Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Kenyataannya


__ADS_3

Pagi ini SMA Darma Bangsa tengah disibukkan dengan persiapan untuk acara perpisahan kelas 12 yang akan berlangsung Minggu depan.


Kelas 11 diikut sertakan berpartisipasi mengisi acara tersebut, ada yang membaca puisi, bernyanyi dan beberapa acara lainnya yang menunjukkan beberapa bakat para siswa-siswi SMA Darma Bangsa.


Selepas latihan Lia dan yang lainnya berniat untuk pergi ke kedai bakso cinta milik Mario.


Mona dan Mia berjalan duluan menuju parkiran mobil karena Lia dan Mita tengah menunggu Mario yang masih belum selesai latihan bersama Dion, sementara Indah sedang ke toilet.


Ditengah perjalanan menuju parkiran Mia dan Mona sambil mengobrol, karena penasaran Mia ingin memastikan dan bertanya kepada Mona yang memang beberapa belakangan ini jarang ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain.


" Mona loe ikutkan ya?" tanya Mia ingin memastikan


" Kayaknya gue gak bisa deh Mi, sorry ya" sahut Mona


" Kenapa?" tanya Mia


" Hari inikan hari 100 kepergian Yoga Mi, jadi gue_" ucapan Mona terpotong


" Loe mau ke jalan itu lagi Mon? " tanya Indah yang tiba-tiba ikutan nimbrung


" Loe mau sampai kapan sih Mon datang ke tempat itu terus dan mau sampai kapan loe bersikap kayak gini terus, gak capek apa loe menyalahkan diri loe sendiri terus ?" tanya Indah dengan nada sedikit meninggi


Langkah Mona terhenti lalu tersenyum miring mendengar pertanyaan Indah yang sedikit mengusik hatinya. " Indah loe gak tau bagaimana rasanya jadi gue, mungkin kalian bisa bersikap biasa karena kalian itu orang-orang baik tapi gue? gue adalah orang yang paling jahat Ndah karena sikap keegoisan gue dan ambisi gue yang sudah membutakan mata hati gue membuat dia terpuruk dan terluka begitu dalam Ndah. andai waktu itu gue gak mengusir dia dan gak mengatakan kata-kata yang menyakiti hatinya dia gak akan pergi ke club itu sampai membuatnya mabuk-mabukan. loe tahukan Ndah Yoga tidak pernah menyentuh minuman set** seperti itu tapi karena gue dia sampai mabuk kayak gitu bahkan sampai membuat dia mengalami kecelakaan. gue itu orang jahat Ndah, jahat!" ucap Mona dengan air mata yang sudah mengalir deras dan terdengar begitu lirih dan memilukan hati.


" Mona!" Mia yang mendengar penuturan Mona ikut menangis melihat Mona yang nampak begitu menyedihkan.


" Loe gak tahu apa-apa Ndah, loe gak tahu betapa sakitnya hati gue Ndah, sakit!" ucap Mona dengan penuh penekanan.


" Gue gak bisa melupakannya Mia" Mona menoleh ke arah Mia sambil menggelengkan kepalanya "Gue gak bisa melupakan tatapan matanya yang penuh dengan kekecewaan itu gue gak bisa Mi!" Mona terisak sesenggukan Mia hanya mengangguk pelan memahami apa yang Mona rasakan saat ini. Mia memeluk Mona dan sedetik kemudian Mona mengurai pelukannya dan mengusap air matanya dengan kasar lalu tersenyum hambar.


" Maaf gue gak bisa ikut bergabung dengan kalian" ucap Mona menepuk bahu Mia


" Mon" ucap Mia lirih merasa sedih melihat keadaan Mona.


" Gue gak apa-apa Mia!" ucap Mona yang tahu akan kekhawatiran Mia.


" Mona maaf kalau kata-kata gue tadi sudah nyakitin hati loe!" ucap Indah merasa bersalah.


" Gak apa-apa Ndah, santai aja!" ucap Mona seraya tersenyum.


" Gue pergi ya, salam buat yang lain" pamit Mona.


