Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Kepergian Bunda


__ADS_3

Zaira berada di brankar rumah sakit dalam keadaan masih belum sadarkan diri, sudah hampir 2 jam Zaira tidak sadarkan diri. Azka berkali-kali memanggil Zaira dan mengecup lembut keningnya namun Zaira tetap bergeming.


" Sayang, bangun dong sayang, apa kamu tidak kasihan dengan putri kita hem?" Azka terus mengajak Zaira bicara berharap Zaira cepat sadarkan diri.


Azka berada di rumah sakit menemani Zaira sedangkan Mario dan Arta mewakili Azka pergi ke kota x karena untuk pergi ke sana sangat tidak memungkinkan untuk Azka disaat Zaira yang masih belum sadarkan diri . Sementara Lia ditemani para sahabatnya di rumah untuk menjaga baby Zia.


" Sayang bangun dong sayang!" Azka tak mampu lagi membendung kesedihannya, airmatanya pun lolos begitu saja hingga menetes mengenai kening Zaira pada saat Azka kembali mengecupnya.


Tanpa Azka sadari Zaira tengah mengerjapkan matanya karena merasakan sesuatu yang basah mengenai keningnya, dengan perlahan Zaira membuka kedua matanya. Zaira tak kuasa menahan tangisnya saat ingatannya kembali mengingat kabar berita tentang bundanya.


" Mas!" Zaira kembali terisak


" Sabar sayang, kamu harus kuat ya. kita semua tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi tapi jika tuhan sudah mentakdirkannya seperti ini, kita sebagai hambanya bisa apa sayang.?" Azka memeluk Zaira memberinya kekuatan. Zaira masih terisak rasanya dadanya begitu sesak dan semua ingatan tentang dirinya bersama bunda Aryani seperti roll film yang tengah berputar.


" Kita harus ikhlas sayang, mas tahu ini sangat berat untuk mu tapi demi putri kita Zia dan demi bunda juga sayang agar bunda bisa tenang disana, kamu harus bisa merelakan kepergian bunda ." Azka mengusap lembut pucuk kepala Zaira dan menghujaminya kecupan


Setiap makhluk hidup yang bernyawa pasti akan ada masanya kembali kepada sang pencipta, tidak ada satupun manusia yang dapat menghindar dari takdinya. Takdir dimana jiwa harus berpisah dari raganya. Kesedihan pasti akan meliputi hati yang ditinggal pergi, ada yang tegar dan iklhas menerima kenyataan dan adapula yang meronta-ronta seolah tidak terima dengan takdir yang ada.


Kata ikhlas mungkin akan mudah terucap dibibir saja tapi hati sekuat apapun berusaha untuk tegar tetap saja airmata tak bisa untuk dihindari. namun jangan terus larut dalam jiwa yang sepi karena kelak waktu pun akan berhenti untuk diri kita sendiri.


Ikhlaskanlah... !"


Bersabarlah karena dibalik musibah pasti ada hikmahnya!"


" I.. inilah yang selama ini membuat hati aku tidak tenang mas, dan apa yang aku takutkan kini telah menjadi kenyataan" ucap Zaira disela isak tangisnya.


" Bun.. bunda. hiks... hiks..bunda " tangis Zaira pun pecah


" Sabar sayang, ingat ada baby Zia yang masih membutuhkan kamu sayang termasuk aku. kami membutuhkan kamu jadi kuatkan hatimu sayang berusahalah untuk ikhlas " ucap Azka yang sebenarnya dia juga merasakan kesedihan yang Zaira rasakan.


" Bunda!" ucap Zaira lirih dan sedetik kemudian Zaira kembali pingsan.


Azka panik dan dengan cepat ia langsung memanggil tim medis untuk memeriksa keadaan Zaira, setelah menjalani pemeriksaan dokter mengatakan jika Zaira berada dalam goncangan yang sangat hebat. Azka mengusap wajahnya kasar mau marah tapi kepada siapa? ini adalah ujian yang harus dilewatinya dengan rasa sabar yang besar dia harus kuat dan berusaha untuk bersikap tenang agar saat Zaira sadar Azka bisa menjadi kekuatannya.


"Sayang aku mohon jangan seperti ini, kamu pasti bisa melewatinya dengan baik sayang!" bisik Azka di telinga sang isteri.


Zaira pernah mengalami trauma dan depresi yang cukup besar beberapa tahun yang lalu sehingga saat mendapatkan guncangan yang dasyat seperti ini jiwanya seakan tidak dapat ia kendalikan lagi.


