
Tring
📥 My Lily
[ " Berani-beraninya kau mempermainkan ku?" ]
Mario yang mendapatkan pesan dari wanitanya langsung tersenyum dan memperlihatkan pesan yang Lia kirimkan kepada wanita cantik yang duduk di depannya.
" Dasar anak itu masih saja sama!" oceh sang wanita yang tidak lain adalah Gladis yang sengaja mengganti model gaya rambutnya dan juga penampilannya yang terbilang cukup seksi dengan riasan wajah terbilang waw. Gladis sengaja berdandan seperti itu karena rencananya keluarga Gladis akan mempertemukan Gladis dengan calon suaminya yang akan dijodohkan kepadanya.
📥 My Lily
" Senang ya berdua-duaan dengan cewek cantik seksi lagi"
Lagi-lagi Mario tersenyum. lalu menarik Gladis agar mendekat ke arahnya. Lia yang melihat kedekatan keduanya mendengus kesal.
" Kamu kenapa sayang?" tanya mama Maria yang melihat raut wajah Lia berubah masam
" Tidak apa-apa mah, cuma merasa sedikit lelah saja!" Lia menyandarkan kepalanya disandarkan kursi.
🍁
Mobil sampai di kediaman Keluarga DINATA.
Lia langsung masuk ke dalam kamarnya, raut wajahnya muram Zaira yang melihat perubahan raut wajah Zaira sedikit merasa bersalah tapi dia juga tidak mau bila Lia nantinya sakit hati lebih dalam lagi oleh ulah Mario yang Zaira tahu tentang kedekatan mereka.
Zaira yang tengah berada di meja makan bersama Zaira nampak lesu dan semua itu tidak lepas dari perhatian pak suami " Kamu kenapa sayang kok lesu gitu?" tanya Azka seraya menyuap bakso yang sudah di siapkan oleh bi Sum.
" Tidak kenapa-kenapa mas, cuma aku sedih aja melihat Lia seperti itu"
" Memang Meli kenapa sayang? dia cuma kelelahan aja karena baru sembuh, kamu tidak perlu khawatir" Azka kembali menyantap baksonya
" Lia melihat Mario bersama seorang wanita di kedai bakso tadi mas!"
Azka menghentikan aktivitasnya " Wanita?"
Zaira mengangguk pelan.
" Cantik dan seksi lagi mas"
" Mungkin cuma salah paham aja kali yang, terkadang apa yang kita lihat itu belum tentu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, Lagi pula hubungan mereka itu baru seumur jagung sayang" tutur Azka.
Zaira mengangguk dan membenarkan ucapan suaminya itu
" Ya sudah, sekarang cepat habiskan baksonya setelah itu kita pulang!"
" Gak menginap saja disini mas?"
" Bagaimana dengan seragam dan buku kamu sayang?"
" Iya juga ya, tapi aku mau ke kamar Lia dulu ya mas, setelah itu baru pulang!"
Azka mengangguk dan tersenyum tipis. " Yaudah mas ke kamar dulu ya, kalau kamu sudah selesai susul mas di kamar" pinta Azka
" Iya!" Zaira setelah selesai menghabiskan baksonya kini dia pergi ke kamar Lia yang letaknya diseberang kamar dia dan Azka.
Tokk
Tokk
Tokk
" Masuk!" teriak Lia dari dalam kamarnya
Ceklekk
Pintu dibuka dari luar dan menyembulah Zaira masuk ke dalam kamar Lia.
" Kenapa Za?" tanya Lia
" Loe yang kenapa, sejak pergi dari kedai bakso muka loe kusut banget kaya baju belum disetrika tau gak?"
" Sembarangan, wajah cantik gini dibilang kusut" protes Lia
" Ya habisnya muka loe asem banget"
" Loe kalau mau ngatain orang itu yang jelas dong Za, kusut apa asem nih?" tanya Lia sambil tertawa
" Dua-duanya juga boleh. loe itu Kusut juga asem" Zaira menjulurkan lidahnya mengejek
" Wah parah loe Za ngatain gue nanti anak loe mirip gue baru tau rasa loh!"
" Ihh.. Amit-amit!" Zaira mengelus perutnya
" Yang, pulang yuk!" ajak Azka yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Lia
" Kenapa pulang sih kak, menginap saja disini?" pinta Lia.
