
Sepulang sekolah Juan langsung bergegas menuju parkiran sembari menuju Ivy yang belum muncul semenjak sepuluh menit lalu. Ia terus saja menengok ke belakang berharap kekasihnya segera muncul.
Tok tok tok
Dengan cepat Juan membukakan pintu untuk Ivy karena tangannya terlihat sedang sibuk memegangi tas sekolahnya di belakang tubuhnya untuk menutupi sesuatu.
“pak (wajahnya merah karena malu) saya duduk di belakang saja ya”
“hah? Kenapa? (melihat Ivy dengan seksama)” setelah mengamati Ivy dengan seksama Juan mengangguk-angguk paham.
“anu itu nanti jok depannya kotor, saya duduk di belakang saja, saya janji nanti saya bersihkan kok”
“duduk depan saja, kamu sedang datang bulan kan? (Ivy mengangguk singkat) cepat masuk sebelum yang lain lihat!” Ivy memasuki mobil dan Juan segera tancap gas pergi. Sepanjang perjalanan Ivy tidak bisa tenang karena hari ini adalah hari pertamanya di bulan ini dan dia belum mengenakan pembalut. Tak lama berselang Juan menghentikan mobilnya di sebuah minimarket tak jauh dari sekolahnya.
“kamu butuh pembalut kan?” Ivy sedikit tersentak kaget lalu mengangguk malu.
“ayo turun kita akan beli barang itu dulu” Juan hendak membuka pintu namun lengannya di cegah oleh Ivy. “tapi kan,,,saya tem,,bus pak”
“jadi aku harus membelinya sendiri? (Ivy mengangguk lagi)” Juan menggaruk kepala belakangnya bingung, ini kali pertama dia harus membeli barang-barang seperti ini dan ini masih dekat dengan lingkungan sekolah. Tapi melihat Ivi yang terlihat tidak nyaman membuatnya tidak tega. Setelah meneguhkan hati Juan segera keluar mobil dan memasuki minimarket itu, memilih berbagai pembalut yang ia sendiri baru tahu kalau benda itu banyak sekali jenisnya. Karena frustasi terus di lihat beberapa orang Juan mengambil beberapa pembalut dengan asal dan segera membayarnya. Bahkan petugas kasirnya saja terus memandanginya. “buat istri atau pacarnya pak?” kepo sekali ya petugasnya.
“istri” jawabnya singkat, kasir itu tersenyum aneh. “romantis sekali” ucapnya.
“pak Juan sudah punya istri? Itu Pak Juan kan?”
“Iya itu benar pak Juan kok, apa jangan-jangan berita itu benar ya?”
Dua siswi yang juga berada di dalam minimarket terus membicarakannya karena seorang Juan yang galak dan dingin tiba-tiba ketahuan membeli pembalut, jauh di luar dugaan.
.
.
.
Arvin terlihat sedang berbaring di rooftop rumah sakit, dia sangat lelah, terlihat jelas dari kantung matanya yang tebal dan menghitam. Setelah berjam-jam bekerja akhirnya dia dapat waktu istirahat juga. Ia membenarkan posisinya menjadi duduk ketika mendengar suara derap langkah kaki mendekat ke arahnya dengan bau asap rokok yang juga ikut mendekat. Itu adalah Andrew, temannya sesame dokter.
“lagi-lagi kau di sini, bagaimana kabar pacarmu?”
“stabil, walaupun belum sadar”
“apa kau baik-baik saja?”
“hmm, sejauh ini”
“jangan terlalu menekan dirimu, semua yang bernyawa pasti akan mati, begitu juga kau dan akan mati”
“aku tahu itu”
Arvin menatap langit sore yang terlihat sangat indah untuknya. Dia berharap bisa melihat langit indah itu bersama Zena, tapi itu terlalu sulit mengingat kondisi Zena yang begitu buruk akhir-akhir ini. Dia juga berpikir rasa bersalahnya kepada Ivy, padahal dia sudah berjanji untuk menjaga Zena selagi dia tidak di sana. Belum lagi beban yang Ivy tanggung untuk beberapa saat ini.
