang saat itu juga.
" Saat itu tangan ku kotor dan tiba-tiba saja dia datang mengelap keringat di kening ku.- aku sungguh tidak tahu kalau ternyata kamu juga ada di situ."
" Ingin mengejar takut kamu semakin marah dan yang ada hanya nanti mereka malah tahu hubungan kita, apa kamu mau hal itu terjadi?" Khanza menggeleng
" ya udah kalau gitu udahan ya ngambeknya, aku tuh gak kuat di diamkan seperti itu sama kamu, sakit rasanya tuh yang" Aldy berbicara sedikit manja membuat Khanza geli sendiri mendengarnya
" Kok pak lagi sih yang?"
" Ya kan lagi kesal"
" Udah dong kesalnya, jangan lama-lama"
" Biarin, nanti jadi kebiasaan diberi perhatian sama cewek gak bisa nolak atau memang suka digodain?" selidik Khanza
" Ya enggak dong sayang, aku lebih suka kalau isteriku yang godain aku!" sahut Aldy dengan senyum menggoda
" Masa sih tapi kok tadi ada yang nikmati gitu ya ada yang mengelapi keringatnya dikasih minum lagi, perhatian benar!" Aldy tergelak mendengarnya membuat Khanza malah menyipitkan matanya.
"Kok malah ketawa sih, senang ya di perhatiin cewek cantik!" ucap Khanza dengan wajah cemberut
" Kamu tuh lucu dan gemesin tau gak sih yang kalau lagi cemburu katak gini" Aldy mencubit hidung Khanza gemas
" Cemburu? ish .. siapa yang cemburu coba, jangan ge'er deh!" elak Khanza
" Ya cemburu juga enggak apa-apa kali yang, aku malah senang karena ternyata kamu cinta sama aku" ucap Aldy dengan percaya diri
Kali ini gantian Khanza yang tertawa. " Ternyata pak Gutami ini percaya dirinya tinggi ya?"
"Pak Gutami siapa tuh?" Aldy menautkan kedua alisnya
__ADS_1
" Pak Gutami ( Guru Tapi Suami)" jawab Khanza kembali tergelak
" Nama macam apa itu?"
" Itu nama panggilan bapak dari Miska biar orang gak tau kalau kami lagi bicarain bapak"
" Oh ternyata isteri kecilku ini sering ya membicarakan suami pada orang lain!" Aldy mengacak-acak rambut Khanza gemas
" Ya bukan gitu, kami bicara kalau bapak lagi ngeselin kayak tadi!" Khanza langsung berlalu dari hadapan Aldy
" Loh kok masih bahas yang tadi sih yang?" Aldy mengekori Khanza yang berjalan masuk ke dalam kamarnya
" Bapak ngapain sih ngikutin saya?" kesal Khanza karena Aldy sudah duduk di tepi tempat tidur
" Ayo yang jangan ngambek lagi dong, kembali ke kamar kita yuk!" bujuk Aldy
" Tidak mau, lebih nyaman disini!" jawabnya asal
" Yaudah aku juga tidur di sini saja!" Aldy langsung merangkak naik ke tempat tidur
" Mas ngapain sih kok malah naik sih!" kesal Khanza
" Sudah yang jangan banyak ngoceh, sini tidur!" Aldy menarik tangan Khanza.
" Mas sana ih!' Khanza mendorong dada bidang Aldy yang hendak memeluknya
" Yang dosa loh ngusir suami!"
Jlepp
Khanza terdiam lalu menundukkan kepalanya ada benarnya ucapan Aldy tapi sungguh dirinya belum siap menjadi isteri sesungguhnya untuk Aldy
" Maaf, aku cuma bercanda!" ucap Aldy yang tahu apa yang tengah dipikirkan isterinya
" Aku yang seharusnya minta maaf mas" ucap Khanza sendu
" Sudah jangan pikirkan soal itu, mas tidak akan memaksa dan kita jalani rumah tangga kita perlahan saja sampai rasa siap itu muncul dengan sendirinya tidak ada unsur keterpaksaan" Aldy membelai pucuk kepala Khanza dengan lembut lalu meninggalkan jejak sayang di keningnya
" Terima kasih ya mas!" Khanza tersenyum lega
" Sama-sama sayang!" Aldy merengkuh tubuh mungil Khanza kedalam pelukannya
" Tapi kalau sekedar peluk cium boleh ya?" Khanza langsung mengurai pelukan Aldy dan menatap tajam dan sedetik kemudian Khanza tersenyum lalu mengangguk malu-malu.
" Yess!" Aldy bersorak kegirangan sampai Khanza dibuat tergelak melihatnya.
Mereka akhirnya melewati malam dengan saling berbagi cerita satu sama lain, mencoba saling terbuka dan memberikan kepercayaan pada diri masing-masing.
Sampai malam semakin larut dan keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan.
__ADS_1