Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Bab 13


__ADS_3

Ivy berjalan menuju taman belakang sekolah. Rasanya cukup deg-degan karena ini baru kali pertama Ivy mendapatkan surat seperti itu. Siapa pengirimnya juga Ivy tidak tahu, apa mungkin ini jebakan atau prank doang?. Ivy buru-buru menggeleng cepat, dia tidak boleh menuduh orang dan berpikir negatif sebelum tahu bagaimana faktanya.


Sesampainya di sana Ivy melihat seorang laki-laki dengan tubuh proporsional sedang duduk di salah satu bangu. Mengetahui Ivy sudah datang pria langsung berdiri, matanya mirip sekali dengan mata Ivy, biru yang sangat cantik. Pria itu terlihat membawa satu buket bunga di tangannya.


Pria itu tersenyum manis “terimakasih karena kamu datang datang, aku kira kamu ga bakal datang tadi. Oh iya, namaku Reza dari kelas 12 IPA 1. Maaf banget sebelumnya karena sudah menyita waktumu”


“iya? Ada keperluan apa ya?” tanya Ivy ramah, Reza terlihat gugup. Dengan langkah perlahan Reza mendekati Ivy dan langsung menyodorkan buket bunga yang ia bawa kepada Ivy.


“aku hanya akan menyatakan perasaanku padamu, aku menyukaimu Ivy. Apa kamu mau jadi pacarku?”


Ivy seketika mematung sejenak. “apa pernyataan cinta memang seperti ini?” batinnya heran. Ivy spontan melihat ke arah jendela gedung karena terdengar banyak sekali tepuk tangan dan siulan. Pria itu pasti sudah menyiapkan semuanya. Ivy melihat Reza sekali lagi, matanya sangat indah.


“aku tidak memaksamu untuk menerimaku Ivy, taka pa jawablah sesuai isi hati dan kepalamu”


“sudah terima aja, Reza itu ketua OSIS kau tahu hahahaha”


“apa lagi nih yang di tunggu, cepat terima”


Teriak para siswa dan siswi dari jendela kelas mereka. Bahkan Ivy baru tahu kalau Reza adalah ketua OSIS di sekolahnya, dan tentu saja dia pasti terkenal di sekolah. Ivy menghembuskan napasnya dan menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum lembut.


“maaf karena aku tidak bisa menerimamu, aku akan mengambil bunga nya. Terimakasih”


“akhh, lega rasannya, terimakasih Ivy. Rasanya lega sekali, baiklah aku pergi dulu ya sebentar lagi ada kelas. Bay bay” Reza melambaikan tangannya, begitu pula Ivy. Terdengar keluhan penonton yang kecewa dari atas sana. Bagaimana Ivy bisa menerima pria lain di saat posisi sebentar lagi dia akan segera menikah. Ivy menghirup aroma bunga itu dalam-dalam “sangat harum, Zena pasti menyukainya” Ivy merindukan Zena karena beberapa hari dia tidak bertemu dengan sahabat baiknya itu.


Karena terlalu lama berdiam diri di sana kepalanya menjadi sedikit pusing. Ia lupa kalau dia belum meminum obatnya karena tertinggal di dalam kelas. Ivy segera pergi ke kelasnya untuk mengambil obat sambil membawa buket bunga yang cukup besar itu. Tentu saja dia otomatis menjadi pusat perhatian di sepanjang koridor karena membawa buket bunga itu. Tak sengaja Ivy berpapasan dengan Juan dan guru baru itu. Lagi-lagi seisi koridor membicarakan Juan dan guru itu, membicarakan kedekatan mereka. Ivy sedikit melirik Juan yang ternyata tengah meliriknya sinis, Ivy langsung kembali fokus ke jalannya dan buru-buru memasuki kelas.


.


.

__ADS_1


.


Pelajaran masih berlanjut sampai sore hari. Seisi kelas atau hampir seluruh siswa terlihat kehilangan lebih dari 75% tenaga dan nyawa mereka. Walaupun hanya duduk, sekolah itu tetap saja melelahkan. Ivy juga masih menunggu Nina agar pulang terlebih dahulu karena setelah ini dia harus pulang dengan Juan untuk membeli sesuatu, katanya tadi malam.


“aku pulang dulu Vy, jaga diri baik-baik, cepat beli ponsel agar jika ada apa-apa aku bisa langsung membantumu” ucap Nina sambil berjalan pergi.


“aku akan segera membeli nya, hati-hati” setelah Nina sudah tidak terlihat lagi, Ivy segera menyambar tasnya dan buket bunga itu lalu menuju ruangan Juan.


Tok tok tok


“masuk!” ucap suara dari dalam. Ivy membuka pintu dan masuk, melihat Juan yang terlihat sibuk dengan berkas dan laptop di meja kerja nya. “aku tidak bisa mengantarmu pulang, bisa pulang sendiri kan? setelah ini juga masih ada rapat” ucapnya tanya mengalihkan pandangannya dari laptop dan berkas. “benar-benar sibuk” batin Ivy.