Azka meraih ponsel miliknya dan langsung menghubungi Lia.


Azka


" Assalamu'alaikum"


Meli


" Wa'alaikum salam"


" Kak bagaimana keadaan Zaira?"


Azka


" Tadi dia sempat siuman tapi setelah dia teringat bunda, Za kembali tidak sadarkan diri"


Lia dapat mendengar suara berat kakaknya yang pasti sangat sedih melihat keadaan isterinya yang begitu terpukul dengan kepergian sang bunda.


Flashback on


Setibanya di kota x bunda Aryani, mama Maria dan papa Sam langsung menuju ke hotel A untuk beristirahat terlebih dahulu karena besok mereka berencana untuk pergi ke rumah pamannya Zaira yaitu paman Doni untuk membicarakan mengenai perusahaan milik ayahnya Zaira yang selama ini dibantu oleh pamannya Doni untuk mengelolanya. namun karena paman Doni sudah cukup tua jadi dia tidak ingin terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan meminta bunda Aryani yang mengambil alih.


Tok


Tok


Tok


Mama Maria pergi ke kamar bunda Aryani sebelum berangkat ke acara jamuan makan malam bersama kolega papa Sam" Ar.. Aryani!" panggil mama Maria dari balik pintu


" Iya sebentar!" sahut bunda Aryani


ceklekk


" Iya ada apa Mar?" tanya bunda Aryani setelah membukakan pintu kamarnya


" Ar kamu sebaiknya bersiap-siap deh sekarang!" pinta mama Maria


" Bersiap-siap untuk apa Mar?" tanya bunda Aryani yang nampak bingung


" Sudah kamu ikut saja ya!" bujuk mana Maria

__ADS_1


" Ikut kemana?" tanya Bunda Aryani


" Ar, malam ini suamiku ada acara jamuan makan malam dengan koleganya jadi bagaimana kalau kamu ikut juga ya sekalian" bujuk mama Maria


" Kalian saja deh Ar, rasanya aku tuh capek banget. aku disini saja ya?"


" Yakin gak mau ikut?"


" Iya!"


" Setidaknya kamu temani aku ngobrol disana Ar!" pinta mama Maria


" Maaf ya Mar, aku ingin istirahat saja gak apa-apakan Mar" ucap bunda Aryani yang sebenarnya merasa tidak enak hati dengan sahabat sekaligus besannya itu.


" Gak apa-apa Ar kalau kamu mau istirahat, aku berangkat dulu ya dan kamu kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya!" ucap mama Maria sebelum pergi.


" Iya, hati-hati ya Mar!"


" iya"


Bunda Aryani kembali masuk ke dalam kamarnya, karena merasa lelah bunda Aryani langsung tertidur pulas.


Sementara mama Maria dan papa Sam pergi ke acara jamuan makan malam bersama koleganya.


Papa Sam dan koleganya tengah asik berbicara tentang masalah bisnis sementara mama Maria tengah sibuk menelpon bunda Aryani yang sejak dia sampai di restoran tempat acara jamuan tersebut nomor ponsel milik bunda Aryani tidak dapat dihubungi. Mama Maria sedikit khawatir apalagi dihotel bunda Aryani sendirian.


" Kamu kenapa sih sayang, dari tadi kayak gelisah gitu?" tanya papa Sam yang melihat tingkah aneh istrinya yang nampak gelisah menatap berkali-kali ke arah ponselnya.


" Pah kok perasaan aku gak enak ya?" ucap mama Maria seraya memegang dadanya


" Mungkin perasaan mamah saja yang sedang lelah!" ucap papa Sam.


" Pah, mamah mau pulang saja sekarang. gak tahu kenapa perasaan mamah gak enak takut terjadi apa-apa dengan Aryani karena sedari tadi bunda telpon nomornya gak bisa dihubungi. ini gak seperti biasanya pah!" ucap mama Maria cemas


" Mungkin Aryani sudah tidur mah, jangan berlebihan seperti itu ah!" ucap papa Sam menenangkan mama Maria


" Pah mamah bukan berlebihan tapi mamah cuma gak tenang pah sebelum melihat Aryani sekarang" tegas mama Maria yang seketika mengencangkan suaranya.


