
Azka saat ini tengah menemani sang calon ibu dari buah hatinya yang tengah tertidur setelah cukup lama menempuh perjalanan pulang dari rumah sakit yang tidak jauh dari area perkemahan.
Dengan lembut Azka mengusap pucuk kepala sang istri tercintanya. namun pikirannya tiba-tiba teringat dengan ucapan Zaira yang begitu ambigu menurutnya sewaktu mereka masih berada di rumah sakit.
" Apa sebenarnya Maksud mu sayang, kenapa kamu bilang karena aku tersenyum membuat kamu dan calon bayi kita yang terkena imbasnya, apa semua yang terjadi ada kaitannya dengan ku?" batin Azka menatap lekat wajah sang isteri yang tengah terlelap.
Azka keluar dari kamarnya, ya saat ini dia tengah berada di rumahnya sendiri itupun atas permintaan Zaira sendiri karena Zaira tidak ingin bunda ataupun mamanya mencemaskannya walaupun pada kenyataannya Zaira maupun Azka tidak akan bisa menyembunyikan kejadian yang telah menimpanya dari sang mertua terutama papa Sam.
Dengan langkah cepat Azka menuruni anak tangga ia langsung menuju dapur dan meminta mbok Iyem membuatkan sarapan untuk Zaira karena ia yakin jika Zaira bangun dari tidurnya Zaira pasti akan merasakan lapar .
" Tolong ya mbok masakan Zaira sup ayam dan juga menu lainnya yang bergizi dan sehat terutama untuk membantu perkembangan bayinya agar tetap sehat dan kuat!" ucap Azka kepada mbok Iyem
" Apa non Za sedang hamil den?" tanya mbok Iyem sumringah.
" Iya mbok!" jawab Azka dengan raut wajah bahagianya.
" Selamat ya den, semoga non Za dan kandungannya selalu sehat dan lancar sampai melahirkan" ucap doa mbok Iyem
" Terima kasih ya mbok, yaudah saya tinggal dulu ya mbok, kalau Za bangun dan mencari saya bilang saja saya di ruangan kerja dan jangan biarkan Za memasak ya bi!" ucap Azka panjang lebar memberi pesan kepada mbok Iyem
" Siap den!" sahut mbok Iyem.
Azka pergi ke ruang kerjanya memeriksa beberapa email yang masuk dari Sendy.
Beberapa hari ini Azka memang jarang pergi ke kantor apalagi setelah Zaira hamil ia begitu bersikap posesif dan sangat hati-hati menjaga Zaira tapi sayang saat di acara camping ia malah lalai menjaga istri dan calon bayinya.
Azka memijat keningnya karena rasa penat yang tiba-tiba menerjangnya. pikirannya terus bergerilya ke ucapan sang isteri rasa bersalah begitu menderu hati dan juga pikirannya.
" Mereka harus mendapatkan pelajaran yang setimpal" geram Azka mengepalkan tangannya diatas meja.
Dengan cepat Azka mendial nomor sang asisten.
Azka
" Hallo!"
Sendy
" Iya bos!"
Azka
" Cari tahu tentang Murid SMA Darma Bangsa Putri, Rara dan Angel secepatnya!" titah Azka kepada Sendy
Sendy
" Siap bos!"
Azka tersenyum tatkala netranya menangkap sosok wanita yang sangat dicintainya tengah berdiri di depan pintu.
Azka bangun dari duduknya dan menghampiri Zaira.
" Sudah bangun?" Azka mengelus kepala Zaira dengan lembut. Zaira tersenyum lalu mengangguk.
Zaira mengusap perutnya lalu tersenyum tipis melirik sang suami yang tengah menatapnya.
" Ada apa Hem?" tanya Azka dengan suara lembut
" Lagi kepingin apa Hem?, bilang sama mas!"tanyanya lagi
" pingin makan bakso pedas yang dekat sekolah" ucap Zaira pelan dengan tangan yang bergelayut manja pada Azka
" Makan bakso pedas? jangan yang itu ya sayang. gak baik loh buat kesehatan kamu juga dedek bayinya". tolak Azka secara halus
" Gak mau, pokoknya aku mau makan bakso mang Didin. baksonya enak ditambah pedes ahh rasanya aku sudah gak sabar mau makan baksonya mang Didin." ucap Zaira merajuk
" Sayang" bujuk Azka lagi
" Ya udah kalau gak boleh aku gak mau makan!" Rajuk Zaira melepaskan tangannya dari lengan Azka lalu beranjak pergi dengan wajah cemberut
" Sayang tunggu, jangan ngambek gitu dong sayang!" bujuk Azka mengejar Zaira yang berjalan menaiki anak tangga.