" Iya," jawab Mia


" Mona hati-hati ya!" teriak Mia.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang berdiri di balik dinding dan mendengar semua pembicaraannya.


Orang itu memegang dadanya yang terasa begitu sesak, airmatanya pun meluncur begitu saja tanpa permisi menatap punggung Mona yang berjalan semakin menjauh.


...☄️☄️☄️☄️...


Lia, Mario dan juga teman-temannya kini sudah berada di kedai bakso cinta. Mia begitu antusias memesan menu bakso favorit di kedai tersebut.


" Gak seru ya gak lengkap kayak gini, berasa kurang!" gumam Mia membuat yang lain menoleh ke arahnya.


" Za dan kak Azka sebentar lagi juga nyusul katanya tadi kak Azka mau menjemput Za dulu!" ucap Lia sambil memainkan ponselnya menunggu pesanan baksonya datang.


" Kalau kak Arta, apa dia bisa datang kesini ?" tanya Mia menoleh ke arah Mita.


" Mereka lagi di jalan sebentar lagi sampai katanya" jawab Mita membuat Mia mengerutkan keningnya


" Mereka?" tanya Indah


" Iya Kak Arta dan kak Sendy" jawab Mita


" Oia, kemana Mona kok gue gak lihat tuh anak ?" tanya Mita


" Dia pergi ke_" ucap Mia terpotong


" Dia ketempat itu lagi" celetuk Indah


" Sama siapa?" tanya Mita sedikit khawatir


" Sendiri!" jawab Indah santai


" Sendiri?" tanya Mita memastikan.


" Iya, kenapa memangnya?" tanya Indah


" Gue harus menyusulnya" sahut Mita yang sudah beranjak dari duduknya


" Kenapa sih Mit loe kok jadi panik gitu?" tanya indah yang penasaran dengan sikap Mita.


" Ada apa?" tanya Lia yang mendengar suara keributan Mita dan Indah


" Mona di jalan itu lagi Li, dan kata Indah Mona kesana sendirian" jawab Mita


" Mona ke jalan itu lagi?" tanya Lia memastikan dan Mita mengangguk sebagai jawaban

__ADS_1


" Iya, kata Mona hari ini adalah hari 100 hari kepergian Yoga" jawab Mia


" Io!" panggil Lia kepada Mario yang tengah sibuk dengan ponselnya


" Ada apa?" tanya Mario


" Mona pergi ke jalan itu lagi!" sahut Lia dengan wajah khawatir.


" Mita, kak Arta sudah sampai mana?" tanya Mario


" Sebentar gue telpon!"


Mita langsung menghubungi Arta dan menanyakan tentang keberadaannya.


" Bagaimana?" tanya Mario saat Mita tengah menelpon Arta


" Dia sudah sampai di jalan xx" jawab Mita.


" Kalau begitu suruh dia putar balik ke jalan A , kita akan menyusulnya sekarang!" ucap Mario dan dengan cepat Mita pun memberitahukan Arta.


Setelah Mita selesai menelpon Arta.


Lia dan Mario beranjak dari duduknya.


" Tunggu dulu sebenarnya ada apa sih kok kalian kayak panik gitu?" tanya Indah yang merasa penasaran


" Ceritanya panjang, sebaiknya sekarang kita susul Mona!" ajak Mita


Akhirnya semua beranjak dari duduknya dan bergegas keluar, untung saja kedai tersebut milik Mario jadi mereka bisa bebas pergi dengan leluasa, tapi walaupun begitu Mario tetap berpamitan terlebih dahulu kepada mang Didin yang membantu Mario mengelola kedai tersebut.


Lia dan teman-temannya kini berada di dalam mobil, Indah yang sedari penasaran pun akhirnya memilih bertanya karena merasa bingung dengan sikap Lia, Mita dan Mario yang nampak begitu panik saat tahu Mona pergi ke jalan tempat dimana Yoga mengalami kecelakaan.


" Sebenarnya ada apa sih ini?" tanya Indah


" Iya, ada apa sih kok kalian nampak panik gitu?" tanya Mia yang sama penasarannya dengan Indah.


Mita menarik napasnya terlebih dahulu sebelum bercerita.