Flashback
__ADS_1
Ivy duduk di samping Arvin yang terlihat termenung di depan ruangan Zena di rawat. Mereka sama-sama diam dan memandang lurus ke depan di mana Zena terlihat terbaring lemah dengan alat-alat medis di tubuhnya.
“bisakah aku berbagi sesuatu padamu” Arvin melirik Ivy sekilas, gadis itu terlihat cukup serius. “Katakan saja”
“sepertinya akhir-akhir ini aku tidak bisa mengunjungi Zena sering seperti dulu. Aku dijodohkan dan beberapa hari lagi aku akan menikah”
“apa Zena tahu?”
“tentu saja tidak, aku tidak ingin menambahkan beban untuknya. Jika dia bangun dan aku tidak ada di sana tolong katakana kalau aku sangat merindukannya dan selalu berharap kesembuhannya. Dokter Arvin juga tahu bagaimana keluargaku. Jika aku menolak perjodohan ini semua fasilitas perawatan Zena akan dicabut. Aku minta maaf, andaikan saja aku bisa terus menjaganya dan tidak terus merepotkan mu”
“(mengelus pucuk kepala Ivy dengan lembut) Ivy, apa yang kamu lakukan selama ini sudah sangat lebih dari cukup. Jangan membuat dirimu seolah kamu yang paling bersalah, tidak ada yang bersalah di sini. Bahkan kamu rela melakukan itu untuk dia juga kan? apa pria itu baik?”
“(mengangguk) dia cukup baik walaupun terlihat menakutkan”
“syukurlah, jangan terlalu memaksakan dirimu. Kamu, juga baru saja keluar dari rumah sakit kan? apa sesuatu terjadi lagi?”
“hah (menghembuskan nafasnya panjang) mereka melakukannya seperti biasa. Aku hanya berharap bekasnya bisa hilang”
“semua pasti akan membaik. Dan juga, terimakasih atas semua yang kamu lakukan.”
“untuk dokter Arvin juga, terimakasih hehehe”
“vy?”
“iya”
“bukalah hatimu untuk teman-teman dan orang-orang di sekelilingmu juga, setidaknya pasti akan ada lebih dari lima orang yang benar-benar menyayangimu. Buatlah mereka bahagia”
Flashback end.
“AKH,,,, aku lapar!” teriaknya lalu pergi meninggalkan Andrew dengan muka kagetnya. Mereka berdua sudah berteman sejak SMA dan sama-sama bercita-cita menjadi dokter walaupun keluarga mereka sangat sederhana dan jauh dari kata kaya. Oleh karena itu mereka jadi saling mengerti satu sama lain. Andrew tahu setelah pergi dari rooftop itu Arvin akan menangis lama di kamar mandi tanpa suara. Karena ia tahu temannya itu sangat cengeng. Andrew menghembuskan asap rokok dari mulutnya dan melihat pemandangan kota dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
.
“pak kita mau ke mana?” sekarang Ivy sudah berganti baju karena Juan membelikannya sewaktu mereka membeli ponsel tadi. Tentu Ivy menolaknya, tapi tetap saja Juan tidak bisa di langgar.
“peraturannya sayang” ucap Juan sambil memandang lurus ke arah jalanan yang ramai. Tak lupa tangan kirinya yang terus menggenggam jemari Ivy sambil sesekali menciumnya lembut.
“kita mau ke mana?”
“beli rumah”
“rumah! Kenapa beli rumah?”
“tentu saja kita akan tinggal bersama bukan?’
“tapi kan,, kita masing-masing masih punya apartemen pakai salah satu saja jangan boros”
__ADS_1
“terlalu sempit sayang, aku juga kurang suka tempat ramai seperti itu. apa kamu tidak mau tinggal berdua denganku?”
“tentu saja,,aku,,mau,,kamu kan akan jadi suamiku”
“apa? Aku tidak mendengarnya, ulangi sekali lagi!”
“udah diam! Tidak ada pengulangan.” Juan tertawa terbahak-bahak melihat Ivy yang sedang malu. Mereka terlihat bahagia dan tentram.