" Baju seragam sama buku Za kan di rumah, lagi pula kakak masih banyak tugas sekolah" Azka berjalan menghampiri sang isteri.
" Kamu kenapa Mel, kata Za kamu tadi murung. kenapa, patah hati?" tanya Azka tanpa basa-basi
" Apaan sih kak, siapa yang patah hati, isteri kakak aja tuh yang sotoy" sahut Lia menunjuk ke arah Zaira
" Sotoy... sotoy .. awas aja kalau ada yang nangis-nangis minta temenin" ancam Zaira sambil tertawa
" Ya gaklah ngapain juga nangis, hilang satu tumbuh seribu Za!" ucap Lia sambil tertawa
" Yakin tuh?" ejek Azka
" Emmm... yakin gak ya? kayaknya gak dah, hahaaa" Lia tertawa dengan ucapannya sendiri dan Azka mengacak-acak rambutnya gemas.
__ADS_1
Tring
Sebuah pesan masuk, Lia meliriknya sekilas dengan malas Lia enggan membuka isi pesan di ponselnya.
Zaira dan Azka yang masih berada di ruangan Lia hanya saling melempar pandang pasalnya Lia bukan hanya mengabaikan satu pesan yang masuk sudah ada puluhan kali pesan masuk di ponselnya.
" Li gue balik dulu, kalau loe butuh curhat datang aja ke rumah!" ucap Zaira
" Udah tuh liat dulu pesannya jangan dicuekin gitu. kalau ada masalah itu diselesaikan dengan baik jangan malah menghindarinya siapa tau cuma salah paham" ujar Azka membuat Lia melotot.
" Kakak ngomong apa sih, masalah apa lagi?" Lia mengerucutkan bibirnya
" Udah kakak pulang dulu, kalau ada masalah ceeita sama kakak atau sama Za, jangan di simpan sendiri!" pesan Azka sebelum beranjak keluar dari kamar Lia
" Iya kakak dan kakak iparku yang baik" ucap Lia dengan menekankan kata-katanya.
Zaira dan Azka menghampiri bunda Aryani dan mama Maria yang tengah asik mengobrol di taman belakang.
" Bunda, mama Za sama mas Azka pamit pulang ya!" ucap Zaira saat berada di taman menghampiri kedua wanita paruh baya tersebut.
" Loh kok pulang sih sayang?" tanya mama Maria
" Iya ma, mas Azka masih banyak pekerjaan yang masih belum diselesaikan katanya"
Zaira menoleh ke Azka
" Iya mah, besok kita kesini lagi kok!" ucap Azka
" Gantian dong ke rumah bunda, kalian sudah lama loh gak ke rumah!" protes bunda Aryani
" iya bunda, akhir pekan kira akan menginap di rumah bunda deh, boleh ya mas?"
Azka mengangguk dan tersenyum" boleh dong sayang, masa gak sih?" Azka mengacak-acak rambut Zaira
" Yaudah kami pamit ya mah, bund!" Azka menyalami punggung tangan dua wanita paruh baya yang merupakan bagian dari hidupnya diikuti oleh Zaira.
...🍁🍁🍁...
Mobil Azka dan Zaira kini sudah bertengger di halaman rumah mereka.
Zaira masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, sementara Azka membuka bagasi mobilnya mengambil beberapa barang belanjaan Mereka, sebelum pulang mereka menyempatkan diri untuk membeli beberapa keperluan dapur dan juga yang lainnya.
Zaira sampai di kamar dan langsung merebahkan diri sementara Azka meletakkan barang-barang belanjaannya di dapur dan meminta mbok Iyem untuk membereskannya.
Azka masuk ke dalam kamarnya dan mendapati sang isteri yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
" Yang kamu kenapa, capek?" tanya Azka yang melihat Zaira diam saja
" Mas, aku kok jadi kepikiran Lia sih?" Zaira menggeser tubuhnya bersandar pada sandaran tempat tidur.
" Kamu ini kebiasaan yang, selalu saja memikirkan orang lain!"
" Lia bukan orang lain loh mas!"
" Lia itu sudah besar sayang, mas yakin Lia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus ada campur tangan dari orang lain"
" Semoga saja ya mas!"
" Sudah ya, jangan mikirin anak itu lagi dari pada pusing mikirin dia lebih baik kamu manjakan suami kamu ini yang sudah lama dianggurin" ucap Azka dengan seringai senyuman jahilnya.
