
Pagi harinya Khanza sudah bangun lebih dulu, ia tersenyum menatap wajah sang suami yang masih terbuai dengan alam bawah sadarnya.
" Kenapa dia terlihat tampan sekali kalau lagi tidur seperti ini, ah pantas saja banyak cewek yang mengaguminya termasuk guru yang sok kecakapan itu!" gumam Khanza kesal seraya menatap lekat wajah Aldy yang masih setia dengan mimpinya.
Khanza dengan langkah gontai masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, dan betapa terkejutnya Khanza saat melihat dirinya di pantulan cermin.
"Oh ya ampun, mata gue gede banget. bagaimana gue berangkat ke sekolah nanti dengan mata kayak begini bisa diketawain teman-teman ini sih" gerutu Khanza dengan bibir yang mengerucut.
" Apa gue bolos aja ya? atau kalau enggak izin sakit?" Khanza nampak berpikir
" Tapi hari ini kan ada pengambilan nilai dengan Bu Tika, pelajaran olahraga" Khanza jadi bingung sendiri.
" Apa gue kompres aja dulu kali ya semoga aja bisa kempes" sebuah ide terlintas di otaknya.
Khanza mengambil air hangat lalu menggunakan handuk kecil mengompres matanya yang sedikit bengkak.
Selesai mandi dan mengompres matanya yang sedikit sembab Khanza pun keluar dari kamar mandi dan tidak lupa mengerjakan dua rokaat sebelum beranjak ke dapur untuk membantu ibunya.
Tapi sebelum keluar dari kamarnya Khanza membangunkan Aldy terlebih dahulu.
" Mas Al bangun dong, udah siang loh ini" Khanza mengguncang pelan bahu Aldy
Perlahan Aldy menggeliat lalu membuka kedua matanya yang masih terlihat mengantuk.
" Jam berapa sekarang? mas masih ngantuk banget!" keluhnya karena semalam Aldy baru bisa tertidur hampir jam 4 pagi itu disebabkan karena Khanza yang tidak membiarkan dirinya bergeser dari tidurnya yang ingin selalu dibuai dan dipeluk alhasil membuat Aldy tidak bisa tidur karena dedek kecil yang bangun dari persembunyiannya.
" Jam 5 mas, bangun gih nanti kesiangan loh!"
Aldy beranjak dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi namun sebelum melesat masuk Aldy menggoda isterinya terlebih dahulu.
" Sayang, apa kamu tidak ingin ikut mas mandi? semalam saja kamu tidur tidak mau lepas dari mas, maunya di peluk terus. apa sekarang sudah tidak lagi?" seloroh Aldy
" Jangan ngada-ngada ya mas. mana ada aku seperti itu!" bantah Khanza dengan wajah yang sudah bersemu merah
" Ngada-ngada tapi kenapa wajahmu begitu terlihat lucu dan sekaligus menggemaskan sayang" goda Aldy
" Mas ih sudah sana masuk, cepetan mandinya!" Khanza cemberut seraya menghentakkan kakinya dan Aldy tergelak lalu menutup pintu kamar mandi.
" Ngeselin banget sih!" gumam Khanza yang Sedetik kemudian berjalan menuju lemari pakaian lalu menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Setelah menyiapkan baju ganti untuk Aldy seperti biasa Khanza pergi ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan.
" Sudah bangun?" tanya bu Khodijah saat Khanza menghampirinya di dapur
"Sudah bu" Jawab Khanza
" Loh mata neng Za kenapa kok bengkak gitu?" tanya bi Ratna yang merasa terkejut melihat mata Khanza yang terlihat sembab.
" Neng Za habis nangis ya?" tanya bi Ratna yang memang tidak tahu prihal Khanza yang menangis semalam.
Khanza tidak menjawab tapi hanya tersenyum tipis seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Apa ketara bengkak banget ya bi?" tanya Khanza yang jadi kurang percaya diri saat ingin berangkat ke sekolah.
" Enggak terlalu kok cuma sedikit aja!" sahut bi Ratna sambil menata menu sarapan pagi di meja makan
__ADS_1
Khanza membantu bi Ratna membawa masakan yang sudah ibu dan bi Ratna masak.
" Bu!" sapa Aldy yang baru saja datang bersama Izan.
Aldy duduk tepat di samping Khanza sedangkan Izan duduk di hadapan Aldy
" Kak Za matanya kenapa, kok sembab banget?" tanya Izan polos
" Emangnya ketara banget ya Zan? duh jadi enggak pede nih masuk sekolah" ucap Khanza sendu sambil mengambilkan menu sarapan untuk Aldy
" Ya udah kalau enggak pede libur aja dulu!" Aldy ikut menimpali pembicaraan adik dan kakak tersebut
" Enggak bisa libur mas, nantikan ada ujian praktek pengambilan nilai dengan Bu Tika" ucap Khanza sendu
" Ya terus maunya bagaimana hem?" tanya Aldy yang juga merasa kasihan dengan keadaan isterinya.