Flashback on


Sebulan yang lalu adalah hari ulang tahun Yoga dan Mona tahu hal itu, meskipun Mona seringkali menolak dan sering mengatakan hal-hal yang terkadang menyakitkan hati Yoga tapi Mona sedikitnya tahu tentang Yoga seperti hari ulang tahun dan kebiasaan Yoga.


Mona tersenyum getir saat berdiri di tepi jalan menatap lekat ke tempat di mana mobil Yoga yang sempat menabrak tiang jalan sebelum akhirnya mobil tersebut terhempas jatuh ke dalam jurang.


" Penyesalan terdalam gue adalah gue baru menyadari betapa berharganya kehadiran loe justru setelah loe pergi meninggalkan gue Yo, loe sudah mengingkari janji loe. Loe bilang loe akan terus mengejar gue walaupun mendapatkan penolakan dari gue berkali-kali sekalipun loe gak akan menyerah sampai gue luluh. Tapi sekarang loe sudah meninggalkan gue dengan janji-janji loe. sakit Yo sakit."


" Yo maafin gue, sungguh gue menyesal sudah mengabaikan perasaan loe selama ini, gue gak sanggup Yo hidup dalam penyesalan terus menerus, gue sayang sama loe Yo dan gue terlambat menyadari hal itu. gue mau kita bersatu Yo. meskipun dengan jalan ini" teriak Mona di tepi jurang.


" Selamat tinggal semuanya, maafin gue!" ucap Mona lirih lalu melompat ke dalam jurang.


Brukk


" Monaaaaaaaaaaaaaa!" Teriak Mita yang berlari ke arah Mona disusul oleh Lia.


Mona tidak sadarkan diri untung saja Arta dan Mario melangkah dengan cepat sehingga ia bisa menangkap Mona yang hampir saja terjun bebas ke dalam jurang yang cukup dalam.


Arta, Mita, Mario dan Lia langsung membawa Mona ke rumah sakit.beruntungnya Mona tidak mengalami luka berat hanya sedikit memar karena terhempas aspal.


Setelah beberapa jam pingsan akhirnya Mona tersadar dan dia menangis histeris. Mita dan Lia berusaha untuk menenangkan Mona yang ternyata masih terus menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Yoga.


Selama 3 hari Mona di rawat di rumah sakit dan selama itu pula Mita dan Lia bergantian menemani Mona, memberikan support dan menghiburnya.


Semenjak kejadian itu pula Mona lebih banyak diam dan menyendiri, meskipun Mona nampak lebih tenang tapi di dalam hatinya Mona masih sangatlah rapuh.


Flashback off.


Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mobil yang ditumpangi Lia dan kawan-kawannya sampai juga di jalan A.


Lia bergegas turun dari dalam mobil diikuti Mita dan yang lainnya, mereka langsung menghampiri Arta dan Sendy yang tengah berdiri bersandar di bahu mobilnya.


" Kak apa kakak melihat Mona?" tanya Lia


" Apa kamu yakin dia kesini?" tanya Arta


" Iya kak, tadi Mona bilang sendiri mau kesini iyakan Mi?" sahut Indah yang kemudian bertanya pada Mia


" Iya kak!" Mia membenarkan ucapan Indah.


" Tapi dari tadi kita disini gak melihat Mona" sahut Sendy


" Mungkin sudah pulang atau bisa saja dia tidak jadi kesini" ucap Arta


" Bisa jadi tuh" sahut Sendy setuju dengan ucapan Arta.


" Ya sudah kalau begitu sebaiknya kamu telpon Mona!" ucap Arta menyuruh Mita menelpon sahabatnya itu.


" Gak aktif kak" ucap Mita setelah beberapa kali melakukan panggilan ke nomor Mona


Drett..... Dreettt....

__ADS_1


Mario merogoh saku celananya meraih ponselnya yang berdering. Mario melihat nama Putra di layar ponselnya.


Mario 📞


" Hallo, assalamu'alaikum!"


Putra 📞


(....)


Mario 📞


" Apa? Iya..iya gue sama yang lainnya akan segera kesana sekarang juga"


Putra 📞


(....)