" Mas mau apa?" tanya Zaira yang melihat Azka semakin mendekatkan diri.
" Memangnya mau apalagi, ya mau nengokin anak kita dong sayang" Azka menaik turunkan alisnya dan tanpa menunggu persetujuan dari sang ratu Azka langsung menerkamnya.
" Mas curang!" pekik Zaira yang belum siap tapi malah langsung di lahap.
Azka tersenyum penuh kemenangan tatkala sang isteri terlihat pasrah.
Dan terjadilah kegiatan suami isteri yang sudah beberapa hari tertunda karena tragedi yang menimpa adik tercinta.
...🖤🖤🖤...
Lain hal dengan Lia, jika saat ini Zaira dan Azka sedang bersenang-senang memadu cinta, Lia justru tengah termenung seorang diri di balkon kamarnya.
Lia memandang ke langit yang kini sudah berubah gelap, cerahnya langit malam yang bertabur bintang dan dihiasi lembutnya cahaya bulan tapi tidak dengan hati seorang Meliani yang malam ini nampak muram.
Lia sesekali menoleh kebelakang, ingin meraih benda pipih yang sejak beberapa jam lalu ia abaikan begitu saja.
Lia menghela napasnya panjang, tersenyum getir seakan mentertawakan dirinya sendiri yang sedang patah hati.
" Gue ini kenapa sih, biasanya juga gue cuek. mau diselingkuhin atau diputusin ke, biasanya gue masa bodo tapi kenapa sekarang rasanya beda ya, baru juga jadian beberapa hari masa patah hatinya udah sesakit ini. ah dasar lebay ini sih. gak boleh dibiarin ini, seorang Meliani gak boleh galau dan patah hati hanya karena cinta sesaat. ya ini cuma cinta sesaat jadi gue gak boleh larut dengan perasaan gue sendiri. enak aja gue disini nangis-nangis terus disana dia lagi enak-enakkan tertawa-tawa gitu. gak banget." gumam Lia berdebat dengan hatinya sendiri.
Lia masuk ke dalam kamarnya lalu meraih ponsel miliknya yang tadi ia letakkan di atas nakas dan mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
Dengan ragu-ragu Lia ingin membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Lia tercengang karena ternyata ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Seseorang yang sudah membuat Lia galau seharian ini.
ada juga beberapa pesan yang masuk yang sejak tadi ia abaikan.
Lia membuka dan hendak membaca pesan yang masuk dari My Io namun baru saja ingin membacanya suara ketukan pintu kamarnya mengalihkan perhatian Lia.
Tokk
Tokk
Tokk
" Non Meli!" teriak bi Sum dari luar kamar
Lia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu. " Iya sebentar bi!" teriak Lia sambil berjalan
Ceklekk
__ADS_1
" Iya ada apa bi?" tanya Lia setelah membuka pintu kamarnya
" Itu non ada yang nyariin non Meli" jawab bi Sum
" Siapa bi?"
" Wah bibi kurang tau non, tapi yang bibi tau orangnya ganteng banget non!" jawab bi Sum sambil tersenyum genit.
" Bi Sum kenapa?"
" Gak apa-apa non, itu non yang nyariin non orangnya ganteng, pasti pacarnya non Meli ya?"
" Wushh.. ngarang, siapa sih bi jadi penasaran!" ucap Lia
" Yaudah kalau non Meli penasaran cepat turun non, tamunya lagi nungguin non dibawah sama tuan besar"
" Sama papa, jadi papa udah pulang bi dari luar kota?"
" Sudah non, gak lama den Azka dan non Zaira pulang tuan besar sampai non"
Lia manggut-manggut dan sedikit berpikir kira-kira siapa yang datang mencarinya malam-malam begini apalagi sampai bertemu dan bicara dengan papanya.
" Yaudah bi, bilang saja tunggu sebentar, saya mau ganti baju dulu!" ucap Lia dengan wajah nampak berpikir
" Baik non!"
Setelah bi Sum pergi Lia tengah bersiap-siap turun ke bawah. jantung Lia nampak dag dig dug seerrrrr saat melangkah pelan menuruni anak tangga.
" Pah!" sapa Lia saat melihat papanya yang tengah duduk di ruang tamu bersama seorang laki-laki yang hanya nampak punggungnya saja
" Sini sayang!" papa Sam melambaikan tangannya kepada Lia agar segera menghampirinya.