" Mah!" papa Sam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Jika papa masih ingin disini biar aku pulang duluan saja pah!" ucap mama Maria yang sudah beranjak dari duduknya dan sedikit membungkukkan badannya memberi hormat kepada kolega suaminya untuk pamit setelah itu ia pergi meninggalkan papa Sam yang masih bingung harus berbuat apa.


" Mah kita pulang bareng, ayo cepat!" ajak papa Sam yang menghentikan mama Maria saat hendak masuk ke dalam taksi online yang dipesannya.


" Pak ikuti saja rutenya ya, dan ini ongkosnya!" ucap mama Maria


" Tidak usah nyonya, sebaiknya anda cancel saja!" ucap supir taksi online tersebut.


" Ambil saja pak anggap ini adalah rezeki untuk bapak!" Mama Maria memaksa supir taksi online tersebut untuk menerima beberapa lembar uang berwarna merah yang dia berikan.


"Terima kasih nyonya!" ucap sopir tersebut


" Sama-sama" mama Maria langsung masuk ke dalam mobil suaminya.


Hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai ke hotel tempat mereka menginap.


Saat berada di hotel A mama Maria dan papa Sam membulatkan matanya saat area hotel nampak begitu ramai berkerumunan orang-orang yang ingin tahu apa yang tengah terjadi di hotel tersebut.


Mama Maria seketika lemas melihat bunda Aryani yang tengah dibawa oleh beberapa tim medis dengan tubuh yang bersimbah darah.


Bunda Aryani langsung di bawa ke rumah sakit terdekat namun belum sampai di rumah sakit bunda Aryani sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir akibat kekurangan banyak darah.


Mama Maria jatuh pingsan saat tahu bunda Aryani sudah meninggal dunia. ia begitu syok sampai terkena serangan jantung untung saja dengan cepat langsung ditangani dokter sehingga tidak begitu fatal.


Papa Sam menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu penyebab kematian bunda Aryani.


Dan tanpa menunggu waktu lama polisi dan anak buah papa Sam sudah dapat menangkap pelakunya yang ternyata membuat papa Sam begitu tercengang karena ternyata pelakunya tidak lain adalah isteri dan anak dari paman Doni yang ternyata tidak terima dengan keputusan paman Doni yang ingin menyerahkan kembali perusahaan milik ayahnya Zaira.


" Kau!" Geram papa Sam


" Maafkan aku tuan, aku tidak salah apa-apa kenapa kau menuduhku yang melakukan itu!" ucap Titin isteri dari paman Doni.


Paman Doni yang mengetahui pelaku pembunuh adik iparnya adalah isterinya sendiri langsung terkena serangan jantung dan meninggal dunia


Papa Sam sebenarnya ingin memberi Titin dan putranya Toni hukuman dengan tangannya sendiri namun karena Titin dan Toni sudah berada di dalam jeruji besi jadi papa Sam hanya menyuruh beberapa anak buahnya yang berada di dalam sel untuk memberi mereka pelajaran.


Flashback off


Papa Sam kembali ke rumah sakit, untung saja mana Maria sudah sadar dan sudah dinyatakan membaik hanya saja tetap emosinya harus terkontrol

__ADS_1


Mama Maria yang kembali terisak langsung dipeluk oleh papa Sam. " Mah sesedih apapun yang kita rasakan saat ini kita harus berusaha untuk kuat dan tegar mah. jika kita lemah bagaimana dengan Zaira kita harus memberinya kekuatan mah!" ucap papa Sam mencoba menenangkan sang isteri.


" Zaira!" ucap mama Maria yang kembali terisak saat mengingat mantu kesayangannya itu.


" Bagaimana dengan Za pah, mamah khawatir dia kembali terguncang" ucap Mama Maria yang panik mengingat menantunya yang beberapa kali mengalami trauma.


" Mah kita doakan saja semoga Za bisa menerima kenyataan ini dengan ikhlas!" ucap papa Sam


" Pah sebenarnya apa telah terjadi dengan Aryani kenapa dia bisa mengalami hal itu pah?" tanya mama Maria


" Andai saja kita tidak pergi dan aku tidak meninggalkan dia sendirian. andai tadi aku terus memaksanya untuk ikut mungkin hal ini tidak akan terjadi pah!" mama Maria kembali menangis.


" Mah jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini sudah takdir tuhan, jika mamah terus menyalahkan diri sendiri sama saja menyalahkan takdir tuhan!" ucap papa Sam tegas


.