Mario 📞


" Iya, Wa'alaikum salam"


Mario menutup telponnya dan langsung menatap satu persatu semua orang-orang yang ada di hadapannya.


" Ada apa?" tanya Lia memegang lengan Mario


" Kita harus segera ke rumah sakit sekarang" ucap Mario


" Ke rumah sakit, ada apa sebenarnya? siapa yang masuk rumah sakit dan siapa yang tadi menelpon?" tanya Lia yang berubah jadi panik.


" Sayang, gak ada apa-apa. kamu tenang dulu ya, jangan panik gitu kasihan dedek bayi " ucap Mario yang langsung berkata lembut seraya mengelus perut Lia yang masih terlihat rata.


" Memangnya ada apa Rio, siapa yang masuk rumah sakit?" tanya Arta yang juga ikut penasaran.


Mario merengkuh Lia dari samping kedalam dekapannya. "Yoga yang menelpon" ucap Mario datar


" Apa Yoga?" tanya Lia memastikan


" Yo... yoga ?" ucap Mia terbata-bata


" Yoga?" Indah pun nampak sangat terkejut


" Apa kamu tidak salah sebut Io, Yoga itukan sudah_" ucap Lia menggantung


Mario menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. " Sebaiknya kita pergi sekarang!" Mario menggandeng tangan Lia lalu masuk ke dalam mobilnya diikuti dengan yang lain. Mita dan Mia pindah ke mobil Arta.


Setelah beberapa menit akhirnya mobil mereka sampai juga di rumah sakit. Mario turun dari dalam mobil bersama yang lainnya dan mereka mengikuti langkah Mario.


" Putra?" tanya Mia yang nampak terkejut saat melihat putra yang tidak lain adalah Yoga berada di depan pintu ruang UGD dengan wajah panik dan dalam keadaan berantakan


" Putra sedang apa loe disini?" tanya Indah


Yoga tidak menjawab tapi matanya malah melirik ke arah Mario.


" Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Mario menepuk bahu sahabatnya itu


" Apa gue sudah sangat keterlaluan Rio?" bukan menjawab Yoga malah balik bertanya.


" Keterlaluan bagaimana? apa Mona_?" tanya Mario menggantung dan Yoga mengangguk


" Gue sudah mengakui semuanya tapi dia gak percaya Rio!"


" Tunggu dulu, mengakui? apa maksudnya, dan ada apa dengan Mona? sebenarnya ada apa ini dan Mona Dimana Mona?" tanya Lia yang mencecar putra alias Yoga itu dengan pertanyaannya dengan keadaan panik dan juga cemas.


" Sayang tenangkan diri kamu dulu jangan seperti ini!" pinta Mario karena Lia begitu nampak khawatir dengan keadaan Mona.


" Mona... Mona ada di dalam sana!" ucap Yoga menunjuk ke arah ruang UGD.


"Mona?" Mita menutup mulutnya sendiri karena saking terkejutnya begitu juga dengan Lia.


" Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Lia tegas


" Mona berusaha untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat ke dalam jurang" ucap Yoga yang bergantian merasa bersalah.


" Terus tadi kamu bilang Yoga yang menelpon , lalu dimana Yoga?" tanya Lia menatap penuh tanya ke arah Mario


" Putra adalah Yoga, Prayoga putra Pratama. Yoga adalah putra" ucap Mario


" Apa,?" tanya Mia, Indah, Mita dan Lia bersamaan dengan keterkejutan masing-masing.


" Maksud kamu putra adalah Yoga?" tanya Lia yang merasa sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


" Itu tidak mungkin, bukankah Yoga itu sudah_?" tanya Lia menggantung kata-katanya.


" Ceritanya panjang tapi yang pasti yang ada di hadapan kalian adalah Yoga Prayoga sahabat kalian" ucap Mario


" Benarkah Yoga masih hidup, tapi kenapa wajahnya_?" Mia menjeda ucapannya


" Meskipun wajahnya sudah berubah tapi hatinya masih tetap sama" ucap Yoga membuat para sahabatnya benar-benar dibuat tekejut.

__ADS_1


__ADS_2