
Dokter Ariel menepikan mobilnya di pinggir taman. hatinya saat ini tengah bergemuruh hebat jika ditanya soal hati jelas sedang tidak baik-baik saja.
Dokter Ariel duduk di bawah pohon menghela napasnya yang tersengal-sengal karena menahan rasa sesak dan sakit di hatinya.
Ingin ia meluapkan semua emosi yang berkecamuk dalam hatinya namun melihat bagaimana adik kecilnya tadi terkulai lemas tidak berdaya akibat ulahnya membuat dokter Ariel merasa sangat bersalah bagaimana pun Zaira adalah bagian dari hidupnya yang ingin ia berikan kebahagiaan.
" Aaaaaaaaaa...!" Teriak dokter Ariel setelah beranjak dari duduknya, untung hari mulai beranjak senja jadi keadaan taman sudah terlihat sepi.
Dokter Ariel menendang kakinya ke udara menumpahkan rasa yang semakin menghimpit hatinya.
" Al apa yang harus kakak lakukan sekarang Al, mengapa semua ini terjadi ya tuhan, cinta ini terlalu menyakitkan. apakah tidak ada cinta yang pantas untukku?" umpat dokter Ariel berbicara sendiri.
" Aku benci dengan perasaan ini, kenapa kamu tega Al melupakan cinta kakak, kenapa Al?" teriak dokter Ariel menumpahkan isi hatinya dan menangis
" Cinta itu memang sulit di tebak, dan kita tidak akan pernah tahu kemana cinta itu akan berlabuh. cinta memang indah bisa membuat seseorang merasa sangat bahagia namun terkadang cinta itu juga bisa kejam membuat seseorang terluka dan menderita. Tapi semua itu tergantung diri kita sendiri menyikapinya. memilihnya menjadi indah atau membiarkan cinta itu menjadi kejam lalu membuat luka semakin dalam." ucap seseorang yang berdiri di balik pohon
" Tuhan tidak pernah tidur, Dia yang lebih tahu mana cinta yang pantas untuk kita. sekuat dan sebesar apapun cinta yang kita miliki jika tuhan memang mentakdirkan yang lain bukan salah kita maupun seseorang yang kita cintai jika harus berubah dan pindah ke hati yang lain karena semua sudah menjadi takdir yang tuhan tuliskan untuk kita sebelum kita terlahir ke dunia." lanjutnya.
Dokter Ariel terdiam menatap lekat gadis cantik yang tengah tersenyum padanya, matanya menyipit memperjelas siapa sosok gadis yang berdiri di hadapannya saat ini, namun karena cahaya lampu yang kurang memadai di taman tersebut dokter Ariel tidak begitu jelas menangkap sosok gadis yang seolah tahu akan kesedihannya saat ini. Kata-katanya sungguh menyentuh dan di dalam hati kecil dokter Ariel membenarkan apa yang telah diucapkan gadis tersebut.
" Siapa kamu, kenapa kamu bisa bicara seperti itu? apa aku mengenalmu?" ucap dokter Ariel
Gadis itu perlahan melangkah mendekat dan seketika dokter Ariel membulatkan kedua matanya.
" Ka..kamu?" Dokter Ariel merasa tidak percaya dengan sosok gadis yang tidak asing baginya.
" Apa kabar dokter?" sapanya basa basi lalu duduk di bangku dekat dokter Ariel berdiri.
Dokter Ariel menoleh sekilas tanpa menjawab pertanyaan gadis tersebut, ia lalu duduk dan pandangannya lurus ke depan.
" Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?" tanya dokter Ariel tanpa menoleh.
" Hanya orang yang tengah patah hati yang di waktu senja seperti ini duduk sendirian di tempat sesepi ini" jawabnya santai
" Kamu tidak tahu apa-apa, jadi jangan sok seolah tahu segalanya" ucap dokter Ariel dingin namun gadis yang duduk di sampingnya hanya tersenyum.
" Maaf dokter saya memang tidak tahu apa-apa tentang anda, yang saya tahu hanya satu. cinta itu tidak bisa dipaksakan, jika anda benar-benar cinta maka relakanlah biarkan ia hidup bahagia bersama orang yang dicintainya tapi jika cinta anda memaksa maka itu bukanlah cinta tapi hanya sebuah ambisi yang menuruti ego yang ada maka kehancuranlah yang akan menunggunya" ucapnya tegas membuat dokter Ariel langsung menoleh ke sosok gadis yang kini duduk santai di sampingnya.
Gadis itu tersenyum getir lalu beranjak dari duduknya.
" Berpikirlah sebelum bertindak, hargailah setiap apa yang ada, jangan sampai penyesalan datang setelah kehilangan" ucap gadis tersebut sebelum pergi meninggalkan dokter Ariel yang diam membeku mencerna setiap ucapannya.
🖤
Di rumah bunda Aryani
__ADS_1
Zaira perlahan membuka matanya, ditatapnya wajah tampan pak suami yang tengah terlelap duduk di bangku samping tempat tidurnya.
Azka tertidur dengan tangan menggenggam erat tangan Zaira. mungkin karena terlalu lelah sampai ia tidak sanggup lagi menahan kantuknya.
" Mas, bangun!" Zaira mengusap lembut rambut sang suami tercinta
Azka yang merasakan sentuhan dikepalanya langsung membuka matanya perlahan dan
senyumnya pun langsung mengembang.
" Alhamdulillah, kamu sudah sadar Sayang!" Azka mencium kening sang isteri.