" Bu .. bukan itu maksud mama hanya saja andai_" papa Sam langsung memotong ucapan Mama Maria


" Mah cukup menyalahkan dirimu sendiri. yang paling penting saat ini adalah Za, bagaimana caranya kita memberitahu keadaan bundanya!" ucap papa Sam


" Za sudah tahu pah!" ucap seseorang yang langsung membuat keduanya menoleh kebelakang


" Nak Arta!" ucap papa Sam terkejut


" Maaf pah kebetulan aku juga sedang berada di kota ini jadi entah kenapa Mario tadi menghubungi ku dan memintaku untuk mencari tahu kabar bunda Aryani!" ucap Arta Jujur.


Saat ini memang Arta tengah ada urusan di kota x namun tiba-tiba dia dikejutkan dengan permintaan Mario yang menyuruhnya mencari tahu kabar tentang bunda Aryani.


" Lalu bagaimana keadaan Za saat ini?" tanya Mama Maria khawatir.


" Kata Mario Za saat ini tengah berada di rumah sakit karena pingsan" mama Maria langsung merosot lemah .


" Mah!" ucap papa Sam cemas begitu juga dengan Arta yang panik saat mana Maria memberingsut ke lantai.


" Pah kita urus kepulangannya sekarang pah!" ucap mama Maria antusias dia ingin melihat kondisi menantunya itu.


" Mah, pah semuanya sudah diurus aku datang kesini untuk memberitahu soal ini jadi besok pagi pesawat jet pribadi papa Alex akan membawa jenazah bunda" ucap Arta


" Mama sama papa naik jet pribadi yang Azka kirim " lanjutnya lagi


" Terima kasih nak Arta!" ucap Mama Maria


" Tidak perlu berterima kasih mah, karena bunda dan kalian juga sudah aku anggap orang tua ku sendiri!" ucap Arta yang tidak lagi bisa menahan air matanya.


" Maaf " ucap Arta yang merasa tidak enak karena menangis dihadapan mereka


Papa Sam yang tahu Arta sedang berusaha untuk tegar dan kuat langsung memeluk tubuh kekar yang saat ini terlihat lemah. papa Sam tahu bagaimana kedekatan bunda Aryani dengan semua teman putrinya. Bunda Aryani begitu hangat dan keibuan membuat mereka semua merasa nyaman saat berada di dekatnya.


" Menangislah, setelah ini kita harus berusaha untuk kuat dan tegar dimata Za, kita tidak boleh memperlihatkan betapa terpukulnya kita menghadapi semua ini." ucap papa Sam dan seketika terdengar Isak tangis Arta yang sangat memilukan.


Setelah merasa lebih tenang Arta pamit kepada papa Sam dan juga mama Maria untuk menemui Mario yang datang menyusulnya.


" Mah, pah aku harus ke bandara sekarang, karena Mario bilang tadi dia akan menyusul kesini!" ucap Arta memberitahu.


" Mario kesini, lalu Meli?" tanya mama Maria sedikit terkejut mendengar menantunya datang menyusul.


" Mita dan teman-temannya yang lain menemani Lia dirumah sekaligus menjaga baby Zia!" ucap Arta.


" Syukurlah jika ada mereka !" ucap mama Maria sedikit lega


" Iya mah, mereka adalah sahabat yang setia aku percaya jika bersama para sahabatnya Za pun bisa kuat dan tegar mah!" ucap Arta


" Iya kau benar Arta, semoga saja!" ucap papa Sam


" Ya sudah cepat kau pergi jemput Mario, kasihan jika dia nanti menunggumu kelamaan!" ucap mama Maria yang juga mencemaskan keadaan menantunya.


" Iya mah, kalau begitu aku pamit!" Arta menyalami keduanya sebelum pergi.


Mama Maria kembali naik ke atas tempat tidurnya dia tidak boleh larut dalam kesedihan karena dia harus bersikap kuat dan tegar dihadapan Zaira.


" Tidurlah mah!" ucap papa Sam


" Kau juga!" ucap mama Maria.


papa Sam berjalan ke sofa lalu merebahkan dirinya di sana. karena merasa cukup lelah dengan situasi yang terjadi papa Sam pun akhirnya tertidur sementara mama Maria sudah berusaha untuk tertidur namun tetap saja bayangan tentang bunda Aryani terus membayanginya.


" Maafkan aku Ar!" ucap Mama Maria yang dalam diam terisak dibalik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


Karena kelelahan menangis mama Maria pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2