" Ya enggak tahu juga sih" Khanza menggidikkan bahunya
"Emmmm kalau pakai kaca mata boleh gak sih mas? " tanya khanza yang merasa bingung dengan cara apa menutupi matanya yang sembab
" Boleh aja sih, tapi apa nyaman kamu sekolah pakai kacamata?" Aldy memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya
" Ya pasti enggak nyaman lah, tapi mau bagaimana lagi" Khanza tidak memakan sarapannya malah mengaduk-aduknya saja.
" Sayang makan dulu sarapannya, untuk soal matamu yang sembab nanti aja dipikirkan lagi caranya gimananya" ucap Aldy yang melihat Khanza belum juga memakan sarapannya.
" Enggak napsu" jawab Khanza jutek
" Za kok jawabnya gitu, enggak sopan sama suami" tegur bu Khodijah
" Ihss... ibu kok jadi marahin Za sih. ini juga kan gara-gara mas Aldy yang membuat mata Za jadi bengkak begini" protes Khanza dengan wajah memberengut
" Kenapa kamu juga jadi ikut belain mas Aldy sih Zan, yang kakak kamu itu aku loh!" kesal Khanza
" Duh kenapa jadi ribut sih, ini lagi sarapan loh" gumam bi Ratna
" Sudah... sudah... iya ini salah mas, maafin mas ya sayang. terus kamu maunya mas bagaimana hem, biar kamunya tidak marah lagi"
" Aku gak marah ya mas, aku cuma kesal " sahut Khanza
" Ya terus mas harus gimana biar kamu nggak kesal lagi" Aldy menghela napasnya berat entah ada gerangan apa isteri kecilnya yang biasa begitu sabar kini jadi mudah emosi.
" Tau ah!" Khanza malah beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja masuk ke dalam kamar
" Kak Za kenapa sih bu jadi marah-marah kayak gitu?" tanya Izan
" Ibu juga enggak tahu" jawab bu Khodijah
" Mungkin lagi PMS kali" timpal bi Ratna
" Bisa jadi tuh bi, bawaannya aneh dari kemarin" Izan beranjak dari duduknya hendak berangkat ke sekolah
" Kamu mau kemana Zan?" tanya Aldy
" Mau berangkat ke sekolah duluan aja kak, takut kena semprot kak Za lagi" sahut Izan seraya menyalami punggung tangan bu Khodijah dan bi Ratna setelahnya baru Aldy
__ADS_1
" Enggak mau berangkat sekalian aja sama ibu Zan?" tanya bu Khodijah
" Enggak deh bu, sudah ditungguin juga sama Dodot dan Iman" jawab Izan
" Izan pamit ya bu, Assalamu'alaikum!"
" Wa'alaikum salam" jawab ibu, bi Ratna dan Aldy bersamaan.
" Bu Aldy mau melihat Khanza dulu ya!" pamit Aldy
" Iya nak Aldy, maaf ya atas sikap Khanza yang masih kekanak-kanakan, nak Aldy harus banyak-banyak bersabar menghadapi Khanza mungkin dia sedang banyak dipikiran" sahut bu Khodijah
" Iya Bu" Aldy tersenyum tipis lalu beranjak menyusul Khanza yang masuk ke dalam kamar
Ceklekk
Aldy masuk ke dalam kamar dan menemukan Khanza tengah duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang ditekuk
" Kamu kenapa hem? " Aldy mengusap pucuk kepala Khanza dengan lembut
" Mas jahat, ini semua karena mas" sungut Khanza berapi-api
Aldy tersenyum lalu duduk di samping Khanza
" Maafin mas ya sayang, kamu pakai kacamata aja ya, kalau ada yang nanya bilang aja lagi sakit mata" ucap Aldy selembut mungkin agar Khanza tidak marah lagi.
" Tapi aku kan tidak punya kaca mata" sahut Khanza jujur
" Mas punya kok, tuh ada di mobil kamu bisa pilih mana yang kamu suka"
" Beneran!"
" Iya, tapi jangan marah lagi ya?" Khanza mengangguk
" Mas!"
" Iya, ada apa lagi hem?"
" Peluk!" Khanza merentangkan kedua tangannya
Aldy tersenyum seraya geleng-geleng kepala melihat tingkah isteri kecilnya yang begitu menggemaskan
" Iya sini mas peluk" Aldy pun mendekatkan dirinya lalu memeluk khanza penuh kasih sayang
Nyaman itulah yang Khanza rasakan, rasanya ingin selalu seperti itu setiap waktu.
" Sayang, udah ya peluknya nanti pulang sekolah aja diterusin lagi, sekarang kita berangkat ke sekolah ya udah siang!"
" Ya ampun mas, gara-gara mas nih jadi telat kan!" keluh Khanza saat sampai di sekolah bertepatan dengan bunyi bel masuk
Sumpah demi apapun ingin sekali Aldy melempar keluar gadis yang ada di hadapannya saat ini untung saja cinta.
" Iya maafin mas ya sayang, udah cepat sana turun nanti tambah telat loh kalau pakai marah-marah dulu"
" Mas ih ngeselin" Khanza kesal tapi tetap tidak lupa dengan menyalami punggung tangan Aldy sebagai salam takzim
__ADS_1
" Assalamu'alaikum"
" Wa'alaikum salam" jawab Aldy seraya tersenyum tipis