Mereka sampai di rumah yang ingin Juan beli, tidak terlalu jauh dari pusat kota. Tidak terlalu luas, cukup untuk mereka berdua. Tak lupa taman bunga di sisi rumahnya, terlihat sederhana namun sangat cantik dan menenangkan karena jarak satu rumah ke rumah lain yang tidak terlalu dekat. Mereka berdua berkeliling memasuki satu persatu ruangan.
“apa kamu menyukainya?”
“sangat suka (tersenyum)” Juan ikut tersenyum lembut, lalu mencium singkat dahi Ivy lalu berjalan pergi untuk menyetujui pembeliannya. Jantungnya berdegub kencang ketika Juan menciumnya. Ivy memegangi kedua pipinya, pipi nya pasti sangat merah sekarang. Entahlah akhir-akhir ini dia menjadi semakin hangat kepada calon suami nya itu. Ivy menepuk kedua pipinya cukup keras lalu pergi mengikuti Juan.
.
.
.
Keesokan paginya di sekolah. Ivy melihat Nina yang menaruh kepala nya lemas di bangkunya. Sangat jarang ditemukan momen-momen seperti ini . Ivy duduk di bangkunya dan menaruh kepala nya berhadapan dengan Nina yang terlihat sedang tidak dalam mood yang bagus.
“Ivyyy,,,,hwaaaa,,,,,”
“eh, kenapa? Ada apa? Masih pagi udah nangis aja”
“Jio, kemarin aku lihat dia bonceng cewek kelas sebelah, padahal aku mengajaknya pulang bersama, alasannya ada kelas tambahan”
“cup,cup,cup, awas aja kalau ketemu si Jio” Ivy memeluk Nina sambil seolah olah akan menghancurkan Jio ketika bertemu nanti. Senyum manis terulas cantik di wajahnya yang juga cantik, pasti rasanya menyenangkan jika memiliki masa-masa remaja seperti ini. Tidak seperti dia yang kekasihnya saja om-om, miris.
“NINAAAAA!” Jio yang berisik datang dengan teriakan mautnya yang melebihi bel sekolah, di belakangnya terlihat Bian dan Toni yang mengikutinya dengan langkah santai. Dengan cepat Nina bersembunyi di belakang Ivy.
“kenapa kau kemari! Kau sudah membuat temanku sedih, pergi atau ku pukul kau pakai penggaris kayu ini hah!” Ivy menodongkan penggaring kayu ukuran satu meter itu di hadapan Jio.
“Nina, kamu kemarin salah paham sayang, aku tidak selingkuh kok, beneran”
“keliatan banget boongnya”
“udah pukul aja Vy buaya kalau nggak dipukul nggak tau kesalahannya!” ucap Toni.
“kali ini aku sangat setuju denganmu” Bian menimpali. Sayang sekali Jio tidak ada yang membelamu kali ini. Ivy terlihat riang dengan tingkah teman-temannya yang lucu untuknya.Tak lama berselang Juan terlihat berjalan di depan pintu kelas Ivy dan tanpa sengaja mereka saling berhadapan. Ivy memberikannya senyum singkat yang sangat manis, begitu pun Juan yang tersenyum simpul ke arahnya. Sungguh pagi yang membahagiakan. Beberapa detik kemudian pandanganya kembali ke Jio yang terus berusaha mendekati Nina namun di halangi olehnya.
“kalian ini tidak membelaku? Aku tidak berselingkuh, sungguh”
“lalu siapa cewek yang seragamnya kurang bahan kemarin!”
“emmm,,ituuu”
“katakan atau kupukul kau!” balas Ivy, dia belum pernah sebahagia ini dengan teman-temannya. Karena mulai hari ini dia mau membuka hati untuk orang lain, terutama teman-temannya, Juan dan juga kakaknya.
“tapi,,AKH, SAKIT IVY!” berbeda dengan Jio yang terlihat kesakitan. Ivy dan teman-teman termasuk teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak ketika Ivy memukul Jio dengan penggaris itu. Drama pagi yang drama banget.
__ADS_1