Lia berjalan perlahan melangkah menghampiri papanya.
saat Lia sudah mendekat papa Sam malah beranjak dari duduknya.
" Kalian ngobrol saja, papa mau istirahat dulu ya!" ucap papa Sam
Deg
Deg
Deg
Jantung Lia seakan ingin loncat meninggalkan tempatnya saat melihat sosok laki-laki yang tengah duduk bersama papanya dan saat ini malah melempar senyum kearahnya.
" Mario!" beo Lia
Papa Sam tersenyum tipis dan menggeleng pelan melihat ekspresi wajah Lia.
" Nak Mario, om tinggal dulu ya!" pamit papa Sam
" Iya om silahkan!" ucap Mario sopan.
laki-laki yang bertamu malam-malam itu adalah Mario, karena merasa pesan dan panggilan teleponnya diabaikan oleh Lia maka Mario memberanikan diri untuk datang ke rumahnya.
...🍁❤️🍁...
Lia dan Mario saat ini tengah berada di taman. hampir 15 menit mereka duduk di taman tersebut tapi tidak ada yang memulai pembicaraan.
Lia pandangannya menatap lurus ke depan sementara Mario sesekali menoleh ke arah Lia yang sedari tadi bersikap dingin terhadapnya.
" Kenapa pesan dan panggilan teleponku diabaikan?" Mario akhirnya memecahkan keheningan di antara keduanya.
Lia menunduk dan tersenyum kecut " Menurut loe?" tanya Lia yang langsung membuat Mario tersentak saat mendengar Lia mengatakan loe
" Loe?" tanya Mario menggeser duduknya hingga menghadap ke arah Lia.
" Iya loe, apa kurang jelas?" Sarkas Lia
" Kamu ini kenapa sih yang kok tiba-tiba kayak gini?"
" Ya pikir aja sendiri!" sahut Lia ketus
Mario tersenyum melihat wajah Lia yang tengah cemberut. " Kamu itu kalau lagi marah kayak gini makin gemesin tau gak yang!" gombal Mario
" Udah deh gak usah ngegombal, gak mempan!" kesal Lia
" Masa sih?" Mario berpura-pura berpikir " Tapi yang pasti ya yang aku tuh paling suka kalau di cemburuin sama kamu kayak gini. jadi makin suka!" ucap Mario dengan seulas senyum tampannya.
" Udah deh ya jangan ngegombal disini percuma gak akan mempan. mending kamu gombalin aja tuh cewek kamu yang seksi itu, kalau kamu bilang aku cemburu itu sesuatu yang tidak mungkin. ingat itu!" ucap Lia yang tanpa sadar membahas tentang apa yang dilihatnya tadi sewaktu di kedai bakso dan mengelak dirinya yang jelas-jelas tengah cemburu.
Mario langsung tertawa mendengar kata-kata Lia barusan. " Kamu itu ya benar-benar bikin aku gemes tau gak." kekeh Mario.
Lia terdiam dan mengerutkan alisnya merasa kesal melihat sikap Mario yang terkesan cuek dan santai.
Mario meraih tangan Lia dan menggenggamnya, awalnya Lia terus saja memberontak dan menarik tangannya namun karena kekuatan tangan Mario yang lebih kuat akhirnya Lia menyerah.
" Diam dulu, biarkan seperti ini!" ucap Mario saat Lia hendak menarik tangannya kembali yang berada di genggaman tangan Mario.
Mario menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara pada Lia.
Mario tersenyum melihat wajah Lia yang memberengut. " Diam ginikan cantik!" ucap Mario selembut mungkin.
" Makanya kalau apa-apa itu cari tahu dulu kebenarannya, jangan main marah aja tanpa mau mendengarkan penjelasan yang sebenarnya" ucap Mario membuat Lia terdiam.
" Pesan aku gak dibaca, telpon juga gak diangkat. akhirnya apa? uring-uringan sendiri kan?"
" Coba kamu buka handphone kamu, lihat dengan jelas!" Mario melepaskan tangannya yang mencekal pergelangan tangan Lia
Lia dengan perlahan membuka ponselnya dan seketika matanya membulat sempurna saat melihat foto yang Mario kirimkan kepadanya.
__ADS_1
" Kenapa, masih mau marah-marah lagi, masih menyangkal lagi kalau sedang cemburu?" goda Mario sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum penuh kemenangan.
Lia antara sadar dan tidak sadar menggeleng pelan..