" Mas!" ucap Zaira lirih
" Maaf ya tadi mas ketiduran!" Azka tersenyum tipis dan mengelus lembut pipi Zaira.
" Gak apa-apa mas, pasti mas Azka capek ?" Zaira tersenyum
" Yaudah mas tidur lagi aja sini!" pinta Zaira
" Mas mau mandi aja deh yang, setelah mandi kita makan ya kamu kan belum makan dari siang!" ucap Azka seraya membuka kancing kemejanya dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Azka menghampiri Zaira yang bersandar di kepala tempat tidur.
" Di bawah saja mas, aku mau makan dibawah saja" pinta Zaira
" Kamu yakin mau makan dibawah saja, apa sudah tidak apa-apa?" tanya Azka cemas
" Aku sudah tidak apa-apa suamiku sayang!" Zaira bergelayut manja di lengan Azka saat Azka sudah berdiri tepat di sampingnya
" Emmm, kalau ada maunya bisa saja merayunya isteriku ini!" gemas Azka mencium pucuk kepala Zaira.
" Tapi kamu tunggu disini dulu ya, mas mau menyiapkan makan malamnya dulu!" titah Azka membuat Zaira menggelengkan kepalanya
" Mas seharusnya itu aku yang melayani mas menyiapkan makan malam untuk mas, jadi biarkan aku saja ya!" Zaira memberingsut turun dari tempat tidur.
" Loh kamu mau kemana sayang?" cegah Azka
" Mau turun mas, mau menyiapkan makan malam" Zaira menepis tangan Azka yang mencekal tangannya.
" Sayang, kamu ini baru sembuh dan juga baru siuman loh " tegas Azka membuat Zaira mendelik kesal karena suara Azka yang sedikit tinggi
Azka yang sadar akan sikapnya langsung tersenyum dan meraih tangan Zaira dengan lembut" Sayang maafkan mas ya, bukan niat mas bicara keras sama kamu tapi mas cuma gak mau isteri mas kecapean. biar mas saja yang urus ya!" ucap Azka dengan nada suara selembut mungkin.
Zaira pura-pura merajuk dan tentu saja sikap Zaira tersebut membuat Azka menjadi uring-uringan sendiri.
__ADS_1
" Yaudah kamu sekarang ikut mas turun tapi cukup melihat mas saja ya, jangan membantah oke!" ucap Azka yang tidak ingin dibantah.
" Iya!" sahut Zaira dengan mengerucutkan bibirnya
Azka langsung mengangkat tubuh Zaira ke udara.
" Mas apa-apaan sih!" ronta Zaira saat berada di dalam gendongan Azka
" Sudah jangan banyak komentar, diam dan menurut!" ucap Azka seraya menggendongnya turun ke bawah.
Sesampainya di dapur Azka menurunkan Zaira di kursi meja makan.
" Diam disini ya!" ucap Azka dan Zaira mengangguk patuh.
" Sepertinya sudah banyak makanan, ini hanya tinggal menghangatkan saja!" Azka membawa beberapa masakan untuk dipanaskan.
" Kalian sedang apa?" tanya bunda Aryani yang tiba-tiba muncul di dapur dan tentu saja membuat pasutri ini terkejut.
" Eh bunda, ini mas Azka sedang memanaskan masakan makan malam, tadi Za sama mas Azka belum sempat makan jadi lapar" sahut Zaira apa adanya.
" Ya ampun sayang, kenapa gak bilang sama bunda atau sama bi Minah nak!" bunda Aryani langsung menghampiri Azka yang sedang menuang sayup ke dalam panci.
" Sini nak Azka biar bunda saja yang menghangatkan makanannya!" pinta bunda Aryani
" Gak usah bund biar Azka saja" tolak Azka secara halus
" Kamu sebaiknya temani saja isteri kamu gih, kasihan kan sendirian" ucap bunda Aryani menunjuk ke arah Zaira dengan dagunya.
" Tapi bund!" Azka ingin menolak tapi bunda Aryani bersih keras memaksa.
" Sudah sana!" bunda Aryani mendorong punggung Azka pelan.
Diam-diam bunda Aryani memperhatikan putri dan menantunya melihat Azka yang begitu perhatian terhadap Zaira dan selalu berusaha untuk mengalah terhadap putrinya membuat bunda Aryani yakin jika pilihan suaminya tidak salah menjadikan Azka sebagai suami putri tercintanya
Bunda Aryani tersenyum kemudian melanjutkan kembali memanaskan makanan untuk putri dan anak menantunya.
Setelah selesai bunda Aryani dibantu oleh Azka menghidangkan makanan ke atas meja. bunda Aryani tidak henti-hentinya mengembangkan senyumnya melihat Azka yang begitu cepat tanggap dan begitu cekatan. apalagi saat Azka menyendokkan makanan ke dalam piring milik Zaira.
" Sudah mas aku saja, aku bisa sendiri kok!" tolak Zaira saat Azka ingin menyuapinya
" Sudahlah yang cepat Aa.. !" bujuk Azka membuat Zaira mendengus kesal dengan sikap Azka yang begitu over protective.
Mau tidak mau Zaira akhirnya membuka mulutnya dan menikmati suapan demi suapan dari tangan Azka.
Bunda Aryani lagi-lagi tersenyum bahagia melihat putrinya dan Zaira membalas senyum bunda Aryani dengan raut wajah yang sudah semerah tomat.
__ADS_1