__ADS_1
" Iya... iya.. mas belikan, tapi dengan satu syarat jangan pedas-pedas ya!" Zaira menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Azka dengan mata berbinar.
" Mas gak bohong kan?" Zaira memincingkan matanya
" Buat apa mas bohong, yaudah mas belikan dulu ya. kamu tunggu dikamar istirahat, oke!" u ucap Azka yang sudah berdiri di depan Zaira.
" Gak mau mas, aku tuh maunya makan disana rasanya pasti jauh lebih enak daripada dibawa pulang" pinta Zaira sambil menggeleng membuat Azka menghela napas lalu tersenyum melihat tingkah istri kecilnya yang tengah ngidam bakso itu.
" Kamu yakin Sayang, mau makan disana?" tanya Azka di saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Zaira menoleh ke arah Azka yang tengah fokus mengemudi
" Yakin dong Dedy, aku kan sama mommy mau makan baksonya mang Didin" ucap Zaira sembari mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
" Owh, jadi yang mau makan bakso itu anak Dedy ya bukan mommy nya gitu?" ledek Azka sesekali menoleh ke Zaira dan tangan kirinya mengelus lembut perut Zaira.
" Dua- duanya Dedy' ucap Zaira dan mereka berdua pun tertawa bersama.
" Emmmm, yang!" panggil Zaira ragu-ragu
" Ada apa hem?" tanya Azka menoleh sekilas
" Ap.. apa yang akan terjadi sama Putri dan teman-temannya mas, apa pihak sekolah akan menghukumnya?" tanya Zaira hati-hati takut Azka marah.
" Sayang, jangan pikirkan hal itu ya, mas sudah minta pihak sekolah untuk mengurus masalah mereka tanpa melibatkan kamu terlalu jauh. mas pun akan mendampingi kamu jika pihak sekolah meminta keterangan dari kamu sayang'" sahut Azka mencoba untuk tenang. " Sebenarnya mas juga ingin menanyakan sesuatu sama kamu" ujar Azka lagi
" Apa mas?" tanya Zaira penasaran.
" Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa waktu itu kamu bisa bersama mereka?" tanya Azka menyelidik
" Waktu itu aku hanya ingin buang air kecil tapi aku gak tau dimana letak toiletnya. dan saat melihat lima orang yang tengah duduk di dekat pohon dengan baju dari sekolah Darma Bangsa aku coba untuk bertanya kepada mereka tapi ternyata putri dan kawan-kawannya." ucap Zaira menjelaskan.
" Lalu?" Azka semakin penasaran.
" Mereka membawa aku ke rumah kosong itu dan ternyata selama ini mereka sangat membenciku mas. aku bingung awalnya kenapa mereka sebegitu bencinya sama aku. padahal aku sama sekali tidak pernah mengganggu mereka. sampai akhirnya saat berada di rumah kosong itu mereka mengutarakan semuanya mas. alasan kenapa mereka begitu membenciku" ucap Zaira sendu
Zaira menghela napasnya berat, dan berusaha untuk tersenyum walaupun sebenarnya hatinya masih sangat sedih dan takut bila mengingat niat buruk Rara terhadapnya.
" Putri dia suka sama Mario mas dan sejak kejadian beberapa waktu lalu Putri menyangka aku yang menggoda Mario dan bersuara untuk mendekatinya padahal mas tau sendirikan kejadian yang sebenarnya seperti apa" Zaira menjeda ceritanya sebentar " Kalau Angel dia juga sama halnya dengan Putri dia tidak terima jika kak Irfan dekat denganku mas" ucap Zaira yang langsung disahuti oleh Azka.
" Sama, mas juga gak suka kalau kamu dekat-dekat dengan Irfan si ketos itu" Zaira memutar bola matanya malas menanggapi ucapan suaminya yang cemburu gak jelas itu.
" Ishhh... mas ini. lagi pula bukan aku yang mendekati kak Irfan tapi kak Irfannya sendiri yang selalu datang nemuin aku" Zaira memberengut
" Iya mas percaya" Azka tersenyum dan mengacak-acak rambut Zaira.
" teruskan ceritanya!" ucap Azka seraya fokus pandangannya ke depan.
" Kalau Rara dia_" Zaira menggantung ucapannya.
" Dia suka sama mas Azka dan dia bilang aku ini sudah menggoda mas sampai pura-pura mabuk perjalanan segala, dia sangat membenciku mas, dia menyakitiku dia... dia.. dia bahkan menyuruh kedua teman laki-lakinya un..tuk... untuk melecehkan ku mas" tangis Zaira pun pecah mengingat kejadian beberapa hari lalu membuatnya begitu trauma dan dihantui rasa ketakutan.