“iya saya bisa pulang sendiri kok pak, maaf mengganggu, permisi”


“permisi! (menyenggol Ivy dengan sengaja) ini berkas yang pak Juan minta. Oh ah, maaf saya tidak melihat anda tadi, dan juga, kenapa ada siswa yang masuk ke mari di waktu selesai jam sekolah? Anda tidak sedang menggoda guru kan, pake membawa buket bunga sebesar itu”


Ivy tersentak kaget karena bahasa guru itu yang terdengar kasar dan meremehkan. “apa? Menggoda guru?” batin Ivy heran karena sebuah pernyataan di luar pikirannya itu, dan lagi, pakaian guru baru itu terlihat lebih terbuka dari yang tadi. Tapi Ivy hanya mencoba tersenyum dan menyangkalnya dengan halus.


“bagus lah, anak muda tidak sepantasnya berhubungan dengan orang dewasa (guru itu mendekat dan berbisik di telinga Ivy) jangan sekali-sekali menggoda Juan karena saya akan segera menikah pacaran dan menikah dengan Juan”


Entah kenapa rasanya sakit, walaupun Ivy tahu itu hanya sekedar gertakan tak berarti untuknya. Ivy berbalik menatap Juan yang sedari tadi hanya menatapnya tajam. Ivy tersenyum riang “semoga pernikahan anda dan bu guru baru ini lancar pak” ucapnya lalu pergi dan menutup pintu dengan sedikit, hanya sedikit kasar.


Ivy berjalan menuju halte bus dan bergegas ke rumah sakit. Jarak sekolah dengan rumah sakit tempat Zena dirawat memang tidak terlalu memakan banyak waktu dan cepat sampai, namun melelahkan jika harus berjalan kaki.


Ivy memasuki rumah sakit sambil berharap-harap cemas agar sahabatnya baik-baik saja. “dokter Arvin!” mendengar nama nya terpanggil Arvin langsung menoleh dan mendapati Ivy berjalan ke arahnya yang sedang terlihat duduk kelelahan di luar ruangan kaca tempat Zena tertidur dengan berbagai alat medis di tubuhnya.


“apa sesuatu terjadi?”


Arvin menatap Ivy sendu, wajahnya terlihat sangat kelelahan karena tugasnya sebagai dokter.

__ADS_1


“maafkan aku”


Ivy menyentuh kaca dingin itu lembut. Hatinya terasa sangat sakit melihat keadaan Zena yang tidak membaik. “berapa lama?”


“dua hari. Maafkan aku, kondisi nya terus menurun”


Ivy menggeleng cepat “Ivy justru berterima kasih karena dokter sudah berusaha sekuat tenaga pasti ini sangat berat untuk dokter Arvin (Ivy tersenyum lembut) Ivy sangat berterimakasih karena terus memberikan kasih sayang yang tidak bisa Ivy berikan” Ivy memberikan buket bunganya kepada Arvin sebagai tanda terimakasih lalu pergi untuk berganti pakaian.


“hatimu sangat kuat, bukankah ini justru paling berat untukmu” lirih Arvin.


.


.


.


Juan terlihat tengah melamun di ruang kerja nya, dia masih berada di sekolah dengan berkas-berkas kantornya yang sengaja ia bawa. Tapi tetap saja dia tidak bisa fokus ke al apapun karena kata-kata Ivy yang terus terngiang-ngiang di kepala nya. Dan lagi guru baru bernama selena yang terus saja mengikuti dan menempel pada nya. Padahal kemarin dia sudah berjanji untuk pergi bersama Ivy dan ingin memberikan hadian ponsel baru untuk calon istrinya itu.


“ARGGHHH” mengacak-acak rambutnya frustasi. Jika sudah begini bagaimana dia harus menghubungi Ivy. Berkas yang awalnya menumpuk kini terlihat sudah banyak yang berkurang, sebentar lagi dia akan selesai. Apa dia harus minta maaf terlebih dahulu? Tapi Ivy bilang dia juga tidak suka om-om dan lebih suka yang seumuran. Apa dia menerima pernyataan cinta seseorang siang tadi?


Juan berdesis pelan. Entah kenapa dia merasa sangat kesal hari ini. Pikirannya acak-acakan, Juan menyambar kertas itu lagi dan dengan mengerjakannya dengan lebih cepat lalu mencari Ivy.


.


.


.


Karena perutnya cukup lapar akhirnya Ivy memutuskan untuk pergi ke minimarket di dekat rumah sakit untuk membeli beberapa makanan. Arvin terus saja memaksa nya untuk makan, dan akhirnya Ivy berakhir duduk di bangku minimarket sambil menunggu matang mie instan yang dia beli. Matanya teralihkan ketika dia tak sengaja melihat seorang pria yang dia kenali berdiri tak jauh dari sana.

__ADS_1


“kenapa kamu berada di sini?”


__ADS_2