Azka yang melihat Zaira nampak sedikit histeris langsung membanting stir mobilnya ke kiri menghentikan laju mobilnya.
Azka membuka seatbeltnya dan mendekati Zaira yang masih menangis. " Sayang... sayang tenangkan diri dulu ya. sudah jangan diteruskan lagi ceritanya!" Azka membawa Zaira kedalam pelukannya. mengusap punggung Zaira dengan lembut mencoba untuk menenangkannya.
Berada di dalam pelukan Azka, Zaira merasa lebih tenang perlahan tangisnya pun berhenti.
" Jangan di ingat lagi ya, kita lanjutkan perjalanannya bagaimana? kita lanjut ke kedai bakso mang Didin oke!" ucap Azka mengalihkan kesedihan Zaira akan traumanya.
Zaira mengangguk pelan dan Azka menghapus sisa air mata yang ada di pipi Zaira setelah itu kembali menyalakan mesin mobilnya dan meluncur ke kedai baksonya mang Didin.
❇️❇️❇️❇️❇️❇️
Lia mengumpat sepanjang jalan menuju ke tempat teman-temannya berkumpul. hari ini semua siswa dan siswi terpaksa harus kembali karena kejadian yang tidak mengenakan terjadi kepada salah satu siswi yang cukup berpengaruh pada sekolah SMA Darma Bangsa.
Kepala sekolah tidak ingin mengambil resiko jadi lebih baik ia membatalkan acara Camping tersebut. pihak sekolah juga sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Rara dan Angel yang menurut penuturan Putri kedua sahabatnya itu telah dibawa paksa oleh tiga orang tidak dikenal dengan berpenampilan seperti preman.
Pihak sekolah sudah menghubungi keluarga Rara dan Angel dan mereka sangat syok saat tahu putri-putri mereka dinyatakan hilang. keluarga Angel maupun Rara tidak terima dan ingin menuntut pihak sekolah yang dinyatakannya lalai.
" Li loe kenapa sih muka ditekuk gitu?" tanya Mona yang merasa aneh dengan Sahabatnya yang satu ini baru datang udah cemberut.
__ADS_1
" Gue gak apa-apa!" jawab Lia cepat
" Yakin loe gak apa-apa?" tanya Mita yang kali ini menaruh kecurigaan yang besar pada tingkat aneh Lia sejak malam dimana Lia keluar sendirian.
" Iya, udah yuk ah naik, pegel lama-lama gue disini!" ucap Lia saat pandangannya mengarah pada sosok laki-laki yang menurutnya sangat menyebalkan.
Gimana tidak, hari ini Lia dibuat kesal setengah mati olehnya. berkali-kali mengatainya gadis bodoh dan juga barbar. Lia tidak terima dan langsung pergi meninggalkannya begitu saja setelah mengembalikan jaket yang dipakainya seharian ini.
Lia langsung masuk ke dalam mobil bus dan tidak lama kemudian disusul oleh Mita dan juga yang lainnya.
mobil bus yang membawa siswa dan siswi SMA Darma Bangsa satu persatu keluar dari area camping diselenggarakan.
Didalam mobil Lia hanya memandang ke arah samping jendela. Mita dan yang lainnya hanya menggeleng melihat Lia yang hanya diam saja.
mereka berpikir saat ini Lia tengah mencemaskan keadaan Zaira. ya itu memang sedikit ada benarnya akan tetapi selain memikirkan keadaan Zaira pikiran dan hati Lia saat ini sedang tidak baik-baik saja pasalnya ketika Zaira sudah berada di dalam bus dan pandangan matanya mengarah keluar jendela betapa sakit rasanya melihat orang yang disukainya tengah bermesraan dengan wanita lain.
Ketika Lia sudah duduk di bangku bus pandangan Lia yang keluar jendela dengan jelas menangkap sosok pria yang sangat dikenalnya. siapa lagi kalau bukan Rangga yang tengah duduk di mobil bus yang ada di sebelah mobil bus yang Lia tumpangi.
Hati Lia begitu bergemuruh hebat rasanya sesak itu tidak dapat ia pungkiri walaupun ia sudah berusaha melepaskan hatinya setelah tahu kenyataan yang sebenarnya kalau Rangga sangat mencintai Putri.
Lia sadar perasaannya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan. Lia tidak ingin menjadi gadis bodoh yang memikirkan seseorang yang sedikit pun tidak pernah memikirkan dirinya. tapi rasa itu kenapa sulit sekali di hilangkan dari hati. "ternyata semua tak semudah membalikkan telapak tangan" batin Lia mencoba menghibur dirinya sendiri.
Karena merasa gerah melihat pemandangan dimana Rangga tengah memeluk Putri yang seperti sedang menangis karena dia hanya sendirian tanpa kedua temannya.
Rupanya Rangga tengah menghibur Putri yang merasa kesepian tanpa keberadaan kedua sahabatnya Rara dan Angel. Awalnya putri selalu berusaha untuk menghindari Rangga tapi karena sikap Mario yang tetap acuh bahkan semakin menjauh darinya mau tidak mau Putri akhirnya bersedia menerima tawaran dari Rangga yang akan menemaninya selama perjalanan pulang pulang. Rangga merasa tidak tega dan kasihan melihat Putri selalu termenung sendirian jadi dia memutuskan untuk menemaninya.
" Gak apa-apakan kalau gue duduk di sini?" tanya Rangga
" Gak apa-apa" sahut putri . sebenarnya putri malas berdekatan dengan Rangga tapi karena dia tahu dari gerak gerik Lia yang terlihat menyukai Rangga maka dengan terpaksa dia memanfaatkan Rangga untuk membuat Lia patah hati.
Lia berkali-kali menghela napasnya berat dan tanpa dia sadari tingkahnya itu tidak lepas dari tatapan seseorang yang tengah duduk di sudut mobil bus yang lain memperhatikan setiap gerak gerik nya.
mata Lia membulat sempurna tatkala netranya bertemu dengan netra laki-laki yang membuat moodnya berantakan seketika.
Lia langsung membuang pandangannya dan berpura-pura tidak melihatnya. Mita yang duduk di samping Lia dan tidak henti memperhatikan gelagat aneh Sahabatnya itu langsung menautkan alisnya. " Li loe kenapa?" tanya Mita dan sontak saja Lia terperanjat dan jadi salah tingkah.
" Gu.. gue gak apa-apa, emang gue kenapa!" sahut Lia dengan gelagapan.
" Loe aneh banget tau gak dari tadi" ujar Mita.
" Aneh gimana, loe aja kali ah yang terlalu curigaan" sahut Lia mencoba untuk bersikap biasa.
" Loe habis liatin apaan sih, dari tadi gue perhatiin liat keluar mulu?" kali ini Mia yang bertanya. dia berdiri dan posisinya berada di bangku belakang bangku Lia dan Mita.
" Gak liatin apa-apa, cuma liat keluar mastiin aja ini mobil Kapan jalannya" elak Lia
" Eh Li, liat deh itu bukannya kak Rangga ya?" tanya Indah yang duduk tepat dibelakang Lia dekat jendela Indah menunjuk ke arah mobil yang ada di samping mobilnya.
" Iya bener deh kayaknya itu kak Rangga" ucap Mia membenarkan perkataan Indah.
Lia hanya memutar bola matanya malas dan memilih untuk bersandar lalu memejamkan matanya.
" Owh pantas aja, dari tadi itu mata arahnya keluar terus ternyata oh ternyata ada bangbang Rangga toh" goda Mita dan langsung mendapat tatapan tajam dari Lia.
"Pupf" Mita menahan tawanya melihat raut wajah Lia yang seperti akan memakan mangsanya hidup-hidup.
" Ihhh waw, kak Rangga so sweet banget sih sama si kunbi, gak jealoes loe Li?" tanya Mona yang ikutan nimbrung. Lia tak ingin menanggapi ocehan-ocehan teman-temannya karena yang ada dia yg akan menjadi korban candaan itu sendiri.
" Udah ah berisik tau gak sih kalian." umpat Lia kesal dan menarik Tira dan menutup jendela mobilnya. Dan di saat ingin menutup rapat jendela tersebut lagi-lagi netra Lia dan Mario kembali bertemu. Mario terus menatap lekat Lia dengan tatapan yang penuh arti. mereka cukup lama saling menatap satu sama lain seakan memberi sinyal satu sama lain.
Mita yang melihat Lia diam saja dan pandangan matanya terus mengarah ke mobil bus yang terparkir disebelahnya merasakan ada sesuatu yang terjadi.
" Li" pangil Mita tapi Lia diam saja
" Li!" panggil Mita lagi tapi Lia masih tidak bergeming
" Lia!" panggil Mita dengan suara yang sedikit berteriak sambil menepuk bahu Lia
Degg.
Lia terperanjat dan terhenyak dari lamunannya.
__ADS_1